Pidato Presiden

Cikeas, Bogor, Kamis, 25 Maret 2010

Sambutan pada Peresmian Rumah Pintar Cikeas

 

TRANSKRIPSI
SAMBUTAN IBU NEGARA RI
PADA ACARA
PERESMIAN RUMAH PINTAR CIKEAS
CIKEAS, BOGOR
25 MARET 2010



Assalamualaikum Wr. Wb.,
Selamat pagi dan salam sejahtera buat kita sekalian,

Yang saya cintai Ibu Herawati Boediono,
Yang saya cintai pula ibu-ibu yang tergabung dalam Solidaritas Istri Kabinet Indonesia Bersatu,
Yang saya hormati anggota Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia yang hadir di tempat ini. Anggota Dewan Perwakilan Rakyat Dapil Bogor, Dapil Bogor dan Cikeas, Pak Anton.
Yang saya hormati Bapak Bupati Bogor beserta Ibu, Bapak Rachmat Yasin beserta Ibu,
Anggota Muspida Kabupaten Bogor,
Yang saya hormati Bapak Komandan Korem beserta Ibu, Bapak Kapolwil Bogor beserta Ibu,
Bapak Rektor IPB,
Dan hadirin sekalian, para tokoh masyarakat di Cikeas,
Anak-anak, para pelajar, dan hadirin sekalian yang tidak bisa saya sebutkan satu-persatu,
Ketua Yayasan Tunggadewi beserta seluruh anggota yayasan,

Saya pada pagi hari ini juga mengajak hadirin sekalian, marilah kita juga sekali lagi memanjatkan puji dan syukur ke hadirat Allah SWT karena pada pagi hari yang membahagiakan ini, kita berkesempatan hadir di sini untuk bersama-sama nanti menyaksikan peresmian penggunaan Rumah Pintar Cikeas.

Saya sungguh kagum dan bangga tadi mendengar sambutan dari Ketua Yayasan Tunggadewi, Saudari Aliya Rajasa, yang melaporkan bahwa berdirinya Rumah Pintar Cikeas ini berawal dari mimpi 11 perempuan muda yang berkeinginan melihat negara Indonesia menjadi sejahtera dan sejajar dengan negara maju lainnya. Kepedulian mereka terhadap kesejahteraan anak dan perempuan membuat mereka berupaya membangun sebuah sarana belajar yang bisa dimanfaatkan oleh masyarakat sekitar Cikeas.

Selain bertujuan untuk meningkatkan kualitas intelektual anak-anak bangsa, juga memberdayakan kaum perempuan. Kalau tadi Aliya mengatakan, memberdayakan ibu-ibu, saya ingin memperlebar sedikit Aliya, bahwa yang diberdayakan bukan hanya ibu-ibu saja karena kalau kita mengatakan ibu-ibu, kesannya mereka yang sudah menikah, padahal banyak sekali remaja-remaja kita juga yang ingin diberdayakan atau memberdayakan dirinya sendirinya, sehingga mereka tentu saja suatu saat kelak akan mempunyai kesempatan untuk mendapatkan masa depan yang lebih baik lagi.

Tadi sudah diceriterakan bahwa setelah melalui pembangunan kurang lebih 9 bulan, dari bulan Juni 2009, syukur alhamdulillah pembangunan Rumah Pintar Cikeas telah selesai dan insya Allah sebentar lagi akan kita resmikan penggunaannya. Dengan demikian, mulai hari ini telah hadir di tengah-tengah masyarakat Cikeas sebuah Rumah Pintar dengan fasilitas yang memadai. Tadi Aliya sudah menjelaskannya pula.

Tadi juga sudah dijelaskan ada tujuh sentra, padahal persyaratan dari Rumah Pintar hanya lima sentra, dan di sini ada tujuh sentra. Syukur alhamdulillah karena Yayasan Tunggadewi telah memperluasnya dengan sentra-sentra lainnya. Ada Sentra Permainan Edukatif, ini yang merupakan syarat; Sentra Buku, juga syarat; Sentra Komputer, juga syarat; Sentra Kriya, kemudian itu juga syarat; Sentra Panggung dan Audiovisual. Tambahannya adalah Sentra Bayi dan Sentra Cinta Alam. Kalau yang namanya Rumah Jamur ini di bawah Sentra Kriya.

Sentra Bayi nanti kita lihat bersama apa yang dimaksud dengan Sentra Bayi karena, hadirin sekalian, di antara mereka, 11 kaum perempuan muda ini, ada yang sudah menikah dan mempunyai bayi, dan barangkali mereka ingin sharing kepada perempuan-perempuan yang ada di sekitar Cikeas ini, bagaimana cara mendidik bayi. Tetapi nanti kita lihat dan kita dengarkan penjelasan dari pengelola dari Rumpin Cikeas ini.

Saya berharap dengan kehadiran Rumpin Cikeas ini, masyarakat Cikeas dan sekitarnya, saya tidak hanya mengatakan Cikeas saja, Bapak Bupati, tetapi juga sekitarnya dapat memanfaatkannya dengan baik, memberikan respon yang positif dengan berpartisipasi dalam aktivitas yang diadakan serta bersedia bekerja sama dalam peningkatan fungsi dan pemeliharaannya. Dan syukur alhamdulillah kita mendengar sendiri komitmen dari Bapak Bupati yang ingin terus juga memelihara dan meningkatkan fungsi dari Rumah Pintar.

Tadi Bapak mengatakan sudah ada yang sebelumnya ya, Rumah Pintar sebelumnya. Terus terang saja, sungguh saya sangat terharu karena berdirinya Rumah Pintar Cikeas ini berkat adanya tekad yang kuat dan kerja yang ekstra keras dari para personil Yayasan Tunggadewi.

Hadirin sekalian,
Tentu saja dengan dukungan para donatur, Aliya tadi sudah menyampaikan, dan beberapa pihak yang tidak bisa saya sebutkan.

Hadirin sekalian,
Sebetulnya, tadinya, awalnya ketika anak-anak muda ini bertemu dengan saya dan ingin melakukan sesuatu untuk masyarakat, saya juga menyampaikan, mengapa tidak Rumah Pintar. Mereka tadinya belum berbentuk sebuah yayasan. Namun atas rekomendasi ataupun nasihat dari orang-orang yang berpengalaman, maka sebaiknya mereka mendirikan sebuah yayasan untuk mengelolanya. Saya kira demikian dari Bapak Sulis yang memberikan saran kepada anak-anak muda ini untuk mendirikan sebuah yayasan.

Kemudian mereka mencari nama. “Kira-kira yayasannya apa ya?” Tiba-tiba saya kira, barangkali melihat cucu saya lewat yang kebetulan namanya Almira Tunggadewi, sehingga mereka mengambil, “Sudah kita ambil saja nama Tunggadewi itu.” Jadi jangan dihubungkan-hubungkan dengan yang namanya Gurita Cikeas. Sama sekali tidak ada ini dengan Gurita Cikeas. Ini murni dari anak-anak muda berusia sampai, 23 sampai 30 tahun. Mereka semuanya kaum perempuan yang masih muda belia, mempunyai cita-cita yang tadi sudah saya sampaikan, untuk negara dan bangsanya.

Kalau boleh saya ingin memperkenalkan mereka. Apakah mereka ada di sini? Ada ya, satu-satu. Aliya Rajasa sendiri seorang Sarjana Manajemen, sekarang sedang mengambil master-nya di United Kingdom. Aliya datang, khusus pulang hanya untuk dalam peresmian Rumah Pintar ini. Semoga pendidikannya selesai dengan baik ya Aliya. Sheila Herbowo, nah Sheila Herbowo Bachelor of Fine Art, jadi usia juga masih sangat muda. Anandita Ayudya, seorang Bachelor of Art juga walaupun dengan perut gendutnya, katanya dua minggu lagi akan melahirkan, tetapi sangat bersemangat dalam menyiapkan Rumah Pintar ini. Sarah Aditya Djanaka, Sarjana Psikologi. Diestra Karteniza, Magister Manajemen. Putri Pelitasari, Sarjana Ekonomi yang tidak hadir sedang mengambil Magister Manajemen pula. Selly Fitria Harahap, Sarjana Ekonomi dan pemegang International Diploma dari Montessori Pedagogy for Early Childhood. Itulah mengapa kita tahu ada yang namanya Sentra Bayi ya. Jadi Selly mempunyai pengetahuan tentang early childhood. Jadi inilah nanti yang akan memegang Sentra Bayi. Kemudian Venny Veronica, Sarjana Psikologi. Bli Sakni Vitorini, Sarjana Arsitektur dan Master di bidang Sejarah dan Teori Arsitektur. Inilah yang membuat arsitektur dari Rumah Pintar Cikeas ini.

Hadirin sekalian,
Kalau hadirin memperhatikan dengan baik, satu lagi sebelum saya menjelaskan tentang arsitektur, Syarinta Kamaranti, Sarjana Sastra Jepang. Jadi nanti anak-anak mau diajarkan bahasa Jepang, begitu kira-kira ya? Sastra Jepang.

Hadirin sekalian,
Bli Santi Vitorini telah membuat arsitektur sedemikian rupa sehingga menggunakan bahan-bahan yang berasal dari Indonesia. Kalau Hadirin sekalian melihat ada bangku, kemudian nanti kalau kita mengeksplor lebih dalam lagi, ada kayu, batu-batuan yang semuanya untuk pengenalan anak-anak ketika mereka masih sangat muda atau balita, bagaimana tekstur yang kasar, bagaimana yang halus, kemudian berwarna-warni, itu pun juga suatu pembelajaran agar anak-anak langsung bisa mengetahui tentang warna-warni yang ada, sehingga mereka insya Allah tidak buta warna.

Anak-anakku,
Untuk itu, saya selaku Ibu Negara, mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya. Terima kasih besar lho ya, terima kasih yang sebesar-besarnya, penghargaan yang setinggi-tingginya kepada anak-anak Yayasan Tunggadewi. Satu lagi saya belum sebutkan tadi nama Annisa Agus Yudhoyono. Dia sedang mengikuti suaminya belajar di Amerika Serikat, sehingga tidak bisa hadir di sini. Tapi tadi pagi menyampaikan salam, semoga acara kita berjalan dengan lancar. Annisalah yang saya dorong juga, bersama teman-temannya untuk, “Ayo kalian yang masih muda-muda ini, berbuat sesuatu untuk negara dan bangsanya.”

Anak-anakku,
Sekali lagi, berkat juga dukungan dari para sponsor maka ini bisa terwujud. Dan kalau saya boleh katakan apabila Ibu Kartini, pelopor kaum perempuan Indonesia masih ada, pasti akan senang karena apa yang beliau perjuangkan dulu masih dilanjutkan oleh para penerusnya kaum perempuan, perempuan Indonesia. Beliau mengatakan, untuk mengangkat harkat dan martabat kaum perempuan kuncinya adalah satu, yaitu pendidikan. Ini kalian telah mewujudkan cita-cita Kartini.

Saya pernah suatu saat datang ke tempat beliau lahir. Di situ saya melihat foto-foto dari Ibu Kartini ketika beliau masih muda belia, berusia dua puluhan. Beliau meninggal pada usia 25 tahun. Jadi sebelum beliau menikah, beliau berkeinginan untuk agar supaya kaum perempuan Indonesia maju, dan kuncinya satu, pendidikan. Beliau mengundang kaum perempuan di luar pagar kabupatennya. Beliau anak bupati, mengundang ke dalam dan mengajarkan baca dan menulis kepada kaum perempuan Indonesia. Saya melihat foto-foto yang dipajang di rumahnya di Rembang, betapa beliau tanpa pamrih, hanya ingin supaya kaum perempuan Indonesia melek, tentu saja melek angka. Nah inilah, saya yakin kalau Ibu Kartini masih ada, pasti beliau akan senang sekali karena kita masih melanjutkan cita-citanya.

Hadirin sekalian,
Tadi MC sudah mengatakan, Mbak Tiya sudah mengatakan bahwa Rumah Pintar ini adalah yang ke-232. Betul, ini adalah yang ke-232. Untuk diketahui hadirin yang belum mengetahuinya, SIKIB bekerja sama dengan berbagai pihak telah mengelola Rumah Pintar yang tersebar di seluruh wilayah tanah air, dari Sabang sampai Merauke. Memang belum cukup 232 itu karena wilayah kita sangat luas, masyarakat kita juga sangat banyak. Belum cukup untuk sarana pembelajaran bagi mereka, tetapi tidak apa. Kecil, sedikit demi sedikit lama-lama insya Allah menjadi lebih banyak lagi.

Tadi Bapak Bupati mengatakan, harapannya tiga supaya Rumah Pintar ini tidak hanya sampai di sini. Mudah-mudahan bapak juga bisa mengajak komponen masyarakat di wilayah kabupaten supaya mereka bisa mendirikan pula Rumpin-rumpin serupa di tempat-tempat yang lain, terutama di tempat-tempat di mana memang dibutuhkan oleh anak-anak.

Ada beberapa, yang pertama Rumpin Cipanduan. Bapak masih ingat bahwa di sana Sentra Kriyanya membuat, memang lucu namanya, namanya engek-engek. Lucu ya namanya, tetapi ini memang barangkali bahasa dari, bahasa Jawa Barat ya pak? Engek-engek itu opak. Betul, memang ini terbuat dari singkong, dari Cipanduan sekitarnya itu, wilayah Cipanduan sekitarnya menghasilkan singkong, maka mereka membuat engek-engek. Ketika saya bilang, “Kok, namanya kurang mendunia?” begitu ya, tetapi mereka mengatakan, “Ini memang aslinya dari situ. So what gitu lho ibu. Biarin aja deh,” ya. Jadi saya pikir, enggak apa-apa ya bu ya? Pak ya? Engek-engek dari Cipanduan, Bogor. Yang penting ketahuan Cipanduan, Bogor. Kalau perlu ditambahin Indonesia di belakangnya sehingga jelas.

Kemudian ada Rumpin Apsiri di Citayam. Mempunyai Sentra Agribisnis. Kemudian Rumpin Miniamusapir yang dikelola oleh Ibu Anton, mempunyai Kriya, Sentra Kriyanya jahit-menjahit. Jadi ada tiga yang saya sebutkan, tapi masih ada lagi yang lainnya.

Hadirin yang berbahagia,
Kita semua menyadari bahwa begitu luasnya masalah pendidikan, walaupun kita tahu anggaran pendidikan sudah mencapai 20% dari APBN. Cukup besar, namun pendidikan bukan hanya tanggung jawab pemerintah saja, melainkan juga tanggung jawab orang tua, tanggung jawab masyarakat, dan tanggung jawab kita semua. Pendidikan di bangku sekolah hanya sebagian saja dari pendidikan yang sebenarnya. Oleh karena itu, dalam memberi isi, memelihara mutu, dan menyediakan fasilitas pendidikan. Ini harus dapat kita usahakan dengan cara-cara pengerahan kemampuan yang bersumber dari rasa tanggung jawab tadi.

Perlu saya sampaikan bahwa berdirinya Rumah Pintar bukan hanya menjadi salah satu solusi guna mendukung dan meningkatkan minat baca, pendidikan anak, melainkan juga untuk menambah keterampilan kaum perempuan. Dalam Sentra Kriya, diajarkan berbagai keterampilan guna mengelola sumber daya dan potensi yang berada di lingkungan masing-masing, sehingga bisa menjadi sumber penghasilan keluarga. Bahkan bila memungkinkan, dapat ditingkatkan menjadi usaha bersama.

Hadirin sekalian,
Kalau tadi sudah diperkenalkan Sentra Jamur yang berada di Rumah Pintar Cikeas ini akan menjadi salah satu yang diunggulkan, keunggulan dari Rumpin Cikeas ini. Saya berharap, dapat dimanfaatkan dengan sebaik-baiknya, dan menjadi salah satu sarana pengembangan potensi daerah Cikeas untuk menghasilkan satu produk kelas global yang unik, khas daerah, dengan memanfaatkan sumber daya lokal yang inovatif dan kreatif, bernilai tambah tinggi, dengan tetap menjaga kelestarian lingkungan.

Jamur sangat mudah dikembangbiakkan, mengandung protein yang tinggi, serat, kalsium, dan antioksidan yang tinggi. Harganya pun sungguh menjanjikan atau cukup menjanjikan ya. Dari Rumah Pintar tetangga kita, Cilodong, juga yang dikelola oleh Divisi 1 Infanteri Kostrad, juga mempunyai Rumah Jamur. Sekarang juga sudah bisa menghasilkan sesuatu, selain untuk anggota sendiri tetapi juga sudah bisa dipasarkan di sekitar Cilodong. Saya pikir, Cikeas dan Cilodong bisa menjadi satu atau bergabung dalam memproduksi jamur ini.

Saya pikir pula, bila masyarakat di Cikeas dan sekitarnya bisa mengembangbiakkan jamur di rumah masing-masing, maka tidak tertutup kemungkinan nantinya Cikeas akan menjadi penghasil jamur, dan dapat dipasarkan secara bersama sehingga one village, one product yang bisa menjadi keunggulan dari Cikeas.

Tadi sebelum berangkat, saya melihat halaman belakang rumah saya, saya pikir, saya juga ingin membuat atau berkontribusi kepada Cikeas untuk mewujudkan one village, one product tadi, dengan membuat Pojok Jamur di rumah saya. Nah saya akan belajar, Aliya, belajar di sini bagaimana cara membuatnya atau barangkali ke Cilodong, jadi saya akan untuk berkontribusi, jadi sekali lagi mari kita wujudkan one village, one product yang kita inginkan bersama bisa terwujud dari wilayah Cikeas ini.

Hadirin sekalian,
Yang sering menjadi persoalan adalah modal, modal. Pada kesempatan yang baik ini, saya ingin menyampaikan kepada warga Cikeas, terutama warga sekitar, masyarakat luas, terutama Cikeas bahwa permodalan bisa diperoleh secara patungan. Warga, masyarakat itu sendiri patungan atau mengajukan KUR, Kredit Usaha Rakyat dari bank-bank milik pemerintah, seperti BRI, BNI, Mandiri, Syariah Mandiri, Bukopin. Dan bagi masyarakat yang belum mengetahui, “KUR itu apa sih?” yaitu program pemerintah yang prorakyat.

Bapak bupati tadi sudah menjelaskan tentang beberapa program prorakyat yang sudah dilakukan oleh bapak bupati beserta jajarannya. Di antaranya adalah pembangunan kembali atau revitalisasi martabat petani, kemudian Jamkesda, meng-cover biaya pengobatan bagi mereka yang tidak ter-cover oleh Jamkesmas, kemudian memproteksi buatan dalam negeri sehingga ibaratnya sepatu maupun tas yang dibuat oleh masyarakat sekitar sini atau pabrik yang berada di sekitar sini dapat dimanfaatkan oleh anak-anak.

Kemudian dengan Danrem dan bapak kapolwil, bapak melakukan rehabilitasi rumah yang tidak layak huni. 2.000 dan 3.000 ditingkatkan, 4.000 sampai 2013, nanti sasarannya adalah 5.000. Ini akan saya sampaikan kepada Bapak Presiden bahwa bupati Bogor mempunyai inovasi yang luar biasa untuk mengangkat masyarakat atau warga masyarakat Bogor sendiri atau Kabupaten Bogor yang tadi bapak katakan sejumlah 4,4 juta.

Kabupaten Bogor adalah terpadat di seluruh Indonesia. Saya pikir hampir sama dengan penduduk di Papua Nugini. Papua Nugini malah lebih kecil barangkali ya, 4 juta. Jadi Kabupaten Bogor termasuk kita ya pak? Jadi kita sudah memadati Kabupaten Bogor.

Baik, mudah-mudahan Kabupaten Bogor segera bisa mengangkat semua, mereka-mereka yang tidak sejahtera atau prasejahtera. Barangkali salah satu Rumah Pintar Cikeas ini juga tujuannya adalah itu sarana pembelajaran, biar anak-anak juga tambah pandai, wawasannya terbuka begitu sehingga tentu saja keinginan untuk maju pun lebih besar lagi.

Hadirin sekalian,
Ada seorang ibu bernama Ibu Enjah. Saya tidak tahu apakah ada Ibu Enjah di sini. Ibu Enjah ada di belakang sana. Ibu juga pada waktu, beberapa waktu yang lalu saya berdialog dengan beliau, beliau mempunyai usaha jamur. Tetapi bersama teman-temannya mengumpulkan modal bersama. Ketika saya tanya, “Ingin tidak memperbesar usahanya?” Beliau mengatakan, “Ingin.” “Pernah tidak mengajukan Kredit Usaha Rakyat ke Bank Rakyat Indonesia Unit Cikeas yang ada di ujung sana?” Beliau mengatakan bahwa “Tidak Ibu, saya hanya bersama-sama dengan teman-teman, patungan,” yang saya sampaikan tadi, “Patungan bersama-sama teman-teman karena saya tidak berani meminjam modal ke bank. Saya tidak pernah punya urusan dengan bank.” Nah inilah yang harus kita ketahui.

Saya berharap pimpinan Bank Rakyat Indonesia Unit Cikeas, saya mohon sekali bapak bisa menjelaskan kepada masyarakat atau warga Cikeas, bagaimana cara pengajuan Kredit Usaha Rakyat ya. Bung Jafni, saya perkenalkan di sini. Enggak usah takut lagi, bapaknya tulus kelihatannya sehingga insya Allah kalau ibu mengajukan kredit dengan syarat-syarat ataupun sebetulnya tanpa agunan tambahan, kalau tidak salah seperti itu boleh. Jadi nanti bapak, mungkin melalui sarana yang ada di Rumah Pintar ini. Kalau tidak salah, di atas ada aula kecil begitu, mungkin bapak bisa juga menjelaskan kepada masyarakat sini. Saya kira bisa diatur ya, Aliya. Jadi masyarakat ini yang tadinya tidak pernah kenal dengan bank, tidak tahu bagaimana mengajukan kreditnya, bisa atau mereka tidak takut lagi untuk mengajukan kredit ya. Ibu Enjah ya? Saya pikir itu, alhamdulillah, terima kasih Bapak. Saya pikir supaya mereka tidak ragu-ragu lagi untuk mengajukan kredit.

Hadirin sekalian,
Beberapa saat yang lalu, Minggu ya barangkali, Rumpin Ciwidey, yaitu salah satu Rumah Pintar kita yang ada di Ciwidey, di di Jawa Barat telah mengadakan pelatihan. Pelatihan untuk meningkatkan nilai jual dari produk Rumpin, seperti pengemasan yang baik, ramah lingkungan, dan cara membuat label yang komunikatif dengan mengundang expertise dari Jepang, Mr. Kuroda. Saya sendiri belum pernah ketemu tetapi mendapatkan laporannya.

Ilmu yang diperoleh tersebut, ada tiga Rumpin yang akan dijadikan sebagai pilot project. Satu, Ciwidey sendiri. Yang kedua adalah Rumpin yang ada di Cikeas ini walaupun baru diresmikan sekarang, dan satu lagi Rumpin yang ada di Pacitan. Waduh ini KKN, enggak ya? itu mereka sendiri yang, Mr. Kuroda sendiri yang memilih. Untuk diketahui bahwa Rumpin di Pacitan sudah menghasilkan batik yang diekspor ke Jepang. Itulah maka Mr. Kuroda mengambil Pacitan sebagai pilot project. Jadi ketiga rumpin ini akan dijadikan sebagai pilot project sebelum nanti Rumpin-rumpin yang lainnya.

Dan beberapa waktu yang lalu, sudah diterapkan, saya tahu sudah diterapkan, bahkan mereka mengikuti pameran, pameran eco produk, dan terbukti pada saat itu mendapatkan sambutan yang baik dari para pengunjung pameran. Saya tentu berharap, Ibu Oke nanti sampaikan kepada Bapak Kuroda untuk bisa juga melatih Rumpin-rumpin yang lain.

Hadirin sekalian,
Selaku Ibu Negara, saya berpesan kepada masyarakat di Cikeas agar supaya bisa memanfaatkan Rumah Pintar ini dengan sebaik-baiknya. Saya juga minta kepada kaum perempuan untuk terus meningkatkan kualitas diri agar lebih banyak lagi peluang yang dapat diraih. Seperti tadi yang sudah disebutkan bahwa selain memberikan agar supaya anak-anak berminat untuk membaca tetapi juga mengajarkan kepada kaum perempuan dalam Sentra Kriyanya.

Sebelum saya akhiri, saya ucapkan terima kasih kepada anak-anakku yang tercinta, 11 perempuan muda yang luar biasa, para donatur, panitia penyelenggara, semua pihak yang telah berusaha agar supaya acara ini dapat berjalan dengan lancar, dan tentu saja pihak keamanan, Bapak Danrem, Bapak Kapolwil yang telah membantu agar supaya acara ini dapat berjalan dengan aman, tertib, dan lancar.

Akhirnya, dengan mengucapkan bismillahirrahmanirrahim, saya resmikan penggunaan Rumah Pintar Cikeas. Semoga Allah SWT, Tuhan Yang Mahakuasa, senantiasa meridhoi langkah kita bersama dalam turut serta mewujudkan masyarakat indonesia yang cerdas dan sejahtera.

Billahittaufiq walhidayah,
Assalamualaikum Wr. Wb.


*****

Biro Pers dan Media
Rumah Tangga Kepresidenan Republik Indonesia



Redaksi | Syarat & Kondisi | Peta Situs | Kontak
© 2006 Situs Web Ibu Negara Republik Indonesia - Ny. Hj. Kristiani Herawati
Hak Cipta dilindungi Undang-undang