Pidato Presiden

Istana Negara, Jakarta, Kamis, 4 Februari 2010

Dialog dengan Istri Peserta Rapim Kementerian Luar Negeri dan Kepala Perwakilan RI di Luar Negeri

 

TRANSKRIPSI
DIALOG IBU NEGARA REPUBLIK INDONESIA
DENGAN
PARA ISTRI PESERTA RAPAT KERJA PIMPINAN KEMENTERIAN LUAR NEGERI DAN KEPALA PERWAKILAN REPUBLIK INDONESIA DI LUAR NEGERI TAHUN 2010
ISTANA NEGARA, 4 FEBRUARI 2010Ibu Sranya Marty Natalegawa, Istri Menteri Luar NegeriAda dan baik sekali untuk Ibu bisa langsung menanyakan apa yang Ibu ingin lewat kepada Ibu Negara. Barangkali tadinya pesan-pesan beliau ini sangat substansi Bu ya dan banyakgood willyang kita bisa pikir bagaimana kita bisa bantu mendorong visi pemerintah Indonesia. Silakan. Tolong perkenalkan nama dan silakan Ibu, perkenalkan nama dan barangkali akreditasi suaminya Bu ya.Ibu Firda Joko Susilo, Istri Kepala Perwakilan SwissTerima kasih.Assalamu’alaikum,Terima kasih Ibu Ani, Ibu Sranya juga dan kepada Ibu-ibu sekalian. Saya Firda, Istri dari Kepala Perwakilan RI yang akan bertugas di Swiss, di Bern yaitu Joko Susilo.

Saya tadi telah mendengarkan banyak paparan Ibu yang sepertinya saya sedang mendengarkan paparan Bapak Susilo Bambang Yudhoyono sebagai Presiden kita semua dan telah mendengarkan bagaimana Ibu-ibu Indonesia, Kabinet Indonesia Bersatu yang kebanyakan juga di sini banyak teman-teman saya, baik 10 tahun yang lalu juga sampai saat ini. Dan memang luar biasa sekali apa yang telah dikerjakan. Namun hal yang saya rasakan adalah kita di tempat lain dan di luar sana, tentu tidak bisa mengaplikasikan apa yang telah dikerjakan oleh teman-teman dan Ibu di tempat kita bertugas dan tempat teman-teman semua.

Yang sedang saya pikirkan dari tadi adalah apa yang bisa kita kerjakan di sana untuk mendukung kegiatan di sini dan apa yang bisa dikerjakan di sini untuk mendukung kegiatan kita di sana. Tentu di sana kita tidak akan melakukannone of diplomacy seperti Bapak-bapak. Tetapi ada beberapa trust diplomacy yang bisa kita kerjakan seperti yang tadi Ibu Ani berikan kepada kita. Apakah itu tourism, culture,atau mungkin beberapa hal lain.

Dan saya melihat bahwa sesungguhnya kalau saya boleh memberikan sedikit catatan pada apa yang telah dilakukan oleh Ibu-ibu Kabinet Indonesia Bersatu, banyak sekali yang telah dikerjakan itu menyentuh sebagian besar di kota-kota besar. Tentu belum sampai kepada kota-kota dimana kita tinggal dan kita sangat membutuhkannya. Apakah itu di Jawa Timur, di tempat saya, di Madura dan yang lainnya.

Dan barangkali dengan sedikitsupport atau endorsement dari Ibu Ani dan Ibu Sranya sehingga kita di luar negeri atau di tempat suami bertugas bisa mendapatkan network baru untuk meminta bantuan dan yang lainnya yang bisa kita berikan kepada teman-teman aktivis yang membutuhkan, terutama untuk pendidikan anak, untuk kesejahteraan Ibu dan kegiatan perekonomian yang lainnya. Dan itu sangat membutuhkan supportdan dukungan dari Ibu Ani dan Ibu Sranya.

Dan ada satu lagi yang barangkali mudah-mudahan tidak menjadikan sesuatu yang agak sedikitbad image kepada Ibu Sranya, Ibu Ani atau teman-teman semuanya. Saya tidak mencoba being rebelliondi sini. Tetapi selama 10 tahun mendampingi Pak Joko Susilo keliling beberapa perwakilan luar negeri, saya sering mendengar bahwa kegiatan Dharma Wanita di KBRI menyita banyak waktu ibu-ibu yang mungkin dalam posisi bukan sebagai Ibu Duta Besar tetapi istri-istri para diplomat dimana mereka tidak lagi bisa belajar untuk mengambil magisternya, masternya, atau PhD-nya.

Saya rasa karenalong life learning process dan Ibu sangat meng-endorsedan sangat menetapkan bahwa pendidikan bagi rakyat Indonesia, bagi anak-anak, terutama bagi perempuan adalah sesuatu keharusan. Dan saya berharap dengan tugas suami, mendampingi tugas suami tidak menjadikan langkah kita berhenti.Ibu Sranya Marty Natalegawa, Istri Menteri Luar NegeriMohon Ibu yang lain-lain. Ibu-ibu yang lain ada kesempatan untuk bertanya juga.Ibu Firda Joko Susilo, Istri Kepala Perwakilan SwissIya terima kasih mudah-mudahan diberikan apa yang saya usulkan tadi.Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabaraktuh.Ibu Sranya Marty Natalegawa, Istri Menteri Luar NegeriBarangkali yang lain-lain sekalian kurang lebih 2 atau 3 pertanyaan lagi dan kita tunggu jawaban. Silakan Ibu.Ibu Lisa Damayanti Jani, Istri Kepala Perwakilan PTRI JenewaIbu Negara yang terhormat. Saya Lisa Damayanti Jani, pendamping Kepala Perwakilan di PTRI Jenewa. Pertanyaan ini berkenaan dengan peran pendamping sebagai duta pariwisata khususnya dalam upaya untuk menunjangtrustprogram yang tadi merupakan program prioritas pemerintah, yaitu kebudayaan dan juga program dari SIKIB mengenai Indo Kreatif.

Apakah dalam program 5 tahun ke depan, ada tema-tema spesifik khusus yang dilakukan setiap tahunnya. Seperti misalnya, apakah itu kerajinan perak ataukah tenun. Satu spesifik khusus tiap tahun, sehingga seluruh Dharma Wanita Persatuan di luar negeri bisa mempunyai acuan, pedoman dalam melaksanakan suatu kegiatan kebudayaan. Dan kendala yang selama ini ada Ibu adalah dalam halpromotional item.Jadi sebagai contoh, pada saat kami akan mengadakan tema tenun dalam satu tahun tidak terlalu mudah untuk mendapatkan video dalam bahasa asing yang menjelaskan mengenai proses pembuatan tenun tradisional Indonesia.

Seandainya memungkinkan kerjasama dengan Dharma Wanita Persatuan Kementerian Pariwisata untuk seri-seri kegiatan, khususnya pariwisata, kebudayaan akan sangat membantu dan memudahkan kami di perwakilan selaku pedamping untuk upaya promosi ini. Itu pertanyaan dari kami Ibu. Terima kasih.Ibu Negara Republik IndonesiaBaik, ada 2 penanya. Yang pertama adalah Ibu Firda dari Swiss. Ibu Kepala Perwakilan, Istri dari Bapak Joko Susilo. Sudah berapa lama Ibu di sana Bu? Baru mau berangkat. Jadi belum tahu ya Dharma Wanita yang ada di KBRI ya Bu ya. Baik.

Sebetulnya tidak seperti itu Ibu. Kalau Ibu mengatakan bahwa kesibukan dari Dharma Wanita melebihi segala sesuatu sehingga Ibu tidak bisa belajar. Saya kira tidak seperti itu, karena Ibu belum berangkat, jadi belum tahu kegiatan-kegiatan di sana.

Jadi mohon maaf, saya kira tidak seperti itu, Ibu-ibu. Baik. Tadi dalam sambutan saya atau pengarahan saya, saya mengatakan bahwa suksesnya kunjungan Bapak Presiden ke sana, Bapak Presiden datang ke suatu daerah atau ke suatu negara, karena mengemban tugas negara. Suksesnya kunjungan dari Bapak Presiden tergantung dari apa yang dilakukan oleh KBRI di sana, baik yang dilakukan oleh Bapak Duta Besar maupun oleh Ibu-ibunya.

Saya kira sebelum berangkat menuju ke posnya masing-masing, semua sudah diberitahu seperti itu. Demikian ya Bu ya. Jadi semua bisa berjalan sinergi Ibu. Jadi tidak ada kata-kata bahwa dengan kunjungan atau Dharma Wanita menyita waktu segitu banyaknya sampai tidak bisa belajar,oh no,tidak seperti itu. Tetap bisa belajar ya Ibu.

Saya tahu ada beberapa Ibu yang juga mengambil atau belajar di sana dan meluangkan waktu untuk melakukan kegiatan-kegiatan yang lainnya, yang merupakan tugas negara. Ibu harus ingat, itu adalah tugas negara. Tugas negaranya apa sih? Yaitu menjadi kepanjangan tangan atau pengganti atau apa namanya Presiden di luar negeri. Ya istri itu punya tugas juga, begitu.

Jadi tidak bisa mengatakan, saya datang ke sana, saya mau belajar saja, saya tidak mau tugas-tugas yang lain. Tidak bisa seperti itu Ibu. Tidak boleh ya. Berarti Ibu belum memahami tugas-tugas Ibu. Jadi tolong Ibu jangan sampai salah dalam menangkap begitu ya. Jangan sampai salah dalam menangkap. Bahwa tidak ada larangan Ibu belajar, tadi saya katakan juga bisa mengambil kursus yang bisa dibawa ke Indonesia untuk diterapkan kepada Dharma Wanita unit Kementerian Luar Negeri. Itupun juga ada gunanya dan ada juga yang mengambil kuliah lagi. Saya tidak tahu di sini, ada yang mengambil kuliah lagi Ibu? Bisa tunjuk tangan. Siapa yang mengambil kuliah lagi? Ada Ibu ya, ada yang mengambil kuliah lagi. Jadi mohon jangan bisa disalahmengerti.

Kemudian Ibu mengatakan apa yang dilakukan oleh SIKIB barangkali hanya menyentuh kota besar. Tidak Ibu ya. Apa yang kita lakukan, maka nanti nontonlah CD-nya, apa yang kita lakukan dengan Mobil Pintar, Rumah Pintar, itu sudah tersebar di seluruh Indonesia. Bahkan saya mengirimkan 2 Mobil Pintar ke Lebanon untuk melakukan tugas-tugas di sana. Saya mengirimkan 2 Mobil Pintar ke Lebanon. Jadi di sini Ibu, sudah kita lakukan ke pelosok-pelosok di Aceh sampai ke Papua. Memang belum bisa merata tetap, karena apa, tentu saja karena dana yang kita punyai.

Jadi bukan belum sama sekali hanya menyentuh kota besar. Justru ini dengan Mobil Pintar ini, kitato reach the unreach sesuai dengan apa yang ada motto dari PBB, dari UNESCO to reach the unreach. Kita tahu bahwa rakyat kita masih ada yang tinggal di pelosok-pelosok. Oleh karena itu, mereka tentu saja tidak punya kesempatan, tidak punya dana untuk datang ke ibukota, atau ke kota besar mendapatkan bacaan-bacaan yang bagus. Dengan program kami, Mobil Pintar ini, Motor Pintar dan Kapal Pintar, Ibu kita juga punya Kapal Pintar yang menyusuri sepanjang sungai dan kepulauan di Maluku. Ini mereka bisa terjangkau. Jadi sekali lagi, to reach the unreach,mereka terjangkau Ibu. Dan tanpa dipungut biaya untuk diketahui Ibu-ibu sekalian.

Sebagai contoh, saya mendapatkan bantuan buku-buku dari ibu-ibu yang ditempatkan di luar negeri. Contohnya Ibu Potan ketika di Australia mengirimkan buku-buku yang sudah dipakai maupun yang masih baru dikirimkan kepada kita di sini dan itu yang saya sebar ke daerah-daerah sampai ke pelosok-pelosok, sampai ke pulau-pulau ya. Ini yang bisa dilakukan.

Jadi yang tadi saya sampaikan, apa yang bisa Ibu lakukan, bisa saja memberikan bantuan buku-buku. Saya juga mendapatkan bantuan dari perwakilan kita yang ada di Amerika Serikat dan tempat-tempat lain. Itu yang bisa dilakukan. Bahkan pernah dari Jepang juga mengirimkan kacamata baca dan bantuan uang. Malah dari KBRI Jepang, ini mengirimkan bantuan uang dan sudah kita salurkan Ibu. Terima kasih kepada Ibu Sulatri di Jepang juga.

Dan mungkin ini memang belum tahu, yang sudah tahu banyak yang ingin memberikan bantuan, tetapi yang belum memang apa tentu saja kita berharap suatu saat mungkin apa yang bisa dilakukan ya.

Anak-anak kita juga memerlukan bacaan-bacaan berbahasa inggris. Jadi saya kira tidak apa-apa bacaan-bacaan yang bahasa Inggris. Tapi apa yang diberikan oleh Ibu-ibu, tentu kita seleksi dulu sehingga kita tidak salah dalam mengirimkan. Karena disinikan, di dalam Rumah Pintar ada yang untuk kelas berapa, untuk yang tingkatan apa, sehingga saya pikir itu yang musti kita seleksi dulu, bukan karena apa-apa.

Kemudian Ibu Yanti Jani dari PTRI Jenewa tentang Indo Kreatif. Ibu ingin promosi, tetapi kadang-kadang tidak punya, tidak ada video yang berbahasa Inggris. Ya memang kita sayangkan sekali ya, kalau bisa nanti kita coba ya, Ibu kita coba. Saya tidak tahu kalau di luar sana ada apa tidak.

Baik Ibu ya. Jadi ini juga memang suatu yang menjadi pemikiran kita, bahwa kita belum mempunyai video-video yang berbahasa Inggris. Di sini Ibu Hatta Rajasa selain menjadi Ketua I yang membidangi Indonesia Kreatif, beliau juga Ketua dari Yayasan Cita Tenun Indonesia. Barangkali Ibu, kalau Ibu ingin melakukan mungkin pameran, promosi tentang tenun ini, bisa berhubungan dengan Ibu Hatta Rajasa.

Kemudian di sini ada Ibu Tresna Jero Wacik, beliau juga membidangi ataupun menjadi Ketua dari Yayasan Sulam Indonesia. Jadi kalau misalnya Ibu-ibu juga ingin mempromosikan sesuatu tentang itu, tentu ada hubungannya. Tenun barangkali bisa bekerja sama dengan sulam dan juga bisa bekerja sama dengan Mutumanikam Nusantara.

Jadi itu Ibu yang nomor satu tadi, Ibu menanyakan tentang apa ya Bu ya? Coba sekali lagi, Bu bagaimana.Ibu Lisa Damayanti Jani, Istri Kepala Perwakilan PTRI JenewaApabila memungkinkan ada tema spesifik setiap tahunnya, sehingga bisa berkoordinasi di antara seluruh Dharma Wanita Persatuan di perwakilan luar negeri dalam 5 tahun ke depan, Ibu.Ibu Negara Republik IndonesiaMemang belum kita tentukan Ibu, tema spesifik apa misalnya tahun ini kita mengangkat tema apa, kemudian tahun yang akan datang kita mengangkat apa. Saya kira kita belum berpikir ke sana. Jadi begini Ibu sekalian ya. Memang kita belum mengenalkan tema untuk per tahunnya ya. Tetapi Ibu untuk diketahui bahwa di Rumah Pintar kita, seperti yang mungkin nanti akan ditonton sendiri tayangannya. Di Rumah Pintar itu ada satu sentra, kalau di tempat lain ada sentra buku, dimana memuat buku-buku, dimana anak-anak bisa membaca dengan bebas, kemudian sentra permainan, audio visual dan yang jelas kalau di dalam Rumah Pintar, ada sentra kriya.

Sentra kriya di sinilah, dimana ibu-ibu atau kaum remaja kita diajarkan tentang kreativitas sehingga kelak bisa mendapatkanincomekeluarga. Ini kita bisa mempromosikan pula hasil-hasil dari sentra kriya kita yang ada seluruh Indonesia. Saya lupa mungkin nanti Ibu Hatta bisa menyampaikan ada berapa ratus sekarang yang kita punyai untuk seluruh Indonesia? 217 untuk Rumah Pintar. Kemudian Motor Pintar, 398 untuk Motor Pintar. Kemudian Kapal Pintar, kita baru punya 3, karena mahal harganya, jadi kita hanya punya 3. Kemudian Mobil Pintar kita punya 168 ya, 168 yang tersebar dari Sabang sampai Merauke.

Apakah ini cukup Ibu? Apa sudah merata? Belum merata. Untuk diketahui, bahwa masih banyak sekali rakyat kita, anak-anak kita yang membutuhkan uluran tangan kita. Oleh karena itu, tentu saja sekali lagi, Ibu, saya berharap Ibu bisa memberikan apa yang bisa Ibu lakukan, apa yang bisa Ibu lakukan. Saya kira itu, Ibu. Jadi 2 yang sudah saya jawab. Kemudian barangkali masih ada lagi.Ibu Sranya Marty Natalegawa, Istri Menteri Luar NegeriIbu kalau-kalau saya bisa ijinkan mengenai pendidikan di luar negeri. Kebetulan di perwakilan kami, waktu sebelumnya di New York, ada satu ibu yang memang satu periode, memang beda jadi Ketua Dharma Wanita dan sekaligus ambil S3. Jadinya memang kita bisa, bisa bagi waktu. Tidak salah juga ada beberapa perwakilan yang waktu kemarin saya dampingi Ibu untuk kunjungan, saya dapat bicara dengan ibu-ibu Dharma Wanita, seperti di Brussel atau di tempat lain. Ada yang muda-muda banyak sekali yang ambil kuliah. Jadinya memang kita bisa bagi waktu, Ibu. Jadi kesempatan selalu ada kalau kita ingin, terus kita juga selalu bantu tugas suami dan pemerintah. Terima kasih, Ibu.

Mohon Ibu, barangkali ada pertanyaan lagi. Silakan Ibu.Ibu Butar LatuconsinaAssalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuhdan salam sejahtera bagi kita semua. Nama saya Butar Latuconsina, saat ini mendampingi suami yang bertugas di Pakistan. Suatu negara yang tanpa hari, tanpa bergejolak, Ibu. Lalu Ibu Ani, Ibu Negara yang sangat-sangat kami hormati, kami mengucapkan terima kasih untuk kesempatan yang diberikan kepada kami dan pada kesempatan ini, kami mohon ijin untuk menyampaikan beberapa hal.

Pertama, kami dari DWP Islamabad menyampaikan terima kasih dan penghargaan kami yang tinggi kepada Ibu, atas perhatian Ibu yang Ibu berikan. Ibu berkenan membaca majalah DWP yang kami kirimkan di tengah-tengah kesibukan Ibu yang luar biasa. Kami amat termotivasi atas apresiasi yang Ibu berikan kepada kami.

Yang kedua, dalam rangka menghadapiclimate change, program-program Bapak Presiden Republik Indonesia tentang kepedulian lingkungan dan penanaman pohon yang setiap tahun dilaksanakan di Indonesia, seperti program tanam pelihara, tanam, tebar, pelihara dan One Man One Tree,yang semua kami kerjakan, laksanakan di KBRI, amat menarik masyarakat dan media massa di Pakistan, khususnya Menteri Lingkungan terhadap Pakistan yang juga mempunyai program penanam pohon.

Namun mereka masih ingin mengetahui bagaimana kiat-kiat pemerintah Indonesia memotivasi masyarakat untuk menanam dan memelihara, karena di Pakistan Ibu-ibu, melaksanakan penanaman memang banyak sekali sudah penghijauan, tetapi pemerintahnya yang mengerjakan, tidak dapat memotivasi rakyat pribadi-pribadiannya, yang mengerjakan adalahCity Development Authority,jadi itu bagian pembangunan perkotaan, Ibu.

Lalu, yang saya ingin tanyakan pada hari ini adalah dapatkah atau ijinkankah sayasharingprogram penanaman pelihara yang dilaksanakan pemerintah Indonesia kepada pemerintah Pakistan, karena Menteri Lingkungan secara formal pernah berbicara-bicara dengan saya, Ibu.

Yang ketiga, mohon ijin mungkin 1 menit lagi hanya berupa laporan Ibu. Bahwa pohon persahabatan yang ditanam oleh Bapak Presiden Republik Indonesia, ketika berkunjung ke Islamabad pada tahun 2005 dengan 112 Kepala Negara tumbuh dengan baik dan DWP Islamabad bekerja sama denganCity Development AuthorityIslamabad telah memperbaiki prasasti pada pohon yang semula kurang terawat. Dan kami mohon ijin nanti menyerahkan foto-foto dalam upacara formalnya. Terima kasih.Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.Ibu Negara Republik IndonesiaTerima kasih Ibu Latuconsina.Ibu Sranya Marty Natalegawa, Istri Menteri Luar NegeriKalau ada satu lagi, silakan.Ibu Diana Murni Muzammil Basyuni, Istri Duta Besar Arab SyriaAssalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.Yang saya hormati Ibu Ani Bambang Susilo Yudhoyono. Yang terhormat Ibu Boediono. Terima kasih atas kesempatan yang sangat berharga sekali bagi saya khususnya untuk berjumpa dengan Ibu di Istana ini. Setelah saya mendengarkan sambutan dari Ibu mengenai program atau rencana atau rancangan bagi Indonesia. Nama saya Diana Murni Muzammil Basyuni. Suami saya diberi kepercayaan untuk sebagai Duta Besar di Arab Syria.

Memperhatikan dari program pemerintah, tentu kita sebagai duta bangsa, bagaimana kita mempromosikan Indonesia di suatu perwakilan.Alhamdulillah, kesempatan saya mendampingi suami semakin lapang, karena sekarang menjalani tahun kedua, saya dipercaya sebagai President Diplomatic Club of Syria dengan 64 anggota, dimana dalam program-program saya tidak terlepas dari apa yang dimiliki oleh Dharma Wanita yaitu pendidikan, ekonom bidang sosbud. Alhamdulillahdapat berjalan.

Dan tanggapan dari, baik pemerintah setempat maupun negara-negara lain, bahwa mereka sangat tertarik sekali dengan Mobil Pintar, Ibu. Mungkin saya bertanya sebelumnya kenapa mereka tertarik sekali. Ternyata Ibu telah mengirimkan Mobil Pintar ke Lebanon, sedangkan Lebanon sangat dekat sekali Syria. Itulah mereka sangat tertarik. Lantas terpikir dan bicara dengan saya, kenapa tidak lewat Syria juga untuk diberikan Mobil Pintar.

Jadi itulah Bu, karena untuk tahun ini, kami mencanangkan Mobil Pintar mudah-mudahan dapat terlaksana dengan hasil bazar kami. Kami jugaInsya AllahIbu, misalkan Mobil Pintar, tapi alangkah baiknya kalau mobil tersebut mendapatkan sumbangan dari Ibu.

Yang kedua Ibu, mengenai lingkungan hidup. Seperti kita ketahui bahwa di negara-negara Arab itu sangat mudah sekali banjir, walaupun hujannya sedikit. Itu dikarenakan lingkungan yang kurang diperhatikan. Sedangkan mereka juga tahu, bahwa di Indonesia ini sangat memperhatikan lingkungan. Maka ada pertanyaan Ibu, mungkin Ibu tadi mengutarakan saran, apakah mungkin, ada harusnya dari Departemen Lingkungan Hidup untuk mengadakan semacam seminar atau pertukaran bagaimana cara menangani lingkungan hidup yang begitu berhasil di mata mereka. Bukan hanya di Syria Ibu, tapi negara lain pun berkomentar seperti ini. Saya rasa demikian dapat saya sampaikan, mudah-mudahan dapat terlaksana dan terima kasih.Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.Ibu Negara Republik IndonesiaWa’alaikumsalam.Ibu terima kasih ada 2 lagi kita tepuk tangan kepadal Ibu-ibu yang memberikan saran, masukan maupun pertanyaan.

Ibu Saleh Latuconsina, Istri dari Duta Besar di Islamabad, Pakistan. Ibu, saya selalu membaca. Terima kasih, saya juga pernah membalas, memberikan apresiasi kepada apa yang dilakukan dengan majalah Dhama Wanita Islamabad. Jadi Ibu memperkenalkan tentang bagaimana program dari pemerintah kita, atau Presiden tentu sajaOne Man One Tree.Dan ada tambahan satu lagi, Ibu yang saya promosikan adalah sebetulnya tanam pohon setiap kelahiran.

Jadi saya berharap kepada setiap wanita yang melahirkan atau barangkali sudah melahirkan, bahkan punya cucu, itu untuk menanam pohon pada kelahiran cucunya ataupun putra-putrinya. Pertama adalah menandai kelahiran sang anak, tetapi juga sebetulnya kita sudah mengajarkan kepada mereka, anak-anak kita itu untuk mencintai pohon. Kalau mereka lahir, kemudian kita tanamkan pohon, kita ajarkan, kita tentu saja, ketika anak itu belum bisa atau belum mengerti kita yang memeliharanya untuk dia. Sampai saatnya nanti, ketika dia sudah mulai mengertikan diajak untuk memelihara pohon itu. Kemudian bagus sekali, kalau pohon itu dikasih nama cucu kita atau anak kita.

Seperti apa yang saya lakukan terhadap cucu saya, Aira. Di halaman Istana sini, ada 2 pohon yang saya tanam, atau 4 bahkan ya, 4 pohon, yaitu pohon kenari dan pohon sukun yang saya beri nama Aira. Sehingga mungkin suatu saat anak itu kalau melihat akan senang. Itu oh kok dikasih nama saya, misalnya seperti itu. Sehingga tanpa sadar, kita sudah memberikan pewarisan kepada anak kita, pewarisan untuk mencintai pohon.

Dan sesungguhnya pohon kalau sudah besar dan berbuah, menghasilkan, berproduksi untuk siapa bisa diberikan untuk anak itu sendiri. Hal ini yang saya terima sebetulnya pelajaran yang saya terima dari orang tua saya, ketika dulu. Jadi ketika itu, Ibu saya menunjukkan kepada saya, “Ini loh pohon kelapa saya, yang ini pohon kelapa Pak de kamu, yang di sana punya om kamu.” Jadi sayarecallkembali saat ini, alangkah bagusnya sebetulnya kalau misalnya kita punya pohon.

Tentu maksudnya apa orangtua, ayah saya atau nenek saya, kakek saya bukan orang yang terlalu kaya, sehingga untuk menyekolahkan putra-putrinya, untuk memberikan jajan putra-putrinya, beliau memberikan satu pohon, pohon kelapa. Sehingga ketika kelapa itu dipanen, dijual untuk jajan dari ibu saya. Jadi hal ini adalah suatu hal yang sangat positif. Untuk itu, ini yang sayarecallkembali dan saya sampaikan. Saya berharap mempromosikan ini kepada Ibu-ibu dan kaum perempuan di Indonesia untuk menanam pohon setiap kelahiran.

Kalau misalnya Bapak PresidenOne Man One Tree,230 juta sudah ada pohonnya. Ditambah dengan setiap kelahiran, berarti sudah tambah satu, apalagi kalau bukan hanya satu yang ditanam. Bahkan Presiden sekarang sudah mencanangkannya menuju kepada satu milyar pohon setiap tahun. Untuk itu, maka kita semua di Indonesia ini, sekarang bergerak maju terus untuk menanamkan, menanam pohon dimana saja, di lahan-lahan kosong.

Kemudian Ibu tadi bertanya, bagaimana untuk pembelajaran oleh mereka. Ok bisa sih menanam pohon, bukan pemerintahnya, kalau di sana katanya pemerintah begitu ya, Bu. Kok bisa kita mengajak. Keteladanan itu memang penting. Oleh karena itu, sejak tahun 2007, saya, SIKIB bersama dengan 7 organisasi wanita melakukan penanaman pohon. Saya kira mungkin Ibu mendengar atau tidak, saya belum tahu, sebagian barangkali sudah mendengar.

Ketika itu menjelang ada seminar UNFCCC di Bali, yaitu tentangclimate change,maka tanggal 1 Desember, kita kaum perempuan melakukan suatu gerakan, yang kita sebut dengan nama Gerakan Perempuan Tanam dan Pelihara Pohon. Dari Sabang sampai Merauke, kita melakukan penanaman pohon pada saat yang sama. Jadi pada waktu itu, di Jakarta, Indonesia bagian Barat pukul 08.00 pagi, 09.00 pagi Waktu Indonesia bagian Tengah, dan 10.00 pagi Waktu Indonesia bagian Timur. Kita lakukan gerakan kaum perempuan.

Saya merasa, bahwa melalui gerakan kaum perempuan ini, yang mempunyai sifatnurture, senangnya menanam, senangnya memelihara, tidak suka menebang pohon, maka ini bisa kita terapkan. Jadi dari, dimulai dari gerakan kaum perempuan. Dan tentu saja sekarang sudah merambah kepada kaum pria dan anak-anak, dan itu kita lakukan dengan apa namanya contoh yang dilakukan. Kita lakukan setiap tahun Ibu. Kalau kita lakukan setiap tahun, mengajak anak-anak saya kira ini menjadi suatu habit,menjadi suatu kebiasaan dan bahkan menjadi budaya.

Oleh karena itu, pertanyaan Ibu adalah bagaimana kok bisa mengajak itu, adalah tentu saja contoh dan panutan. Kalau kita melakukan, ya mereka akan mengikuti. Tapi kalau kita hanya main perintah ataupun menyuruh tanpa kita melakukannya, siapa yang mau mengikuti lama-lama, tetapi tetap kita lakukan contoh yang nyata. Kita lakukan penanaman dan penebaran bibit ya, penebaran bibit ikan di situ-situ. Situ itu sama dengan kolam, ya Bu. Kolam atau danau-danau kecil yang ada tujuannya tiada lain adalah untuk ketahanan pangan.

Selain kita menanam pohon untuk perlindungan, untuk CO2-nya, untuk O2-nya, tetapi kita juga menebarkan bibit. Dua-duanya untuk ketahanan pangan kita. Itu yang kita lakukan.

Kemudian dapatkah kitasharing dengan pemerintah Pakistan tentang ini? Tentu saja bisa Ibu ya. Dengan senang hati, Kementerian dari Lingkungan Hidup ya barangkali bisa disampaikan ke lingkungan hidup bisa disampaikan kepada Bapak apa kita bisa sharing, tentu saja bisa. Kita melakukan selama ini pembibitan terus-menerus, bahkan para gubernur sakIndonesia. Semuanya juga diminta untuk melakukan hal yang sama di daerahnya, bupati dan walikota.

Semua pendek kata, melakukan hal yang sama.Insya Allah, 30 tahun lagi Indonesia kita akan berubah. Indonesia kita akan berubah. Indonesia itu masih hijau, tetapi akan lebih hijau lagi. Coba kalau Ibu nanti sempat jalan-jalan ke jalan tol ya Bu ya, perhatikan di kiri, kanan jalan, perhatikan di kiri, kanan jalan sudah penuh dengan pohon-pohon. Itu adalah hasil kita bersama ya, baik itu dari masyarakat, dari departemen, dari pemerintah maupun dari swasta, semua bergerak bersama-sama karena merasa bahwa ini tanggung jawab kita bersama. Bukan orang-seorang ataupun kementerian per kementerian, tapi tanggung jawab kita bersama.

Ibu, saya sudah melihat fotonya. Terima kasih, pohon persahabatan yang ditanam oleh Bapak Presiden kalau tidak salah Magnolia, betul ya? Tapi saya sudah melihat pohonnya. Ibu memperbaiki dengan Dharma Wanita, menyirami, kemudian memperbaiki pohon yang ditanam oleh Bapak Presiden pada waktu itu tahun 2005 kalau tidak salah. Tahun 2005 dan sekarang tumbuh dengan subur, mudah-mudahan. Saya titip untuk dipupuk ya Bu ya. Karena Bapak Presiden hanya bisa menanam, tidak bisa memelihara, maka memeliharanya tolong saya serahkan kepada Ibu-ibu dari Dharma Wanita Pakistan. Terima kasih Ibu.

Kemudian berikutnya adalah dari Ibu Basyuni, Syria. Ibu, selamat Ibu menjadiPresident dari Diplomatic Corps di sana. Corpsdari diplomatik. Kemudian pemerintah sana tertarik dengan Mobil Pintar. Betul Ibu, kami mengirimkan 2 Mobil Pintar.

Ceritanya begini, kenapa kok Lebanon yang dikirim, begitu ya? Jadi ceritanya begini, ketika anak saya bertugas ke Lebanon menjadi pasukan perdamaian, dia berkomunikasi dengan saya. Merasa bahwa kayaknya apa yang dilakukan oleh pasukan kita kurang dilihat. Kurang dilihat dalam tanda kutip. Mereka melakukan pengobatan gratis, sedangkan kontingen lain, itu melakukan atau memberikan bantuan-bantuan yang nyata.

Ada yang bikin jalan, ada yang memberikan macam-macamlah begitu. Pasukan kita waktu itu hanya memberikan pengobatan gratis. Jadi nampaknya kurang dilirik. Oleh karena itu, bertanya kepada saya, kira-kira apa ya yang bisa kita lakukan supaya dapat dilirik begitu. Kemudian, saya menyampaikan bahwa kenapa tidak dengan Mobil Pintar yang konsep kita seperti ini atau program kita.

Akhirnya dia dengan bersama-sama dengan Kontingen Garuda melakukan perombakan dari mobil ambulans yang ada. Dari mobil ambulans yang sudah tidak dipakai, dirombak menjadi seperti Mobil Pintar. Dimuati komputer, dimuati televisi, kemudian buku-buku saya kirimkan dari Indonesia. APE atau Alat Permainan Edukatif, dan buku-buku yang berbahasa Inggris tentang Indonesia ke sana. Dan selebihnya tentu mereka membeli yang ada di sana, karena yang menggunakan kalau tidak salah menggunakan bahasa Arab, Perancis dan bahasa Inggris, kalau enggak salah, 3 bahasa.

Itu berjalan. Kemudian baru saya kirimkan yang seperti apa adanya di sini, yang sudah kita modifikasi, hanya 2 Bu. Jadi betul-betul dikerjakan ataupun dilaksanakan akhirnya kontingen itu satu pengobatan dan pendidikan. Jadi sehat dan pendidikan bersama-sama.

Sejak itulah itu anak-anak merasa dilirik oleh yang lainnya. Karena ternyata program ini sangat disenangi oleh anak-anak. Anak-anak dari tempat-tempat daerah konflik itu memang akhirnya merasa terhibur dengan adanya mobil pintar ini, bahkan mereka waktu itu membuat surat kepada saya dan juga anak-anak kontingen membuat filmnya dan dikirimkan kepada saya. Betapa memang betul itu sangat disenangi.

Oleh karena itu, kalau ditanyakan kenapa enggak kirim ke Syria mungkin belum ya Bu ya. Artinya begini, belum bukan dalam arti saya akan memenuhi untuk di Indonesia terlebih dahulu. Karena yang ke Lebanon itu, juga dioperasikan oleh mereka, jadi saya pikir itu adalah untuk sarana. Sarana teritorial dari pasukan kita di sana. Jadi mohon maaf barangkali saya tidak bisa mengirimkan untuk pemerintah Syria, tetapi kita penuhi dulu untuk Indonesia. Tetapi ini bisa Ibu lakukan.

Ibu tadi katakan bahwa Ibu mengumpulkan atau semacamcharity, kemudian ingin membuat hal yang sama. Silakan. Tetapi barangkali Ibu bisa menyampaikan bahwa ini adalah ide dari Indonesia, sehingga bisa ibaratnya bisa tahu bahwa ini betul-betul ide yang lahir dari Indonesia, karena oleh UNESCO inipun akan dipraktekkan di negara-negara yang lain, yang mempunyai geografi, demografi yang hampir bersamaan dengan Indonesia, seperti mungkin negara-negara Meksiko dan lain-lain ya. Jadi barangkali, Ibu bisa menyampaikan bahwa ini ide dari Indonesia, terutama adalah ya tentu saja kita mempromosikan apa yang kita lakukan ini bisa to reach the unreachtadi, menjangkau daerah-daerah yang tidak terjangkau. Itu Ibu.

Kemudian tentang lingkungan hidup. Di sana sering banjir, apakah tidak ada seminar. Ada sebetulnya hal-hal yang seperti itu, bahkan kita pun membuat buku Ibu. Membuat buku tentang apa yang kita lakukan oleh kaum perempuan. Saya tidak tahu, kalau saya bagi satu-satu masih cukup apa tidak, untuk Indonesia Hijau. Saya tidak tahu. Kami membuat Ibu, tentang Indonesia Hijau, tentang kiprah kaum perempuan yang ada di Indonesia, tentang itu.

Jadi ini juga bisasharingkepada kaum perempuan yang ada di tempat ibu-ibu sekalian. Tapi saya tidak tahu apakah masih cukup jadi akan kita cek dahulu. Ada ibu-ibu yang sudah mendapatkannya, jadi Ibu-ibu yang saya kunjungi tentu sudah mendapatkannya, tetapi ada beberapa yang belum dikunjungi, belum mendapatkannya. Jadi akan saya cek kalau misalnya ada barangkali bisa saya serahkan kepada Ibu-ibu sekalian. Sudah sudah sore nanti kita ada acara.Ibu Sranya Marty Natalegawa, Istri Menteri Luar NegeriIbu masih berkenan atau sudah. Kayaknya ada.Ibu Negara Republik IndonesiaBaik. Saya tahu nanti malam, kita akan bertemu kembali pada acara. Oh masih, ya silakan Bapak Yayat, bolehlah satu.Ibu Sranya Marty Natalegawa, Istri Menteri Luar NegeriBaik. Silakan, Bapak. Satu-satunya.Ibu Negara Republik IndonesiaPerwakilan Bapak-bapak, Pak Yayat. Silakan Pak Yayat.Bapak Yayat, SuamiYang terhormat Ibu Negara, Ibu Hj. Ani Bambang Yudhoyono, yang kami hormati, kami cintai dan kami banggakan.Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.Ibu Negara Republik Indonesiawaa’laikumsalamBapak Yayat, Suami Kepala Perwakilan UkrainaTerima kasih atas kesempatan yang telah diberikan kepada kami. Nama saya Yayat Rohadiah. Jabatan saya pendamping, merangkap pengawal pribadi Kepala Perwakilan Republik Indonesia Ukraina merangkap Georgia dan Armenia, Ibu.

Ada jabatan tambahan juga sebetulnya selaku penasehat Dharma Wanita, bu di sana. Karena sebelum berangkat ke sana kami didik dulu di sini, di Kementerian Luar Negeri, 2 minggu ditatar bersama-sama Ibu-ibu yang lainnya. Karena bagi kami, setelah pensiun begitu mengikuti, mendampingi istri suatu barang baru ini, tapi di sana ketemu dengan Dharma Wanita. Apa itu Dharma Wanita seperti tadi disampaikan oleh Ibu Joko, kami juga kaget juga Bu. Ah untuk itu ada penataran saya belajar dulu, Bu 2 minggu dan kalau pun ngantuk saya berusaha menahan diri, mata saya diganjal dengan korek api, itu untuk memaksakan.Alhamdulillah Bu, selama 2 minggu itu berhasil dan di sana saya menjadi penasehat karena pelajaran-pelajaran yang di sini diterima, di sana bermanfaat, seperti merias, sanggul, tataboga, menata meja. Jadi kalau ada acara di sana, Bu, misalnya kalau menyimpan sendok, kalau misalnya menyimpan gelas, itu Alhamdulillahdengan pelajaran yang kami terima di sini. Terima kasih Ibu Menlu, Ibu Marty, telah dididik di sini.

Kemudian kalau tata busana, kebetulan kalau istri saya akan berangkat itu dengan pakaian ini suka tanya kepada saya, “Pah, ini cocoknya baju ini dengan apa jilbab apa, warna apa?” Akhirnya saya carikan, kalau sedang sibuk harus carikan, saya carikan warna yang cocok.Alhamdulillahselalu cocok Bu, karena sibuk, waktu dari kantor sebentar, akan berangkat lagi itu, “Carikan Pah, baju yang ini, ini.” “Siap, Bu.”

Kemudian juga danAlhamdulillahjuga disamping apa selaku penasehat Dharma Wanita, saya juga kebetulan di sana tidak ada Athan, dan kalau 17 Agustusan, itu ada paskibraka. Saya juga karena dulu suka perang-perangan, latihan tentara, begitu Bu ya. Jadi latihan paskibraka, saya pimpin juga gitu. Kemudian kalau Ibu Dubes akan berangkat ke pabrik senjata atau pabrik pesawat tempur, pesawat Hantomed, disamping saya mendampingi juga saya bisa memberikan asistensi begitu Bu. Dan ada, itu ada beratnya begitu untuk saya juga Bu.

Tapi ada untungnya kadang-kadang itu salah Bu, saya selaku pengawal di depan dulu waktu itu, kemudian masuk ke ruang VIP di airport di Netherlands, kemudian dari kerajaan dibawakan bunga, saya dikalungkan, Bu.“Welcome Excellency”. “I’m sorry I am not mind, this is my ambassador.”Dan mohon maaf, Bu bukan itu saja pengalaman. Tadi pagi Bu, saya mau sarapan di Hotel Borobudur. Itu, karena saya sudah pakai ini, kebetulan “Selamat Pagi, Pak Dubes.” Terima kasih kepada panitia, saya sudah diangkat juga. Tapi saya sampaikan bukan saya, ini istri atau ibu ya. Ada untung ruginya, begitu. DanAlhamdulillah untung banyak juga Bu, selama 10 bulan baru di sana saya, naik badan jadi 5 kilo. Alhamdulillah,karena dingin memang Ibu.

Yang terakhir juga, tambahan terakhir kalau kegiatan saya di sana, jadi sambil ituAlhamdulillahkalau ada acara-acara khusus, ditugaskan selalu menjadi pembaca doa Bu ya.

Berkaitan dengan kegiatan Dharma Wanita, tadi mohon Ibu Joko juga, jadi tidak sejauh itu sibuk sebagaimana tadi Ibu sampaikan tadi. Memang ada 2 Bu di kami, Kedutaan Kiev itu Dharma Wanitanya. Tapi yang satu, itu masih sempat juga menampuk ilmu, menambah jadi, mendapatkan S2 di sana, Bu ya. Demikian juga karena ibu itu senggang, jadi juga ikut-ikutan juga Bu. Jadi ikut juga kuliah. Kalau ibu bahasa Rusia, karena beliau itu masih panjang, karena suaminya baru penempatan pertama, jadi masih perlu. Kalau bagi saya tidak tertarik itu karena paling-paling 3 tahun lagi, itu nanti lupa lagi Bu, sudah belajar sudah susah, nanti lupa.

Tapi akhirnya saya mengambil bahasa Arab kebetulanAlhamdulillah,Ibu. Karena saya bercita-cita dari sana, saya membuat pesantren kecil gitu Bu. Dan mungkin nanti kalau saya meninggal juga nanti diakhirat nanti kalau ada rambu-rambu pakai bahasa Arab, supaya saya bisa lancar memilih jalannya. Mohon maaf Ibu.

Ibu Negara yang kami cintai, kami hormati dan kami banggakan, selanjutnya kami, tadi disampaikan baru 10 bulan mendampingi Ibu Dubes, kami ingin sukses melaksanakan tugas ini, karena itu ada tuntutan waktu penataran Dharma Wanita. Keberhasilan Bapak Dubes, saya pilihkan Bapak, Ibu-ibunya banyak, sama Ibu Dubes. Eh Bapak-bapak Dubes dengan Ibu Dubes, dan Ibu Dubes itu adalah keberhasilan Ibu-ibu dan keberhasilan Bapak dalam mendampingi Bapak-bapak, Ibu, dan Bapak, Bapak-bapak dan Ibu Dubes itu ya. Mohon maaf itu.

Ini yang kami camkan betul-betul Bu, saya harus aktif begitu. Dari itu sebagaimana saya tadi saya sampaikan, saya bangga kepada Ibu karena Ibu itu mendampingi Bapak Presiden sejak Letnan Satu, atau Kapten. Saya pantau terus kemudian jadi bagaimana Ibu mendampingi beliau sehingga Komandan Pleton, Komandan Kompi, Komandan Batalyon, sampai Panglima, sampai Menko dan sampai jadi Presiden dan sampai Presiden terpilih yang kedua kali. Itu bisa berhasil, berarti ada kiat-kiat apa Bu, barangkali tentu ada pemilahan jalur tugas Bapak tidak boleh disentuh, tapi jalur tugas ke belakang apa yang harus bisa supaya seimbang. Itu saya mohon petunjuk dan pengarahan tanpa harus takut salah.

Terima kasih. Berhasil mendidik putra-putri, putra-putra Ibu bisa menjadi, sementara kami ya agak sedikit susah karena, banyak sekolah di luar kita anak-anak itu untuk supaya yang laki lagi masuk Akmil, enggak mau, Bu. Yang putri, masuk Deplu, juga enggak mau. Waduh gimana. Jadi ini supaya mendidik anak patuh itu bagaimana Ibu kan sampai berhasil putranya jadi perwira, kemudian satu lagi jadi politikus yang berhasil begitu Bu. Kami mohon petunjuk, pengarahan mengenai itu.

Dan yang keprihatinan lagi Bu mengenai tadi pendidikan untuk semua, kemudian saya ada barangkali menurut pendapat saya, perlu juga penyedia peningkatan, penekanan pendidikan tata krama, sopan santun itu, Bu. Itu barangkali apa dari tingkat SD atau tingkat Taman Kanak-kanak, karena hasilnya kalau anak-anak yang sering keluar, belajar di luar negeri, itu kurang rasa nasionalismenya kemudian ke orangtua juga sedikit bukan melawan gitu ya, kurang memperhatikan.

Kalau ditanya, malah orangtua, heeh, heeh, nanti bilang, aku, aku kemudian ogah ah. Jadi barangkali kami menyarankan untuk menggunakan bahasa Indonesia yang baik perlu ditekankan dari tingkat dasar, Bu. Itu saja, Bu, barangkali mohon maaf kalau terlalu panjang, karena tadi Ibu akan bersiap-siap akhirnya. Terus terang sekali lagi mohon maaf, Bu yang sebesar-besarnya. Terima kasih.Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.Ibu Negara Republik IndonesiaWa’alaikumsalam.Kita beri tepuk tangan kepada pendamping Ibu Dubes Kiev ya, Bapak Yayat Rohadiah. Kemudian Bapak, terima kasih Bapak sudah mengikuti penataran. Jadi penataran 2 minggu itu Bapak merasakan sangat bermanfaat, yang tadinya Bapak tidak tahu tentang kedharmawanitaan, akhirnya sekarang Bapak sudah tahu tentang kedharmawanitaan. Kemudian juga bahkan Bapak menjadi penasehat Dharma Wanita. Terima kasih, Bapak. Karena ya mudah-mudahan rekan-rekan yang Bapak yang lain yang tentu saja kalau ada Bapak-bapaknya bersedia untuk menjadi penasehat dari Dharma Wanita.

Penasehat Dharma Wanita dalam hal ini, penasehat Ibu Dubes juga, bagaimana mencocokkan pakaian dengan kerudungnya, itu membutuhkan suatu keahlian tersendiri. Kalau tidak ahli, bisa jadi nanti mungkin salah-salah malah nanti karena Bapak kan dulu latar belakangnya adalah militer, jangan-jangan jilbabnya dikasih loreng lagi nanti. Bapak terima kasih ya Pak Yayat ya.

Bahwa Bapak juga 17 Agustus mengajari paskibraka buat anak-anak untuk menaikkan bendera Merah Putih di sana, itu juga suatu hal yang sangat positif. Dan naik badan sampai 5 Kg, waduh ini, tapi masih belum kelihatan Bu ya. Jadi saya pikir naik 5 Kg bisa diimbangi dengan olahraga atau senam bersama Dharma Wanita. Senam bersama Dharma Wanita, Dharma Wanitanya cuma 2 tadi ya katanya ya, jadi bertiga.

Baik, selamat Bapak, mudah-mudahan Bapak bisa menyelesaikan pendidikan bahasa Arab dengan baik. Karena bahasa Arab ini juga dibutuhkan Bapak, siapa tahu nanti bisa menjadiinterpreterbahasa Arab atau tugas-tugas yang lainnya dengan menggunakan bahasa Arab.

Bapak menyampaikan, menanyakan tentang bagaimana kiat mendampingi Bapak Presiden, tentu dalam, kalau sebagai Bapak Presiden ya baru 5 tahun ya, mau 6 tahun ini. Tapi Bapak tadi menyampaikan bagaimana bisa mendampingi kiat-kiat mendampingi dari Pak SBY mulai dari letnan. Ya saya katakan bahwa kita dari satu almamater dari Bapak dengan Pak Yayat, satu almamater. Jadi kita tahu, bahwa sebagai seorang militer itu, menjadi istri Danton, menjadi istri Komandan Kompi, Komandan Batalyon, setapak demi setapak dilalui dengan seksama. Artinya enggak mungkin ada loncatan-loncatan yang sampai misalnya dari anak tangga itu langsung menuju ke atas tidak ada. Semua itu dilalui dari bawah, setapak demi setapak.

Kemudian kiat-kiatnya apa? Tentu yang pertama adalah keikhlasan Bapak, kemudian tentu saja, saya juga mengetahui karena Pak SBY mendidik saya, kebetulan saya juga anak militer, ayah saya adalah seorang militer dan kemudian mendapatkan suami yang militer. Kedua-duanya, ayah maupun suami mendidik saya dengan sangat baik, sehingga saya tidak mengenal misalnya tadi yang dikatakan, kalau di militer biasanya, kalau Bapaknya Kolonel katanya, istrinya Jenderal. Jadi tidak sama sekali ya, tidak sama sekali karena kedua orangtua saya sangat mendidik kami atau mendidik saya, putra-putrinya ini juga sangatstrictsekali.

Kalau tugas adalah tugas. Tetapi sebagai pendamping tentu saja sebagai pendamping. Tugas kita sebagai seorang istri adalah tentu mendampingi suami, kemudian juga sebagai ibu dari anak-anak, pendidik dari putra-putri, sebagai warga masyarakat dan sebagai anggota organisasi.

Saya kira semuanya, kita juga hal itu sama ya, ada sebagai pendamping suami dimana kita akan tampil sebagai pendamping suami. Kita juga harus tahu pendamping suami itu seperti apa. Tidak boleh kita melebihi dari tugas-tugas yang, bukan tugas, tapi jabatan dari suami itu sendiri. Apa yang saya lakukan sampai bertahan seperti ini? Keikhlasan dan saya tahu porsi saya, saya tahu tempat saya ada dimana. Tempat saya ada dimana.

Ketika saya harus berdiskusi dengan Bapak SBY, ya saya lakukan diskusi, kita bisa sejajar. Tapi manakala saya sebagai pendamping, saya tahu tempat saya ada dimana, kalau boleh dikatakan berdiri pun kita agak sedikit di belakang, itu kalau ada, itu upacara kenegaraan pun seperti itu. Kita berdiri di sebelah kiri dan agak ke belakang sedikit, tidak bersejajar. Itulah yang diterapkan oleh ayah saya, karena ini sangat bermakna, jangan sampai kita mendahului, dalam arti ya kalau kecepatan ya kadang-kadang suka kecepatan jalan ya, kalau jalan dalam arti yang sesungguhnya. Tetapi yang secara apa yang ada seperti yang saya sampaikan tadi, kita harus berada di sedikit di belakang suami kita. Oleh karena itu, saya juga berharap kepada Ibu-ibu sekalian untuk bisa menempatkan diri yang pas, yang pas manakala ibu sebagai pendamping suami, manakala sebagai pendidik putra-putri, sebagai orangtua dan juga sebagai organisasi dan warga masyarakat.

Semua harus dijalankan bersamaan, seiring, sejalan, tidak bisa kita mau memilih salah satu dari itu. Itu adalah peran yang diemban oleh kita semua. Saya kira itu Bapak ya. Jadi keikhlasan, ikhlas dan tahu tempatnya, tahu tempatnya dimana tempat kita, jangan kita melebihi apa yang sudah digariskan.

Kemudian Bapak tentang pendidikan. Kadang-kadang susah ya, bagaimana mengarahkan anak begitu, mungkin maksud Bapak begitu. Kebetulan saya mempunyai 2 orang anak laki-laki. Pendidikan untuk semua, maksudnya tidak memilih laki-laki dan perempuan. Saya pun berharap kepada Ibu-ibu sekalian, tidak membedakan putra-putrinya. Misalnya ah yang laki saja yang disekolahkan, yang perempuan dikebelakangkan. Tidak, sekarang semua mempunyai hak yang sama, tidak mengenal gender. Saya berharap seperti itu, dan bagaimana kok anak-anak bisa memilih yang satu di bidang ini dan yang satu di bidang ini.

Bapak kalau boleh saya ingin menceritakan sedikit,sharingkepada Ibu-ibu sekalian, ketika anak-anak ingin mencari kemana saya akan meneruskan pelajaran. Ketika anak saya mengatakan bagaimana kalau saya bidang militer dan bidang sipil. Kami orangtua hanya memberikan plus dan minusnya. Kalau sipil seperti ini kelebihannya, plusnya seperti ini, minusnya seperti ini. kemudian kalau militer, plusnya ini, minusnya ini. Selebihnya kami serahkan kepada anak-anak. Jadi dialah yang memilih, kenapa kok yang satu tiba-tiba ada yang militer, itu pilihan dia sendiri. Kemudian yang satu lagi, kenapa kok dia masuk dalam bidang politik, itupun pilihan dia sendiri. Karena ketika mau masuk dalam bidang politik, dia pun juga bertanya kepada saya, kira-kira apa yang bisa saya lakukan, mana yang lebih baik.

Semua saya pasrahkan kepada anak-anak, tetapi orangtua kewajibannya untuk memberitahu anak-anak plus dan minusnya. Jangan biarkan anak-anak memilih sesukanya tanpa ada rambu-rambu, tanpa ada mungkin pemberitahuan dari kita. Jadi saya kira peran dari orangtua sampai ke situ. Jadi kalau misalnya memang sudah ada pilihan dari orangtua, dari anak-anak ya tentu saja, kita tinggal mengarahkan yang baik, memberitahu kalau memang dia ternyata jalannya menyimpang dari apa yang diharapkan oleh orangtua, tinggal kita tarik, masukkan lagi ke jalan yang lurus dan yang tentu saja lurus dan benar itu tadi.

Saya kira itu, Bapak. Kemudian Bapak mengatakan bahwa sekarang ini sopan santun agak kurang, bukan ya agak, kadang-kadang ada yang kebablasan, Ibu. Saya setuju, ini barangkali juga dampak dari globalisasi. Apa yang kita terima secara mudah sekarang melalui media-media, ada internet, televisi, radio, kemudian juga lingkungan, itu sangat mempengaruhi. Dan banyak sekali orang yang sekarang menyampaikan kepada saya, kok kita seperti kehilangan, seperti sopan santun atau budi pekerti, mengapa tidak dimasukkan lagi ke dalam kurikulum. Karena orang mengatakan di dalam kurikulum sudah tidak ada budi pekerti.

Barangkali ini di sini ada Ibu atau istri Menteri Pendidikan Nasional, bisa disampaikan kecemasan dari orangtua tentang budi pekerti ini sudah sampai kepada puncaknya. Mungkin kira-kira apa yang bisa kita lakukan melalui pendidikan kita. Tetapi sebetulnya menurut saya sopan santun, budi pekerti, berbahasa, itu sangat tergantung ataupun sangat dipengaruhi oleh lingkungan yang ada di keluarga, keluarga yang paling kecil rumah tangga, itu yang paling utama. Dan kemudian kalau keluar, ada mungkin pendidikan di sekolah oleh guru, guru juga mempunyai tanggung jawab yang sama, karena guru memang untuk itu, mendidik murid-murid kita.

Tapi kita tidak boleh orangtua menyerahkan pendidikan sepenuhnya kepada guru, tidak boleh, tidak adil, orang tua juga punya peran. Coba kita bayangkan, anak kita di sekolah itu berapa lama sih? Di sekolah berapa tahun? Berapa tahun? 12 mungkin sampai jenjang SMA. Kemudian setelah itu pendidikan yang lebih tinggi lagi. Taruhlah 12 tahun di jenjang sampai SMA ini. Itu semua ya hanya 12 tahun, sedangkan dengan orangtua sampai berapa tahun. Oleh karena itu, menurut saya, orangtua juga bertanggung jawab untuk ini semua.

Mari kita berikan pendidikan pula, jangan sampai salah arah ya, anak-anak harus terus didampingi, jangan hanya suaminya saja didampingi, tetapi anak-anak pun harus didampingi, agar supaya mereka tidak salah dalam apa dalam perjalanan hidup ini.

Menurut saya seperti itu, tetapi barangkali saya titipkan juga melalui Ibu Laili Nuh, untuk pendidikan nasional, apakah kira-kira apa yang kita lakukan ini untuk pendidikan budi pekerti anak-anak kita. Akankah kita anak-anak kita diamkan, seperti itu. Karena memang arus globalisasi yang demikian derasnya, kita mudah sekali apalagi kalau tayangan televisi memperlihatkan hal yang seperti itu. Saya menganggap bahwa ini juga merupakan tanggung jawab dari seluruh komponen bangsa, termasuk media.

Kalau media menayangkan hal-hal yang seperti itu, bagaimana tidak diikuti oleh pemirsanya. Jadi saya juga prihatin sekali, kalau hal-hal yang seperti ini, tidak diperhatikan oleh mereka-mereka itu dari tayangan-tayangan televisi. Tetapi mari Ibu-ibu sekalian, kita lindungi anak-anak kita, kita beritahu anak-anak kita, untuk memilih tayangan-tayangan yang bermutu, daripada yang seperti itu, mari kita dampingi, terutama mereka-mereka yang masih di bawah usia, supaya mereka tidak salah jalan.

Saya kira itu Pak Yayat yang ingin saya sampaikan kepada Bapak. Mudah-mudahan jawaban saya bisa diterima dan bisa memenuhi atau sesuai dengan harapan dari Bapak. Sekali lagi, tentu saya berharap Bapak dan Ibu sekalian dapat mendampingi pasangan Ibu-ibu sekalian, baik itu Duta Besar wanita maupun Bapak Duta Besar di tempat dimana pun berada. Dan baru yang mau berangkat, selamat jalan, semoga dapat menjalankan tugas dengan sukses danInsya Allahbarangkali suatu saat nanti, Bapak Presiden dan saya bisa berkunjung, mudah-mudahan. Sekali lagi, doa saya, doa Bapak Presiden, doa kita semua untuk para perwakilan di luar negeri, semoga sukses.Wabillahitaufiq walhidayah wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.*****Biro Pers dan Media
Rumah Tangga Kepresidenan


Redaksi | Syarat & Kondisi | Peta Situs | Kontak
© 2006 Situs Web Ibu Negara Republik Indonesia - Ny. Hj. Kristiani Herawati
Hak Cipta dilindungi Undang-undang