Pidato Presiden

Nanggroe Aceh Darussalam, Sabtu, 19 Februari 2005

Sambutan Pada Acara Kunjungan Kerja Ke Propinsi NAD

 

TRANSKRIPSI
SAMBUTAN IBU NEGARA REPUBLIK INDONESIA
PADA ACARA
KUNJUNGAN KERJA
KE PROVINSI NANGGROE ACEH DARUSSALAM
BANDA ACEH, 19 FEBRUARI 2005




Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh,
Selamat siang,
Salam sejahtera untuk kita semua,

Yang saya hormati Ibu Meutia, Istri Warkil Gubernur Nanggroe Aceh Darussalam,
Dan Bapak-bapak dari PU,
Istri Kapolda,
Istri Pangdam,
Hadirin sekalian yang berbahagia,

Pada siang hari yang berbahagia ini, saya datang ke Aceh dalam keadaan sehat wal’afiat, bersama-sama dengan Bapak Presiden Republik Indonesia. Ini adalah keenam kalinya kami datang ke mari, setelah terjadinya bencana tsunami.

Tadi saya mendampingi Bapak Presiden untuk meninjau jembatan yang ada di Lhok Nga. Sungguh sangat memprihatinkan sekali, keadaan dimana ketika beberapa hari atau beberapa minggu yang lalu kami datang ke mari, melihat dari udara dan ternyata begitu melihat dari bawah keadaan lebih mengenaskan lagi. Tetapi tentu saja, Bapak Presiden dan saya pun sangat bergembira, karena jembatan yang menghubungkan antara Banda Aceh, Lhok Nga dan seterusnya sampai ke Meulaboh sudah kembali terbangun. Hanya tinggal beberapa saja yang belum terbangun, dan ini akan dilakukan oleh baik dari TNI maupun dari PU.
Ibu-ibu sekalian yang berbahagia,
Ketika terjadi bencana tsunami yang lalu, tentu saja kita semua terkejut, bukan hanya kita bahkan seluruh mata tentunya memandang kepada Aceh ini. Suatu hal yang tidak kita perkirakan sama sekali. Ini adalah kehendak dari Allah SWT. Kita tidak bisa menyesali terus-menerus. Akan tetapi yang harus kita lakukan adalah mari kita bersama bertawakallah dan segera bangkit untuk membangun kembali Aceh ini.

Saya tahu betapa sedihnya Ibu-ibu sekalian, Bapak-bapak dan Anak-anak yang kehilangan, mungkin orangtua, mungkin saudara, kakak, adik. Bahkan tadi, ketika kami mampir ke daerah penampungan, barak yang baru, itu juga mereka ada yang menangis karena kehilangan seluruh keluarganya, dia hanya seorang diri. Ini keadaan yang sangat menyentuh. Akan tetapi terus terang saja hal ini tidak boleh kita biarkan begitu saja. Bangkitlah Saudara-saudaraku, bangkitlah Anak-anakku, belajarlah terus, raihlah cita-citamu, karena kalianlah nanti yang akan menjadi harapan atau tunas bangsa yang ke depan akan menjadi pemimpin-pemimpin di Indonesia, mungkin di Aceh ini ataupun di wilayah yang lainnya.

Perlu kami sampaikan di sini bahwa istri Kabinet Indonesia Bersatu berkumpul dalam suatu wadah yang disebut dengan Solidaritas Istri Kabinet Indonesia Bersatu atau disingkat dengan SIKIB. Kami semua merasa prihatin dan ingin membantu Saudara-saudara kita yang berada di sini. Ada satu hal yang akan kami sampaikan, yang pertama, kami melakukan kegiatan yang bekerja sama dengan BAZNas-Badan Amal Zakat Nasional, yang juga secepatnya akan membangun sebuah tempat tinggal dan juga tempat bersekolah di tempatnya Ibu Tarmizi. Daerah ataupun tanah sudah ada. Saya lupa namanya daerah mana? Indrapuri. Kalau tidak salah di daerah Indrapuri. Kami tadi sebetulnya ingin berangkat ke sana, tetapi karena jauh dan waktu yang kami punya hanya sedikit, maka ke Indrapuri kami batalkan, dan memang belum dibangun apa-apa.

Di sana ada 11 panti asuhan yang dikelola oleh Ibu Tarmizi beserta Bapak Tarmizi, ada 200 anak yang dititipkan di sana, dan itulah yang akan kita bangunkan nanti, tempat tinggal dan juga untuk sekolahan.
Sebetulnya, BAZNas bersama-sama dengan BUMN Peduli, jadi BUMN Peduli, BAZNas dan SIKIB bersama-sama yang ingin membantu, akan tetapi Ibu-ibu sekalian, alhamdulillah, ketika kita mempunyai niat membantu ada dermawan lain yang juga ingin membantu lewat kami, yaitu dari Trans TV. Jadi akhirnya, kemungkinan lokasi itu semua ditanggung oleh Trans TV, kemudian kami yang akan mengisi dalamnya, peralatan dan perlengkapan di dalamnya dan juga pembiayaan terhadap anak-anaknya.

Kegiatan proyek kami yang kedua adalah bersama-sama dengan Istri Wakil Gubernur, Ibu Meutia, kami juga menitipkan 100 anak yatim piatu di Panti Asuhan Limo. Ini juga belum kami tengok ke sana, tetapi Istri-istri Kabinet Indonesia Bersatu yang lain sudah hampir semua ke sana. Kami juga ingin memberikan santunan berupa mungkin biaya sekolah, yang kalau dihitung-hitung jadi satu anak sebulannya 350 ribu rupiah. Insya Allah ini, sampai sekarang kalau kita hitung, memang uang kami ada dari para dermawan, disamping dari kami-kami istri Kabinet Indonesia Bersatu. Tetapi kalau kita hitung kelihatannya sekarang ini cukup hanya dua tahun. Insya Allah bisa kita lanjutkan, tetapi paling tidak, kami punya niat dua tahun, minimal begitu.

Kemudian yang ketiga adalah SIKIB bekerja sama dengan GIC, sebuah LSM yang akan memberikan bantuan berupa rumah atau satu compound yang alhamdulillah tanah ini dimiliki oleh Keluarga Muluk, kalau tidak salah begitu ya, Keluarga Muluk yang meminjamkan tanah ini untuk dijadikan rumah-rumah. Rumah ini bukan rumah permanen, Ibu-ibu sekalian, terus terang saja ini adalah rumah sementara. Sehingga kita namakan sebagai rumah sementara keluarga Aceh. Kalau yang tadi di daerah Ibu Tarmizi, namanya adalah “Selamatkan Tunas Bangsa”, karena tunas bangsa, anak-anak adalah tanggung jawab kita bersama. Yang di sini sekali lagi ada 50 rumah yang nanti akan dijadikan sebagai percontohan. Sekali lagi ini bukan rumah permanen, ini hanya rumah sementara. Daripada keluarga-keluarga tingga di tenda-tenda, alangkah lebih baiknya kalau mereka yang tentu saja tidak keberatan untuk tinggal di sini.

Kemudian kami juga berniat untuk memberdayakan ibu-ibu PKK yang dikelola oleh Ibu …. Terus terang saja, bantuan demi bantuan demikian banyak yang diberikan kepada rakyat Aceh. Akan tetapi yang kita inginkan yang kami inginkan masyarakat Aceh itu nantinya dapat berdiri sendiri. Untuk itu saya tahu bahwa kaum perempuan Aceh pandai sekali membordir dan mebuat keterampilan lainnya. Oleh karena itu beberapa saat yang lalu, kalau tidak salah ketika Idhul Adha, kami membawa mesin jahit, mesin bordir dan mesin obras yang akan dimanfaatkan oleh ibu-ibu di bawah pengawasan atau pembinaan dari Ibu Meutia agar mereka semua mempelajari kembali. Saya tahu kaum perempuan Aceh pandai untuk membuat sebuah bordiran yang khas Aceh. Tetapi saya juga berpikir kemungkinan itu juga sudah hilang ditelan oleh tsunami.

Untuk itu saya ke sini membawa apa-apa yang pernah Ibu-ibu berikan kepada saya ketika kunjungan saya beberapa waktu yang lalu, atau ketika Ibu datang ke Jakarta memberi saya cendera mata berupa handicraft ataupun kerajinan tangan buatan Aceh. Saya bawa kembali, saya kembalikan kepada ibu-ibu di sini untuk silahkan dicontoh kembali karena saya tahu mereka mungkin yang sudah pandai, mungkin juga hilang ditelan oleh tsunami.

Dan tentu saja Ibu-ibu sekalian, handicraft ini saya kembalikan, silahkan dipakai oleh Ibu-ibu sekalian. Manakala suatu saat Ibu-ibu sudah pandai membuatnya dan ingin memberi saya lagi, tentu dengan senang hati saya akan menerimanya. Sekali lagi tentu saja ini adalah membuat kesibukan Ibu-ibu, keterampilan Ibu-ibu kembali lagi. Dan saya tidak ingin budaya Aceh ini hilang, terus-terang saja Ibu-ibu. Itulah maka tekad dari kami, dari SIKIB ini, memberdayakan kembali Ibu-ibu sekalian. Suatu saat bisa bangkit kembali seperti dulu, bisa bergabung lagi dengan saudara-saudara dari daerah lain untuk mengadakan pameran bersama di Jakarta, bahkan mungkin suatu saat di luar negeri. Bila suatu saat pula Ibu-ibu bisa mendapatkan income dari situ, siapa tahu nanti Ibu-ibu juga dapat membiayai putra-putri Ibu, bahkan mungkin anak-anak yang kita titipkan di Panti Nirmala maupun di Rumah Selamatkan Tunas Bangsa tadi.



Ibu-ibu sekalian,
Sekali lagi ini mungkin tidak terlalu besar, hanya 3x3, tipe 36, bukan 3x3, salah saya. Tipe 36, yang nanti setiap rumah ini akan dilengkapi oleh kami dengan kitchen set, alat-alat untuk memasak, demikian juga dengan higienis kit ya, kemudian juga itu tadi, ada barangkali mesin jahit untuk pemberdayaan Ibu-ibu sekalian.

Jadilah contoh bagi kaum perempuan Aceh yang lainnya. Mudah-mudahan mereka nanti semuanya tertarik dan ikut bersama-sama dengan kita yang ada di sini nanti untuk memajukan Aceh ini. Sebelum ini nanti tentu saja kita akan meninjau apa yang ada di dalam, karena ini baru satu Bu, baru satu, nanti semuanya akan sekitar 50 orang, maksud saya 50 rumah, kemudian saya tidak tahu nanti Ibu Meutia, ada mushala, ada kliniknya juga, tetapi yang saya maksud adalah tanah ini, karena ini tanah adalah pinjaman dari Keluarga Muluk, tentu saja ini harus kita bicarakan untuk berikutnya. Tapi mohon bisa dimanfaatkan semaksimal mungkin dan tentu saja dengan negosiasi dengan Ibu Muluk.

Akhirnya tentu saja saya ucapkan sekali lagi kepada Ibu Muluk, saya tidak bisa bertemu dengan beliau di sini? Ada di sini? Ibu Muluknya kelihatannya belum hadir di sini. Oh, sedang ke Jakarta, baik, tentu saja saya lewat Ibu Meutia, tolong sampaikan ucapan terima kasih dari SIKIB agar bantuan yang ada pada kami ini bisa dimanfaatkan. Dan terima kasih lokasi di sini sudah dipinjamkan kepada kami.

Sekali lagi, mudah-mudahan kebudayaan Aceh dapat dilestarikan. Dan mohon kepada Ibu-ibu yang terkena musibah di Aceh ini, janganlah pernah berputus asa. Sekali lagi jangan dianggap bahwa ini adalah hukuman dari Allah, ini adalah ujian. Layaknya sebuah ujian, siapapun ingin lolos dari ujian ini. Untuk itu, marilah bersama-sama dengan saudara-saudara yang lain, dari daerah lain, kita bangun Aceh kembali. Mudah-mudahan dengan tekad kita yang besar untuk bisa membangun Aceh, agar bisa berkembang lebih baik lagi di masa yang akan datang.

Dan kepada anak-anakku, selamat belajar. Sekali lagi jangan pernah putus sekolah. Kalian adalah tunas bangsa. Kalianlah nanti yang akan jadi pemimpin di Aceh ini. Pemimpin di Indonesia ini. Akhirnya saya sampaikan salam Bapak Presiden kepada Ibu-ibu dan Hadirin sekalian, dan sekali lagi marilah kita sama-sama berdoa untuk masa depan kita.

Terima kasih atas perhatiannya,
Wabilahi taufik wal hidayah wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.


* * * * *




Biro Pers dan Media
Sekretariat Presiden


Redaksi | Syarat & Kondisi | Peta Situs | Kontak
© 2006 Situs Web Ibu Negara Republik Indonesia - Ny. Hj. Kristiani Herawati
Hak Cipta dilindungi Undang-undang