


Jakarta, Jumat, 27 Agustus 2010
TRANSKRIPSI
SAMBUTAN IBU NEGARA REPUBLIK INDONESIA
PADA ACARA
HARI ULANG TAHUN Ke-2 CITA TENUN INDONESIA (CTI)
JAKARTA, 27 AGUSTUS 2010Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh,Selamat pagi dan salam sejahtera buat kita semua,
Yang saya hormati dan saya cintai, Ibu Herawati Boediono,
Yang saya hormati Menko Perekonomian Republik Indonesia, Bapak Hatta Rajasa,
Yang saya hormati Wakil Ketua MPR RI, Ibu Melani Suharli,
Yang saya hormati para Duta Besar negara sahabat dan para istri Duta Besar negara sahabat,
Yang saya hormati Gubernur DKI Jakarta beserta Ibu Tati Fauzi Bowo,
Yang saya hormati dan saya cintai ibu-ibu yang tergabung dalam Solidaritas Istri Kabinet Indonesia Bersatu,
Yang saya hormati ketua dan para pengurus Cita Tenun Indonesia, para desainer, para pemerhati, pencinta tenun Indonesia.
Hadirin yang berbahagia dan tak lupa pula para Direktur Utama dari BUMN,
Sekali lagi hadirin yang berbahagia,
Pertama-tama, saya juga mengajak hadirin sekalian, marilah kita memanjatkan puji dan syukur ke hadirat Allah SWT, karena atas rahmat dan ridho-Nya-lah maka pada hari ini kita dapat berkumpul di tempat ini untuk bersama-sama melakukan kegiatan yang bertujuan untuk melestarikan warisan budaya nusantara, khususnya tenun Indonesia.
Acara yang dikemas dengan baik dan diberi judul “Pesta Tenun” persembahan Cita Tenun Indonesia Ini merupakan bukti nyata kiprah CTI yang baru berusia dua tahun. Acara ini juga sekaligus akan dimanfaatkan untuk meluncurkan buku yang diberi judulTenun: Handwoven Textiles of Indonesia, sebagai media edukasi dan proteksi bagi tenun Indonesia seperti apa yang tadi telah disampaikan oleh Ibu Sari Hartanto Wibowo.
Hadirin sekalian yang berbahagia,
Masih dalam suasana Hari Ulang Tahun Kemerdekaan Republik Indonesia ke-65 yang juga bertepatan dengan bulan suci Ramadhan, saya mengajak segenap Hadirin sekalian untuk meningkatkan rasa kesetiakawanan dan kegotongroyongan antar sesama. Mari kita manfaatkan hari-hari yang penuh barokah ini untuk mengintrospeksi diri dan sekaligus memberikan perhatian serta berbagi cinta kepada orang lain yang membutuhkan. Menyayangi dan memperhatikan sesama saudara sebangsa adalah juga bagian dari ibadah dan sekaligus bentuk nyata dari rasa nasionalisme. Dengan demikian, semoga ibadah puasa kita menjadi lebih bermakna.
Dan selanjutnya pada kesempatan yang amat baik ini, saya juga mengimbau kepada kita semua, khususnya para ibu, untuk lebih bijak dalam mengelola keuangan menjelang hari raya. Jangan sampai karena salah perhitungan. Pasti bapak-bapak ketawa, karena semua sudah dipasrahkan kepada ibunya. Jadi saya mengatakan kepada ibu-ibu untuk lebih bijaksana dalam mengelola keuangan. Jangan sampai karena salah perhitungan, buka puasa biasanya maunya makan yang enak-enak kemudian belanja tidak dibatasi, setelah lebaran tahu-tahu tekor, dan timbul penyesalan. Penyesalan itu pasti timbulnya belakangan, nggak mungkin penyesalan itu timbul di depan. Tentu saja saya berharap yang wajar-wajar saja, membeli sesuai kebutuhan, bukan menghabiskan uang sesuai keinginan. Keinginan itu sifatnya tidak terbatas dan belum tentu berguna.
Hadirin yang berbahagia,
Tadi sebelum ke tempat ini, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono menitipkan salam kepada kita semua, kepada hadirin sekalian, khususnya para penggerak dan pengurus CTI. Presiden menekankan pentingnya revitalisasi tenun, agar secepatnya dapat mengejar prestasi batik Indonesia yang sudah diakui oleh dunia. Tenun sejatinya memiliki semua persyaratan untuk mendunia sekarang ini. Tinggal bagaimana kita memaksimalkan keunggulan dan keunikan produk tenun, menjadimasterpiecedan karya seni agung.
Perlu saya ingatkan kembali bahwa Indonesia adalah negara kepulauan terbesar di dunia, terdiri lebih dari 17.600 pulau, dengan 491 ras dan 567 dialek. Selain itu, terdapat beragam keanekaragaman seni budaya dan kekayaan sumber daya alamnya.
Indonesia juga merupakan salah satu negara dengan ragam tenun terbanyak di dunia, di mana populasi pengrajin kita tersebar di 33 provinsi. Dari tiap daerah dihasilkan aneka ragam corak tenun ikat dan tenun songket, sesuai dengan budaya dan sejarah masing-masing. Hal itu memperlihatkan variasi yang kaya dan indah. Kita kenal ada Tenun Ikat dari Palembang, ada Kain Endek dari Bali, Kain Tenun Donggala dari Sulawesi Tengah, Tapis dari Lampung, Ulos dari Batak, Lurik dari Yogyakarta, Kain Tenun Timor atau kadang-kadang disebut juga dengan Tais, baik Timor maupun NTT sering berfungsi sebagai selendang maupun selimut dan bahkan juga sarung.
Di masa lalu, tenun tradisional merupakan salah satu produk unggulan bangsa yang kaya akan motif, warna serta mempunyai nilai historis dengan ciri khas masing-masing daerah. Sesuai dengan perkembangannya, saat ini tenun mempunyai kegunaan atau fungsi yang beragam. Selain untuk acara-acara adat, tenun juga digunakan pula untuk busana, dekorasi rumah, kantor, sampai dengan alas kaki, sepatu dan tas dan termasuk kursi yang tadi saya duduki, interiornya pun terbuat dari tenun, kalau tidak salah Kain Blongsong dari Palembang atau Sumatera Selatan.
Tentu saya dan saya kira hadirin sekalian juga gembira semakin bervariasinya penggunaan tenun, maka berarti akan semakin terbuka pula pasar tenun, yang akhirnya kesejahteraan para penenun yang akan semakin meningkat.
Hasil tenun tradisional kita sebenarnya tidak kalah dengan produk dari negara lain, terutama dalam motif dan warnanya. Hanya saja, potensi tenun belum tergali dan tereksploitasi secara maksimal. Oleh karenanya, kerjasama antara pencinta, perajin dan desainer akan sangat menentukan keberadaan tenun Indonesia.
Saya masih sering mendengar adanya kendala yang dihadapi oleh para penenun tradisional, di antaranya adalah bahan baku, dalam hal ini biasanya yang dikeluhkan adalah benang dan pewarna, yang ternyata harganya cukup mahal karena masih harus mengimpor dari negara lain. Dalam hal ini, maka saya berharap ke depan dapat dikembangkan pewarna alam yang ramah lingkungan dan bahan bakunya dapat diperoleh dari bermacam-macam tumbuhan yang ada di Indonesia. Untuk maksud itu, kiranya saya minta kepada CTI dapat menjadi pelopor dan bekerjasama dengan kementerian terkait maupun lembaga peneliti lainnya, guna menemukan bahan pewarna alam itu. Mari kita kembangkan semangat “Harus Bisa” di negara kita. Ada kendala, harus bisa kita carikan solusinya.
Hadirin sekalian,
Ini adalah kedua kali saya berdiri di depan forum CTI, setelah yang pertama dua tahun yang lalu, saat perkumpulan ini diresmikan pada tanggal 28 Agustus 2008. Saat itu saya juga cukup bangga, karena masih banyak orang-orang yang mencurahkan waktu, tenaga, dan pikirannya untuk melestarikan tenun. Kini tanpa banyak bicara, CTI yang masih berusia muda, balita ternyata sudah melakukan terobosan terkait pelestarian tenun. Untuk itu, patut kita berikan apresiasi kepada CTI.
CTI sudah melakukan banyak hal dalam membantu meningkatkan citra tenun Indonesia di pasar internasional. Tadi juga sudah disebutkan, di antaranya Program Pelestarian Tenun melalui pameran kain tenun langka di sejumlah museum, termasuk memberikan koleksi Tenun Songket Limar ke Museum Tekstil di Washington, D.C. tahun lalu. Selain itu, saya juga memberikan apresiasi untuk apa yang telah dilakukan CTI selama dua tahun, dengan memberikan pelatihan, pembinaan dan pengembangan kapasitas perajin tenun, di mana CTI telah menjadi fasilitator di empat daerah binaan, yaitu di Desa Sidemen, Bali; Indralaya, Sumatera Selatan; Donggala, Sulawesi Tenggara; dan Badui, Banten.
CTI, teruslah bekerja, walaupun saya tahu di setiap daerah binaan para pengurus CTI mendapati berbagai kendala menyangkut kebiasaan para penenun yang sudah turun-temurun dan sulit dirubah. Berikan pengertian dan asistensi.InsyaAllah, suatu saat mereka akan mengerti dan bersedia melakukan perubahan demi kebaikan mereka sendiri.
Saya juga menyampaikan ucapan terima kasih kepada para mitra CTI yang telah memberikan bantuan melalui CSR-nya untuk pelatihan dan pembinaan di daerah binaan tersebut, termasuk dan terima kasih pula saya ucapkan kepada PT Garuda Indonesia, Bank BNI, provinsi setempat, Ibu Tina dari Sulawesi Tenggara dan tentu saja sampaikan kepada Ibu Atut, gubernur dari Provinsi Banten. Apa yang telah dilakukan selama ini benar-benar sangat berarti bagi para perajin tenun untuk meningkatkan hasil serta sekaligus membuka pintu bagi produk mereka untuk masuk ke pasar yang lebih luas lagi.
Saya juga menyambut gembira rencana kerja sama dengan PT Garuda Indonesia untuk memberikan paket wisata kepada wisatawan dari Jepang yang akan berkunjung ke Bali, untuk bisa melihat secara langsung ke desa tenun, Sidemen. Tentu saja, sebelum rencana itu benar-benar terwujud, saya mengharap Desa Sidemen dapat dipersiapkan dengan sungguh-sungguh, agar para turis sekali datang ke sana merasa puas dan tidak kecewa. Persiapan yang saya maksud tentunya selain memperlihatkan proses atau cara pengerjaan dari bahan baku sampai menjadi sehelai tenun, juga menyangkut lingkungan dan fasilitas penunjang lainnya guna kenyamanan para turis. Teruskan kerja sama yang baik ini, hingga tenun kita dapat berbicara di pasar dunia.
Hadirin sekalian,
Pemasaran memang merupakan hal yang paling penting, karena bergerak atau tidaknya industri tenun kita tergantung dari daya serap pasar. Jika berkaca pada penurunan produksi tahun lalu, maka saya yakin sulitnya menembus pasar menjadi salah satu faktor penyebabnya, sehingga tenun menurun produksinya. Oleh karenanya, keikutsertaan tenun di sejumlah pameran dunia menjadi penting. Tak cukup hanya itu, sinergisitas antar elemen menjadi hal krusial yang harus dilakukan, seperti yang dilakukan oleh CTI dan BP BKPM yang dalam konteks marketing dan investasi di Indonesia.
Saya senang mendengar tenun, tahun lalu CTI ikut berpartisipasi dalam ajangfashion internasional, “Pret-a-Porter: The Heart of Fashion” di Paris, bahkan juga sudah berpameran di negara-negara lain, termasuk di Milan dan Dubai. Ini semua saya kira merupakan langkah positif, karena kota-kota tersebut selama ini merupakan home base mode dunia. Saya juga mendengar bahwa CTI sudah melakukan uji pasar, di salah satunya di Isetan, deparment storeterbesar di Tokyo. Hal ini tentu saja perlu untuk mengetahui secara lebih detail keinginan pasar, sehingga tujuan dari pemasaran dapat tercapai. Namun demikian, dari semua usaha untuk memasarkan tenun Indonesia ke dunia, saya tetap berharap agar pasar dalam negeri yang sudah kita miliki harus tetap kita jaga. Jangan sampai lepas dan direbut oleh pasar tenun dari manacanegara.
Para pengurus CTI dan Hadirin yang berbahagia,
“Tak ada kerja keras yang sia-sia.” Percayalah pada peribahasa tersebut. Lanjutkan kerjasama yang sudah baik itu dan untuk menghadapi tantangan-tantangan berikutnya di masa depan. Saya yakin, tenun tak lama lagi akan menyamai apa yang telah diraih oleh batik kita, yang sudah diakui oleh UNESCO sebagai warisan budaya tak benda dari Indonesia.
Hadirin sekalian,Alhamdulillah, saya mendengar rencana adanya dua brand fashionkelas dunia, yang berminat akan menggunakan tenun Indonesia sebagai bahan produk mereka. Kita semua tentu sangat gembira. Namun, saya juga mendukung pernyatan Bapak MS Hidayat, Menteri Perindustrian Republik Indonesia, beberapa waktu yang lalu, yang mengatakan bahwa sebagai syarat kerjasama, perlu adanya label khusus untuk setiap produk yang menggunakan tenun Indonesia, sehingga nama dan kualitas produk domestik juga ikut dikenal secara global.
Kalau benar, saya berharap momentum itu dapat dimanfaatkan secara maksimal dan dapat dijadikan lompatan untuk memacu kembali produksi tenun, agar trennya tidak terus menurun. Dengan skema pemasaran yang pas dan efisien, saya yakin produk tenun dalam waktu dekat akan menyamai prestasi batik.
Dari pengalaman saya berkeliling daerah mendampingi Presiden, barangkali skema bantuan yang dapat diberikan perajin tenun di antaranya melalui PNPM dan KUR. PNPM yang berbasis pada kegiatan komunitas sejauh ini sudah menyentuh sejumlah perajin tenun di beberapa daerah, di antaranya perajin tenun di Kecamatan Cawas, Kabupaten Klaten; Kota Sambas dan masih banyak lagi.
Tentu saja kami sangat mendukung usaha ini. Apalagi, tadi Bapak Menko Perekonomian sudah mengatakan bahwa pemerintah sudah menyediakan dana yang begitu besarnya untuk membantu salah satunya adalah UMKM, dalam hal ini tentu saja termasuk para penenun kita di seluruh Indonesia.
Selain PNPM, skema lain yang sangat berpotensi mendukung industri tenun adalah KUR. Dengan kredit tanpa agunan, dipercaya bahwa akses perbankan bagi perajin tenun akan semakin mudah. Peran perbankan dalam revitalisasi tenun, sebagaimana yang diharapkan Presiden, amat penting. Oleh karena itu, saya menghimbau agar kalangan perbankan lebih giat lagi mengalirkan kredit kepada perajin. Lebih aktif maksudnya. Jadi lebih giat itu berarti lebih aktif. Barangkali bagus kalau bisa menjemput bola, datang ke tempat-tempat para penenun, para pengrajin, para UMKM, sehingga mereka dapat tumbuh berkembang bersama-sama.
Bayangkan jika di tiap provinsi ada 100 perajin, maka kita punya 3.300 perajin tenun secara nasional. Dan itu merupakan kekuatan ekonomi menengah dan kecil yang luar biasa. Di samping itu juga, akan terjadi tentu saja penyerapan tenaga kerja secara signifikan.
Hadirin sekalian,
Mengenai penerbitan buku tenunHandwoven Textiles of Indonesia, saya mengucapkan selamat. Saya sangat mendukung penerbitan buku tersebut, karena dapat mengangkat potensi yang terpendam dari para perajin tenun kita, sekaligus memperkenalkan tenun Indonesia ke dunia internasional. Pada kesempatan yang baik ini, saya turut mengantarkan buku yang dikemas dengan sangat menarik itu ke tengah masyarakat. Dengan membaca buku itu, saya berharap pembaca mendapat tambahan pengetahuan serta dapat menikmati ragam tenun Indonesia yang amat cantik dan unik. Apalagi, saya dengar buku ini karena menggunakan bahasa Inggris, maka mendapat respons yang cukup positif dari penerbit internasional.
Panitia sudah menyampaikan kepada saya alasan mengapa buku yang diterbitkan menggunakan bahasa Inggris. Dengan dipasarkannya buku ini di luar negeri, diharapkan semakin mengukuhkan keberadaan tenun Indonesia sebagai warisan budaya tak benda dari Indonesia. Tinggal dipikirkan upaya untuk terus melobi masyarakat internasional, utamanya UNESCO agar tenun juga diakui sebagaiintangible cultural heritagesecara resmi, seperti yang telah diberikan kepada batik Indonesia tahun 2009 yang lalu.
Saya sangat mendukung upaya itu karena pada kenyataanya tenun sudah secara turun-temurun dibuat dan digunakan sehari-hari di Indonesia hingga kini. Semakin banyakheritagekita yang diakui dunia, maka semakin besar pula kebanggaan kita sebagai bangsa Indonesia. Dulu mungkin tak pernah terpikir mendaftarkan kerajinan kita ke lembaga-lembaga dunia. Tetapi seiring perkembangan dunia di mana hak kekayaan intelektual dianggap penting, maka pengakuan resmi menjadi sangat-sangat penting. Apalagi, ada yang melakukan klaim sepihak atas suatu tarian, karya seni atau lagu yang kita tahu sudah menjadi bagian dari bangsa Indonesia.
Mari kita bergerak dan melakukan aksi nyata dengan mengupayakan pengakuan atasheritagekita. Kepada penerbit, saya menunggu terbitnya dalam versi bahasa Indonesia, agar masyarakat luas dapat mengetahui lebih detail tentang tenun Indonesia.
Saya berharap buku itu dapat menambah pengetahuan kita tentang tenun Indonesia. Kalau sudah mengetahui,insya Allah akan mencintai dan insyaAllah pula akan melestarikan dan insya Allah pula bahkan ikut mengembangkannya.
Sebelum mengakhiri sambutan ini, saya mengucapkan selamat kepada para desainer tenun yang sukses menggelar pameran pada HUT ke-2 CTI sekarang ini. Karya Saudara-saudara sangat berharga tidak hanya sebagai produk saja, tetapi juga berperan dalam menyelamatkan warisan bangsa.
Kepada Ibu Oke Hatta Rajasa, Ketua Perkumpulan CTI, panitia dan seluruh jajarannya, saya ucapkan terima kasih dan penghargaan yang tinggi, di mana ibu telah mencurahkan waktu, pikiran dan tenaganya bagi pelestarian dan pengembangan tenun nusantara. Sekali lagi saya sangat mendukung langkah semua pihak dalam memperjuangkan tenun sebagaiintangible cultural heritagedari UNESCO.
Akhirnya dengan mengucapbismillahirahmanirrahim, sekali lagi saya menguatkan pesta tenun dalam rangka ulang tahun Perkumpulan Cita Tenun Indonesia yang kedua, saya nyatakan resmi dibuka dan buku tenun Handwoven Textiles of Indonesiasaya luncurkan. Semoga bermanfaat.Wabillahitaufiq wal hidayah,
Wassalamualaikum Wr. Wb.
*****Biro Pers dan Media
Rumah Tangga Kepresidenan
