Fokus

Selasa, 9 Februari 2010

Ibu Ani:

"Aku Masih Ingin Melihat Batik Indonesia Hidup Seribu Tahun Lagi"

 

Ibu Ani memberikan pengarahan kepada para perajin batik Cirebon di Gedung Negara, Kota Cirebon, Selasa (9/2) pagi. (foto: cahyo/presidensby.info)
Ibu Ani memberikan pengarahan kepada para perajin batik Cirebon di Gedung Negara, Kota Cirebon, Selasa (9/2) pagi. (foto: cahyo/presidensby.info)
Cirebon: Ibu Ani Bambang Yudhoyono mengajak seluruh masyarakat Indonesia untuk bersyukur karena batik Indonesia pada bulan Oktober 2009 lalu telah diakui sebagai Masterpieces of the Oral and Intangible Heritage of Humanity oleh UNESCO. "Mudah-mudahan pengakuan batik sebagai warisan tak benda yang dihasilkan Indonesia, disamping meningkatkan kreatifitas dan mutu hasil karya pembatik Indonesia, juga terus membangkitkan gairah dan semangat generasi muda sebagai pewaris sah bangsa Indonesia untuk mencintai batik," ujar Ibu Ani saat bersilaturahmi dengan perajin batik di Gedung Negara, Kota Cirebon, Selasa (9/2) siang.

"Hal ini tentu saja sekaligus mendorong terjadinya regenerasi para perajin batik di Indonesia. Seperti yang tertulis di spanduk, Batikku Warisan Bangsaku. Dengan demikian kini ada tiga mata budaya tak benda milik Indonesia yang telah ditetapkan UNESCO sebagai milik bangsa Indonesia. Penetapan ini menandakan pengakuan dunia bagi mata budaya milik Indonesia yang sudah menjadi identitas bangsa Indonesia,"Ibu Ani menjelaskan.

Sesungguhnya ada keuntungan yang diperoleh dengan masuknya budaya Indonesia dalam daftar warisan budaya Indonesia, yaitu mendapatkan bantuan teknis dan dana untuk konservasi dari UNESCO. "Ini merupakan salah satu nilai penting bagi keanggotaan Indonesia di UNESCO. Berkaitan dengan itu, tentu saja saya berharap agar pemerintah melalui Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata atau perwakilan kita di UNESCO, dapat terus memperjuangkan bantuan teknis maupun dana yang bisa diperoleh Indonesia guna terus melestarikan warisan dunia itu," harap Ibu Ani.

Sementara itu Presiden SBY senantiasa mendorong agar lebih banyak lagi warisan dan karya budaya warisan bangsa Indonesia yang didaftarkan ke PBB, sehingga akan banyak lagi budaya bangsa Indonesia yang diakui sebagai warisan dunia. "Kami datang ke Cirebon untuk memastikan bahwa batik masih diproduksi di Cirebon. Insya Allah kami datang bukan hanya menengok karena kami cinta kepada para pembatik, tetapi kami juga ingin memperkuat ekonomi Cirebon dan Jawa Barat. Nanti ikut membelanjakan apa yang kami punyai untuk berbagi dengan para perajin dari Cirebon dan Jawa Barat," ujar Ibu Ani.

Kepada para perajin batik, Ibu Negara berpesan agar para perajin bisa mengembangkan batik dengan harga yang relatif lebih menjanjikan keuntungan dan bisa bersaing dengan pasar menengah keatas. "Saya menangkap fenomena menjual batik dengan harga yang pantas dan relatif lebih mahal akan menjadi pendorong semangat bagi perajin batik tradisional. Saya juga berharap, bapak dan ibu memperhatikan mutu agar konsumen mau membayar harga yang pantas untuk mutu yang memadai," Ibu Ani mengingatkan.

"Kejujuran dari pembatik juga harus tetap dijaga. Dalam arti, katakan yang sejujurnya bila itu batik tulis, dan katakan sejujurnya pula bahwa itu adalah batik cap. Jangan pernah menipu konsumen," pesan Ibu Ani. Ibu Ani berharap mulai saat ini dan seterusnya, batik bisa menjadi icon dari Indonesia karena belum ada dari negara manapun yang memiliki kekayaan desain seperti Indonesia. "Ingat Indonesia, Ingat Batik. Marilah kita tanamkan bersama dalam benak kita masing-masing untuk sebuah pengakuan yang tulus namun penuh harapan, Aku Masih Ingin Melihat Batik Indonesia Hidup Seribu Tahun Lagi," seru Ibu Ani. (osa)

 

 

Redaksi | Syarat & Kondisi | Peta Situs | Kontak
© 2006 Situs Web Ibu Negara Republik Indonesia - Ny. Hj. Kristiani Herawati
Hak Cipta dilindungi Undang-undang