Pidato Presiden

Silang Monas, Minggu, 8 Agustus 2010

Dialog Ibu Negara pada Peringatan Pekan Asi Sedunia 2010

 

TRANSKRIPSI
DIALOG IBU NEGARA REPUBLIK INDONESIA
DENGAN
MOTIVATOR PELENGKAP PENDUKUNG IBU, TENAGA KESEHATAN DAN TOKOH MASYARAKAT
PADA ACARA
PERINGATAN PEKAN ASI SEDUNIA 2010
SILANG MONAS, 8 AGUSTUS 2010



Menteri Kesehatan
Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh,
Ibu Negara yang saya hormati,
Ibu, bapak sekalian,
Ijinkan saya memandu acara dialog ini. Ini harus diberikan karena singkatnya waktu, kita tidak akan memberikan kesempatan kepada tanya. Saya yakin semua sebetulnya ingin berdialog dengan Ibu Negara ya. Saya pertama-tama akan berikan kesempatan kepada 4 orang lebih dahulu. Mohon siapa yang ingin bertanya mendekati mic ya. Silakan ibu. Kemudian nanti disebutkan dulu namanya, kemudian mungkin organisasinya atau apa. Yang kedua dan ketiga dan keempat kalau boleh langsung mengantri di sini, supaya enggak makan waktu. Silakan. Ini yang kedua, lalu ada lagi tiga, Bapak 1, ini kedua, satu lagi, silakan mengantri di sini ya, silakan. Nanti jadi langsung berturut-turut. Baik, silakan mulai, ibu.

Ibu Indra Wika, Bidan
Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh,
Ibu Ani yang terhormat, saya saat ini kami telah melaksanakan sepenuhnya 10 langkah menyusui. Namun kami mendapat beberapa kendala, diantaranya masih belum sependapat di antara kalangan-kalangan spesialistik dalam menerapkan air susu ibu. Terima kasih.
Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Menteri Kesehatan
Baik, kalau begitu, itu saja ibu pertanyaannya. Terima kasih ibu bidan. Langsung saja, ya. Bapak silahkan.

Bapak Slamet Riyadi, Dewan Kelurahan Kebon Bawang, Tanjung Priok
Nama saya Slamet Riyadi, bu. Saya dari Dewan Kelurahan, Kelurahan Kebon Bawang, Kecamatan Tanjung Priok, Jakarta Utara. Sebagaimana yang telah ibu sampaikan tadi di dalam awal pidato bahwa kegiatan ini sangat bermanfaat sekali, terutama untuk kesehatan ibu, kesehatan anak, bahkan sampai kesehatan ekonomi keluarga. Kami sangat mendukung sekali pada kegiatan ini, bu. Sehingga mudah-mudahan dan saya mohon bisa berlangsung terus dan bertambah luas.

Untuk itu, kepada ibu yang kami hormati, kami mohon petunjuk dari ibu, bagaimana kegiatan ini dapat berlangsung terus dan dukungan apa terutama yang dapat diberikan kepada, terutama kepada para motivator, bu, para motivator yang saat ini kemungkinan sekitar 2 bulan lalu sudah kita bina, tapi agar mereka bisa terus melaksanakan kegiatan ini dan memperluas cakupan daripada kegiatan ini. Mohon petunjuk dari ibu. Terima kasih.

Menteri Kesehatan
Terima kasih Pak Slamet Riyadi. Sekarang ibu yang ketiga, silakan ibu.

Ibu Nurhayati, Bekasi
Terima kasih atas kesempatannya.
Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh,
Selamat pagi kepada Ibu Ani. Perkenalkan nama saya Nurhayati dari Bekasi. Saat ini saya sedang hamil anak kedua, usia kehamilan 6 bulan. Dan selama usia kehamilan ini, saya banyak mengikuti pertemuan-pertemuan yang diadakan oleh kelompok pendukung ibu. Dan luar biasa banyak sekali manfaat yang saya rasakan, terutama pengenalan tentang IMD dan ASI ekslusif. Saya jadi termotivasi bagaimana agar nanti saat saya melahirkan, saya bisa melakukan IMD dan kemudian menyusui bayi saya selama ekslusif 6 bulan. Karena saat kehamilan pertama, saya belum begitu paham tentang IMD, tapi alhamdulilah tetap menyusui secara ekslusif sampai sekarang usia 2 tahun. Dan kemudian, saya mohon nasehat dari ibu, bagaimana kalau tadi dari cucu ibu sudah berhasil, kemudian melakukan IMD dan kemudian menyusui secara ekslusif, bagaimana agar saya nanti juga sukses setelah melahirkan dengan IMD dan menyusui secara eksklusif. Itu yang pertama.

Kemudian yang kedua, bagaimana agar masyarakat, terutama ibu rumah tangga yang tidak berhubungan dengan dunia keperawatan atau bidan seperti saya ingin berbagi keilmuan kepada ibu-ibu yang lain agar mengetahui lebih banyak tentang IMD dan ASI eksklusif. Apakah harus menjadi konselor atau seperti apa? Mohon juga dijelaskan hal ini. Terima kasih.
Wassalamu’alaikum warahmatulahi wabarakatuh.

Menteri Kesehatan
Terima kasih Ibu Nurhayati dan selamat lebih dulu ya atas kehamilan yang kedua. Silahkan ibu.

Sdri. Yuni Astuti, Pelaksana Gizi Kabupaten Bogor
Assalamu’alaikum warahmatulahi wabarakatuh,
Terima kasih atas kesempatan ini. Perkenalkan kami dari pelaksana gizi, nama saya Yuni Astuti dari pelaksana gizi kabupaten Bogor. Ibu, berdasarkan pengalaman bekerja kami, masih banyak ibu melahirkan di rumah bersalin dan setelah pulang diberikan kado susu formula. Kami merasa kesulitan untuk mengajak ibu-ibu menyusui bayinya. Kepada ibu, kami memohon agar ibu bisa tampil di TV atau media yang lain untuk, guna mengajak ibu-ibu agar menyusui ASI-nya, sehingga kami dalam bekerja lebih percaya diri. Terima kasih.
Wassalamu’alaikum warahmatulahi wabarakatuh.

Menteri Kesehatan
Wa’alaikumsalam Bu Yuni, wah permintaan Bu Yuni juga permintaan kami ini di Kementerian Kesehatan, Ibu. Silakan ibu.

Ibu Negara Republik Indonesia
Kita beri tepuk tangan dulu kepada 4 penanya. Baik, ingin saya jawab satu per satu, yang pertama Ibu Indra Wika, bidan di Koja. Yang katanya sudah menerapkan 10 langkah menuju keberhasilan menyusui, tetapi ada kendala karena belum ada kata sepakat atau sependapat antara kalangan, mungkin yang dimaksud adalah medis yang berada di tempat bekerjanya.

Ibu-ibu, kalau seperti ini tentu saya berharap dari Menteri Kementrian Kesehatan untuk bisa terus memberikan penjelasan atau himbauan kepada mereka. Karena sebetulnya kita sudah tahu persis bahwa ini menyusui kepentingannya adalah untuk si bayi maupun ibunya. Tetapi masih ada yang silang pendapat. Ini ibu bagaimana barangkali nanti ibu bisa menjawab yang lebih lengkap, karena ada terjadi silang pendapat atau tidak sependapat antara petugas-petugas medis yang berada di lingkungannya.

Saya berharap saya tidak seperti itu ya bu. Nah, mungkin ibu bisa menjelaskan lebih spesifik ya. Tidak sependapatnya itu seperti apa? Mana tadi ibu bidan? Tidak sependapatnya itu seperti apa ibu? Mungkin bisa dijelaskan, sehingga saya lebih pasti begitu ya. Enggak sependapatnya itu kira-kira seperti apa, tidak sependapatnya?

Ibu Indra Wika, Bidan
Terima kasih ibu. Di sini saya melakukan 10 langkah dengan semaksimalnya, memberikan pendampingan, semua langkah itu terus kita lakukan. Tapi ada di antara dokter kita, apa, misalnya di kamar operasi dokter anastesi tidak mengenalkan untuk IMD. Masih ada bidan-bidan yang belum melakukan sepenuhnya, begitu bu. Jadi dengan ini ya bagaimana langkah ke depan kita semua, satu suara dan satu kata. Terima kasih.

Ibu Negara Republik Indonesia
Baik-baik, terima kasih ibu. Jadi kita sudah lebih jelas lagi, bahwa ternyata mungkin ada seorang ibu yang melahirkan dengan cara caesar begitu ya bu. Cara caesar kemudian karena ibu tadi mengatakan ada dokter anastesi, berarti mungkin bayangan saya, si ibu tadi mengalami operasi caesar untuk melahirkan bayinya, jadi tidak setuju kalau IMD.

Untuk saya jelaskan kepada ibu, bahwa sebetulnya menantu saya juga caesar dan melakukan IMD di dalam kamar operasinya. Sebagai buktinya sebetulnya ibu dr. Utami. Ibu dr. Utami mungkin bisa berdiri ibu. Ibu dokter Utamilah yang membimbing menantu saya sambil caesar menyelesaikan masalah jahitannya oleh dokter itu. Kemudian dia tetap melakukan IMD.

Barangkali menurut saya, mungkin belum semua tenaga medis ini mempunyai pengalaman ke arah situ. Barangkali seperti itu, sehingga perlu diberikan penjelasan dan mungkin pengalaman-pengalaman dari dr. Utami yang telah melakukan atau membantu IMD, manakala seorang ibu melahirkan dalam kondisi caesar. Terima kasih ibu ya. Jadi saya pikir mungkin seperti itu, ibu, barangkali bisa nanti dari langkah dari Kementerian Kesehatan untuk memberitahu. Terima kasih ibu.

Kemudian, saya mendapatkan pertanyaan yang kedua dari Bapak Slamet Riyadi, Dewan Kelurahan Priok. Kegiatan ini sangat penting menurut Bapak Slamet Riyadi. Menurut bapak kok seperti ini kegiatan seperti ini sangat penting, karena kita tahu manfaatnya dan sangat mendukung. Terima kasih. Inilah seorang bapak yang mendukung kegiatan ASI. Kita beri tepuk tangan.

Bapak Slamet mengatakan bagaimana caranya karena bapak juga mengatakan kelurahannya sudah ada kegiatan seperti KP ibu, agar supaya motivator-motivator ini terpacu terus melakukan kegiatannya. Jadi tidak bosan, begitu ya pak ya. Tidak bosan, terpacu terus, kemudian mengembangkan kepada masyarakat yang lebih luas lagi. Ya, ini sekali lagi, bapak, karena kalau bapak ataupun ibu menjadi motivator, tentu sebetulnya tidak boleh bosan. Namanya juga motivator, memberikan motivasi kepada yang lainnya. Kalau sang motivator sudah tidak mau memberikan motivasi, bagaimana nanti yang lainnya.

Saya berharap sekali, bapak, jangan sampai bapak, kemudian merasa bosan ataupun merasa jenuh seperti begitu, bapak bisa menyampaikan barangkali kepada atau mengajak motivator-motivator yang baru. Kalau yang tua-tua ataupun yang sudah lebih senior merasa jenuh, maka bapak ajaklah motivator-motivator yang baru. Sehingga mereka tentu selalu segar dengan cara-cara yang lebih baru, kemudian mencari metode-metode yang baru. Karena saya tahu di KP Ibu yang ada di posyandu-posyandu di Jakarta melakukannya dengan cara permainan.

Permainan itu sungguh bagus menurut saya, karena pengetahuan itu diberikan kepada masyarakat tanpa terasa. Jadi si ibu ataupun bapak yang ikut dalam permainan itu dipacu untuk ikut berfikir. Memikirkan, menyelesaikan masalah bila menghadapi masalah ataupun kalau ada masalah dia bisa menyelesaikannya dengan baik. Dan dipandu oleh sang motivator, mungkin ahlinya untuk bisa seperti ini, menyelesaikan masalahnya.

Jadi saya pikir seperti itu, bapak ya. Jangan pernah bosan, jangan pernah putus asa. Atau mungkin yang dimaksud insentif, begitu bapak? Kalau urusan insentif ini urusan bapak gubernur. Kita dengarkan dari bapak gubernur ya. Bapak monggo, kira-kira ada enggak itu?

Gubernur DKI Jakarta
Pak Slamet, barangkali ini mewakili seluruh motivator di pada level akar rumput. Saya mengajak, nanti kita bicarakan dan kita selesaikan secara adat.

Ibu Negara Republik Indonesia
Baik bapak, bapak gubernur sudah mengatakan, mari kita selesaikan secara adat ya. Baik, bapak. Tapi apapun nanti yang disampaikan oleh bapak gubenur, tanpa insentif itu sebetulnya bapak, karena insentif itu sebetulnya yang merasakannya adalah bangsa kita. Jadi bangsa kita yang mendapatkan insentifnya. Generasi kita makin baik, tentu saja bagi bangsa kita. Negara kita akan menjadi maju. Kita beri tepuk tangan sekali lagi kepada motivator kita.

Pertanyaan ketiga dari Ibu Nurhayati, Bekasi. Sekarang beliau sedang hamil 6 bulan, anak yang kedua. Saya ucapkan selamat. Jaraknya berapa jauh ini Ibu? Yang pertama 2 tahun, sekarang hamil 6 bulan. Berarti kira-kira 3 bulan lagi 2½ tahun ya kelahirannya. Ibu sedang merencanakan dengan sangat baik.

Ibu merasa bahwa selama mengikuti kelompok mendukung ibu, ibu mendapatkan pengetahuan-pengetahuan tentang IMD (Inisiasi Menyusu Dini) kemudian tentang ASI ekslusif. Walaupun pada kehamilan atau kelahiran anak pertama, ibu tidak mengikuti IMD, tetapi ibu tetap melakukan ASI ekslusif, memberikan ASI eksklusif. Itu bagus sekali. Kemudian ibu mengatakan bagaimana caranya supaya sukses ya bu ya?

Sukses atau tidaknya itu, tentu saja, maksudnya begini, ibu datang nanti kepada bidan yang membantu ibu ataupun pihak rumah sakit atau rumah bersalin, katakan kepada pihak rumah sakit, kepada bidan, bahwa saya ingin melakukan IMD. Karena sudah tadi ada 10 langkah, sebetulnya tidak boleh ditolak. Jadi pihak rumah sakit, pihak dari Puskesmas maupun rumah bersalin tidak boleh menolak keinginan seorang ibu yang ingin melakukan IMD atau inisiasi menyusu dini. Dan sukses atau tidaknya tentu ini juga berkat bantuan dari petugas-petugas kesehatan yang ada.

Tetapi ya itu tadi bu, saya menyaksikan sendiri ketika cucu saya lahir, setengah jam saya tunggui, belum berhasil. Oleh karena itu, terpaksa, dengan terpaksa saya tinggalkan, karena saya dengan Bapak Presiden harus mengikuti upacara Detik-detik Proklamasi pada tanggal 17 Agustus, terpaksa saya tinggalkan dan Ibu dr. Utami yang melanjutkan sampai berhasil. Jadi keberhasilan, kesuksesannya tergantung sebetulnya kemauan ibu sendiri.

Yang pertama keinginan dari ibu, ciptakan sensasi di atas kepala ibu, bahwa saya ingin menyusui, ingin memberikan ASI atau ingin menyusui secara langsung saat telah melahirkan, ciptakan sensasi itu di dalam otak ibu. Kirimkan sinyal-sinyal itu ke dalam otak, sehingga insya allah Tuhan mendengar dan ibu berhasil dalam melakukan inisiasi menyusu dini nanti, ya.

Tentu harapan saya juga dibantu oleh petugas-petugas kesehatan, betul ibu. Menurut saya semua itu tergantung dari niat kita. Kalau dari dalam kita punya keinginan untuk saya menyusui anak saya sendiri, insya Allah diberikan oleh Tuhan. Tetapi kalau ada penolakan dari dalam, saya tidak mau menyusui anak saya sendiri, saya takut badan saya menjadi jelek ya, itu tentu saja sudah sensasi itu, kalau otaknya sudah mendapatkan perintah tidak akan keluar.

Jadi sekali lagi, ibu, tolong ciptakan itu bahwa ya Allah dalam setiap doanya mudah-mudahan saya bisa memberikan air susu saya sendiri kepada bayi saya, karena saya tahu ASI itu sangat bermanfaat untuk bayi. Mudah-mudahan sukses ya bu ya. Saya berdoa sungguh kelahiran yang kedua ini dapat sukses bila dilakukan. Kemudian bagaimana ibu agar supaya teman-teman ibu bisa ikut ya, begitu? Ya tentu saja ajaklah ibu dengan baik. Ibu bisa menjadi motivator bagi mereka.

Yang keempat, Ibu Yuni Astuti, banyak sampai saat ini Ibu Yuni, banyak yang melahirkan di rumah, di rumah bersalin, kemudian mendapat kado susu formula. Apakah kita tolak? Kan begitu ya bu ya? Sekarang saya tanya kalau dapat kado ditolak enggak? Tetapi boleh ngga kalau misalnya kita nanti dulu deh, tidak usah saya berikan sekarang. Boleh enggak begitu? Boleh dong. Anak-anak kita ya, ibu punya rencana buat putra-putrinya.

Kado boleh saja disimpan, tentu jangan misalnya ditolak, kembalikan kepada yang memberi, tentu akan sakit hati yang memberikan. Karena mungkin yang memberikan tidak tahu ya. Tidak tahu, tidak mempunyai pengetahuan yang cukup tentang ASI ekslusif atau air susu ibu. Oleh karena itu, kado boleh saja diterima, tetapi ibu yang harus bijaksana.

Oleh karena itu, ibu bisa menjelaskan kepada ibu-ibu, misalnya yang belum sempat memberi kado, kalau misalnya itu temannya sendiri, kita bisa bisik-bisik, kita enggak usah kado itu deh, kasih kado yang lainnya saja, ya. Misalnya barangkali buku bagaimana cara mendidik putra-putrinya. Itu jauh lebih baik, iya toh. Kemudian manfaat dari ASI, itu jauh lebih baik. Tetapi tentu saja, untuk tidak menyakiti hati yang memberikan kado, kita terima tetapi tidak perlu kita berikan pada saat itu. Barangkali bisa ditunda sampai saatnya si bayi boleh mendapatkan air susu ataupun makanan tambahan. Saya kira begitu, betul ya bu.

Kemudian, minta kepada saya supaya tampil di televisi atau di media-media cetak lainnya. Memang sebetulnya Ibu Menkes sudah minta kepada saya untuk membuat sebuah PSA, public service advertisement. Jadi sebetulnya sudah minta, tapi karena kesibukan saya yang luar biasa.

Semalam saya juga pak gubernur, baru datang dari wilayah Jawa Barat bersama dengan bapak presiden, jadi belum bisa saya penuhi. Tetapi kalau untuk mungkin tampil di televisi dalam bentuk bincang-bincang, barangkali bisa, ibu, dalam bentuk bincang-bincang bisa. Dan saya sendiri saat ini membuat leaflet, ibu, membuat leaflet tentang ASI ini, yang sedang saya susun. Barangkali sudah ya, sudah ada yang menerima? Sudah ada yang menerima. Jadi ada yang sudah menerima. Jadi saya berusaha untuk membuat leaflet, walaupun saya tidak bertemu langsung dengan sang ibu, saya berharap leaflet ini bisa dibaca oleh ibu yang bersangkutan. Sehingga paling tidak ada kontak batin antara saya dengan ibu-ibu yang lainnya.

Saya kira itu, terima kasih atas pertanyaan yang diberikan kepada saya. Ibu, saya kembalikan kepada Ibu Menkes.

Terima kasih.


*****

Biro Pers dan Media
Rumah Tangga Kepresidenan


Redaksi | Syarat & Kondisi | Peta Situs | Kontak
© 2006 Situs Web Ibu Negara Republik Indonesia - Ny. Hj. Kristiani Herawati
Hak Cipta dilindungi Undang-undang