Fokus

Kamis, 19 April 2007

Ibu Ani: Banyak Anak Banyak Rejeki, Tidak Relevan Lagi

 

Ibu Ani bersama anak-anak TK  di Posyandu  Desa Sukaluyu, Karawang, Jabar, Kamis (19/4) pagi. (foto: anung/presidensby.info)
Ibu Ani bersama anak-anak TK di Posyandu Desa Sukaluyu, Karawang, Jabar, Kamis (19/4) pagi. (foto: anung/presidensby.info)
Karawang: Faktor non medis cukup dominan memberi kontribusi terhadap kematian ibu karena hamil, melahirkan dan nifas. Demikian dikatakan Ibu Ani Bambang Yudhoyono saat mencanangkan revitalisasi Gerakan Sayang Ibu (GSI) di rumah dinas Bupati Karawang, Kabupaten Karawang, Jawa Barat, Kamis (19/4) pagi.

Menurut Ibu Ani, bila ditelaah secara mendalam, masalah non medis itu bersumber dari banyak faktor. Selain faktor ekonomi, faktor yang paling dominan adalah tata nilai sosial budaya dengan penafsiran ajaran agama pada sebagian masyarakat Indonesia yang belum sejalan dengan kesetaraan dan keadilan gender. "Ada yang menganggap bahwa kehamilan adalah peristiwa alamiah yang harus ditanggung resikonya oleh kaum perempuan. Pendapat seperti ini perlu diubah secara sosio kultural, agar perempuan mendapat perhatian dari keluarga dan masyarakat sekitarnya dan memiliki hak atas kesehatan reproduksinya," tutur Ibu Ani.

Ibu Ani menghimbau agar masyarakat Indonesia merencanakan jumlah anak, sehingga anak yang akan dilahirkannya menjadi sumber daya manusia yang berkualitas. "Di beberapa daerah masih terjadi hambatan untuk melaksanakan program KB dimana masyarakatnya masih akrab dengan anggapan banyak anak banyak rejeki. Hal ini tentu saja tidak relevan dan tidak sesuai dengan kondisi Indonesia saat ini," tambahnya.

Strategi pelaksanaan GSI di daerah sangat diperlukan, yaitu dengan memantapkan koordinasi antar berbagai sektor di daerah. "Sejalan dengan pengembangan GSI, perlu dikembangkan juga upaya untuk mencegah kematian bayi dengan meningkatkan penggunaan Air Susu Ibu atau ASI eksklusif, sampai dengan 6 bulan. Setelah itu baru dapat diberikan makanan tambahan, yaitu makanan pendamping asi," lanjut Ibu Negara.

"Mari kita putus mata rantai yang menjadi penyebab meningkatnya angka kematian ibu dan angka kematian bayi, karena kematian seorang ibu akan menyebabkan hilangnya kesempatan seorang anak untuk mendapatkan ASI dan kasih sayang ibu yang hakiki," ajaknya. Tingginya angka kematian ibu karena hamil dan melahirkan sangat dipengaruhi oleh faktor pendidikan, pengetahuan, sosial budaya, sosial ekonomi, keadilan, dan kesejahteraan gender, lingkungan serta kemudahan para ibu untuk mencapai sarana kesehatan modern.

Hadir dalam acara pencanangan ini antara lain adalah Menkes Siti Fadhillah Soepari, Gubernur Jawa Barat Danny Setiawan, Bupati Karawang Dadang S. Muchtar, perwakilan badan dunia UNFPA, UNICEF, WHO dan UNIFEM serta para anggota Solidaritas Istri Kabinet Indonesia Bersatu. (osa/mit)

 

 

Redaksi | Syarat & Kondisi | Peta Situs | Kontak
© 2006 Situs Web Ibu Negara Republik Indonesia - Ny. Hj. Kristiani Herawati
Hak Cipta dilindungi Undang-undang