


Cirebon, Jawa Barat, Selasa, 9 Februari 2010
TRANSKRIPSI
SAMBUTAN IBU HJ. ANI BAMBANG YUDHOYONO
PADA ACARA
SILATURAHIM DENGAN PARA PERAJIN BATIK
CIREBON, 9 FEBRUARI 2010
Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh,
Selamat pagi dan salam sejahtera buat kita sekalian,
Yang saya hormati dan saya cintai Ibu Herawati Boediono,
Yang saya hormati Bapak Menteri Kebudayaan dan Pariwisata, Bapak Jero Wacik, Ibu Menteri Perdagangan, Ibu Mari Elka Pangestu, Bapak Menteri ESDM, Bapak Darmin Saleh,
Yang saya hormati Ibu-ibu dari Solidaritas Istri Kabinet Indonesia Bersatu, baik Istri Menteri Kabinet Indonesia Bersatu I maupun II,
Yang saya hormati Gubernur Jawa Barat beserta Ibu Netty Heryawan yang juga selaku Ketua Dekranasda Jawa Barat, beserta seluruh Anggota DPRD dan Muspida Provinsi Jawa Barat, Bapak-bapak Anggota Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia, saya melihat Bapak Komar dan Bapak Herman Chairul,
Yang saya hormati dan saya cintai para Duta Besar dan para Istri Duta Besar dari Negara Sahabat, Excellency,
Yang saya hormati Bapak Walikota Cirebon dan DPRD Cirebon, serta Muspida Kotamadya Cirebon,
Yang saya hormati Bapak dan keluarga dari Sultan Kasepuhan Kanoman maupun Kacirebonan,
Yang saya hormati Ketua Yayasan Batik Jawa Barat, Ibu Sendy Yusuf, para Pejabat Sipil dan Militer, baik yang berada di Jawa Barat maupun yang berada khusus di Cirebon, Budayawan, para Pengusaha, para Maestro Batik dan yang saya cintai para Perajin Batik yang Jawa Barat yang berada di depan saya ini,
Marilah sekali lagi, saya pun mengajak hadirin semua untuk memanjatkan puji dan syukur ke hadirat Allah SWT, karena atas rahmat dan ridho-Nya-lah, maka pada pagi hari ini kita dapat berkumpul di sini dalam keadaan sehat wal’ afiat.
Dua minggu yang lalu saya menyertai kunjungan dari Bapak Presiden Republik Indonesia juga ke Cirebon ini. Jadi dalam waktu satu bulan, dua kali saya datang kemari. Saya sungguh gembira bertemu dengan Bapak dan Ibu sekalian, para perajin batik dari seluruh Jawa Barat.
Dan ijinkan saya memaknai silaturrahim ini sebagai jalinan tali persaudaraan di antara kita, sekaligus sebagai perwujudan rasa cinta dan keinginan, serta keinginan untuk bersama untuk melestarikan karya seni batik Jawa Barat sebagai khasanah budaya bangsa yang mewakili daerah-daerah di Provinsi Jawa Barat. Dan Insya Allah, pada saatnya nanti, kita dapat berdialog dan saling bertukar pikiran dan pengalaman di antara kita mengenai permasalahan seputar batik dan usaha batik itu sendiri.
Saya tentu saja berharap tidak ada masalah yang berarti, yang dihadapi oleh para perajin. Namun bila ada, mari bersama-sama kita carikan jalan keluarnya. Kebetulan di sini, tadi juga sudah disebutkan oleh Bapak Jero Wacik, saya ditemani atau ditemani oleh Bapak Menteri Kebudayaan dan Pariwisata sendiri dan juga staf yang ada bersama beliau, Menteri Perdagangan, Ibu Mari Elka Pangestu, kemudian Bapak Menteri ESDM sendiri. Tadi katanya akan dikirimkan Dirjennya, tetapi beliau sendiri hadir kesini untuk bertemu dengan para pembatik. Terima kasih Bapak Menteri.
Kemudian juga ada Deputi Bidang Pemasaran dan Jaringan Usaha dari Kementerian Koperasi dan UKM, Ibu Ichwan Asrin. Bapak oh Bapak, maaf Bapak, saya juga belum kenal ini. Bapak, oh sebelah belakang, “Bapak Ichwan, nanti depan ya Pak ya. Nanti kalau berdialog Bapak bisa ke depan, sehingga apa yang menjadi pertanyaan dari para perajin bisa dijawab ya Bapak. Terima kasih, Bapak.” Beliau-beliau itu mungkin bisa ikut memecahkan masalah yang dihadapi oleh para perajin batik.
Hadirin sekalian,
Rasanya perlu bagi saya untuk terlebih dahulu mengajak kita semua yang hadir di sini maupun saudara-saudara kita di seluruh wilayah tanah air dan dimanapun saat ini berada untuk sekali lagi, bersyukur karena batik Indonesia pada bulan Oktober tahun 2009 yang lalu, telah diakui sebagai masterpiece of oral and intangible of humanity oleh UNESCO.
Mudah-mudahan pengakuan batik sebagai warisan budaya tak benda yang dihasilkan oleh Indonesia, disamping akan meningkatkan kreativitas dan mutu hasil karya pembatik Indonesia juga terus membangkitkan gairah dan semangat generasi muda kita sebagai pewaris sah bangsa Indonesia untuk mencintai batik. Tentu saja, sekaligus mendorong terjadinya regenerasi para perajin batik di Indonesia, seperti yang tertulis di banner, di sebelah sana “Batikku Warisan Bangsaku”.
Dengan demikian, hadirin sekalian, kini ada tiga mata budaya tak benda milik Indonesia, wayang, keris, batik dan satu best practices berupa diktat warisan budaya batik Indonesia yang telah ditetapkan oleh UNESCO sebagai milik bangsa Indonesia.
Sekali lagi penetapan ini menandakan pengakuan dunia bagi mata budaya milik Indonesia yang sudah menjadi identitas bangsa Indonesia. Sesungguhnya ada keuntungan yang diperoleh dengan masuknya budaya Indonesia dalam daftar warisan budaya dunia, yaitu mendapatkan bantuan teknis dan dana untuk konservasi dari UNESCO.
Ini merupakan salah satu nilai penting bagi keanggotaan Indonesia di UNESCO. Berkaitan dengan itu, tentu saja saya berharap agar pemerintah melalui Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata atau perwakilan kita di UNESCO. Tadi saya mendengar ada perwakilan kita di UNESCO? Hadir di sini? Ada Bapak, terima kasih. Saya berharap dari beliau dan Bapak Menteri Kebudayaan dan Pariwisata terus memperjuangkan bantuan teknis maupun dana yang bisa diperoleh Indonesia guna terus melestarikan warisan dunia itu.
Hadirin sekalian,
Sementara itu Bapak Presiden Susilo Bambang Yudhoyono senantiasa mendorong, agar lebih banyak lagi warisan dan karya budaya bangsa Indonesia yang didaftarkan ke PBB, sehingga akan lebih banyak lagi budaya bangsa Indonesia yang diakui sebagai warisan dunia.
Kalau kita membandingkannya dengan Jepang atau Tiongkok yang sudah puluhan, maka budaya kita yang diakui oleh dunia masih sangat kecil. Baru empat. Padahal kita sesungguhnya memiliki kebudayaan yang tidak kalah ragam dan luhurnya dibandingkan kedua negara yang tadi saya sebutkan.
Saya kira pada saat ini sudah menunggu untuk diajukan ke PBB, seperti angklung. Angklung juga berasal dari Jawa Barat, saya pikir seperti itu. Mudah-mudahan bisa segera diperjuangkan. Kemudian saya mendengar juga ada musik sasando dari NTT. Tari saman dari Aceh dan upacara adat pernikahan, masih banyak lagi. Kalau kita urut atau kita cari, bukan main masih banyak budaya-budaya Indonesia yang bisa kita perjuangkan.
Bapak Jero Wacik, kami, saya, Ibu Boediono yang hadir, Istri Menteri dan saya kira semua yang hadir di sini memberikan dukungan penuh kepada Bapak untuk dapat memperjuangkannya.
Hadirin sekalian,
Dengan ditetapkannya tiga warisan dunia tak benda dari Indonesia tadi, mengandung konsekuensi, yaitu semua pemangku kepentingan, baik pemerintah, LSM, kelompok masyarakat dan perseorangan untuk melaksanakan komitmen bersama, yaitu melestarikan dan mengembangkan mata budaya maupun best practices tersebut.
Dalam kaitan itu, saya ingin mengingatkan kembali apa yang disampaikan oleh Bapak Presiden Susilo Bambang Yudhoyono ketika menyambut putusan resmi UNESCO atas batik Indonesia tadi, yaitu saya kutip “Ada tanggung jawab yang besar menyusul telah ditetapkannya batik Indonesia sebagai salah satu warisan dunia. Indonesia wajib, wajib melestarikannya dan terus mengembangkan batik di masa mendatang.
Jangan karena kita malas mengembangkan batik itu, lalu tiba-tiba 15 tahun lagi batik berkembang di negara yang tertentu atau di negara tertentu, kita kemudian marah. Jangan seperti itu. Saya khawatir bila kita tidak pandai untuk melestarikannya maka suatu saat akan ditinjau kembali oleh UNESCO, mengapa setelah ditetapkan tidak dikembangkan dan dicabut oleh UNESCO”.
Oleh karena itu, pesan beliau, pastikan ada regenerasi. Memahami kata-kata tadi, dapat ditangkap akan kekhawatiran beliau apabila kita sebagai bangsa Indonesia tidak pandai atau tidak mau melestarikan batik Indonesia. Anak-anak muda, batik Indonesia itu warisan bangsa kita. Kita siap menerima warisan itu. Oleh karena itu, jangan kita malas untuk mewarisinya.
Oleh karena itu, marilah dengan penuh kesadaran kita upayakan pelestariannya. Lestarikan dan cintai batik Indonesia. Upaya pelestarian bukan cuma memelihara keberadaan batik itu, melainkan juga melakukan regenerasi perajin batik sebagai perwujudan rasa cinta kita. Regenerasi itu perlu untuk memunculkan motif dan disain batik yang baru, sehingga dapat memenuhi selera konsumen dari masa ke masa.
Hadirin yang berbahagia,
Itulah mengapa hari ini saya bersama seluruh rombongan, tadi sudah sebutkan juga oleh Bapak Jero Wacik, Ibu Herawati Boediono. Barangkali ibu-ibu ada belum yang belum mengenal beliau, Istri Wakil Presiden kita, Ibu Herawati Boediono. Para Menteri dan Istri Menteri Kabinet Indonesia Bersatu, baik I maupun II yang duduk di sebelah sana. Ibu-ibu dari Ria Pembangunan. Ria Pembangunan ini adalah kabinet pada jaman Bapak Presiden Soeharto pada waktu itu. Kemudian Duta Besar dari negara sahabat dan para Istri Duta Besar yang ada di sebelah kanan.
Dewan Kerajinan Nasional, yang kebetulan juga diketuai oleh Ibu Herawati Boediono. Yayasan Batik Indonesia, kemudian juga ada Wastra Prima, barangkali bisa berdiri ibu. Yayasan Batik dulu, mana Yayasan Batik Indonesia, Ibu Widodo juga Yayasan Batik Indonesia. Kemudian Wastra Prima, sebelah sana. Ada beberapa orang juga. Kemudian Cita Tenun Indonesia.
Ini perkumpulan juga dari tenun Indonesia, ada Ibu Hatta Rajasa juga di sini. Mutumanikam Nusantara, Yayasan Sulam Indonesia yang diketuai oleh Ibu Jero Wacik. Pesona Kain yang diketuai oleh Ibu Ikke Bakrie dan Ibu Mitra Seni, dan Nurani Budaya Indonesia, serta para pemilik atau Istri pemilik media. Ada istri dari pemilik SCTV, Ibu Fofo. Ibu Fofo juga ada. Dan Ibu Chairul Tanjung dari Trans TV, Ibu Chairul Tanjung. Kemudian Ibu Liliana dari RCTI.
Kalau Bapak dan Ibu sekalian hanya melihat tayangannya, ini istri bos-bos mereka ya. Insya Allah kantongnya pasti tebal ya. Kemudian juga insan pers, insan pers yang bersama-sama saya tadi, datang ke sini, datang ke Cirebon.
Tadi Bapak Jero Wacik sudah mengatakan, yang dipilih akhirnya Cirebon. Banyak yang sebetulnya daerah tujuan, tetapi yang dipilih adalah daerah Cirebon.
Sebetulnya apa sih tujuan kita ke sini Ibu-ibu? Para pembatik sekalian, memastikan bahwa batik masih diproduksi di Cirebon ini. Inilah makna regenerasi tadi. Dan khususnya saya kira bukan hanya Cirebon tadi sudah disebutkan, Jawa Barat pada umumnya. Jadi Cirebon dan Jawa Barat pada umumnya.
Bapak Gubenur, Ibu Netty dan para Pembatik sekalian, saya menegaskan kembali apa yang disampaikan oleh Bapak Jero Wacik tadi. Insya Allah, kami datang kemari bukan hanya menengok karena cinta kepada para pembatik, tapi kami juga ingin memperkuat ekonomi Cirebon dan Jawa Barat. Ingin memperkuat ekonomi Cirebon dan Jawa Barat. Insya Allah, kami nanti akan ikuti membelanjakan apa yang kami punyai untuk berbagi dengan para perajin dari Cirebon dan Jawa Barat pada khususnya.
Hadirin sekalian,
Keindahan dan keunikan aneka corak ragam hias batik tradisional setiap daerah di Indonesia itu berbeda-beda dan memiliki ciri khas yang membedakan dengan daerah lain. Demikian pula dengan batik Jawa Barat yang menunjukkan pesona keindahan dan melambangkan keluhuran budaya masyarakat Jawa Barat yang harus terus dipertahankan dan dilestarikan keberadaannya.
Motif batik Jawa Barat tentunya syarat dengan nilai-nilai tertentu dalam kehidupan sosial masyarakat Jawa Barat. Kesungguhan dan upaya untuk mengangkat citra, pesona, corak dan ragam hias batik Jawa Barat merupakan tanggung jawab bersama Yayasan Batik Jawa Barat, Dekranasda Jawa Barat, dan juga warga masyarakat, serta Pemerintah Daerah Jawa Barat, serta sebetulnya kita semua.
Kita harus akui bahwa dari sekian banyak ragam seni batik yang ada di negeri ini, belum semuanya dapat dikenal secara luas, baik di negeri sendiri maupun secara internasional. Selama ini yang sudah lebih dikenal oleh beberapa saat yang lalu atau beberapa waktu yang lalu, hanya Solo dan Yogyakarta. Solo bermotif sogan, Yogyakarta bermotif putih kehitam-hitaman dengan warna motif kehitam-hitaman dan putih. Padahal masih banyak lagi karya seni batik daerah lain. Tidak usah jauh-jauh, Jawa Tengah kemudian Jawa Timur, Indramayu, Ciamis daerah Jawa Barat sini dan sebagainya dengan motif dan corak yang berbeda-beda. Nanti bisa kita buktikan bersama.
Saya sendiri masih belum bisa membedakan. Yang saya tahu kalau Cirebon itu mega mendung, padahal meganya tidak selalu mendung di sini, tetapi masih banyak yang lain. Ada motif-motif yang barangkali kita baru akan ketahui nanti setelah kita meninjau pameran yang ada.
Ini merupakan tantangan kita untuk mempopulerkan berbagai batik tadi yang merupakan karya seni bangsa Indonesia yang unik, cantik, apik, agar dapat lebih dikenal luas, baik di dalam maupun di luar negeri. Itulah mengapa saya juga mengajak para Duta Besar maupun Istri Duta Besar dari negara-negara sahabat. Saya yakin apabila sudah mulai dikenal, niscaya dapat memperluas dan meningkatkan pemasaran batik Indonesia di luar negeri. Ini berarti akan menambah devisa negara kita.
Hadirin sekalian,
Saya menyadari, bahwa di masa lalu batik-batik dari Jawa Barat yang meliputi tadi sudah disebutkan Cirebon, Indramayu, Ciamis, Kuningan, Tasimalaya, Sumedang, Bandung, Cimahi, dan semuanya belum begitu terangkat ke permukaan. Dengan kata lain, belum dikenal atau diminati. Tetapi sekarang Alhamdulillah, belakangan ini setelah sering dipromosikan melalui pameran-pameran yang diadakan, baik di dalam maupun di luar negeri barulah banyak kalangan yang terkesima dan menjadi tahu, bahwa batik-batik Jawa Barat mempunyai ciri khas dan kecantikan tersendiri, berbeda dengan batik yang selama ini mereka kenal.
Batik-batik dari Jawa Barat, terutama yang dari Cirebon tampil dengan corak dan yang unik, serta cantik yang menawarkan nuansa ceria, berani dalam warna, eksotik dalam alur dan indah mempesona. Ada pengaruh budaya pendatang pada masa lalu, baik itu dari Cina, dari India maupun dari budaya Islam. Meskipun demikian dalam sudut art-nya, artistiknya, semua hasil karya seni yang kita sebutkan tadi memperoleh pengaruh budaya dari negara lain, justru akan dapat menambah khasanah budaya kita, serta melengkapi karya seni batik Indonesia.
Motif khas Jawa Barat perlu diketahui bersama, khususnya oleh generasi muda bangsa kita. Dengan mengenal motif-motif batik tersebut generasi muda kita akan dapat mengenal lebih jauh mengenai khasanah kebudayaan bangsanya sendiri. Dengan demikian, mereka akan sadar dan tergerak hatinya untuk menjadi penyelamat aset budaya negara kita yang tercinta.
Hadirin sekalian,
Perkembangan batik di Jawa Barat pada umumnya sungguh menggembirakan, tetapi tidak berarti tugas sektor terkait dalam pengembangan batik di Jawa Barat sudah selesai. Saya justru berharap kepada Departemen Kebudyaan dan Pariwisata, instansi terkait, Yayasan Batik Jawa Barat lebih maksimal dalam memberikan bimbingan dan pembinaan kepada para perajin batik.
Bimbingan dan pembinaan sangat penting, agar dalam jiwa dan semangat meraka tumbuh kreativitas dan motivasi yang tinggi untuk menghasilkan karya yang lebih unggul. Saya pun berharap, agar bimbingan kepada para perajin batik tadi tidak hanya pada teknis disain, teknis pewarnaan, teknis pengemasan dan kualitas produk saja, namun juga sampai kepada pengelolaan limbah yang ada. Tolong diperhatikan betul-betul tentang pengelolaan limbah yang ada, agar lingkungan kita terjamin atau terjaga dengan baik.
Hadirin yang berbahagia,
Upaya pengembangan batik selain dilakukan oleh perajin atau pengusaha sendiri juga mendapat dukungan dari pemerintah dan dunia perbankan, misalnya mengenai penyiapan sumber daya, peminjaman modal, dan sebagainya. Bahkan pemerintah juga telah mencanangkan gerakan pemakaian batik. Tadi Bapak Gubernur sudah mengatakan di Jawa Barat, Kamis dan Jumat menggunakan batik. Tapi sekarang di seluruh instansi, baik itu instansi pemerintah maupun swasta dan di perkantoran, maka batik sudah menjadi pemandangan yang kita saksikan sehari-hari.
Begitu 2 Oktober, tanggal 2 Oktober yang lalu dinyatakan sebagai Hari Batik Nasional diharapkan pada hari itu, jadi tolong diingat-ingat, pada hari itu diharapkan dari Sabang sampai Merauke, dari Pulau Miangas sampai Pulau Rote diharapkan menggunakan atau mengenakan kain batik. Jadi ini merupakan pasar yang diperluas bagi pasar batik kita di seluruh Indonesia. Tentu saja mari kita buktikan nanti 2 Oktober yang akan datang, pasti ragamnya berbeda-beda ya.
Bayangkan kalau seluruh warga Indonesia menggunakan batik, yang anak kecil pun bisa menggunakan batik, bayi pun bisa. Cucu saya yang kecil pun sudah saya beri batik. Sehingga kalau seluruh rakyat Indonesia menggunakan batik bayangkan sudah 230 juta corak ragam batik yang ada di Indonesia. Mudah-mudahan ini benar-benar bisa terwujud.
Selaku Ibu Negara saya berharap ada Kementerian Kebudayaan Pariwisata, Kementerian Perdagangan, Kementerian yang terkait lainnya, Organisasi Pencinta Batik dapat mencari celah dan terobosan, agar batik dapat dikenal secara luas di dunia mode maupun dapat diterima pula di mancanegera, yang tentu saja mempunyai keekonomian yang tinggi. Tetap terjaga sebagai ciri bangsa Indonesia, serta aman dan terlindungi oleh kekuatan hukum.
Sekarang saya ingin berbicara dengan para perajin batik yang saya cintai. Seiring dengan kebijakan pemerintah untuk semakin hari mengurangi produksi minyak tanah dan mengkonversinya kepada gas, maka saya berharap para pembatik juga harus mulai beralih dari kompor dengan bahan bakar minyak tanah yang selama ini digunakan ke kompor dengan bahan bakar gas. Dan menurut penelitian dari seorang pakar atau maestro batik juga dari Jawa Barat, Bapak Komar, maka penggunaan gas lebih irit dibandingkan bila menggunakan minyak tanah.
Tadi telah saya serahkan kompor gas. Kompor yang diproduksi oleh para pengrajin kompor yang ada di Jawa Barat, di Cimahi khususnya di Babatan, yang biasa memproduksi kompor dari minyak tanah. Sekarang mereka memproduksi dalam atau dimodifikasi menjadi kompor dengan menggunakan bahan bakar gas. Ada 600 unit bantuan dari Bapak Presiden dan juga bantuan dari Bank Negara Indonesia, kami serahkan kepada Ibu Netty Heryawan. Saya berharap bekerja sama dengan Ibu Sendy Yusuf untuk dapat mendistribusikan kepada para pembatik. Barangkali tidak cukup, tetapi minimal apa yang kami serahkan ini dapat membantu Bapak dan Ibu-ibu sekalian.
Saya melihat para pembatik juga ada yang bapak-bapak ya? Betul? Yang di belakang para pembatik bukan? Pembatik pria, betul? Baik. Karena selama ini yang kita ketahui yang membatik itu masih kaum perempuan, ternyata kaum laki-laki pun juga ada yang membatik.
Pesan saya kepada para perajin batik, Bapak dan Ibu hendaknya bisa mengembangkan batik dengan harga yang relatif lebih menjanjikan keuntungan dan bisa bersaing dengan pasar menengah ke atas, karena saya menangkap fenomena menjual batik dengan harga yang pantas dan relatif lebih mahal akan dapat menjadi relatif lebih mahal akan menjadi pendorong semangat bagi para perajin batik tradisional.
Kemudian saya berharap Bapak dan Ibu tetap memperhatikan mutu, agar konsumen mau membayar harga yang pantas untuk mutu yang memadai. Kejujuran dari para pembatik juga harus tetap dijaga, dalam arti katakan sejujurnya bila itu memang batik tulis. Dan katakan sejujurnya pula, bila itu memang batik cap. Ya ini yang kita harapkan. Jangan pernah menipu dalam tanda kutip para konsumen. Ada batik, tekstil dengan motif batik dikatakan sebagai ini adalah batik tulis. Itu namanya tidak jujur.
Oleh karena itu, saya berharap masing-masing para pembatik itu secara jujur mengatakan bahwa ini batik tulis Bu, yang ini adalah batik cap, tetapi ini tekstil batik. Karena dengan demikian, maka kita akan tenang atau para konsumen ini tenang. Yakinlah Ibu bahwa masing-masing batik itu tadi yang saya sebutkan punya penggemar sendiri-sendiri. Yang kantongnya pas-pasan mungkin akan memilih yang lebih murah dari batik yang dicap. Tetapi yang mempunyai kantong lebih tebal, mungkin akan membelanjakan kepada batik yang tulis halus.
Jadi mohon kepada Ibu-ibu sekalian, saya pikir bisa mengatakan bahwa batik, ini adalah batik tulis dan ini adalah batik cap. Membeli batik dengan harga yang mahal pun sebetulnya mau murah, mau mahal nafasnya sama sebetulnya, kita semua 100% cinta produk Indonesia. Jadi sekali lagi, 100% cinta produk Indonesia, cap maupun yang tulis, itu adalah produk Indonesia maupun yang printing. Printing juga ada produk-produk Indonesia.
Hadirin yang berbahagia,
Saya juga berharap mulai saat ini dan seterusnya, batik bisa menjadi icon dari Indonesia karena belum ada di negara manapun yang memiliki kekayaan disain batik seperti Indonesia. Jadikan batik menjadi icon Indonesia. Layaknya seperti mata uang dari koin, dua sisi yang tidak bisa kita pisahkan. Sisi yang satu tulisan Indonesia, sisi yang lain adalah batik. Sehingga kalau orang melihat atau mendengar nama Indonesia, dia akan teringat batik. Dan sebaliknya bila dia mendengar nama batik atau kalimat atau kata batik, maka dia akan ingat Indonesia. Sekali lagi, jadikan batik menjadi icon Indonesia. Ingat Indonesia, maka ingat batik, dan ingat batik, maka ingat Indonesia.
Dan sebelum saya akhiri, saya ingin mengucapkan terima kasih kepada Bapak Gubernur Jawa Barat beserta jajarannya, Yayasan Batik Jawa Barat, Dekranasda, Ketua Dekranasda Jawa Barat beserta jajarannya, para Panita Penyelenggara, kemudian juga pihak-pihak keamanan, Kapolda, Pangdam, tentu saja insan pers yang telah mengiringi perjalanan saya menuju ke Cirebon ini untuk mengunjungi para pembatik dan para pengrajin.
Semoga acara kita dapat selesai. Dan akhirnya marilah kita tanamkan bersama dalam benak kita masing-masing untuk sebuah pengakuan yang tulus, namun penuh harapan “aku masih ingin melihat batik Indonesia hidup seribu tahun lagi”.
Semoga Allah SWT memberikan kemudahan kepada para perajin batik Jawa Barat khususnya dan para perajin batik Indonesia pada umumnya untuk terus mengembangkan dan memajukan usaha batik, seraya melestarikan karya dan warisan budaya kita.
Terima kasih.
Wabillahitaufiq walhidayah wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.
*****
Biro Pers dan Media
Rumah Tangga Kepresidenan
