Pidato Presiden

Cirebon, Jawa Barat, Selasa, 9 Februari 2010

Dialog dengan Para Perajin Batik Jawa Barat

 

TRANSKRIPSI
DIALOG IBU NEGARA REPUBLIK INDONESIA
DENGAN PARA PERAJIN BATIK
PADA ACARA
SILATURAHIM DENGAN PARA PERAJIN BATIK JAWA BARAT
CIREBON, 9 FEBRUARI 2010



Ibu Shandy Yusuf, Ketua Umum Yayasan Batik Jawa Barat
Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh,
Yang terhormat Ibu Negara, Ibu Hj. Ani Bambang Yudhoyono dan yang kami hormati Ibu Herawati Boediono, serta para hadirin dan undangan yang kami muliakan,

Alhamdulillahwasyukurillah, bahwa pada hari ini, kami khususnya para perajin batik telah mendapatkan arahan secara langsung dari Ibu Negara dan tentunya ini akan menjadi motivasi bagi para perajin batik Jawa Barat, Bu, untuk tetap terus berkarya, melestarikan, mengembangkan, dan memperkenalkan batik Jawa Barat kepada masyakat luas.

Ibu Negara yang kami banggakan, mohon izin kami akan mulai memandu dialog dengan para perajin batik Jawa Barat. Saat ini di hadapan Ibu sudah hadir 250 orang perajin batik Jawa Barat, yang mereka ini adalah perwakilan dari 13 Kota, Kabupaten yang ada di Jawa Barat, yaitu Cirebon, Indramayu, Majalengka, Kuningan, kemudian Tasikmalaya, Garut, Ciamis, Sumedang, Bogor, Cimahi dan Bandung.

Pada kesempatan ini, kami akan memberi kesempatan kepada beberapa perwakilan dari para perajin untuk bisa menyampaikan aspirasinya, atau usulannya atau bahkan pertanyaan secara langsung. Dan dialog ini akan dibagi menjadi dua sesi, Ibu, yang pertama kami beri kesempatan kepada dua orang penanya. Dan yang sesi kedua, kami akan beri kesempatan untuk dua pertanyaan berikutnya. Dan jika masih ada waktu nanti, kita akan beri kesempatan yang masih ingin bertanya lagi.

Baik. Atas izin Ibu Negara, kami persilakan kepada perajin yang ingin bertanya langsung kepada Ibu Negara. Waduh, ternyata cukup banyak Ibu yang cukup antusias. Maka saya akan pilih dulu dari baris yang pertama ini, Ibu yang nomor tiga dari depan sebagai penanya pertama dan baris kedua ini dari ada Bapak yang di belakang, ya silakan untuk bertanya. Dan jangan lupa sebutkan dulu identitasnya, nama serta daerah asalnya, lalu sampaikan maksudnya dengan jelas dan singkat.

Ibu Carwati Basuri, Pembatik Indramayu
Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh,
Perkenalkan nama saya Carwati Basuri dari Kabupaten Indramayu. Kepada Ibu Ani Yudhoyono yang terhormat, apa yang akan pemerintah lakukan berkaitan dengan datangnya tekstil impor dari Cina, yang menggunakan label batik halus padahal itu printing, berarti itukan bukan batik. Itu saja pertanyaan dari saya. Terima kasih.
Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Ibu Shandy Yusuf, Ketua Umum Yayasan Batik Jawa Barat
Baik selanjutnya penanya kedua, silakan Bapak. Silakan bertanya.

Bapak Erwin, Pembatik Tasikmalaya
Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh,
Terima kasih kepada Ibu Hj. Shandy Yusuf yang memberikan waktu kepada saya. Yang terhormat Ibu Ani Yudhoyono, suatu kebanggaan, penghargaan bagi saya bisa bertanya langsung kepada Ibu. Perkenalkan nama saya Erwin, perwakilan dari pembatik Tasikmalaya. Pertanyaan saya, bagaimana caranya agar batik Jawa Barat ini bisa terkenal seperti batik yang lainnya, yang lebih dulu dikenal masyarakat luas? Soalnya saya pernah mengalami, memperkenalkan batik Tasik ke Jakarta, tapi Cuma pertanyaan dan pernyataan saja yang saya terima, soalnya belum dikenal, jangankan di Jakarta, di Bandung juga pernah kejadian banyak komentar-komentar ringan dan spontan ya. Emang di Tasik ada batik begitu, oh di Tasik ada Batik.

Yang ironisnya lagi di Tasik juga yang daerah saya Tasik, tidak ngerti, tidak tahu bahwa di Tasik itu ada sejarah batik, motif khas Tasik dan warna yang khas. Mudah-mudahan Ibu bisa membantu soalnya saya secara pribadi enggak bisa memperkenalkan, tidak tahu kemana-mana juga, perlu tangan yang lebih berkuasa lagi, mungkin segitu aja. Terima kasih.
Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Ibu Negara Republik Indonesia
Baik. Saya sudah menerima dua pertanyaan dari Ibu Carwati yang menjadi pembatik dari Indramayu, yang mengatakan, “Bagaimana Ibu menghadapi batik yang masuk ke Indonesia, sebetulnya itu adalah printing, tetapi ditulisnya batik halus?” Begitu ya. Kemudian tentu saja, seperti tadi yang tadi yang saya sampaikan, kalau rakyat Indonesia itu sebetulnya sudah pintar dan cerdas, bisa membedakan mana sih yang ini batik, batik halus, mana yang cap, dan mana yang printing.

Oleh karena itu, bagaimana kita bisa kiat-kiat untuk menghadapi hal ini, mari kita memberikan pengertian kepada seluruh rakyat Indonesia tentang membedakan itu tadi.

Sebetulnya UNESCO mengatakan batik itu juga diakui di Indonesia itu, karena bukan hanya filosofi, tetapi batik itu sendiri sebetulnya apa sih. Batik itu adalah bagaimana caranya membatik itukan dengan canting, dengan malam, itu yang batik halus, kemudian kalau cap menggunakan cap dan juga ada malam. Ini harus diberi perhatian kepada seluruh rakyat Indonesia, bahwa yang disebut dengan batik ya itu, yang milik Indonesia ya itu.

Sedangkan yang masuk kemudian menggunakan batik halus, mungkin karena teskturnya yang halus, bahannya yang halus, kemudian motifnya seperti batik, sehingga di situ mereka berani mengatakan bahwa ini adalah batik halus.

Oleh karena itu, tentu kita nanti juga berharap kepada mungkin bisa menambahkan Ibu Menteri Perdagangan, bagaimana cara kita menahannya begitu ya. Kalau produk-produk yang ilegal masuk ke Indonesia, tentu juga ada penanganannya. Jangan sampai ada begitu ya Bu ya. Tetapi tentu untuk menghadapi ini semua sekali lagi, kita harus bisa menyampaikan kepada masyarakat kita sendiri.

Oleh karena itu, tentu saja Ibu, sekali lagi, Ibu harus banyak memberikan ataupun para pembatik kita harus banyak menyampaikan kepada masyarakat luas, mana yang disebut dengan batik tulis maupun batik yang halus, dan mana yang namanya tekstil printing, walaupun tulisannya sebetulnya batik tulis halus. Kan rasanya bukan ya Bu ya, yang namanya batik kalau Indonesia bukan seperti itu ya. Jadi barangkali ini mungkin bisa ditambahkan Ibu nanti ya, Ibu Mari Elka Pangestu.

Kemudian saya menjawab kepada Saudara Erwin dari Tasikmalaya. Tasikmalaya itu bagaimana caranya bisa memperkenalkan batik Tasik itu ke tingkat yang lebih tinggi lagi atau yang lebih luas lagi. Nah ini sekarang begini, tadi Saudara Erwin mengatakan bahwa rakyat Tasik sendiri masih belum tahu ya, masih banyak atau ada yang belum mengetahui bahwa Tasik itu punya batik ya, belum tahu bahwa sejarah batik itu juga ada di Tasikmalaya. Bahkan ikut pameran, katanya tadi Saudara Erwin ikut pameran, hanya dilihat sambil bertanya “Oh, Tasikmalaya punya batik ya.” Karena selama ini memang orang mengatakan Tasikmalaya itu penghasil bordir ya.

Saudara Erwin bisa mengatakan, betul kita pengusaha ada batik juga, walaupun temannya batik juga kita produksi. Temennya batik ya itu bordir tadi, untuk atasannya batik itu bisa menggunakan bordir ya.

Jadi memang ini sebetulnya tanggung jawab kita bersama Saudara Erwin. Saya berharap nanti dari Yayasan Batik Jawa Barat untuk bisa lebih mensosialisasikan batik motif dari Tasikmalaya. Mohon maaf saya sendiri barangkali dengan Ibu-ibu di sini belum bisa membedakan yang mana Tasikmalaya. Nanti tolong dijelaskan kepada kita ya, sehingga kita pun bisa, atau saya dan Ibu-ibu sekalian yang hadir di sini bisa ikut mempromosikan batik dari Tasikmalaya.

Tentu saja kalau misalnya ada yang mengatakan atau hanya bertanya dan tidak membeli, jangan kecil hati ya Saudara Erwin, karena Saudara Erwin juga harus tahu kira-kira yang diminati oleh konsumen itu yang seperti apa, corak apa. Oleh karena itu, selain menggali yang ada atau yang motif lama, tapi coba dituangkan batik atau motif-motif yang baru, yang bisa mengikuti selera konsumen. Sehingga nanti suatu saat jadi para pengunjung itu tidak hanya bertanya, tetapi juga membeli, Insya Allah.

Nanti saya juga ingin melihat corak Tasik itu yang seperti apa. Barangkali itu jawaban dari saya, mungkin bisa ditambahkan oleh Ibu Mari Elka Pangestu tentang bagaimana kita menggempur masukan-masukan dari produk-produk luar, sehingga kita bisa bersaing dengan produk luar tadi. Silakan Ibu.

Ibu Mari Elka Pangestu, Menteri Perdagangan
Terima kasih Ibu Negara. Saya ingin menambahkan beberapa hal. Pertama, tentunya kalau itu adalah batik kain yang bermotif batik dari RRC yang ditulis batik halus, itu namanya melanggar hukum karena dia membohongi consumer, dari segi perlindungan consumer itu artinya melanggar.

Jadi itu sebetulnya melanggar hukum, jadi tentunya tidak boleh. Tetapi kalau dia tidak tetap menggunakan label, tetapi dia tetap lebih murah, saya rasa itu hal yang lain. Kalau dia lebih murah, saya rasa kita tidak harus terlalu khawatir, karena dia murah karena dia membuatnya dalam jumlah yang besar, masal. Sedangkan saya rasa kita bisa membuatnya dengan corak dan variasi yang jauh lebih banyak. Jadi kita bersaingnya di kreativitas dan disain yang lebih banyak.

Kalau kita ingin melawan yang tidak legal tadi, mungkin ada beberapa cara. Ini saya ingin menyampaikan beberapa program yang sedang dikembangkan oleh Kementerian Perdagangan. Pertama, kita sedang mencoba mengembangkan suatu sistem labeling, bagaimana kita membedakan batik tulis, batik cap, batik print made in Indonesia, batik print yang bukan made in Indonesia.

Ini yang sedang kita pelajari, bagaimana kita kembangkan. Tentunya tanpa memberi beban kepada produsen dan perajinnya juga, karena ini juga harus kita pertimbangkan. Kedua, yang lebih penting kita mencegah, mengatur, kita mau memonitor itu tidak mudah. Jadi lebih penting lagi yang tadi disampaikan oleh Ibu Ani, ada 3 hal, pembatik yang jujur, pedagang yang jujur, dan consumer yang lebih pintar, lebih cerdas.

Jadi pembatik yang jujur, itu berarti dapat menjelaskan kepada pembeli, pelanggan, ini batik tulis, maka itu harganya lebih mahal dan bisa kelihatan dari kualitasnya. Ini batik cap, ini adalah batik yang kain bermotif, kain yang bermotif atau bercorak batik.

Pedagangnya pun harus jujur Bu, pada saat menjual juga harus jujur kepada consumer-nya, bahwa apa yang dia jual, ini tulis, ini cap, ini kain. Jadi kita juga harus sosialisasi dan juga tentunya di satu saat kalau mereka melakukan kebohongan kepada consumer-nya, itu juga melanggar hukum.

Terakhir yang paling penting mungkin, consumer yang cerdas, bagaimana kita sosialisasi, maka ini peran pendidikan sangat penting. Bagaimana kita sosialisasi ke consumer, membedakan antara tulis, cap dan kain. Ini program sosialisasi untuk membuat consumer lebih cerdas dalam membeli dan membedakan, dari situ kelihatan beda harga juga, karena beda proses dan beda kerumitan daripada proses itu.

Kami janji, Kementerian Perdagangan dengan tentunya kerjasama dengan pemerintah daerah, Dekranasda dan Diknas ini harus kita tingkatkan. Demikian Ibu tambahan kami.

Ibu Negara Republik Indonesia
Terima kasih. Terima kasih Ibu Mari. Jadi tambah jelas para pembatik ya, bahwa memang consumer-nya harus cerdas. Kita memberikan pelajaran kepada mereka, tapi juga bersaingnya bisa dengan cara kita menambah motif-motif karena kita tidak ada yang mengalahkan dengan disain, disain atau yang motif baru. Saya kira pedagang juga harus jujur, tadi para pengusaha harus jujur ya. Kita himbau melalui kawan-kawan media, bahwa para pedagang batik harus jujur juga, supaya tidak membohongi para konsumennya. Silakan dilanjutkan.

Ibu Shandy Yusuf, Ketua Umum Yayasan Batik Jawa Barat
Terima kasih Ibu. Mudah-mudahan ini bisa menjawab kekhawatiran dari Ibu Carwati dan Bapak Erwin. Baiklah, berikutnya kami beri kesempatan kepada yang masih ingin bertanya. Masih banyak juga yang bertanya. Mungkin Ibu yang tadi sudah mengangkat tangan, Ibu yang duduk di depan saya di nomor tiga dari depan, silakan. Dan penanya berikutnya yang sebelah sana Bapak, silakan Pak, nanti setelah Ibu menyampaikan dengan singkat dan jelas.

Ibu Kenah, Pembatik Garut
Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh,
Kepada yang terhormat Ibu Hj. Ani, saya Ibu Kenah dari Garut, membuat batik tulis. Saya mau menanyakan, bagaimana caranya supaya anak-anak muda, supaya bisa membatik karena saya sudah usia lanjut, maka saya mau ada yang meneruskan, melestarikan batik Garut. Terima kasih. Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Ibu Negara Republik Indonesia
Baik, terima kasih Ibu Kenah.

Ibu Shandy Yusuf, Ketua Umum Yayasan Batik Jawa Barat
Baik, selanjutnya Bapak penanya berikutnya, silakan Pak.

Bapak Iman, Pembatik Cirebon
Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Ibu Negara Republik Indonesia
Wa’alaikumsalam


Bapak Iman, Pembatik Cirebon
Kepada yang terhormat Ibu Ani Bambang Yudhoyono beserta rombongan perkenalkan nama saya Iman. Saya dari perwakilan Kabupaten Cirebon, khususnya di Trusmi. Saya mau menanyakan, Bu, sampai kapan bahan-bahan baku, bahan-bahan baku ini diimpor dari luar? Apakah mungkin Indonesia memproduksi bahan baku tersebut? Kami harap nanti untuk memperingankan beban perajin-perajin dari daerah kami. Sekian. Terima kasih.
Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Ibu Negara Republik Indonesia
Wa’alaikumsalam. Ada dua penanya berikutnya, yaitu Ibu Kenah dari Garut. Beliau sudah melakukan atau membatik, selama berapa tahun Ibu Kenah? Dari sejak tahun 65, berarti berapa sekarang itu? 65 berapa tahun? 45 tahun. Ibu punya putra-putri berapa orang Ibu Kenah? 6 orang. Ya baik. Ibu Kenah, saya tentu itu tepuk tangan dari hadirin itu berarti memberikan apresiasi yang luar biasa kepada Ibu Kenah ya. Ibu sudah membatik selama 46 tahun, Ibu mempunyai 6 orang putra-putri, adakah dari putra-putri Ibu yang menjadi pembatik juga? Barangkali Ibu bisa maju Bu ke depan, Bu.

Ibu Kenah, Pembatik Garut
Semua bisa.

Ibu Negara Republik Indonesia
Semua bisa, Alhamdulillah. Tepuk tangan lagi Ibu Kenah luar biasa. Berarti Ibu sudah bisa mewariskan batik ini, cara membatik ini kepada putra-putri Ibu. Jadi sebetulnya sudah tidak ada yang dikhawatirkan. Tetapi mungkin yang dimaksudkan oleh Ibu adalah yang lain, begitu ya, yang lain supaya mau membatik itu bagaimana caranya, kan begitu.

Yang pertama, harus kita kenalkan kepada anak-anak remaja, bahwa tadi yang saya sampaikan, batik ini warisan kita loh, warisan nenek moyang kita yang harus dilestarikan. Kemudian tentu saja keteladanan orangtua ini juga sangat berperan. Kalau orangtuanya mau menggunakan batik, di rumahnya ada pernak-pernik batik, taplak meja batik, kemudian bantalan kursi dari batik, kemudian gorden dari batik, sprei batik bahkan sampai daster dari batik, maka berarti Ibu sudah menjelaskan atau menyampaikan kepada putra-putri Ibu tentang batik itu sendiri.

Jadi suatu dikenalkan itu warisan budaya kita, cintai dia. Mencintainya bagaimana? Ya mengenalkan tadi dengan cara tadi kita sendiri menggunakannya. Kemudian mencintai kalau kita gunakan sehari-hari lama-lama kita menjadi cinta. Sekarang bagaimana supaya mereka bisa membatik, ini juga ada peran dari sekolah-sekolah. Saya mohon dari Bapak Gubernur mungkin dengan Kepala Daerah bekerja sama dengan sekolah-sekolah yang ada, mungkin membatik dijadikan sebagai pelajaran ekstrakurikuler di sekolah, itu bagus sekali Bapak. Karena saya juga tahu bahwa sudah sebagian sekolah-sekolah juga mengajarkan membatik di sekolahnya. Cirebon kalau tidak salah mendapatkan, tadi Bapak katakan mengatakan mendapatkan penghargaan Upakarti seperti itu. Jadi harus ada yang mengajarkan.

Kemudian mungkin bisa juga dilakukan misalnya semacam lomba-lomba kreativitas tentang batik ya di kalangan anak-anak remaja. Kalau dulu ada mungkin lomba menggambar, lomba melukis atau lomba baca puisi, lomba olahraga yang lain, barangkali sekarang diadakan lomba membatik begitu ya, lomba membatik yang mudah-mudah saya bagi anak-anak itu juga akan mendorong minat anak-anak untuk melakukan pembatikan atau membatik.

Kemudian juga mungkin kerjasama dengan daerah barangkali pihak-pihak perbankan Bapak untuk bisa mungkin, ya itu tadi sanggar-sanggar batik dimana-mana, kemudian pihak dari perbankan ini bisa memberikan bantuan modalnya untuk bisa mereka memulai usaha baru. Kemudian juga tentu saja dengan pelatihan pembinaan, kalau membatik itu menjadi menjanjikan dalam arti kita membatik itu bisa menghasilkan uang yang lumayan, saya kira anak-anak kita akan tertarik untuk membatik.

Mungkin itu dari saya, itu dari saya Ibu Kenah ya, mudah-mudahan. Apakah ada yang mau ditambahkan Ibu Mari Elka Pangestu, ada yang mau ditambahkan enggak tentang ini atau barangkali saya teruskan kepada yang satu lagi? Mungkin Ibu Mari Elka Pangestu bisa menambahkan nanti yang lainnya.

Kemudian Bapak Iman dari Trusmi mengatakan bahwa bahan baku kita ini masih impor, sampai kapan sih kita ini enggak mengimpor begitu ya. Bahan baku di sini apa boleh Bapak saya mendengar, bahan baku apa yang dimaksudkan? Bahan baku itu mungkin kainnya atau pewarnanya atau apa?

Bapak Iman, Pembatik Cirebon
Pewarna, Bu.

Ibu Negara Republik Indonesia
Oh pewarna. Kalau kain bagaimana kain?

Bapak Iman, Pembatik Cirebon
Kain itu kayaknya sudah diproduksi di Batang.

Ibu Negara Republik Indonesia
Di Batang berarti di Jawa Tengah, ya Pak ya.

Bapak Iman, Pembatik Cirebon
Di Jawa Tengah. Ini harganya, kalau kita ini dari ICI kita per kilonya empat juta sembilan ratus, itu yang paling mahal, yang paling murah sekitar dua juta delapan ratus itu dari ICI. Terima kasih.


Ibu Negara Republik Indonesia
Baik. Jadi Bapak mengatakan bahan baku kalau bahan dari Indonesia sendiri ada ya, dari walaupun dari tempat lain atau kainnya begitu ya, mungkin dari APBM atau dari namanya katun begitu ya Pak, ada di Indonesia. Tetapi yang menjadi masalah adalah pewarnaan ya. Pewarnaan yang memang sekarang ini kita menuju kepada pewarnaan alam ya. Banyak sekali bahan-bahan dasar, bahan baku dari Indonesia yang bisa dijadikan sebagai pewarnaan alam.

Tetapi memang konsekuensinya sangat tinggi Bapak, karena misalnya ya, ada batang manggis, pohon manggis itu juga bisa, biji, apa buahnya, kulit manggisnya, sampai sak batangnya itu bisa dijadikan sebagai bahan pewarna. Tetapi memang agak sulit, biayanya mahal. Karena apa? Kita satu pohon itu bisa menghasilkan pewarna mungkin hanya satu, atau dua batik saja. Bayangkan pohon manggis yang kita tanam segitu lamanya hanya bisa mewarnai dua kain, kan sayang. Oleh karena itu, kita masih menggunakan pewarna-pewarna yang katanya tadi impor. Kita impor dari negara lain, tetapi sayangnya kok mahal begitu ya Pak ya. Baik, Bapak.

Saya pernah bertanya kepada Menteri Perindustrian pada waktu itu, kenapa sih, apa kita tidak bisa membuat pabrik pewarnaan sendiri? Jadi bahan baku atau pewarnaan sendiri, apa tidak bisa begitu? Ternyata jawabannya pada waktu itu, ternyata bahwa pabrik pewarnaan itu kurang gengsi ya. Jadi kalau seseorang, Bapak saya punya usaha, usahanya apa? Pabrik bahan kimia untuk mewarnai.

Rasa-rasanya kurang gengsi dan biayanya mahal katanya begitu, sehingga mereka belum memproduksi sendiri. Oleh karena itu, kita terpaksa harus masih tetap mengimpor dari luar. Walaupun tidak ada Menteri Perindustrian di sini, barangkali Ibu, apakah bisa ikut menjawab tentang pewarnaan ini? Bagaimana kira-kira, karena sekarang ini yang menjadi keluhan dari para pembatik adalah pewarnaan, masih mahal harganya dan masih barang impor, kalau ngambil pewarnaan alam terlalu mahal, karena ya itu tadi saya katakan satu batang bahan pohon manggis, hanya bisa satu atau dua batik saja atau dua kain. Silakan Ibu.

Ibu Mari Elka Pangestu, Menteri Perdagangan
Ya mungkin masalah mengapa tidak berkembang pabrik pewarna di Indonesia, mungkin masalah skala Ibu. Jadi kalau untuk membuat pabrik yang semua bahan bakunya bisa dari dalam negeri, itu memerlukan permintaan, bukan saja dari industri batik, tapi tentunya dari industri garmen dan tekstil di dalam negeri. Kelihatannya skalanya masih belum memenuhi.

Ibu Negara Republik Indonesia
Maksudnya jadi enggak ada nilai ekonomisnya, kurang ekonomisnya? Oke.

Ibu Marie Elka Pangestu, Menteri Perdagangan
Permintaannya kurang dan mungkin kita untuk bersaing dengan pabrik pewarna yang berada di luar, yang sudah skalanya besar mungkin itu yang menyebabkan belum ada, nilai ekonomisnya belum cukup untuk adanya pabrik di Indonesia. Namun demikian, mungkin kita bisa mempelajari apa yang menyebabkan itu mahal, mungkin lebih banyak bahan baku kimianya yang digunakan untuk membuat pewarnanya. Bukan saja pabrik pewarnanya tidak ada, nanti kami anggap saja sebagai PR, Ibu. Kami nanti dengan Menteri Perindustrian akan mempelajari dan kita lihat, apakah ada celah untuk kita, apakah produksi di dalam negeri atau apakah kalau itu impor, ada bea masuk atau apa, atau pajak yang bisa kita kurangi, sehingga harganya bisa diturunkan.

Ibu Negara Republik Indonesia
Terima kasih. Ibu ternyata memang seperti itu. Jadi mungkin tidak 100% benar apa yang dikatakan oleh saya, bukan karena kurang gengsi, tetapi ternyata kurang ekonomis ya, kurang ekonomis. Kalau permitaannya sedikit, bikin pabriknya sudah harganya mahal, maka nanti jatuhnya juga mahal, kan seperti itu ya. Jadi baik Ibu Mari Elka Pangestu akan menjadikan ini sebagai PR, menyampaikannya kepada Bapak Presiden, bahkan barangkali kepada Menteri Industri, kira-kira bagaimana supaya pewarna ini jangan sampai mahal begitulah. Jadi sampai kepada pengrajin jangan mahal, sehingga tentu saja bisa ditekan lagi harga batiknya. Terima kasih Ibu Mari Elka Pangestu. Apakah masih ada waktu kita? Masih ada, silakan. Cukup kayaknya.

Ibu Shandy Yusuf, Ketua Umum Yayasan Batik Jawa Barat
Baiklah Ibu Negara yang kami hormati, tentunya para perajin masih banyak yang ingin mengajukan pertanyaan, tapi karena rangkaian kegiatan Ibu Negara beserta rombongan masih panjang, maka dialog ini akan kami akhiri sampai di sini saja. Kami haturkan terima kasih kepada Ibu Negara dan tentunya ini sangat berarti sekali bagi para perajin batik Jawa Barat untuk bisa lebih termotivasi lagi untuk berkarya. Dan tentunya kehadiran Ibu beserta rombongan juga bisa menjadikan promosi berharga bagi eksistensi batik Jawa Barat, baik di Indonesia maupun di mancanegara.

Baiklah Ibu Ani yang kami hormati dengan dikukuhkannya oleh UNESCO, bahwa batik adalah warisan budaya dunia tak benda dari Indonesia dan dengan perhatian Ibu, serta kepedulian Ibu kepada para perajin batik Jawa Barat, Insya Allah batik Jawa Barat ini akan lebih dikenal lebih luas lagi dan termasuk juga lebih mengukuhkan harapan Ibu bahwa batik akan bisa tetap hidup hingga 1.000 tahun lagi.

Demikianlah terima kasih atas perhatiannya. Mohon maaf apabila ada kata-kata yang kurang berkenan Ibu.

Wabillahitaufiq walhidayah wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.


*****

Biro Pers dan Media
Rumah Tangga Kepresidenan


Redaksi | Syarat & Kondisi | Peta Situs | Kontak
© 2006 Situs Web Ibu Negara Republik Indonesia - Ny. Hj. Kristiani Herawati
Hak Cipta dilindungi Undang-undang