


Istana Negara, Jakarta, Sabtu, 14 Agustus 2010
DIALOG IBU NEGARA DENGAN PERWAKILAN
GURU SEKOLAH DASAR BERDEDIKASI DI DAERAH KHUSUS
DAN GURU PENDIDIKAN LUAR BIASA/PENDIDIKAN KHUSUS BERDEDIKASI TINGKAT NASIONAL
Mendiknas
Mohon ijin ibu, saya ingin memandu dialog ini. Sebelum memandu, kami sampaikan ada tiga hal yang penting dan kita berterima kasih banyak pada arahan ibu, yaitu yang pertama nggak usah malu, atau justru insya Allah kita semua punya semangat yang luar biasa karena kita adalah orang-orang yang sangat khusus.
Yang kedua, pancing, di mana-mana pancing itu lebih kecil dari yang dipancing, itu. Oleh karena itu, mohon yang ada di tabungan tadi mohon tidak dibelanjakan. Tidak dibelanjakan, insya Allah kalau tidak dibelanjakan akan bertambah, karena pancing itu tidak boleh dibuang. Oleh karena itu biarkan, itu pikat dan itu insya Allah memberikan keberkahan, dan yang ketiga tentang pendidikan inklusif. Terima kasih banyak, ibu.
Baik, kami undang saudara-saudara kita, para guru yang paling jauh dari Jakarta untuk menyampaikan, ingin berdialog dengan ibu. Bebas saja. Ini karena acaranya, acara khusus sehingga bebas saja. Kami undang, silakan siapa yang merasa paling jauh, mohon disebutkan dari mana bapak. Iya.
Laode Boge, Guru Daerah Khusus
Terima kasih atas waktu yang diberikan kepada saya untuk berdialog dengan Ibu Negara, Ibu Hj. Ani Bambang Yudhoyono. Saya berasal dari Sulawesi Tenggara, Kabupaten Muna, Kecamatan Kiworo Selatan, Sekolah saya SD Negeri 3 Maginti. Nama saya Laode Boge.
Yang terhormat Ibu Negara, Hj. Ani Bambang Yudhoyono,
Yang terhormat ibu-ibu SIKIB,
Yang terhormat Bapak Menteri Pendidikan Nasional,
Yang terhormat Bapak Direktur Jenderal PNPTK,
Yang terhormat Bapak Direktur Profesi Penyidik,
Yang terakhir para undangan dan teman-teman guru daerah khusus yang berbahagia,
Ini bu, sebelum saya ceritakan kisah perjalanan saya ke sekolah, mungkin saya gambarkan dulu keadaan lingkungan di sana, bahwa di daerah kita di sana itu, bu, daratannya tidak rata seperti ini, tapi bergelombang seperti laut. Jadi di kala hujan, kita di sana tidak bisa naik kendaraan karena kerendahan itu ya tergenang dengan air. Ini di daratan, bu, bukan di laut, tapi daratan, hanya di saat hujan, airnya itu sampai ketinggian. Tidak banjir bu, tapi di situ memang karena kerendahan jadi airnya tinggal, iya. Sehingga dalam satu hari kita pergi ke tempat tugas, misalnya kalau airnya baru setinggi lutut, pak, masih bisa kita jangkau kendaraan seperti motor, misalnya, itu pun kita barangkali kurang sopan kali kalau ada orang karena biasa kalau kita lewat di yang berair itu kita angkat kaki, Bu, karena bahaya kita kalau tidak angkat kaki, iya, begitu, Bu.
Kalau misalnya airnya sudah segini, nah itu bisa jalan kaki, Bu. Tidak bisa kita naik kendaraan. Jadi dari rumah ke sekolah itu kurang lebih 20 kilo. Jadi yang tidak bisa dilewati dengan kendaraan itu, bu, sekitar kurang lebih 5 kilo dari yang kita lewati dengan jalan kaki, bu. Jalan kaki setelah, misalnya seperti sekarang ini hujan, pak. Iya.
Mendiknas
Monggo, silakan diteruskan, setelah menunjukkan kondisi fisiknya tadi, apa yang ingin disampaikan? Saya persilakan Pak Laode, agak maju sedikit, dekat dengan mic.
Laode Boge, Guru Daerah Khusus
Sebelum saya akan ceritakan masalah, keadaan di sekolah, barangkali saya akan gambarkan dulu atau saya ceritakan keadaan penduduk di sana, bahwa penduduk di sana itu 90% petani, pak. Yang sebagiannya itu pegawai, wiraswasta, dan kemudian, bu, itu yang 90%-nya itu tidak berpendidikan sama sekali. Yang 10%nya itu, itulah yang orang tuanya ada pendidikan.
Jadi di saat saya mengajar, bu, saya sudah berupaya menyediakan bahan-bahan pelajaran yang saya ajarkan pada hari itu. Namun, anak-anak itu kurang memperhatikan dengan pelajaran yang saya berikan setiap saat, karena mungkin mereka itu tidak terlalu paham dengan pendidikan itu, karena mereka itu, terus terang saja, bu, trauma dengan kehidupan orangtuanya hanya sebatas tani. Jadi mereka tidak ada inisiatif untuk lanjut sekolah. Hanya tamat SD, kalau yang perempuan kawin. Tamat SD, paling lama setahun nganggur langsung kawin, pak.
Jadi, saya di sana, bu, kalau saya mengajar, memang harus sabar, karena apa? Dengan keadaan dan kondisi anak seperti itu, kita di sana kalau, misalnya di saat kita mengajar, anak itu tidak memperhatikan pelajaran yang kita berikan, lantas kita marah, anak itu malah dia mau berhenti sekolah, Bu. Tidak bisa kita kerasi, ya kapan kita kerasi, dia akhirnya berhenti sekolah karena dia pikir, “Untuk apa sekolah itu?” Iya, hanya mereka sekolah itu untuk sekedar bisa menulis, bisa baca, bisa berhitung.
Kalau mereka sudah tamat SD kan sudah bisa menulis, bu, sudah bisa berhitung. Itu saja mereka punya harapan untuk sekolah, bu. Tidak ada keinginan untuk lanjut sekolah.
Dibanding dengan di kampung lain, kalau kampung lain anak-anak sekolah itu, mereka prestasinya bagus karena mereka punya cita-cita untuk lanjutin perguruan yang tinggi. Mungkin dia sekolah untuk mau jadi ini, mau jadi itu, dan seterusnya.
Mendiknas
Sudah?
Laode Boge, Guru Daerah Khusus
Ya barangkali karena waktu ya. Begini, pak, ini ada pesan yang akan saya sampaikan kepada Ibu Negara dan bersama Menteri Mendiknas. Saya ini sekarang ingin menikmati kemajuan seperti sekarang ini, tapi saya sekarang, pak terus terang saja di sana itu, di saat malam saya menggunakan lampu pelita yang terbuat dari blek susu, begitu, pak. Kalau bisa saya minta pertimbangannya bagaimana supaya saya juga bisa menikmati kemajuan seperti sekarang ini, terutama lampunya, pak. Iya. Barangkali itu saja yang saya sampaikan, terima kasih.
Wassalamualaikum Wr.Wb.
Mendiknas
Walaikumsalam Wr.Wb.
Terima kasih, kita berikan applause dari saudara kita yang paling jauh. Kami undang yang paling jauh kedua, iya.
Vera Wirdayani, Guru Daerah Khusus
Assalamualaikum Wr. Wb.,
Sebelumnya saya mohon ijin,
Yang terhormat Ibu Hj. Ani Bambang Yudhoyono,
Dan yang terhormat Ibu Herawati Boediono,
Dan yang terhormat Bapak Muhammad Nuh beserta ibu,
Dan ibu-ibu SIKIB,
Dan hadirin yang saya hormati,
Saya perkenalkan nama saya Vera Wirdayani, dari kota Tanjung Pinang, SLB Tanjung Pinang, Kepri, Kepulauan Riau. Saya berterima kasih atas kesempatan yang diberikan kepada saya untuk bisa hadir di istana ini yang sungguh megah. Mungkin di antara peserta, yang paling muda saya sendiri. Saya sungguh bangga dapat penghargaan ini, bapak. Saya dari SLB Tanjung Pinang mengucapkan terima kasih dan saya mungkin mau minta berdialog sama ibu, begini pak, bu, di SLB Tanjung Pinang itu kendalanya transportasi.
Kami tadi sudah diutarakan bahwa di SLB Tanjung Pinang itu juga ada dua instansi atau dua induk, yang provinsi dan kota. Saya diangkat dengan Ibu Walikota dan ada juga yang provinsi. Di situ jadi ada 2 sekolah, tetapi 1 kepala sekolah, karena di sana belum ditetapkan ada 2 kepala sekolah, tetap 1 itu, tetapi 2 sekolahnya, ada di Tanjung Pinang, tempat saya, yaitu di Kejang lama dan ada lagi di Senggarang. Jadi di Senggarang itu, kira-kira bisa 17 kilo perjalanan ke sekolah. Jadi transportasi kami, masih dalam kendala transportasi. Jadi kemarin, 2 kali jemputan pak, bu. Jadi dari pagi sampai itu nyampe setengah sembilan, jadi anak baru bisa masuk belajar. Efektifitas untuk belajar kurang, begitu ya, pak, bu. Jadi itu.
Yang kedua mungkin, implementasi undang-undang tentang penyandang cacat di daerah belum berjalan sebagaimana mestinya.
Yang ketiga, mungkin itu pendidikan inklusi, yaitu pendidikan inklusi di Tanjung Pinang belum berjalan juga. Saya juga mengimbau, mungkin ada kami mengajar anak autis. Anak autis itu pernah disekolahkan ke SD normal tetapi kendalanya guru-guru di SD normal tidak bisa menangani anak autis. Jadi kami pun kendalanya untuk yang guru PLB ini untuk ke SD atau pergi ke sana, sedangkan guru di SLB itu sendiri kurang. Karena apa? Di SD saya 180 murid, dengan gurunya itu kira-kira 37 guru.
Saya sendiri, pengalaman saya mengajar anaknya 9 orang, 9 orang menghadapi anak luar biasa yaitu tuna grahita, ada yang hiperaktif, ada yang hipo, hipo itu ya duduk tenang, manis bisa. Tapi yang hiperaktif ikut kemana aja harus duduk kita, suruh dia duduk, nanti pindah lagi, jalan lagi, jalan lagi. Jadi itulah perjalanan hidup saya, memang saya istilahnya masih muda untuk menjalani hidup, mungkin yang kawan-kawan yang lebih lama lagi.
Tapi saya itu suatu kebanggaan menjadi guru SLB. Saya bangga menjadi guru SLB. Karena apa? Di sekolah di Tanjung Pinang hanya satu di kota Tanjung Pinang satu guru sekolahnya. Jadi saya bangga, saya mau majukan di kota Tanjung Pinang. Jadi saya dulu kuliah di UNP, Pak. UNP itu Universitas Negeri Padang, kenapa saya mau ambil itu, jasa para guru SLB itu sangat besar, jadi saya mau mengabdi di sana, terima kasih. Hanya itu yang dapat saya sampaikan.
Wassalamualaikum Wr.Wb.
Mendiknas
Terima kasih. Saya persilakan Ibu.
Ibu Negara
Baik, ada dua penanya: Bapak Laode Boge dari Muna, Sulawesi Tenggara yang menceritakan tentang kondisi tempat bapak bertugas, yaitu di mana jalanannya bergelombang, begitu, sehingga pada kerendahan tempat, jalanan itu terendam dengan air, mengalami kendala ketika mau belajar. Perjuangan tersendiri dari Bapak Laode Boge untuk bisa datang ke sekolah. Setelah datang ke sekolah pun, bapak mengalami suatu kendala, karena bapak tadi mengatakan 90% dari penduduk yang berada di wilayah bapak, petani yang tidak mendapatkan pendidikan, sehingga orangtua tidak mempunyai wawasan pendidikan, bahkan tidak mendorong putra-putrinya untuk bersekolah. Ini terbukti dengan anak-anak itu sendiri tidak mempunyai semangat untuk bersekolah. Kalau sudah kelas 6 SD selesai, yang perempuan menikah, yang laki-laki mungkin membantu bapaknya bertani, begitu mungkin bapak ya. Jadi tentu saja ini sangat disayangkan.
Tetapi saya ingin bertanya, bapak kan mengajar di sekolah SD, sekolah SMP ada, bapak? Jadi tidak ada. Jadi betul-betul hanya sekolah SD. Berapa 1 wilayah Bapak itu, berapa KK-nya, keluarganya? Tadi mengatakan 90%, kira-kira berapa orang itu? 200 KK, jadi 90% dari 200 KK itu yang tidak sekolah. Jadi memang tidak ada SMP di situ bapak. Kalau dia mau bersekolah SMP, berarti harus pindah atau harus pergi ke daerah yang lebih jauh lagi. Jadi SMP satu atap dengan SD, begitu. SD di situ, ada SD-nya kemudian SMP-nya. Berganti shift atau tidak? Berganti? Artinya pagi pakai SD, siang pakai SMP atau? Oh, ada gedung tersendiri. Baik kalau begitu.
Jadi, bapak hanya ingin menyampaikan bahwa anak-anak di sana itu tidak bisa dikerasi karena memang tidak pernah ada dorongan yang kuat dari keluarganya untuk bisa, untuk belajar sehingga mendapatkan pendidikan yang lebih tinggi lagi, tidak ada keinginan dari orang tuanya. Saya ingin bertanya bapak, apakah para pejabat di daerah sering memperhatikan di daerah sana, maksud saya mungkin camat, mungkin lurah, mungkin pak bupati? Pernah sampai nggak ke sana?
Laode Boge, Guru Daerah Khusus
Kalau dari kecamatan memang ada, bu, tapi hanya itu. Tanggapan dari masyarakat kurang.
Ibu Negara
kalau pejabat datang?
Laode Boge, Guru Daerah Khusus
Datang juga, seperti pengawas, pengawas sekolah datang ke sana. Tapi itu tanggapan masyarakat yang kurang.
Ibu Negara
Kalau begitu memang ini adalah keprihatinan kita bersama, saya minta bapak jangan pernah menyerah, jangan pernah putus asa melihat anak-anak yang seperti tadi bapak katakan, kalau dikerasin malah mogok. Jadi nggak mau belajar malahan, jadi barangkali bisa dicarikan metode-metode baru, bapak. Mungkin dengan alat-alat peraga yang lebih menarik, barangkali seperti itu sehingga anak-anak bisa lebih semangat lagi untuk belajar. Saya ingin bertanya lagi, apakah di tempat bapak ada perpustakaan?
Laode Boge, Guru Daerah Khusus
Sementara dibangun, bu, gedungnya.
Ibu Negara
jadi belum ada perpustakaannya. Baik, kalau misalnya nanti sudah ada perpustakaannya, tolong saya diberi kabar. Nanti akan kami kirimkan buku-buku ke tempat bapak. Mungkin juga barangkali ada alat-alat peraga lain, agar supaya anak-anak lebih tertarik untuk belajar. Mungkin metode pelajaran yang menurut dia membosankan, mungkin ya. Itu yang membuat mereka tidak mau belajar ya. Jadi barangkali bisa dicatat Ibu Oke, kalau misalnya nanti sudah ada lokalnya untuk perpustakaan, akan kita kirimkan buku-buku yang barangkali bisa lebih menarik, sehingga mereka mau belajar dengan sungguh-sungguh.
Yang kedua, bapak mengatakan pengen menikmati kondisi seperti di kota, jadi ada hiburan, ada televisi. Jadi rupa-rupanya tempat itu belum ada listrik ya? Baik, saya sendiri tidak tahu bapak ya, kalau tentang listrik ini tentu saya akan menyampaikan saja. Jadi menyampaikan kepada yang berwenang untuk itu, karena saya tidak mengetahui mengapa kok di tempat bapak belum ada listrik begitu. Karena terus terang saja listrik di seluruh Indonesia memang kekurangan, bapak.
Saya juga mendengar dari daerah lain, daerah lain juga ada yang masih belum teraliri listrik. Tapi mungkin kalau misalnya, bisa melalui Bapak Mendiknas. Jadi disampaikan kepada yang berwenang, kalau misalnya hanya sedikit saja keluarga itu, kemudian bisa penerangan dalam bentuk lain, mungkin mikro, hidro, atau yang lain barangkali atau genset ya, genset juga bisa. Kalau surya?
Baik, bapak, pesan bapak saya sampaikan lewat Bapak Mendiknas kepada yang berwenang. Kenapa kok di tempat bapak belum ada listrik, saya juga tidak mengerti, apakah terlalu jauh sekali dari pusatnya atau barangkali sangat terpencilnya, sehingga memang dianggapnya tidak ekonomis kalau ada listrik di sana. Tetapi tentu saja harusnya ada solusi, harusnya ada jalan keluarnya. Kalau tidak bisa sambungan dari kota, barangkali yang ada bisa dilakukan atau sumber listrik tersendiri di situ. Kita serahkan kepada Bapak Muhammad Nuh.
Kemudian ada yang kedua, Ibu Vera. Ibu Vera mengatakan, cerita tentang sebagai guru PLB mengatakan bahwa yang menjadi kerepotan ada 2 sekolah jaraknya 17 kilo begitu, kepala sekolahnya hanya satu, muridnya banyak, gurunya sedikit. Ibu mengajar atau memegang 9 orang anak yang hiperaktif dan hipoaktif, yang hiperaktif ini yang kadang-kadang menyulitkan buat ibu. Ibu masih muda, perlu kesabaran yang lebih lagi, belajar, dengan cara demikian ibu sebetulnya sudah belajar yang juga luar biasa. Saya memberikan apresiasi yang luar biasa kepada ibu yang masih muda tetapi mau berdedikasi di sekolah yang luar biasa pula.
Ibu mengatakan bahwa undang-undang penyandang cacat belum dijalankan. Bapak mengerti undang-undang penyandang cacat?
Mendiknas
Ya, tidak begitu paham.
Ibu Negara
Saya juga tidak begitu paham ibu. Undang-undang penyandang cacat itu seperti apa ya kira-kira?
Mendiknas
Itu salah satu di antaranya memang mengenai akses ke fasilitas-fasilitas umum. Itu harus disiapkan. Terus juga kalau dikaitkan dengan undang-undang tenaga kerja, mereka lulus juga ada kesempatan untuk bekerja dan seterusnya.
Ibu Negara
Baik, apa itu yang dimaksud? Baik, jadi akses untuk anak-anak yang menyandang handicap seperti itu belum diperhatikan, begitu ya? Yang pertama. Yang kedua, mungkin lulusan dari situ bisa diterima bekerja di tempat lain, apakah itu? Karena saya belum membaca secara utuh mengenai undang-undang penyandang cacat ini. Apa yang itu, ibu? Betul ibu ya? Barangkali bisa diperjelas lagi yang dimaksud ibu.
Vera Wirdayani, Guru Daerah Khusus
Ya ini pertanyaan saya mewakili kawan-kawan. Ini pertanyaan dari kawan-kawan juga, bahwa implementasi undang-undang tentang penyandang cacat yang ibu maksud tadi belum terealisasi di daerah-daerah.
Ibu Negara
Ya termasuk yang tadi ya, bagaimana lulusannya untuk bekerja. Baik kalau begitu, begini bu, memang sudah ada suatu imbauan, bahkan suatu anjuran begitu ya, setiap pengusaha atau perusahaan itu harus menerima anak-anak yang dengan kategori handicap tadi. Tetapi tentu saja ada persennya, kalau tidak salah 1% atau 10%. 1% dari seluruh tenaga kerja yang diterima oleh perusahaan itu harus menerima mereka yang mempunyai handicap. Tapi handicap seperti apa yang bisa diterima tentu saja yang sesuai dengan pekerjaannya. Kalau misalnya tidak sesuai, ya mereka, barangkali harus las ya, mengelas itu kan mata harus terbuka. Kalau dia handicap nya ada pada kaki, mungkin masih bisa dia ngelas.
Tapi kalau dia handicap nya adalah mata tidak bisa melihat, bekerja pada tukang las, ya tentu saja tidak bisa. Jadi harus sesuai. 10% setiap pegawai di perusahaan itu harus bisa menerima mereka-mereka yang handicap. Tapi tentu seperti yang tadi saya sampaikan, mereka harus sesuai dengan kapasitasnya ya. Sesuai dengan handicap nya itu yang tadi saya sampaikan, yang memungkinkan. Jadi seperti itu yang ibu maksud?
Vera Wirdayani, Guru Daerah Khusus
Iya bu, terima kasih. Yang pertama tadi bu, masalah transportasi mungkin di SLB itu bisa disediakan untuk transportasi. Itu misalnya kayak mobil antar jemput anak. Karena di Tanjung Pinang itu rata-rata anaknya itu ya gimana ya bu, kalau misalnya transportasinya itu dipungut biaya, kan kita sekarang karena nggak ada transportasi udah berapa tahun di SLB situ, transportasinya nggak ada, jadi pungut biaya bu. Jadi orangtua keberatan bu. Jadi kebanyakan anak SLB itu, yah kalau nggak ada itu, ya banyak yang nggak sekolah gitu.
Ibu Negara
Baik, saya anjurkan kepada Ibu Vera, coba hubungi Pemda-nya karena kalau dari pusat tentu saja tidak memungkinkan seperti itu. Tetapi juga ke pemda, karena itu harusnya perhatian dari pemda. Pernah nggak mencoba ke pemda? Sudah? Jawabannya?
Vera Wirdayani, Guru Daerah Khusus
Alhamdulilah, maaf, mohon ijin, dia bahwa bulan Juli kemarin kami sudah dapat tapi satu, bu. Itu pun masih kurang bu, karena anaknya kan banyak, gitu, maksudnya gitu.
Ibu Negara
Baik, pemda juga barangkali juga, maksudnya kemampuannya dari pemda itu. Jadi barangkali hanya saya bisa menjawab seperti itu ya. Coba dihubungi pemda atau barangkali carilah donatur-donatur yang ada di sekitar itu.
Vera Wirdayani, Guru Daerah Khusus
Sudah, kami kemarin mungkin juga mengadakan pentas seni. Kami mendapatkan dana 104 juta kalau nggak salah saya, itu makanya kami belikan mobil satu lagi untuk transportasi anak. Tapi ya namanya anaknya terlalu banyak, masih kurang juga. Orangtua itu kebanyakan mau antar jemput.
Ibu Negara
Baiklah, itu saya berikan jalan seperti itu. Jadi hubungi pemda. Barangkali ada donatur-donatur yang ada di tempat ibu. Ibu tadi sudah mengatakan sudah terkumpul uang barangkali, mungkin tinggal menambah sedikit lagi untuk bisa menambahnya. Bisa berarti bolak-balik ibu ya. Baik kalau begitu ibu, saya kira mungkin undang-undang penyandang cacat sudah saya jawab.
Kemudian pendidikan inklusi tadi sudah saya sampaikan juga kepada bapak, tentang autis tadi. Tentang kendaraan juga saya sudah memberikan solusinya. Saya persilakan lagi bapak.
Mendiknas
Terima kasih, bu. Kami undang berikutnya lagi, monggo. Mohon disampaikan dari mana.
Saguni, Guru Daerah Khusus
Bismilahirrahmanirrahim,
Assalamualaikum Wr. Wb.,
Yang saya hormati Ibu Negara sekaligus pembina SIKIB Nasional,
Yang saya hormati Bapak Menteri Pendidikan Nasional,
Dan ibu-ibu SIKIB yang saya banggakan,
Pertama-tama, ijinkanlah saya untuk memperkenalkan diri. Nama saya Sabeni, asal dari Kabupaten Sumbawa, NTB. Saya mengajar di SDN Poso, Kecamatan Orong Telu, Kabupaten Sumbawa. Di sana saya mengajar dari tahun 1999 sejak diangkat sampai hari ini. Kemudian mungkin jarak dari kota, pak, tidak terlalu jauh, cuma saya terus terang tidak bisa nyampe dalam satu hari, bu.
Yang ingin saya sampaikan kepada ibu, terus terang pendidikan di tempat saya sangat terbelakang dan daerah saya ini selama dari dulu-dulu dianggap oleh pemerintah daerah sebagai daerah buangan. Jadi saya dan teman-teman di sana, bagaimana cara saya untuk menghilangkan hal-hal ini, sehingga saya memeras pikiran dan tenaga membuat daerah itu menjadi kecamatan, sehingga lambat laun kesenjangan itu mungkin bisa hilang.
Kemudian di daerah tempat saya mengajar, muridnya cuma sedikit, bu. KK nya sekitar 40 KK. Tetapi terus terang, bu, saya tidak menuntut gaji yang banyak, saya tidak menuntut insentif yang banyak. Tetapi bagaimana caranya ibu untuk memberi mereka fasilitas anak-anak miskin yang tertinggal. Terus terang bu, saya bangga, saya bisa merasakan penderitaan mereka. Walau setiap hari saya tersenyum, saya tertawa, tetapi sesungguhnya di dalam hati saya menjerit, saya menangis. Karena apa? Mereka-mereka yang ada di sana belum bisa menikmati indahnya kemerdekaan ini. Ini yang sebenarnya terjadi.
Kami terus terang, selain pemikiran dan tenaga, terus terang saya tidak berdaya, bu, untuk memberi mereka fasilitas, untuk menuntut pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi karena mereka itu rata-rata orang miskin.
Di sana biasanya murid-murid pada waktu tertentu diajak oleh ibu-ibunya untuk mencari nafkah, untuk menutupi kebutuhan keluarga. Jadi untuk menuntut ke jenjang yang lebih tinggi, mencari pendidikan yang lebih baik sangat sulit, bu. Jadi harapan saya, bagaimana ibu bisa memberi akses mereka pendidikan yang gratis, tempat yang gratis untuk memperoleh pendidikan yang lebih baik di daerah-daerah kota. Memang selama ini bapak dan ibu sudah menyatakan pendidikan ini gratis. Tetapi yang lebih mahal di kota itu biasanya tempat tinggal, sewa kos itu yang lebih mahal. Kadang-kadang inilah yang membuat mereka putus sekolah, bu.
Mungkin saya bersama teman-teman untuk memajukan pendidikan di daerah ini sudah berjuang sekuat tenaga kami, semampu pemikiran kami. Seperti yang Bapak Menteri katakan tadi bahwa uang yang ada di tabungan kami kalau tidak salah 8 juta lebih, untuk tidak dipakai, untuk memancing. Tetapi terus terang sepulang saya dari sini sebagian dari uang itu, saya ingin membangun SD kolaborasi untuk mempercepatkan peningkatan mutu pendidikan di daerah saya, dan untuk mengatasi kekurangan guru dan mengatasi ketidakmampuan guru terhadap materi ajar masing-masing.
Mungkin terus terang pak, sepulang dari sini akan saya bangun itu walaupun akan beratap daun lontar, atau daun apapun, karena sebenarnya saya mengharapkan sekolah yang baik, tapi mendapat fasilitas yang baik.
Tetapi SIKIB kemarin perkenalkan kepada kami bahwa di bawah pohon mangga pun bisa terjadi interaksi pembelajaran. Jadi saya merasa malu bu, walaupun akan beratap daun, saya akan membangun SD Kolaborasi karena ada beberapa SD ingin bergabung dengan saya untuk bersama-sama mengatasi kekurangan mutu pendidikan di daerah saya. Mungkin sekedar ini yang dapat saya sampaikan, bu.
Wabilahitaufiq walhidayah,
Wassalamualaikum Wr.Wb.
Mendiknas
Terima kasih. Dan berikutnya lagi, iya.
Yusnarlis, Guru Daerah Khusus
Assalamualaikum Wr. Wb.,
Yang saya hormati Ibu Negara Republik Indonesia,
Yang saya hormati Ibu Herawati,
Yang saya hormati Bapak Menteri Pendidikan Nasional,
Yang saya hormati Ibu-ibu SIKIB,
Bapak-bapak, para hadirin dan teristimewa bapak dan ibu Guru Gudacil senasib dan seperjuangan,
Bapak ibu, saya akan memperkenalkan nama saya Yusnarlis. Saya berasal dari Mentawai. Kemudian, SD atau tempat saya bertugas, yaitu sekarang di SD 20 Mara, Kecamatan Sipora, Kabupaten Kepulauan Mentawai, Provinsi Sumatera Barat. Sedikit tentang Mentawai, sejarah saya dulu sekolah bu ya, saya dulu tahun ‘77 karena mungkin pendidikan di situ SMP-nya nggak ada, kebetulan ada yayasan. Saya sekolah di yayasan, masuk asrama panti asuhan anak Mentawai, kalau nggak salah dulu yayasan yang membiayai Dharmais, itu dari mendiang Ibu Tien Soeharto.
Di sana kami disekolahkan sampai tamat SPG gitu. Kemudian ada tes di Pariaman, kebetulan waktu itu masih di Kabupaten Padang Pariaman, Mentawai di Pariamannya. Saya lulus pada tahun ‘83 dan sekarang saya mengambil di daerah saya sendiri, pak.
Mentawai mungkin bapak dan ibu ada yang nggak tau, Mentawai itu ada di tengah laut, Laut Sumatera, yaitu di Sumatera Barat, dengan luas 6.100,35 km bujur sangkar. Di situ ada empat pulau yang besarnya, yaitu Sipora, Siberut, Pagai Utara dan Selatan. Saya berada di Sipora.
Di dalam saya bertugas, bapak, dalam bertugas yang saya hadapi di sana, karena pendidikannya, karena pendidikan, SDM-nya rendah, kalau ke sekolah sering itu bu, tiap hari ada saja anak yang tidak hadir. Tapi kami sebagai guru selalu menjemput ke rumah, tahu-tahu sampai di rumah, ditanya, “Kenapa kamu ndak sekolah Nak?” “Bu, saya mengasuh adik.” Itu karena rendahnya.
Jadi sekarang, saya mohon atau harapan kami kepada bapak dan ibu untuk meningkatkan mutu pendidikan. Kami berharap fasilitas, sarana dan prasarana sekolah, terutama sekali di Mentawai, itu sangat kurang, bapak ibu, terutama kelas. Masih ada kelasnya yang rombelnya belum lengkap. Kemudian sarana pustaka tidak ada sama sekali. Berikutnya, kemudian tenaga pendidiknya, bu, guru olahraga, yaitu guru bidang studi atau guru agama Islam, Kristen maupun Katolik, itu sangat-sangat kurang. Mungkin kalau dihitung untuk Kabupaten Kepulauan Mentawai, ya sekitar di bawah sepuluhan lah pak. Jadi harapan kami untuk menambah tenaga pendidik.
Saya kira itu yang dapat saya sampaikan, bapak ibu. Terima kasih atas fasilitas dan penghargaan yang telah bapak berikan kepada kami, yang mana sampai saat ini, yang mana sekarang ini kami berada di sini dengan, rasanya tidak pernah bermimpi, pak, untuk sampai ke sini. Tapi dengan penghargaan yang ibu dan bapak berikan kepada kami, akhirnya kami sampai juga di sini.
Mudah-mudahan untuk tahun-tahun berikutnya ada juga seperti ini, untuk memotivasi teman-teman kami yang ada di daerah-daerah terpencil. Itu harapan kami. Sekali lagi, bapak dan ibu, kami mengucapkan terima kasih.
Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.
Ibu Negara
Baik, jadi ada dua penanya, Bapak Saguni dari Sumbawa yang mengatakan bahwa di tempat Bapak ada 40 KK. Dari 40 KK itu, berapa muridnya, ada berapa anak yang bersekolah?
Saguni, Guru Daerah Khusus
Sampai hari ini 33 orang.
Ibu Negara
33 orang, kelas berapa itu?
Saguni, Guru Daerah Khusus
Dari kelas 1 sampai kelas 6.
Ibu Negara
Jadi dari kelas 1 sampai kelas 6. Sedangkan sekolah yang bapak dirikan, sekolahnya bapak ini, statusnya SD atau bukan?
Saguni, Guru Daerah Khusus
Statusnya SD Negeri, bu.
Ibu Negara
SD Negeri? Baik, kalau begitu ya. Jadi bapak mengatakan bahwa banyak sekali yang putus sekolah, karena mereka juga tidak punya semangat untuk belajar, begitu. Tetapi bapak tetap bersemangat untuk mengajar, bahkan bapak mengatakan uang pancingan dari BRI tadi ingin dibuat sebuah lokal SD kolaborasi dengan SD-SD yang lain, maksudnya seperti begitu. Sekarang di mana sekolahnya?
Saguni, Guru Daerah Khusus
Begini, bu, di desa tempat saya itu ada beberapa SD yang kekurangan guru. Selama ini kami berkolaborasi, saya umpamanya mendatangkan SD-SD lain untuk membina terutama olahraga, biasanya saya bina seperti itu. Syukur alhamdulilah prestasinya cukup lumayan. Tetapi kalau kalau masalah bidang akademik, terus terang kami masih kurang. Karena apa? Kami di sekolah hanya membina satu kelas, bahkan dua kelas oleh satu orang guru.
Ibu Negara
Baik, jadi sebetulnya yang kurang adalah tenaga pendidiknya. Tapi kalau 33 orang, berapa dibutuhkan tenaga pendidik? Biasa 1 kelas kan 45 orang. Nah, ini 33 bagaimana? Apa berarti satu guru mengajar satu orang?
Saguni, Guru Daerah Khusus
Begini bu, biasanya mungkin orang-orang mengatakan kalau muridnya sedikit, mengajarnya gampang sekali. Tetapi terus terang, bu. Muridnya sedikit dengan yang banyak itu pengeluaran ATK-nya sama saja, bu. Bahkan lebih bergairah mereka yang banyak muridnya. Jadi saya bersama teman-teman ingin menggabungkan terutama Kelas 6, Bu, untuk membina akademiknya, untuk mempercepat mutu pendidikan di situ.
Ibu Negara
Baik, baik, jadi sebetulnya dua problem yang berbeda, karena tadi bapak mengatakan 33 orang katanya kekurangan guru pendidik. Padahal setahu saya kalau guru pendidik itu, satu saja mengajar 45 orang satu kelas. Jadi sebetulnya ini adalah satu problem yang berbeda, mungkin nanti saya minta bapak yang menjawab. Karena ini kan berarti 33 orang itu disvarietas ya, ada kelas 1, kelas 2, kelas 3, kelas 4 kan begitu ya. Jadi bisa bermacam-macam. Nah, sekarang bapak ingin mengkolaborasikan agar mereka menjadi satu sekolah, itu masalahnya.
Tapi kalau bapak sendiri sebetulnya sudah cukup, begitu. Baik, kalau begitu, nanti biar bapak yang menjawab tentang hal ini ya, karena ini dua hal yang berbeda, karena bapak ingin membangun baru, kan begitu. Ingin membangun gedung baru.
Kalau bapak tadi mengatakan bahwa biar pakai atap rumbia, nah sekarang sekolah yang bapak bina ini pakai atap apa?
Saguni, Guru Daerah Khusus
Atapnya seng, bu.
Ibu Negara
Atap seng, nah itu atap seng. Kenapa mau ganti pakai atap rumbia?
Saguni, Guru Daerah Khusus
Soalnya begini, bu. Saya bersama teman-teman, karena terbelakangnya pendidikan di daerah itu, bagaimana caranya kami berkolaborasi, bekerjasama untuk, mungkin saya sendiri, bu, ya, memegang Kelas 6, ada satu hal mungkin yang bidang studinya tidak begitu mahir. Tetapi dengan bersama teman-teman, umpamanya saya pegang tiga mata pelajaran, mungkin hanya satu.
Ibu Negara
Baik, tapi apakah tidak bisa salah satu gedungnya, jadi tempat bapak yang dipakai atau tempat teman bapak yang dipakai?
Saguni, Guru Daerah Khusus
Kalau salah satu gedung itu bisa saja, bu, tetapi ada sekolah-sekolah yang jadi korban. Kalau seperti itu mungkin di sekolah saya akan datang teman-teman ke sekolah saya untuk membawa muridnya, umpamanya Kelas 6, tetapi sementara mereka juga punya sekolah seperti saya. Jadi kami ingin tempatkan semacam pondok, begitu bu, untuk betul-betul mengatasi itu.
Ibu Negara
Baik bapak, biar Bapak Mendiknas yang menjawab, saya nggak bisa menjawab masalah itu. Ibu Yusnarlis tadi mengatakan bahwa di Mentawai SDM-nya sangat rendah ya, kalau misalnya anak sering sekali satu hari ini, pasti saja ada anak yang nggak sekolah. Ibu tanyakan ternyata mereka mengasuh adiknya. Ya memang ini harus diberikan pengertian terus-menerus kepada orangtua. Orangtuanya kemana kalau dia mengasuh adiknya?
Yusnarlis, Guru Daerah Khusus
Ke ladang, bu, cari makanan.
Ibu Negara
Oh ke ladang, oh begitu, baik, cari makan atau ke ladang ya. Nah, ini juga suatu masalah yang dialami juga.
Yusnarlis, Guru Daerah Khusus
Insya Allah sekarang, bu, sudah berkurang untuk ijin itu, maksudnya, sudah tidak menjadi masalah.
Ibu Negara
Sudah tidak menjadi masalah, baik, kalau begitu kalau sudah tidak jadi masalah ya alhamdulilah, jadi nggak perlu saya jawab lagi. Begitu ya bu, ya. Ibu hanya mengatakan di Mentawai sekarang kekurangan guru, guru olahraga, guru agama, itu yang paling sulit. Saya hanya bisa menyampaikan kepada Bapak Mendiknas untuk bisa menjawabnya, silakan, bapak.
Mendiknas
Terima kasih, ibu. Atas seijin ibu, kami ingin menambahkan. Satu, yang tadi ada sekolah-sekolah kecil yang jumlahnya 30 berarti kira-kira setiap kelas itu ada lima orang-lima orang mau dikolaborasikan dengan sekolah yang ada di desa yang lain, di kampung yang lain, supaya ramai dan supaya suasananya bisa bersemangat. Karena memang betul kalau belajar itu hanya tiga, empat orang, yang diajarin juga kurang sreg, yang ngajarin pun kurang sreg.
Tetapi sekali lagi ngajar dan, belajar-mengajar tidak boleh sreg dan sregnya itu tergantung dari jumlah murid, tidak boleh. Oleh karena itu, bapak, punya tantangan tersendiri, ada ilmunya tersendiri, ngajar orang 40 dan ngajar lima anak itu ada ilmunya sendiri.
Insya Allah kalau bapak terus-menerus meningkatkan kemampuan untuk meningkatkan bagaimana mengajar pada anak-anak yang khusus dan yang 4, 5 orang, itu nanti tidak harus melakukan kolaborasi dalam bentuk setiap hari mereka harus bergabung, tidak harus begitu. Tetapi ada momen-momen tertentu yang mereka bisa diajak bersama-sama, misalkan setiap bulan mereka bisa bersilaturahmi, belajar bersama dari satu desa ke desa yang lain, gurunya pun juga berpindah dari satu tempat ke tempat yang lain. Itu pun juga bisa dilakukan dan tidak harus membangun satu fasilitas baru, kecuali memang untuk kepentingan, untuk keperluan yang baru.
Saya kira esensinya adalah kita belajar memahami psikologis dari anak yang jumlahnya 4, 5 orang itu, bagaimana metode belajar-mengajar dengan itu. Mestinya dengan jumlah yang relatif kecil bisa lebih intensif, lebih akrab dan seterusnya. Mungkin bisa jadi yang ngajar yang agak bosan itu, biasanya begitu, biasanya begitu. Oleh karena itu, kami sangat yakin bapak bisa terus-menerus belajar meningkatkan kemampuan dalam psikologis mengajar di jumlah siswa yang relatif sedikit itu. Itu satu.
Kalau yang Mentawai, ibu, memang dan di daerah-daerah lain memang khas dari daerah-daerah yang khusus ini, infrastruktur, Ibu. Infrastruktur ini sangat terbatas, baik dari infrastruktur sekolahnya sendiri maupun infrastruktur pendukung ke sekolah itu. Misalkan saja jalan, dan seterusnya. Tetapi kami sangat yakin semangat ibu-ibu tidak boleh turun dan kami pun juga bertekad bersama-sama dengan pemerintah daerah untuk segera beresin infrastruktur-infrastruktur dasar yang ada di daerah-daerah yang khusus tadi. Mudah-mudahan di tahun 2010, 2011, kemampuan kita untuk membangun minimal persyaratan minimal itu bisa kita penuhi.
Untuk guru secara umum jumlah guru kita itu relatif sudah berlebih sebenarnya dan secara nasional kita itu, guru kita sudah sangat sangat mewah. Mestinya satu guru itu paling tidak untuk 20, 30 orang, tetapi untuk guru-guru kita secara nasional itu, SMP itu 2 terbaik di Asia, itu terbaik dari sisi jumlah. Untuk SD kita nomor 4 terbaik, artinya sudah sangat luks, sangat mewah dari sisi jumlah.
Memang yang menjadi persoalan adalah distribusinya, ibu. Adakalanya sama-sama di Provinsi Sumbar, Sumatera Barat, itu mungkin di kota Padang berlebih, atau di kabupaten tertentu, sama-sama di Kabupaten Mentawai, mungkin di kabupaten kotanya itu berlebih. Tetapi yang ada di desa tertentunya itu yang bekurang. Oleh karena itu, kami bersama-sama dengan Kementerian Dalam Negeri, kantor Menpan, untuk meredistribusi ini, karena kalau setiap kekurangan di desa tertentu kita angkat-kita angkat, memang nanti yang ada di perkotaan ini justru tugas atau volume tugasnya malah berkurang. Oleh karena itu yang bisa kita lakukan adalah mendistribusikan guru-guru yang ada di tempat-tempat yang berlebih itu.
Insya Allah termasuk guru olahraga, itu bisa disiapkan guru agama. Apalagi kalau di Sumatera Barat, saya kira tidak harus menunggu S1 dulu, banyak yang sudah bisa mengaji dan sebetulnya bisa juga menutupi itu.
Demikian ibu yang bisa kami sampaikan, sekali lagi mengingat waktu kami ingin menyampaikan penghargaan dan terima kasih kepada Ibu Negara, kepada Ibu Herawati Boediono dan kepada Ibu-ibu SIKIB, kepada ibu-ibu yang sudah dari jauh sebagai pahlawan bangsa. Alhamdulilah, insya Allah besok kita akan masih punya acara lagi. Terima kasih, sekali lagi kami mohon maaf kalau ada khilaf.
Wassalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.
*****
Biro Pers dan Media
Rumah Tangga Kepresidenan
