Pidato Presiden

Jakarta, Rabu, 5 Januari 2005

Sambutan Dalam Acara Melepas Pengiriman Bantuan Gempa Untuk Korban Bencana Alam

 

TRANSKRIPSI
SAMBUTAN IBU ANI BAMBANG YUDHOYONO
DALAM ACARA
MELEPAS PENGIRIMAN BANTUAN GEMPA
UNTUK KORBAN BENCANA ALAM, DI KABUPATEN MEULABOH
ISTANA NEGARA, 5 JANUARI 2005



Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

Selamat pagi, dan
Salam sejahtera untuk kita sekalian,

Yang saya hormati Bapak Dan Lanud, Bapak Sudono KS,
Bapak Adjie Notonegoro,
Para Istri Kabinet Indonesia Bersatu,
Para Relawan,
Para Donatur,
Hadirin sekalian yang berbahagia,

Pada pagi hari ini, tentu patut kita panjatkan puji dan syukur ke hadirat Allah SWT, karena atas rahmat dan ridho-Nya, kita dapat berkumpul di teras depan dari Istana Negara ini, dalam keadaan sehat dan wal afiat.

Bencana nasional yang dialami oleh bangsa Indonesia, dan juga bangsa-bangsa lain di sekitar Indonesia, merupakan suatu cobaan buat kita semua. Saya katakan cobaan dan ujian buat kita, ini bukanlah suatu hukuman buat kita. Kalau ujian dan cobaan, tentu kita semua, ingin sekali melewati ataupun lulus dari ujian tersebut. Dan saya bangga sekali, karena ternyata, bangsa Indonesia, mempunyai sifat kegotongroyongan, kepedulian sosial yang sangat tinggi, terhadap saudara-saudaranya yang tertimpa musibah.

Seperti Bapak dan Ibu ketahui, bahwa pada tanggal 26 Desember yang lalu, pada saat terjadi gempa dan tsunami di Aceh, saya sedang mendampingi Bapak Presiden Republik Indonesia, untuk menengok saudara-saudara kita, yang berada di Nabire, yang juga terkena musibah gempa bumi. Walaupun korbannya tidak sebesar Aceh, namun keadaannya pun sangat menyedihkan. Dan sebelumnya, kami juga berangkat ke Alor, untuk menengok saudara-saudara kita juga, yang terkena bencana di Alor.

Hadirin sekalian yang saya hormati,
Betapa perih rasanya melihat saudara-saudara kita, karena ketika kunjungan ke Nabire, kemudian dilanjutkan ke Jayapura, untuk bersama saudara-saudara kita, merayakan Natal bersama, seharusnya Presiden beserta rombongan akan singgah ke Ambon, untuk menengok saudara-saudara kita, yang merayakan Natal di sana. Tetapi karena keadaan darurat, maka seketika itu juga, Presiden memutuskan untuk langsung terbang dari Jayapura menuju ke Banda Aceh. Dengan penerbangan yang kira-kira sembilan jam, secara keseluruhan, dengan kita mengambil bahan bakar dua kali, Makasar dan Batam, akhirnya kita tiba di Lhokseumawe.

Di sana kami langsung meninjau daerah yang terkena bencana. Memang sungguh sangat menyedihkan. Kemudian kami menengok pengungsi yang berada, ditampung di lapangan yang ada di Lhokseumawe. Sesungguhnya, ketika kami datang, mereka sejenak melupakan kesedihan yang ada, mereka sangat gembira dengan kehadiran Presiden secara langsung, tetapi setelah itu, mereka baru menangis, menangis kepada kami, betapa mereka sebetulnya, sungguh, memerlukan uluran tangan saudara-saudaranya yang lain. Kami, saya juga menyampaikan secara langsung kepada mereka, bahwa, “Percayalah Saudara-saudaraku di Aceh, kami semua yang berada di luar Aceh ini, semuanya cinta kepada rakyat Aceh”. Saya sampaikan bahwa, “Jangan pernah percaya, kalau ada orang yang mengatakan, bahwa rakyat Aceh itu dianaktirikan atau dilupakan oleh seluruh bangsa Indonesia, jangan percaya akan rumors yang seperti itu”.

Kemudian, setelah satu hari, kami berangkat ke Banda Aceh. Jadi hari ketiga kami sudah sampai ke Banda Aceh, yang keadaannya memang masih sangat menyedihkan, kalau dikatakan bahwa pemerintah kurang tanggap, pemerintah kurang tanggap. Saya kira, rakyat Indonesia akan tahu, betapa sesungguhnya, pada hari kedua pun kami sudah ada di tempat. Namun kita tinggalkan rumors yang beredar di luar, yang kita adalah karya kerja kita, yang nyata dari kita. Perhatian kita secara langsung kepada mereka. Kalau terjadi, barangkali, miss komunikasi, atau komunikasi belum berjalan dengan baik, atau barangkali koordinasi yang belum berjalan dengan baik, harus kita maklumi, karena mereka dalam kondisi yang sangat kacaulah, boleh dikatakan pada waktu itu. Tapi sesungguhnya, kami semua sudah bergerak.

Bahkan hadirin sekalian, pada saat kami ke Nabire, kami membawa bantuan, sumbangan dari para donatur yang mempercayakannya kepada Ibu Negara, untuk disampaikan kepada para korban, tetapi pada waktu masih separuh yang belum bisa kami angkat. Karena memang ke Nabire pun juga membutuhkan angkutan dan di sana memang, yang namanya lapangan terbang, retak, pada ujung-ujungnya. Ujung sebelah depan dan ujung sebelah belakang. Sehingga setiap saat kita harus landing, harus memilih daerah-daerah yang tidak mengalami keretakan. Pelabuhan di sana juga mengalami kerusakan yang sangat berat. Untuk itu, pada saat kita tahu bahwa bencana Aceh terjadi, maka bantuan yang seharusnya, mohon maaf para donatur, yang mempercayakan kepada kami untuk diberangkatkan ke Nabire, kami alihkan langsung ke Aceh. Sehingga pada hari kita berada di Lhokseumawe, bantuan itu sudah sampai kepada rakyat Aceh.

Ini saya beritahu kepada Hadirin sekalian, agar supaya, mari kita terbuka, jangan hanya bisa menyalahkan orang lain, tetapi sesungguhnya kita sudah berbuat. Dan semua aparat di sana pun, Saudara-saudara ketahui, PMI banyak yang hilang, polisi, yang seharusnya juga menjaga keamanan, hilang, beserta keluarga dan asramanya. Itulah kejadian yang sesungguhnya. Oleh karena itu, saya hanya berharap, sebagai seorang yang mempunyai kesetiakawanan sosial, kita terus bekerja, kita terus membantu, rakyat yang betul-betul membutuhkan. Tidak perlu memikirkan apa kata orang. Kita ingin berbuat baik? Berbuat baiklah, mulai sekarang, dan seterusnya. Insya Allah, amal dan perbuatan kita, yang mencatat adalah Allah Yang Maha Kuasa, bukan manusia.


Hadirin sekalian,
Sebagai pribadi dan Ibu Negara, saya tetap bangga menjadi bangsa Indonesia, yang mempunyai budaya gotong royong, dan dikenal dengan masyarakat ramah dan santun. Untuk itu marilah kita tunjukkan kepada dunia luar, bahwa kita adalah satu dalam Negara Kesatuan Republik Indonesia, dari Sabang sampai Merauke.

Tentu pada kesempatan ini, kami mengucapkan terima kasih kepada para donatur, Pak Adjie Notonegoro, beserta seluruh Rekan-rekan, karena saya juga tahu, banyak orang yang memberikan kepercayaan kepada Ibu Negara untuk menyampaikan bantuan-bantuan tersebut. Namun saya katakan di sini, Bapak dan Ibu sekalian, dalam keadaan yang demikian menyedihkan pun, masih ada oknum-oknum yang mengambil kesempatan di dalam kesempitan. Saya sampaikan kepada Bapak dan Ibu sekalian, dan tolong, apa yang saya sampaikan ini, sampaikan lagi kepada masyarakat luas. Karena, beredar SMS, bahkan juga melalui telepon, yang mengatasnamakan keluarga Presiden, baik saya, mungkin anak saya, yang bernama Eddy Baskoro Yudhoyono. Banyak sekali Ibu-ibu, kemarin, yang mengkonfirmasi kepada kami. Terima kasih, karena Ibu-ibu dan Bapak-bapak mau mengkonfirmasikannya kepada kami.

Anak saya, Eddy Baskoro Yudhoyono, masih menjadi mahasiswa yang mempunyai keinginan yang baik, bersama teman-temannya, mengumpulkan bantuan. Ada yang memberikan sarung, pakaian, makanan, susu, dan juga ada uang. Terkumpul, beberapa, saya tidak tahu berapa ton, tetapi waktu itu sudah langsung dikirimkan melalui Lanud dan Kolinlamil. Dan kemudian uang sisa dari yang mereka belanjakan, sebanyak 30 juta rupiah, juga diserahkan kepada saya, untuk diberikan kepada korban yang lainnya. Jadi itulah Ibu, Eddy Baskoro Yudhoyono, memang mengumpulkan, tapi pada waktu itu kami menamakan Posko Cikeas. Setelah dikirimkan, ya sudah. Dan Eddy Baskoro Yudhoyono kini sudah kembali ke Australia, untuk melanjutkan studinya di sana.

Jadi mohon, kalau memang ada yang mengatasnamakan anak kami, kemudian juga mungkin, Ibu Ani sendiri, tolong, jangan mudah percaya. Karena bisa saja mereka adalah orang-orang yang mau mengambil keuntungan, tapi bisa juga mereka yang ingin menjatuhkan keluarga Presiden. Karena setelah saya selidik, dengan nomor rekening yang diberikan, katanya, dari Mandiri, kami lacak ke Mandiri sana. Nomor rekening itu tidak ada. Jadi, berarti memang hanya ingin menjatuhkan nama dari keluarga Presiden. Jadi saya mohon hal ini disampaikan kepada saudara-saudara yang lain, khalayak lain, bahwa tidak pernah Ibu Ani maupun keluarganya, meminta apalagi mengirimkan uang secara tunai ke rekeningnya. Boleh dicek, Allah Maha Tahu, kami tidak pernah melakukan hal seperti.

Kepada para Relawan yang akan berangkat, saya ucapkan selamat. Mana yang akan berangkat? Yang akan berangkat siapa? Baik? Dokter-dokter? Alhamdulillah, terima kasih. Tenaga Adik-adik, atau Bapak-bapak sekalian sangat dibutuhkan di sana. Kami datang ke Meulaboh, waktu itu baru saja mendarat KRI dari Angkatan Laut, …(suara tidak jelas)

…kemudian, Ibu, namanya Ibu Isnah, menyatakan bahwa, “Ibu, saya membawa anak lima, ini anak tetangga saya yang ikut bersama-sama kami, mereka berdua tidak punya keluarga”. Oleh karena itu, saya tawarkan, “Mau tidak, ikut Ibu ke Jakarta”. Karena kebetulan, sehari sebelumnya, … (suara tidak jelas) sedang berpikir, bagaimana caranya menyelamatkan anak-anak. … (suara tidak jelas). …, karena saya kira, belum tentu mereka kehilangan kedua orang tua maupun saudaranya. Siapa tahu mereka masih ada saudara dan orang tua, tapi masih berpisah. Untuk itu, saya mohon doa restu juga, kita bersama-sama …, nanti akan membuat rumah-rumah singgah di Banda Aceh, karena Presiden juga sudah menginstruksikan bahwa, anak-anak Aceh, sebisanya, jangan dibawa keluar Aceh terlebih dahulu. Pertemukan dulu mereka dengan saudaranya. Bila suatu saat memang tidak bertemu, itu nanti akan kita pikirkan berikutnya. Mungkin pola pengasuhan yang akan kita terapkan.

Saya kira, itu, kemudian, terima kasih atas perhatiannya. Sekali lagi Pak Adjie Notonegoro, terima kasih para Donatur, terima kasih para Relawan, Dokter dan Relawan yang lainnya. Selamat bekerja di sana. Sampaikan salam Bapak Presiden dan kami, Istri-istri Kabinet Indonesia Bersatu ini, kepada rakyat Aceh. Dan sampaikan pula, bahwa kami mencintai rakyat Aceh. Yakinkan bahwa kami semua mencintai rakyat Aceh. Dan tentu saja, jaga kesehatan, karena apa pun juga, kesehatan Adik-adik sekarang ini perlu diperhatikan. Jangan kita bekerja, lupa dengan kesehatan sendiri.

Akhirnya dengan mengucapkan Bismilahirrahman nir rahim, secara resmi, saya berangkatkan bantuan bencana alam yang keempat kalinya.

Wabilahi taufik wal hidayah, wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

*****

Biro Pers dan Media
Sekretariat Presiden


Redaksi | Syarat & Kondisi | Peta Situs | Kontak
© 2006 Situs Web Ibu Negara Republik Indonesia - Ny. Hj. Kristiani Herawati
Hak Cipta dilindungi Undang-undang