Pidato Presiden

Grand Ballroom The Dharmawangsa, Jumat, 30 Juli 2010

Sambutan Ibu Negara pada Peluncuran Buku Biografi Kepak Sayap Putri Prajurit

 

TRANSKRIPSI
SAMBUTAN IBU HJ. ANI BAMBANG YUDHOYONO
PADA ACARA
PELUNCURAN BUKU BIOGRAFI IBU HJ. ANI BAMBANG YUDHOYONO “KEPAK SAYAP PUTRI PRAJURIT”
GRAND BALLROOM THE DHARMAWANGSA, 30 JULI 2010



Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh,
Selamat Malam dan salam sejahtera buat kita sekalian,

Yang saya cintai, walaupun dia adalah suami saya, tadi kata Pak Joop tadi, dia juga seorang Presiden. Oleh karena itu yang saya cintai dan sangat saya hormati dan banggakan Presiden Republik Indonesia, dan suami saya, Susilo Bambang Yudhoyono,
Yang saya hormati Bapak Boediono, Ibu Herawati dan Ibu Ida Jusuf Kalla,
Yang saya hormati dan sangat saya cintai Ibunda Sunarti Sri Hadiyah Sarwo Edhie Wibowo beserta seluruh keluarga besar Sarwo Edhie Wibowo,
Para sahabat, teman, handai taulan serta hadirin sekalian yang berbahagia,

Pertama-tama, marilah kita bersama-sma memanjatkan puji dan syukur ke hadirat Allah SWT, karena atas rahmat dan ridho-Nyalah, maka pada malam hari ini yang indah ini kita dapat berkumpul di sini dalam keadaan sehat walafiat.

Atas nama pribadi dan keluarga saya mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya atas kehadiran Bapak dan Ibu sekalian pada acara Peluncuran Buku Kepak Sayap Putri Prajurit. Buku ini ditulis dengan bahasa yang sangat muda dan popular oleh saudari Alberthiene Endah, yang juga sebetulnya telah melahirkan sejumlah novel, maupun biografi dari sejumlah orang ternama. Alberthiene Endah memulai kariernya sejak sebagai seorang novelis dan akhirnya menjadi penulis biografi.

Saya telah membaca beberapa biografi yang ditulis oleh Alberthiene Endah dan biasanya saya memanggilnya AE, singkatan dari Alberthiene Endah. Saya merasa cocok dengan gaya bahasa dan penuturannya, sehingga saya menjatuhkan pilihan kepadanya untuk menulis biografi saya. Terima kasih AE, terima kasih Alberthiene Endah.

Saya juga mengucapkan terima kasih kepada Pak Joop Ave yang telah memberikan gambaran, memperkenalkan diri saya juga dan menceritakan hubungan yang demikian baik, serta kesan-kesan atas buku Kepak Sayap Putri Prajurit ini. Tentu saja saya juga mengucapkan terima kasih Bapak Joop Ave yang telah mengenang ayahanda kami yang tercinta. Beliau bersama-sama ketika di Departemen Luar Negeri dulu, kalau sekarang adalah Kementerian Luar Negeri. Dan bapak tadi menceritakan, satu, berdekatan dengan beliau dan itu merupakan suatu kenangan yang amat indah.

Hadirin yang saya hormati,
Buku Kepak Sayap Putri Prajurit lahir karena kecintaan dan rasa hormat saya yang amat sangat kepada ayahanda kami tercinta, Bapak Sarwo Edhie Wibowo yang telah wafat pada tanggal 9 November 1989. Beliau yang telah memberikan bimbingan, teladan, dan kasih sayang yang luar biasa kepada kami putra-putrinya, menantu dan cucu-cucu. Sekilas bila orang tak mengenal dia secara pribadi, bapak tadi mengatakan misconception, menganggapnya sebagai orang yang tegas, disiplin, tak kenal kompromi, lurus, tidak mudah dibelokkan itu. Pendapat itu tidak salah bapak, namun kurang lengkap.

Tadi bapak mengatakan ternyata ayahanda saya juga seorang yang humoris karena bersebelahan kamar tadi. Selain itu semua sesungguhnya, beliau juga penuh dengan kasih sayang, perhatian yang sangat dekat dengan keluarga. Buku ini saya persembahkan untuk beliau yang semasa hidupnya pernah mempunyai keinginan untuk menulis biografinya sendiri. Sebelum beliau wafat, biasanya tengah malam, ketika semua sudah mulai tertidur, beliau menulis dengan mesin ketik kecintaannya. Mesin ketik itu spesial, hurufnya miring, mungkin sekarang sudah tidak diproduksi lagi.

Beliau telah menyiapkan biografi itu dengan sub-judul, yaitu Buku Harian Kapten Sarwo Edhie Wibowo, Kolonel Sarwo Edhie Wibowo dan Jenderal Sarwo Edhie Wibowo. Namun sayang, ketika beliau baru saja memulainya, beliau terkena stroke, sampai akhirnya dipanggil oleh Sang Khalik dan buku itu belum jadi apa-apa. Tadinya ada beberapa pihak yang ingin membantu untuk meneruskan dan menyelesaikan buku tersebut, namun akhirnya kami putuskan atau keluarga memutuskan tidak dalam tanda kutip, karena terus terang, kami mempunyai kekhawatiran bila nanti hasilnya tidak sesuai dengan yang beliau inginkan.

Tadi juga sudah disebutkan, kira-kira pada awal Maret tahun 2009 yang lalu, saya mulai berpikir untuk menulis buku yang memuat tentang bagaimana keseharian dan nilai-nilai hidup, dan kehidupan yang telah beliau berikan dan wariskan kepada kami putra-putrinya. Walaupun bentuknya sangat berbeda dengan apa yang ada di dalam benak beliau, tetapi ketika beliau ingin membuat sebuah biografi, namun paling tidak dari sisi lain, insya Allah ada pelajaran yang dapat dipetik.

Saya utarakan keinginan saya itu kepada saudari Alberthiene Endah. Ketika AE menawarkan kepada saya judul buku biografi dengan judul Kepak Sayap Putri Prajurit, maka saya langsung menyetujuinya. Benar saya adalah seorang putri prajurit. Tadi sudah disampaikan pula bahwa saya dilahirkan dan dibesarkan dalam keluarga prajurit, menikah dan menjalankan kehidupan bersama seorang prajurit dan kini mempunyai putra yang berkecimpung dalam dunia prajurit. Saya benar-benar telah hidup dalam tiga generasi, prajurit militer yang terasa sangat istimewa buat saya.

Buku ini menceritakan masa kecil saya hingga dewasa, ketika dalam asuhan ibu dan ayahanda tercinta. Banyak nilai-nilai yang telah beliau tanamkan kepada saya maupun saudara-saudari saya yang lain, yang terasa begitu mendalam dan bermakna, yang pada akhirnya nilai-nilai itu pula yang kami pakai dalam menjalani kehidupan yang penuh lika-likunya. Prinsip-prinsip orang tua kami yang amat teguh, telah tertanam amat dalam dalam sanubari, yang membuat kami tujuh bersaudara, bersama keluarga masing-masing dapat terus mengarungi hidup yang keras ini, sampai menjadi diri kita yang sekarang ini.

Dulu ketika kami masih anak-anak, ketika nilai-nilai kehidupan itu disampaikan, kami masih belum bisa menangkap dengan jelas, dan belum mengetahui dengan pasti maknanya. Namun seiring dengan semakin dewasanya kami, maka kami makin menyadari, bahwa apa yang beliau sampaikan dulu benar adanya dan kami amat bersyukur, kami telah mendapatkan pelajaran yang amat berharga itu dari kedua orang tua kami.

Tapi dari Ibu, demikian biasa kami menyapanya, terima kasih kami yang tulus dan tak terhingga atas apa yang telah engkau berikan kepada kami, tak akan ada kami seperti sekarang ini. Tanpa pengasuhan, tanpa didikan, tanpa cinta dan kasih sayang. Ibu, engkau adalah sumber kasih sayang dan tempat kami mengadu bila ada permasalahan, terutama yang menyangkut anak-anak dan keluarga.

Bagi saya dan saya kira bagi saudara-saudari saya yang lainnya, Ibu bagaikan tokoh Ki Semar yang dalam lakon pewayangan. Ki Semar yang selalu mengayomi dan terus mengasuh para ksatria pandawa tanpa kenal lelah. Ibu pun demikian pula, Ibu telah mengasuh kami, Ibu selalu membimbing dan memberi nasehat kepada kami, Ibu selalu memberikan yang terbaik yang Ibu punyai bagi kami. Ibu tak pernah pilih kasih. Ibu tak pernah mebedakan kami. Ibu juga selalu menghampiri kami, ketika kami membutuhkan kehadiranmu. Dengan segala kekurangan dan kelebihannya, tapi dari Ibu adalah panutan, tapi dari Ibu adalah pahlawan, dan sekaligus kebanggaan bagi kami. Kami semua sangat mencintai beliau berdua, dan tanpa bermaksud melebih-lebihkan, sesungguhnya berapapun nilai materi yang ada tak akan pernah padan dengan apa yang telah Ibu dan Papi berikan kepada kami anak-anakmu.

Beliau tak pernah minta apa-apa sebagai balasan atau pengganti uang lelah ketika mengasuh dan membesarkan kami. Tapi hanya selalu berpesan begini, kalau engkau ingin membahagaikan kedua orang tuamu, maka satu permintaanku, rukunlah selalu bersama saudara. Sungguh suatu makna yang amat dalam dan insya Allah, pesan itu akan menjadi wasiat, yang akan saya dan saudara-saudari saya yang lain jalankan. Percayalah Ibu, kami pasti menjalankannya.

Buku ini juga menceritakan tentang kehidupan saya ketika menjadi istri pendamping suami, mendidk anak-anak dan juga sebagai warga masyarakat biasa. Tentu saja dengan segala suka dan duka, sedih dan gembira yang telah saya lalui bersama keluarga sampai pada puncaknya mendampingi suami menjadi Presiden Republik Indonesia ke-6 dan menjalankan tugas sebagai Ibu Negara, serta tentu saja mengantarkan anak-anak mencapai pendidikan masternya.

Hadirin sekalian,
Pak SBY sebagai suami juga mempunyai peran yang amat berarti bagi kehidupan saya. Beliau bukan hanya sebagai suami bagi saya, tetapi juga sudah menjadi teman berdiskusi, sahabat dan guru bagi saya dan anak-anak. Kesabarannya yang luar biasa dalam membimbing saya sejak menikah 34 tahun yang lalu. Kearifannya menghadapi sebuah masalah, dan caranya menyelesaikan sebuah persoalan, membuat saya semakin matang.

Beliau telah mewarnai dan melengkapi kehidupan saya, ketika guru saya dalam kehidupan ini, yang tercinta ayahanda Sarwo Edhie Wibowo telah tiada, maka Pak SBY-lah yang menjadi penerusnya. Saya tidak pernah berhenti bersyukur kepada Allah Yang Maha Kuasa akan apa yang telah beliau lakukan untuk saya dan anak-anak.

Saya sungguh bersyukur kalau kini saya bisa mendampingi Pak SBY sebagai Ibu Negara. Kalau saya harus mengenang kembali perjalanan hidup dan liku-liku perjalanan kami berdua, sesungguhnya tidaklah selalu mudah dan menyenangkan sebagaimana yang dibayangkan oleh orang. Boleh dikatakan kami sekeluarga merangkak dari bawah, sebagaimana layaknya kehidupan keluarga prajurit yang harus menghadapi tantangan dan persoalan sendiri. Misalnya berkali-kali ditinggal suami untuk mengemban tugas negara, bertempur di daerah operasi atau berpisah karena suami harus menjalani penugasan dan pendidikan di luar negeri.

Sebagai contoh, ketika suami ditugaskan menjadi perwira pengamat militer PBB di Bosnia, saya harus menjaga hati dan ketabahan, seraya saya harus mengasuh dan membimbing anak-anak. Saya tahu resiko yang harus dihadapi oleh istri prajurit, apa lagi ketika suami harus menjalankan tugas pertempuran. Suka duka dan liku-liku kehidupan itulah kiranya terasa pas ketika menjadi bagian dan buku yang berjudul Kepak Sayap Putri Prajurit, yang sesungguhnya juga merupakan kepak sayap istri prajurit, dan kepak sayap ibu seorang prajurit.

Dalam buku itu juga ditulis tentang apa yang dilakukan sebagai salah satu Ibu Negara Republik Indonesia. Di samping mendampingi Presiden dalam kegiatan resmi di dalam maupun di luar negeri, ada pula sejumlah kegiatan di bidang pendidikan, sosial, budaya dan lingkungan yang merupakan komitmen saya kepada Bapak SBY ketika pertama kali saya menanyakan kepada beliau tentang apa yang sebaiknya, saya lakukan sebagai Ibu Negara.

Terus terang saya merasa malu bila sudah menyandang nama Ibu Negara, tetapi tidak melakukan apa-apa untuk masyarakat, bangsa, dan negara. Oleh karenanya, dengan seizin Bapak SBY, saya dengan dibantu oleh ibu-ibu telah melakukan sejumlah kegiatan. Saya patut berterima kasih kepada Istri Wakil Presiden dalam hal ini tentu saja Ibu Herawati dan Ibu Ida Jusuf Kalla, istri para menteri dan wakil menteri, serta pihak-pihak lainnya yang telah memunculkan saya, melaksanakan kegiatan tersebut. Saya berharap bisa terus mendampingi Pak SBY melaksanakan tugas-tugasnya dengan baik, insya Allah sampai jabatan Presiden berakhir tahun 2014 nanti.

Akhirnya, saya sungguh berbahagia malam ini dapat berbagi hari yang mempunyai makna cinta yang begitu besar bagi diri saya. Hari ini adalah hari yang bertepatan dengan peringatan Hari Pernikahan Ulang Tahun yang ke-34 bagi saya dan Pak SBY juga bagi kakak saya Mbak Titi dan Mas Herwin. Saya minta berdiri Mbak. Mbak Titi dan Mas Herwin serta adik saya, Tuti dan Mas Hadi Utomo.

Dalam hidup saya, cintalah yang membesarkan saya, mengajarkan saya tentang keikhlasan, memberi kekuatan untuk tumbuh secara rohani. Tanpa cinta tak mungkin saya mampu terbang sejauh ini. Tanpa cinta dari berbagai pihak ayahanda, ibunda, suami, anak-anak, menantu, cucu, saudara-saudara, ibu-ibu SIKIB, para staf, kawan-kawan dari UKI maupun SMA 24, penulis, Alberthiene Endah, dan seluruh tim, serta banyak lagi yang saya tidak dapat sebutkan satu per satu, tak mungkin ini buku terjadi. Saya ingin berbagi cinta melalui buku ini untuk semua. Maka perkenankanlah saya, dengan segala cinta, saya mengucapkan terima kasih atas waktu yang diluangkan untuk kumpul bersama di malam yang penuh berkah ini. Semoga cinta selalu menyatukan kita.

Terima kasih.
Wabillahitaufik walhidayah wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.
*****

Biro Pers dan Media
Rumah Tangga Kepresidenan


Redaksi | Syarat & Kondisi | Peta Situs | Kontak
© 2006 Situs Web Ibu Negara Republik Indonesia - Ny. Hj. Kristiani Herawati
Hak Cipta dilindungi Undang-undang