


Hotel Dharmawangsa, Jakarta, Kamis, 28 Agustus 2008
SAMBUTAN
IBU NEGARA REPUBLIK INDONESIA
PADA ACARA
PERESMIAN CITA TENUN INDONESIA 2008
HOTEL DHARMAWANGSA JAKARTA, 28 AGUSTUS 2008
Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh,
Selamat pagi dan salam sejahtera buat kita sekalian,
Yang saya hormati dan saya sayangi Ibu Ida Jusuf Kalla;
Yang saya hormati ibu-ibu yang tergabung dalam Solidaritas Istri Kabinet Indonesia Bersatu;
Yang saya hormati perwakilan negara sahabat, Duta Besar dan Istri;
Yang saya hormati para Direktur BUMN;
Yang saya hormati hadirin sekalian, para perancang busana, desainer, pengusaha, panitia penyelenggara, peserta pameran dan sekali lagi undangan yang berbahagia.
Pada kesempatan yang amat baik ini saya juga ingin mengajak hadirin sekalian untuk sekali lagi memanjatkan puji dan syukur ke hadirat Allah SWT, karena atas rahmat dan ridlo-Nya lah pada pagi hari ini kita dapat berkumpul di ruangan yang indah dalam keadaan sehat wal afaiat.
Saya merasa amat berbahagia pada pagi ini berada di sini bersama-sama hadirin sekalian, setelah kita dan seluruh bangsa Indonesia memperingati HUT Kemerdekaan RI ke-63, hari yang kita nikmati bersama, mulai dari Presiden, para Menteri, para pengusaha, para petani, nelayan, buruh, para perajin, dan anak2 sekolah. Tentu kita semua wajib bersyukur karena Bendera Merah Putih yang menjadi pengikat jiwa Bangsa Indonesia masih tetap berkibar dengan megahnya di bumi Pertiwi. Kita semua yang berada di sinipun wajib bersyukur karena masih diberi kesempatan untuk mengisi kemerdekaan ini dengan karya nyata di bidang masing-masing. Tentu saja termasuk dalam bidang kerajinan tenun guna melestarikan, mengembangkan, serta memasarkan tenun Indonesia sebagai warisan budaya bangsa, yang akhirnya untuk meningkatkan kesejahteraan para perajin serta meningkatkan perekonomian nasional kita.
Good morning, my distinguished guests, Mr. Ambassadors and spouses, head of mission and spouses, ladies and gentlemen.
I am very humble to stand before you today in the opening of Exhibition, organized by Cita Tenun Indonesia Association. I believe that your present here as an appreciation of the work of tenun as an art, and also to show your interest of traditional Indonesian tenun. These mean a lot to us. I wish you will have time to enjoy seeing all the exhibition stands and the fashion show.
Hadirin sekalian,
Sebelum saya lanjutkan saya ingin menyampaikan salam hangat dari Bapak Presiden Republik Indonesia, Bapak Susilo Bambang Yudhoyono, beliau berharap agar acara pagi ini yaitu Peresmian Perkumpulan Cita Tenun Indonesia yang ingin meningkatkan kreatifitas dan inovasi anak bangsa, yang ditujukan selain untuk melestarikan warisan budaya bangsa, juga untuk mengangkat tenun menjadi salah satu produk yang dapat diunggulkan dan dipasarkan secara luas lagi, dapat berjalan dengan lancar dan mencapai tujuan yang diharapkan.
Hadirin sekalian,
Tadi kita telah saksikan video yang menceritakan tentang tenun Indonesia. Indonesia memang dikenal sebagai negara kepulauan yang terbesar di dunia, dengan lebih dari 17.600 (tujuh belas ribu enam ratus) pulau dengan 491 ras dan 567 dialek, serta keaneka-ragaman seni budaya dan kekayaan sumber daya alamnya.
Indonesia juga memiliki ragam tenun terbanyak di dunia dengan populasi pengrajin tenun tersebar di 33 provinsi, yang konsentrasinya dan sebaran utamanya ada 19 provinsi; Nangro Aceh Darussalam, Sumatera Utara, Jambi, Sumatera Barat, Sumatera Selatan, Jawa Barat, Jawa Tengah, Yogyakarta, Jawa Timur, NTB, NTT, Bali, Kalimantan Selatan, Kalimantan Barat, Sulawesi Selatan, sampai ke Papua. Kita wajib mensyukuri pemberian Tuhan sebagai rahmat yang dapat kita jadikan sebagai modal untuk membangun Indonesia yang aman, lebih adil dan lebih sejahtera.
Kita juga sudah mendengarkan sejarah dari tenun itu sendiri, sebetulnya hasil kerajinan yang tadi sudah dipaparkan oleh Ibu Widodo bahwa tenun itu terbuat dari kapas atau benang kapas dan juga serat kayu. Dengan cara memasukan pakan secara melintang pada lungsin, yakni jajaran benang yang terpasang membujur. Kain tenunan ini dibuat dengan seperangkat alat tenun yang sekarang kita sebut dengan nama ATBM atau Alat Tenun Bukan Mesin.
Kepandaian bertenun merupakan aktivitas budaya manusia yang berasal dari jaman prasejarah, yang dikembangkan dalam berbagai masyarakat di berbagai bagian dunia. Pusat-pusat budaya pertenunan kuno yang dikenal, antara lain, Asia Timur, India, dan Asia Barat.
Di Indonesia, kerajinan tenun sudah dikenal sejak beberapa abad sebelum Masehi. Kepandaian ini merupakan kelanjutan pengalaman dan pengetahuan membuat barang-barang dari anyaman, daun-daunan dan serat kayu, yang digunakan sebagai wadah maupun busana.
Perkembangan tenun terarah pada peningkatan mutu bahan, keindahan dan tadi Ibu Widodo, juga sudah mengatakan kaya dengan simbol dan sarat dengan makna. Kalau dulu kita menggunakan tenun maka pada upacara adat, dan religi simbolnya dapat kita lihat, memperlihatkan status dari orang yang memakainya. Kain-kain tenun juga digunakan dalam upacara daur hidup atau inisiasi, sebagai mas kawin, dalam upacara pertanian, dan lain-lain.
Hasil pertenunan yang terkait dengan berbagai latar belakang budaya dan lingkungan itu melahirkan aneka corak tenun ikat dan juga tenun songket. Hal itu memperlihatkan variasi yang kaya dan indah, tadi kita sudah sama-sama menyaksikan para pengurus CTI yang berdiri di depan sini dengan menggunakan kain-kain tenun Indonesia yang demikian indahnya. Kita bisa melihat bahwa songket yang sering kita tahu berasal Palembang maupun Sumatera Barat. Kain tenun yang kita sebut dengan nama Endek biasanya itu berasal dari Bali kemudian ada tenun Donggala, ada Sulawesi Tengah, Tapis di Lampung, Ulos di Batak, Lurik di Yogyakarta, dan juga kain tenun dari Timor yang berfungsi sebagai entah itu selendang, selimut atau sarung, dari sekali lagi Nusa Tenggara Timur.
Hadirin sekalian,
Di masa lalu, tenun tradisional merupakan salah satu produk unggulan bangsa Indonesia yang kaya akan motif, warna serta mempunyai nilai historis dengan sekali lagi ciri khas masing-masing daerah. Saat ini para perajin tenun tradisional mulai enggan melanjutkan produksinya. Karena tadi juga disampaikan oleh Ibu Widodo, mereka merasa kalah bersaing dengan perajin batik misalnya. Kurangnya minat para perajin itu antara lain karena dalam produksinya memakan waktu yang cukup lama, mulai dari pemintalan benang kemudian setelah menjadi benang baru ditenun, memakan waktu yang cukup lama, serta sebetulnya apresiasi atau kurangnya apresiasi dari masyarakat terhadap tenun tradisional Indonesia.
Hal ini tentu sangat memprihatinkan kita, karena bila tidak kita selamatkan, seperti tadi yang disampaikan oleh Ibu Widodo lama-lama tenun Indonesia akan punah, ataupun warisan nenek moyang kita itu bisa saja punah. Bahkan tadi Ibu Widodo mengatakan jangan-jangan perajin pun dibajak ke negara lain untuk bisa mendapatkan kesejahteraan yang lebih tinggi di negara lain. Sekali lagi hal ini harus menjadi perhatian kita bersama.
Oleh karena itu, saya menyambut baik hadirnya Perkumpulan Cita Tenun Indonesia yang merupakan salah satu solusi untuk terus melestarikan tenun Indonesia. Dengan menghimpun para pencinta tenun, para perajin serta desaigner, saya berharap perkumpulan ini akan mampu tidak saja melestarikan budaya tenun di Indonesia, melainkan utamanya untuk meningkatkan ekonomi para perajin itu sendiri.
Saya berharap Cita Tenun Indonesia tidak hanya menjadi perkumpulan yang hanya semusim, tetapi dapat terus langgeng dan bersinergi serta memperingan tugas Dewan Kerajinan Nasional, atau DEKRANAS yang diketuai oleh Ibu Ida Jusuf Kalla. Tentu saja dalam membina para perajin dan juga melakukan pelatihan-pelatihan. Menurut pendapat saya, makin banyak organisasi atau perkumpulan serupa, berarti makin banyak orang yang peduli terhadap tenun tradisional Indonesia. Hal itu tentu sangat positif karena pada hakekatnya yang akan diuntungkan adalah para perajin atau para penenun itu sendiri.
Hadirin sekalian,
Hasil tenun tradisional kita sebenarnya tidak kalah dengan produk dari negara lain, terutama dalam hal motif dan warnanya, hanya saja potensi tenun kita belum tergali dan belum tereksploitasi. Oleh karenanya kerjasama yang baik antara ketiga unsur tadi dan juga pemerintah akan sangat menentukan keberadaan atau eksistensi tenun Indonesia. Sebagaimana kerajinan batik yang sudah amat populer di Indonesia, seperti yang kita saksikan dua bulan terakhir batik menjadi primadona sebagai bahan busana pria, wanita, tua, muda bahkan anak-anak, maka saya berharap kain tenun Indonesia dapat pula segera menyusul popularitas batik Indonesia.
Harapan saya melalui perkumpulan CTI, yang baru saja kita saksikan penandatanganan MOU dengan para direktur utama maupun yang mewakili baik itu swasta dan pemerintah dengan berbagai program kerjanya, akan mampu mengangkat harkat dan martabat perajin tenun Indonesia, bahkan lebih jauh lagi pekerjaan di bidang pertenunan ini kelak dapat diakui sebagai pekerjaan profesional, dimana para perajin dapat menerima upahnya seperti profesional lainnya.
Saya yakin, dengan demikian kekhawatiran dari Ibu Widodo tadi tidak perlu lagi terjadi, karena kerajinan tenun Indonesia akan punah, karena dengan sendirinya para perajin itu akan menurunkan bakatnya dan akan menurunkan keahliannya kepada keluarga dan sanak saudaranya, bahkan kaum muda yang ada di Indonesia, karena mereka merasa yakin bahwa mereka dapat mengandalkan hidupnya dari bertenun.
Insya Allah hal itu tentunya harus dibarengi dengan peningkatan pengetahuan dan keahlian atau skill para perajin, terutama dalam meningkatkan mutu dan kualitas produksi tenun agar mampu merebut pasar domestik, bersaing dalam pasar global. Kalau tadi Ibu Widodo mengatakan biasanya ada pada masalah bahan tenun itu sendiri ditambah lagi dengan pewarnaan, sekali lagi saya sampaikan, jangan pernah ada kata-kata luntur tidak ditanggung. Oleh karena itu mohon kepada CTI barangkali bisa memberikan pelatihan-pelatihan dan pengetahuan kepada para penenun atau perajin kita, harusnya ditanggung tidak luntur, tapi kalau bacanya dari belakang luntur tidak ditanggung. Jadi saya berharap ini bisa diajarkan kepada para perajin kita.
CTI dapat tampil menjadi Pembina para perajin agar mereka dapat lebih menyempurnakan produknya. Kita sering mendengar keluhan dari para perajin, bahwa yang menjadi kendala utama bagi mereka adalah masalah permodalan, bahan baku, dan pemasaran. Kita sudah saksikan tadi Direktur Bank dari BRI, ada Wakil Direktur dari BNI dan juga Mandiri ada tidak? Mandiri juga sebetulnya memberikan KUR atau Kredit Usaha Rakyat yang diluncurkan oleh Bapak Presiden pada bulan November tahun lalu, maka seharusnya modal tidak boleh lagi menjadi kendala kita bersama. Bank Mandiri, BRI, maupun BNI sudah dapat memberikan pinjaman modal usaha dengan persyaratan yang jauh lebih mudah. CTI,dapat ikut mempromosikan, memperkenalkan, serta mengarahkan para perajin untuk mendapatkan modal usaha ke bank-bank milik Pemerintah tersebut.
Hadirin sekalian,
Sering saya katakan bahwa secara pribadi, saya maupun selaku Ibu Negara terus berusaha untuk ikut mempromosikan tenun tradisional baik di dalam maupun di luar negeri dengan menggunakannya pada banyak kesempatan. Pada kesempatan yang amat baik ini, saya juga mengajak seluruh lapisan masyarakat untuk selalu bangga kepada produksi dalam negeri. Mari kita tunjukan kebanggaan kepada produksi dalam negeri dengan cara menggunakannya, mempromosikannya hasil kerajinan rakyat Indonesia yang beraneka ragam corak dan warnanya. Mulai dari alat rumah tangga, furniture, tekstil, bahan pakaian, tas, sepatu interior, dan lain sebagainya. Hal ini akan sangat membantu bagi peningkatan perekonomian nasional kita.
Saya juga mengajak Dewan Kerajian Nasional untuk dapat bekerja sama dengan Perkumpulan Cita Tenun Indonesia maupun perkumpulan serupa, dalam melakukan pembinaan, pelatihan dan pendidikan kendali mutu, serta membantu memasarkan hasil kerajinan, baik di dalam maupun di luar negeri. Seperti apa yang tadi telah saya sampaikan di awal sambutan ini, bahwa kerajinan tenun menyebar di seluruh wilayah tanah air, maka keberadaan Cita Tenun Indonesia dan organisasi serupa akan mempermudah pembinaan bagi para perajin tenun. CTI dapat mengisi kekosongan yang tidak terjangkau oleh Dekranas maupun Dekranasda di daerah-daerah, saya kira suatu kerjasama yang amat baik antara organisasi pecinta produksi dalam negeri, seperti Cita Tenun Indonesia ini amatlah baik buat kemajuan bangsa kita .
Hadirin yang berbahagia,
Before I close my speech, I would like to take this opportunity to thank you all the distinguished guests for your great effort of being here. May this effort will strengthen our friendship and solidarity as a global community.
Pada kesempatan yang sangat baik ini, saya juga ingin mengucapkan sekali lagi selamat CTI dan penghargaan setinggi-tingginya kepada para pengurus dan seluruh anggota yang telah memprakarsai acara ini. Juga kepada para Perancang mode, yang telah disebutkan tadi Chossy Latu, Stephanus Hamy, Oscar Lawalatta, Priyo Oktaviano, Sebastian Gunawan, Denny Wirawan, yang tentu saja para disainer yang tidak asing lagi bagi bangsa Indonesia. Juga terima kasih kepada para pengusaha, Dirut-dirut dari BUMN serta hadirin sekalian yang telah hadir pada acara ini. Semoga, atau mudah-mudahan saat ini adalah saat yang tepat untuk kebangkitan kembali Tenun Tradisional Indonesia bersamaan dengan Peringatan Seabad Kebangkitan Nasional kita.
Akhirnya, Dengan mengucap ”Bismillahirrahmanirrahim” dengan ini “Perkumpulan Cita Tenun Indonesia” saya resmikan. Selamat berkarya.
Wa billahitaufiq wal hidayah
Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.
---------------------
Biro Pers dan Media
Rumah Tangga Kepresidenan
