Pidato Presiden

Istana Negara, Jakarta, Kamis, 22 Desember 2011

Sambutan pada Silaturahmi dengan Siswa-siswi SMA Taruna Nusantara Angkatan XXII

 

TRANSKRIP
SAMBUTAN IBU NEGARA REPUBLIK INDONESIA
PADA ACARA SILATURAHMI DENGAN
SISWA-SISWI SMA TARUNA NUSANTARA ANGKATAN XXII
DI ISTANA NEGARA, JAKARTA TANGGAL 22 DESEMBER 2011




Ibu Negara Republik Indonesia:
Bismillahirrahmanirrahim,
Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

Selamat siang,
Salam sejahtera untuk kita semua

Yang saya cintai ibu-ibu yang mendampingi saya. Untuk diketahui, yang duduk bersama saya di depan adalah, di sebelah kanan saya tadi adalah Ibu Okke Hatta Rajasa. Kemudian yang di sebelah kiri, yang memakai baju agak krem itu adalah itu adalah Ibu Purnomo Yusgiantoro, istri dari Menteri Pertahanan kita. Kalau Ibu Okke Hatta Rajasa, istri dari Menko Perekonomian. Kemudian, yang di sebelah kanan adalah Ibu Laily Nuh, istri dari Menteri Pendidikan dan Kebudayaan. Dan, yang sebelah paling kiri adalah Ibu Rossi Anton adalah sekretaris dari SIKIB, dulu adalah istri dari Menteri Pertanian Republik Indonesia.
Yang saya hormati Ketua Paguyuban SMA Taruna Nusantara Angkatan XXII, Bapak Mayor Jenderal TNI M. Munir; Bapak Kepala Sekolah SMA Taruna Nusantara, Bapak Brigjen. TNI (Purn) Bambang Sumaryanto,

Yang saya hormati para Pamong, Orang Tua Siswa, di belakang ya,
Kemudian, tentu saja yang saya cintai, Anak-anak, Siswa-Siswi Taruna Nusantara yang saya cintai dan juga saya banggakan. Saya melihat agak sedikit tegang dari Anak-anak. Coba semua tepuk tangan yang kencang sekali. Ya, terima kasih. Kok rasanya, kelihatannya sangat tegang. Enggak usah tegang ya karena tentu saja ini bukan suatu pertemuan yang menakutkan. Kita bikin santai saja.

Pertama-tama, Ibu mengucapkan, marilah kita memanjatkan puji dan syukur ke hadirat Allah SWT karena atas rahmat dan ridho-Nyalah, maka pada siang hari ini kita dapat berkumpul di sini, di Istana Negara. Mengawali sambutan ini, saya ingin menyampaikan salam hangat dari Bapak Presiden Susilo Bambang Yudhoyono untuk semuanya, baik untuk ketua paguyuban, mungkin orang tua siswa, pamong, kepala sekolah, dan juga untuk seluruh siswa. Beliau menyampaikan rasa gembiranya akan kehadiran Anak-anak di Istana Negara.

Acara bertemu tokoh, seperti tadi yang disampaikan oleh Bapak Munir, yang telah kalian rencanakan ini, selain untuk menimba ilmu dan pengalaman dari seorang tokoh, tentu yang hari ini kalian temui adalah Ibu Negara, kalian bisa juga memanfaatkannya untuk menikmati suasana tempat yang amat prestisius dan bersejarah ini. Coba tengoklah ke kiri dan ke kanan, silakan. Ya, sudah dinikmati belum tadi? Sudah? Sudah cukup? Nikmati ya. Jadi, inilah Istana Negara yang tentu saja kalian bisa melihat ada enam foto-foto Kepala Negara dan mantan Kepala Negara. Ataupun, jangan kita katakan sebagai mantan Kepala Negara, tapi adalah Presiden pertama, Soekarno; Presiden kedua, Soeharto; kemudian Presiden ketiga Indonesia, BJ Habibie; Presiden keempat yang ujung sana, Bapak Abdurrahman Wahid; kemudian Presiden yang kelima, Ibu Megawati Soekarnoputri; dan Presiden yang keenam, Bapak Susilo Bambang Yudhoyono.

Ada tiga pesan dari Bapak SBY kepada kalian semua. Yang pertama, agar kalian semua memahami sejarah bangsa, termasuk perjuangan para pemimpinnya, supaya kalian kelak dapat melanjutkan perjuangan itu. Yang kedua, agar kalian memiliki idealisme atau cita-cita yang tinggi untuk memajukan negara yang sama-sama kita cintai. Dan yang ketiga, hanya dengan belajar dan berikhtiar dan bekerja keras mulai sekarang, mulai sekarang, cita-cita kalian akan tercapai. Pendidikan itu sangat penting untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia, manusia kita di masa depan sebab negara ini butuh sumber daya manusia yang kompeten, profesional, dan berkarakter guna mengarungi persaingan abad 21 yang semakin ketat. Itu tadi adalah pesan dari Bapak SBY untuk kalian.

Anak-anak serta Hadirin sekalian,
Ibu menerima surat permohonan dari Ketua Paguyuban Angkatan XXII SMA Taruna Nusantara, Bapak Mayor Jenderal TNI M. Munir, untuk Ibu memberikan pengarahan, dalam arti memberikan motivasi dan barangkali dapat memberikan inspirasi kepada anak-anak dalam proses pencapaian jati dirinya. Dengan senang hati, permintaan itu saya penuhi, tentu dengan harapan peluang dan kesempatan ini tidak disia-siakan agar anak-anak dapat memetik pelajaran dari pertemuan kita kali ini.

Anak-anakku,
Untuk diketahui, bahwa ketua paguyuban kalian sekarang ini, Bapak Mayor Jenderal Munir, pada tahun 2004 sampai dengan 2009, beliau berpangkat kolonel infantri, menjadi ajudan Presiden Republik Indonesia, dan alhamdulillah sekarang sudah menjadi Panglima Kodam III/Siliwangi, berpangkat mayor jenderal. Jadi, alhamdulillah ini juga bisa menjadi panutan kalian, bisa juga dikatakan sebagai tokoh. Jadi, sebetulnya jumpa tokoh tidak usah jauh-jauh karena ketua paguyuban sendiri juga seorang tokoh dari Jawa Barat. Saya kira bisa tepuk tangan untuk tokoh kita.

Anak-anak sekalian,
Sebagaimana Anak-anak ketahui, putra pertama saya, Agus Harimurti Yudhoyono, juga alumni Taruna Nusantara yang ke-5. Mungkin para pamong atau para guru juga masih ingat dengan Agus Harimurti Yudhoyono. Bagi saya, pertemuan ini seperti berkumpul dengan keluarga besar saja. Lama tidak berjumpa, hati saya amat gembira melihat putra-putrinya datang berkunjung tepat di Hari Ibu yang ke-83, apalagi dalam keadaan sehat walafiat, walaupun tadi sedikit tegang tapi nampaknya sekarang sudah kelihatan senyumnya. Jadi, lebih kelihatan cerah dan ceria.

Inilah saat yang tepat untuk kita saling berbagi cerita atau saya katakan sebagai sharing antara orang tua dan anak. Tentu, saya juga senang kalau bisa mendengarkan cerita dari kalian semua setelah enam bulan dididik di Taruna Nusantara seperti apa. Kemudian, mari kita saling sharing apa yang ada atau dirasakan oleh kalian ketika dalam pendidikan selama enam bulan ini dan bagaimana, apakah ke depan ini kalian masih tetap sanggup menjalankan pendidikan di Taruna Nusantara? Kok enggak ada jawaban? Masih sanggup atau tidak?

Siswa-siswi Taruna Nusantara:
Sanggup.

Ibu Negara Republik Indonesia:
Ya, itu dia yang ingin Ibu dengar, yang Ibu ingin dengar adalah baru enam bulan, masih 2,5 tahun lagi. Jadi, kalian harus gembira menimba ilmu di tempat itu.

Bapak-Ibu dan Anak-anak sekalian,
Dengan penuh rasa bahagia, saya mengucapkan selamat datang di Istana Negara. Mungkin sebagian dari Bapak dan Ibu serta Anak-anak belum mengetahui tentang sejarah Istana ini. Saya ingin bertanya, siapa yang sudah pernah datang ke Istana ini? Sudah pernah? Dua, tiga. Suci mana? Suci pasti sudah pernah. Ya, putra Pak Munir juga pasti sudah. Empat orang. Jadi, lebih banyak yang belum pernah datang kemari. Tadi, seperti pesan dari Bapak SBY bahwa kalian harus mengerti sejarah bangsa.

Baik, Ibu akan menceritakan sedikit tentang sejarah bangsa, utamanya mengenai Istana di mana kalian berada sekarang ini. Istana Negara yang ini, Istana Merdeka yang di sebelah depan berada dalam satu kompleks di atas lahan seluas 6,8 hektar, yang dikelilingi oleh sejumlah bangunan yang sering digunakan sebagai pusat pemerintahan serta kegiatan kenegaraan. Tempat di mana kita berada saat ini, sekali lagi Ibu sebut dengan Istana Negara, didirikan pada tahun 1796. Jadi berapa usianya? 1796 didirikannya, usianya 215 tahun. Tua ya, sudah sangat tua. Tapi kalau kalian melihat, tua kokoh atau tidak? Sangat kokoh, alhamdulillah. Dulunya ini rumah pribadi, yang disebut orang Belanda namanya J. A. Van Braam. Tahun 1816, bangunan ini diambil alih oleh pemerintah Hindia Belanda dan digunakan sebagai pusat kegiatan pemerintahan serta kediaman para Gubernur Jenderal Belanda.

Peristiwa penting yang terjadi di Istana ini adalah, yang pertama, penetapan sistem tanam paksa atau culture stelsel oleh Gubernur Jenderal Johannes van Den Bosch. Pada waktu itu, Belanda datang kemari masih menjadi penjajah kita atau kolonial, kemudian memberikan satu keputusan masyarakat atau penduduk yang ada di sini menanam secara paksa. Tanamannya, pokoknya yang ditanam oleh penduduk harus diselipi atau disisipi dengan tanaman-tanaman yang bisa diekspor untuk kepentingan tentu saja pemerintah Belanda, seperti kopi, kemudian komoditas lainnya yang bisa dipasarkan atau bisa diekspor. Jadi, tidak boleh hanya menanam sayur-mayur yang bisa dikonsumsi oleh kita sendiri, tetapi harus diselipi juga dengan tanaman-tanaman yang bisa diekspor seperti itu.

Pada tanggal 25 Maret tahun 1947, terjadi penandatanganan naskah persetujuan Linggarjati, di mana pihak Indonesia diwakili oleh Sutan Sjahrir dan pihak Belanda oleh Dr. Van Mook.

Sekarang ini, Istana Negara tetap dipakai untuk kegiatan penting seperti pelantikan kabinet, pelantikan dan atau pengambilan sumpah para pejabat tinggi negara lainnya, seperti Kapolri, Panglima TNI, Kepala Staf Angkatan, penganugerahan gelar pahlawan dan bintang dan tanda-tanda kehormatan Republik Indonesia lainnya kepada mereka yang dianggap berjasa luar biasa. Kemudian, juga sering dipakai untuk pembukaan musyawarah, baik itu yang berskala nasional atau internasional, juga kongres-kongres selain musyawarah.

Kemudian, juga sering dipakai untuk peringatan hari besar keagamaan seperti Nuzulul Qur’an, dan tentu saja santap siang atau malam kenegaraan atau disebut juga biasanya dengan istilah state banquet, pertunjukan kesenian untuk menghormati tamu negara yang datang berkunjung ke Indonesia, dan juga merupakan kediaman resmi dari Presiden Republik Indonesia. Pak SBY bersama saya tinggal di sini. Dulu, yang tinggal di Istana tercatat adalah Bung Karno, kemudian Bapak Abdurrahman Wahid, dan Bapak Susilo Bambang Yudhoyono.

Anak-anakku,
Kemarin, di ruangan ini terjadi ataupun dilakukan pelantikan 26 orang Duta Besar Luar Biasa dan Berkuasa Penuh Republik Indonesia untuk negara-negara sahabat, di antaranya tiga orang duta besar perempuan. Alhamdulillah, walaupun Ibu masih mengatakan dari 26, hanya tiga perempuannya, kayaknya masih kurang. Benar enggak yang perempuan? Benar apa tidak? Ya. Coba yang keras kalau menjawab. Jadi, benar, kalau yang perempuan merasa bahwa kurang ya. Ya insya Allah, ke depan nanti banyak lagi duta besar-duta besar dari kaum perempuan.

Anak-anakku,
Istana Merdeka, yaitu yang Ibu tadi sudah katakan, menghadap ke Monumen Nasional. Anak-anak biasanya pasti hanya lewat, lewat, ya enggak? Kalau lewat depan Istana, suka melirik enggak ke arah Istana? Suka? Suka melirik. Apa yang ada di dalam hati kalian? Bisa ada yang menjawab salah satu saja, coba yang di depan sini. Kalau melirik ke arah Istana Negara, apa yang dirasakan? Ya silakan. Biar teman-temanmu juga ikut mendengarkan. Apa yang dirasakan kalau melirik ke arah Istana?

Putri Dian Fatmasa Irawan, Siswi Taruna Nusantara:
Maaf, Bu, izin menjawab. Yang saya rasakan ketika saya melihat Istana Negara adalah suatu kekokohan yang tidak dapat saya raih tapi saya melihatnya secara langsung.

Ibu Negara Republik Indonesia:
Ya, kita tepuk tangan. Jadi, kokoh ya, disebutkan tadi sesuatu yang kelihatannya kokoh begitu; kokoh, tidak bisa saya raih tapi kepingin melihat secara langsung. Nah, sekarang sudah ada di dalamnya. Alhamdulillah, kalian harus bersyukur. Terima kasih. Siapa namamu, Sayang?

Putri Dian Fatmasa Irawan, Siswi Taruna Nusantara:
Maaf, Bu, izin memperkenalkan diri. Nama siswa Putri Dian Fatmasa Irawan, asal DKI Jakarta.

Ibu Negara Republik Indonesia:
Terima kasih, Putri, ya terima kasih. Demikian pula, itu yang Ibu rasakan dulu kalau lihat Istana Merdeka: waduh, seperti apa ya di dalamnya? Kepingin masuk ke dalamnya.

Nah, Istana Merdeka dibangun lebih muda tahunnya dibandingkan Istana Negara. Jadi, lebih tua Istana Negara; yaitu pada tahun 1873 pada masa pemerintahan Gubernur Jenderal J. W. van Lansberge. Dulunya Istana Merdeka bernama Istana Gambir. Gambir itu wilayah. Kemudian, stasiun itu pun juga dikatakan sebagai Stasiun Kereta Api Gambir. Jadi, sebetulnya wilayah Gambir.

Peristiwa penting yang pernah terjadi di Istana Merdeka adalah tempat penandatanganan naskah pengakuan kedaulatan Republik Indonesia Serikat atau RIS oleh pemerintah Belanda pada tanggal 27 Desember 1949, di mana Indonesia diwakili oleh Sri Sultan Hamengkubuwono IX dan Belanda diwakili oleh A. H. J. Lovink. Saat penandatangan itu, rakyat di berbagai tempat di seluruh penjuru tanah air mendengarkan siaran radio masing-masing untuk menanti siaran dari Jakarta, yang membawa berita yang luar biasa itu.

Ketika akhirnya berita penandatanganan itu terdengar, serta-merta rakyat seantero negeri ini mengibarkan bendera Merah Putih, mengganti bendera yang tidak ada, ya bendera Belanda pada waktu itu diganti dengan bendera Merah Putih, kemudian mereka spontan menyanyikan lagu Indonesia Raya serta memekikkan, “Merdeka! Merdeka! Merdeka!” Itulah sebabnya sejak itu Istana Gambir diberi nama Istana Merdeka.

Anak-anak sudah pernah dengar belum cerita itu? Pasti tidak tahu ya. Itulah sebabnya kali ini Ibu cerita kepada kalian sehingga kalian bisa menjiwai. Kalau lewat tidak hanya sekedar lewat tetapi tahu peristiwa apa yang pernah terjadi pada tahun 1949 yang lalu, tanggal 27 Desember 1949 yang lalu.

Kini, Istana Merdeka digunakan untuk penyelenggaraan acara kenegaraan, antara lain, di halaman Istana Merdeka setiap tanggal 17 Agustus dilaksanakan upacara peringatan detik-detik proklamasi, upacara penyambutan resmi tamu negara yang biasanya diiringi dengan dentuman meriam sebanyak 19 atau 21 kali. Selain itu, juga digunakan sebagai tempat untuk penyerahan surat-surat kepercayaan duta besar dari negara sahabat atau sering disebut dengan nama credential, serta pertemuan bilateral antara Presiden Republik Indonesia dengan para tamunya atau kepala pemerintahan dari negara-negara sahabat kita.

Di antara Istana Negara dan Istana Merdeka, jadi di tengah-tengah, ada lapangannya. Kemudian, di sebelah kanan, di sebelah timur, ada satu bangunan berwarna putih. Anak-anak boleh nanti kalau mau lihat dari kejauhan, itu adalah Kantor Presiden Republik Indonesia. Di sanalah, Bapak Presiden SBY selama ini berkantor. Kemudian, di sebelah barat, ada gedung yang tinggi, nanti juga boleh kalian lihat, itu namanya Wisma Negara. Di sanalah, tamu-tamu negara kita dulu menginap ketika belum banyak hotel di Jakarta ini. Mereka menjadi tamu negara, kemudian presiden atau kepala pemerintahan tamu negara kita beserta rombongan biasanya akan menginap di Wisma Negara.

Tetapi, sekarang sudah tidak lagi karena, seperti saya tadi sampaikan bahwa, sudah banyak hotel-hotel yang baik di Jakarta ini sehingga mereka atau beliau-beliau itu biasanya tinggal di hotel itu. Dan di ujung, nanti juga kalian boleh lihat, ada mesjid meski tidak terlalu besar, kecil tetapi cantik ya, didirikan pada tahun 1961, bernama Mesjid Baiturrahim, dan pada tahun 2010 yang lalu diperluas dan dipugar, dipugar dan diperluas. Ternyata, ada sedikit pergeseran, mengapa dipugar pada saat itu, ada sedikit pergeseran pada arah kiblat, pada arah kiblat bergeser sekian derajat, kemudian sekalian diperbaiki dan diperbesar karena makin lama, makin hari tidak cukup menampung jemaah yang ada di sekitar Istana ini.

Anak-anakku,
Itu semua adalah aset negara milik bangsa Indonesia. Oleh karena itu, kewajiban kita semua untuk memelihara dan melestarikannya, sehingga akan menjadi kebanggaan dari seluruh rakyat Indonesia.

Anak-anak sekalian,
Itu singkat saja mengenai Istana kita. Dunia kita itu semakin maju dan kian menyatu, berkat adanya teknologi dan informasi. Negara-negara di dunia seolah-olah semakin tanpa batas atau sering orang mengatakan borderless. Karena kemajuan teknologi yang demikian pesat, menyebabkan kita dapat mengakses informasi yang ada.

Apa maknanya dari perkembangan yang demikian itu? Kita harus siap bersaing dalam kompetisi yang lebih ketat dari era-era sebelumnya. Para kompetitor kalian nanti adalah bukan hanya dari kota-kota lain di Indonesia, tetapi juga dari dunia. Kalian harus bersaing di bidang apapun dengan anak-anak muda dari negara manapun juga, karena semua dapat diakses dengan sangat mudah. Oleh karenanya, hanya dengan persiapan yang matang, pengembangan diri yang optimal, dan penguasaan teknologi, kita akan memenangkan persaingan itu. Kalau tidak, maka kalian hanya akan menjadi penonton saja. Bahkan, bisa-bisa jadi penonton di rumahnya sendiri. Hal ini jangan sampai terjadi, Anak-anak, kita akan rugi.

Penduduk Indonesia adalah yang terbesar keberapa di dunia? Anak-anak tahu tidak? Ya, yang keempat. Yang pertama, siapa paling besar di dunia? Republik Rakyat Tiongkok atau China. Yang kedua? India. Yang ketiga? Amerika Serikat. Dan, yang keempat Indonesia. Berapa sih sekarang penduduknya Indonesia? Sekitar 240 juta jiwa. Besar. Nah, sebetulnya penduduk yang besar itu harusnya menjadi kekuatan yang luar biasa untuk membangun bangsa guna mencapai kesejahteraan bersama. Kita harus aktif menjadi pemain, jangan menjadi penonton saja. Kita harus memegang peran untuk mewarnai kemajuan dunia.

Caranya bagaimana? Ya belajar. Ya, kan? Ya bekerja keras, enggak boleh malas-malasan, bersatu, dan tidak boleh bertengkar satu sama lain. Kita harus bersatu. Sekali lagi, kita harus bekerja keras, tidak boleh malas-malasan, dan tentu saja untuk itu semua, pada kalian harus belajar dengan sungguh-sungguh.

Globalisasi dan kemajuan jaman tak bisa dielakkan. Globalisasi itu sendiri ada plus, ada minusnya. Oleh karena itu, kita harus pandai menyaring, harus pandai memilih mana yang tepat, mana yang baik, serta mencari peluang dari globalisasi itu untuk kepentingan kita sendiri.

Mari kita hadapi globalisasi itu tanpa harus kehilangan jati diri kita, seperti tadi yang dikatakan oleh Pak Munir. Katanya, di tempat kalian diajarkan juga tentang bela negara, kemudian kecintaan kepada negeri. Itulah yang menyebabkan kita tidak lupa kepada jati diri kita.

Sebagaimana yang disampaikan oleh Bapak Presiden SBY pada 1 Juni tahun 2006 yang lalu, bahwa di tengah globalisasi dan perubahan jaman yang demikian cepat, karakter kita sebagai bangsa Indonesia harus tetap kuat, dan memang seharusnya demikian. Karena tanpa itu, maka suatu bangsa tak akan pernah tahu ke mana arah yang akan dituju. Jadi, seperti orang yang jalan di tengah gelap, tidak tahu ke mana, enggak tahu arahnya.

Suatu bangsa kalau ingin tercapai tujuannya, sama-sama melangkah, “Apa? Itu lho tujuannya,” ditunjukkan di sebelah sana, sehingga semua melangkah menuju ke arah tujuan itu. Kalau tidak tahu tujuannya, satu pergi ke kanan, dua orang ke kiri, yang satu ke utara, satu ke selatan, tidak akan tercapai cita-cita itu. Oleh karena itu, sekali lagi bahwa kita tidak kehilangan jati diri kita, sehingga kita terus akan menuju kepada tujuan berdirinya negara Republik Indonesia.

Anak-anak sekalian,
SMA Taruna Nusantara membekali kalian dengan character building agar mampu bersaing dengan pemuda-pemudi bangsa lain, dan di saat yang sama, mampu menjunjung tinggi martabat bangsa. Saya percaya anak-anak di SMA Taruna Nusantara adalah mereka yang terpilih dan terbaik, baik dalam spiritual and emotional capital atau mental, physical capital atau fisiknya, dan intellectual capital atau inteleknya. Tiga modal itu akan menjadi bekal kalian semua untuk mengemban tugas di masa depan, yaitu memajukan negara dan mensejahterakan rakyat.

Berdasarkan informasi yang saya terima, setiap tahun sekitar 7.000-an yang mendaftar ke SMA Taruna Nusantara, tetapi yang diterima hanya sekitar, 317 orang yang lulus seleksi. Jadi, kayaknya kurang dari 5 persen. Tentu saja, sebuah kebanggaan bagi kalian semua yang berhasil melewati setiap fase dalam seleksi tersebut. Oleh karena itu, jangan sia-siakan kesempatan yang telah diberikan kepada kalian untuk menimba ilmu di tempat yang bergengsi itu.

Kita semua tahu, SMA Taruna Nusantara termasuk salah satu sekolah yang mempunyai sarana dan prasarana belajar dan mengajar yang terbaik di Indonesia. Oleh karena itu, manfaatkan semua fasilitas yang disediakan sekolah dengan maksimal.

Bekali diri bukan hanya dengan ilmu pengetahuan di sekolah, tetapi juga harus ditambah dengan ilmu pengetahuan umum, ilmu kepemimpinan. Saya senang sekali, Pak Munir tadi mengatakan bahwa ilmu kepemimpinan juga diberikan di SMA Taruna Nusantara, yang bisa diperoleh dari buku bacaan, dari bermacam media baik cetak maupun elektronik, dan lain-lain sebagainya. Acara jumpa tokoh seperti yang dilakukan kali ini juga merupakan sebuah cara untuk menambah wawasan kalian.

Bila selama tiga tahun kalian belajar serius, berolahraga secara teratur, belajar memimpin, melatih kerja sama, disiplin, tanpa melupakan ibadah, maka ketika kalian lulus dari Taruna Nusantara nanti akan menjadi pribadi yang paripurna.

Saya juga percaya, lulusan Taruna Nusantara memiliki kemampuan dan daya saing atau competitiveness, baik di lingkungan kerja maupun level pendidikan yang lebih tinggi. Saya telah banyak mendengar bahwa lulusan Taruna Nusantara yang melanjutkan pendidikan ke jenjang lebih tinggi di dalam maupun di luar negeri, sementara memiliki kualitas level dunia. Oleh karena itu, jangan sampai tidak lulus dari Taruna Nusantara. Tanamkan dalam hati kalian, “Saya masuk, maka saya harus keluar dengan nilai dan prestasi yang baik.” Kalian harus bangga mempunyai kesempatan untuk menimba ilmu di lembaga yang amat bergengsi itu.

Anak-anakku yang saya banggakan,
Perlu kita ketahui bersama, saat ini pemerintah terus meningkatkan kualitas pendidikan kita dari waktu ke waktu. Pemihakan kepada pendidikan oleh pemerintah sudah jelas dan nyata. Salah satunya dapat dilihat dari alokasi APBN untuk pendidikan mencapai 20 persen dari APBN, sebagaimana yang diamanatkan oleh konstitusi, di mana pendidikan menjadi prioritas utama pembangunan.

Mempelajari sejarah bangsa-bangsa di dunia, ternyata bangsa yang maju dan besar adalah mereka yang mengutamakan pendidikan. Di luar itu, banyak capaian yang sudah diraih dalam pembangunan bangsa sejak merdeka hingga hari ini, meskipun harus diakui masih banyak pula tantangan dan persoalan yang harus kita jawab dan kita atasi. Memang demikianlah hakekat sebuah pembangunan bangsa, sebuah proses yang amat panjang, bukan proses sehari-dua hari saja, setahun-dua tahun saja, tetapi sebuah proses berlanjut dari generasi ke generasi berikutnya. Tapi percayalah, siapapun yang memimpin negeri ini akan senantiasa berjuang dan bekerja keras dengan gigih untuk memajukan kehidupan rakyat Indonesia yang kita cintai bersama.

Presiden SBY dalam pengarahannya kepada para teladan seluruh Indonesia 18 Agustus tahun 2011 yang lalu mengatakan, prospek kita di masa depan baik. Indikasi itu terlihat jelas dengan semakin diperhitungkannya peran Indonesia di ASEAN, bahkan tingkat dunia. Kita masuk dalam anggota G20, 20 negara yang mempunyai ekonomi yang tertinggi. Jadi, 20 negara di dunia. Kita masuk dalam G20. Kita juga ikut menentukan kerja sama ekonomi global, termasuk masalah dunia lainnya. Kita juga aktif menjembatani perbedaan antarperadaban dan agama, dan kita ikut aktif terlibat dalam peacekeeping mission di bawah bendera United Nations. Oleh karena itu, kita harus selalu bersikap optimis bahwa Indonesia di masa depan dengan izin Allah SWT akan lebih baik dari Indonesia sekarang ini.

Syaratnya adalah kita harus punya keyakinan yang kuat bahwa negeri kita, dengan pembangunan yang sungguh-sungguh, akan lebih baik lagi. Untuk itu, diperlukan persatuan dan kesatuan serta kebersamaan di antara kita dari seluruh rakyat Indonesia, dari Sabang sampai Merauke, dari Miangas sampai ke Pulau Rote.

Di samping keyakinan dan persatuan tadi, semua warga bangsa juga harus bekerja keras dan sungguh-sungguh. Sekali lagi, tidak boleh ada yang bermalas-malasan, apalagi yang satu kerja, yang lain malas atau yang lain hanya berpangku tangan saja. Itu tidak boleh. Masa depan kita akan jauh lebih baik dari masa sekarang itulah kalau kita bekerja bersama-sama: hakekat dari perjalanan negara yang kita cintai dari tahun ke tahun, dari dasawarsa ke dasawarsa, dan demikian seterusnya.

Kebijakan pemerintah tahun 2009 sampai dengan 2014, di samping pembangunan secara menyeluruh, juga menggarisbawahi, mengagendakan, dan memprioritaskan tiga hal. Yang pertama, ingin meningkatkan pembangunan ekonomi di seluruh Indonesia agar, dengan ekonomi yang berhasil, kita bisa meningkatkan kesejahteraan rakyat. Yang kedua, ingin membangun kehidupan politik dan demokrasi yang bermartabat dan membawa manfaat bagi seluruh rakyat Indonesia. Yang ketiga, yang tidak kalah pentingnya, ingin menegakkan hukum dan keadilan; keadilan bagi semua agar dengan tegaknya hukum dan keadilan, negara kita akan menjadi tenteram, menjadi damai, dan bebas dari kejahatan, termasuk kejahatan korupsi. Itulah tiga hal yang menjadi prioritas dari pemerintah.

Di luar tiga prioritas itu, sejak tahun 2007, pemerintah concern pada isu lingkungan. Tahun 2007, kita dipercaya oleh PBB untuk menjadi tuan rumah Konferensi Perubahan Iklim dan Pemanasan Global di Bali. Itu merupakan tonggak penting kepedulian dunia dalam mengatasi ancaman perubahan iklim dan pemanasan global. Saya merasa bangga karena Indonesia berada di depan menyatakan sikap dan berperan nyata. Konferensi itu telah menghasilkan Bali Road Map yang disepakati bersama oleh negara-negara peserta konferensi.

Kini, banyak negara di dunia mulai menyusun program penyelamatan lingkungan di negaranya masing-masing, bertolak dari kesepakatan tersebut. Kita di Indonesia juga terus melakukan aksi hijau dalam mengantisipasi pemanasan global. Sejak beberapa tahun lalu, pemerintah menggalakkan program tanam pohon di seluruh tanah air.

Kita tahu dampak dari bertambahnya penduduk, kemajuan kota, dan industrialisasi adalah polusi yang terus meningkat. Karbondioksida dalam jumlah besar yang tidak terkendalikan pada akhirnya dapat membunuh manusia itu sendiri. Oleh karena itu, keberadaan pohon menjadi sangat penting, karena dengan proses tertentu, daun yang berwarna hijau akan menyerap CO2 atau karbondioksida dari udara bebas, yang merupakan hasil emisi gas dari proses yang tadi saya sebutkan, yang tentu saja ditangkap, diserap, masuk ke dalam batang kayu, kemudian melepaskan O2, O2 yang dibutuhkan oleh makhluk hidup, termasuk oleh kita semua.

Alhamdulillah, berkat dukungan masyarakat, aksi hijau dan tanam pohon kini telah mewabah di banyak daerah di tanah air. Dan mulai tahun lalu, Gerakan Tanam Semiliar Pohon setiap tahun mulai dicanangkan oleh Presiden SBY. Menurut Menteri Kehutanan, Bapak Zulkifli Hasan, target itu insya Allah dapat tercapai pada Januari tahun 2012 yang akan datang. Dampak dari gerakan ini tiada lain adalah lingkungan kita yang semakin bersih, semakin hijau, dan semakin sehat.

Anak-anakku sekalian,
Saya sendiri bersama-sama dengan Solidaritas Istri Kabinet Indonesia Bersatu mendukung program pemerintah itu. Bahkan, sejak Konferensi Perubahan Iklim di Bali tahun 2007, telah menggulirkan program yang kita sebut dengan nama Indonesia Hijau. Di banyak kesempatan, kita juga kerap melakukan aksi tanam pohon dan tebar benih ikan bersama-sama dengan organisasi perempuan lainnya, seperti Kowani, Dharma Wanita Persatuan, Dharma Pertiwi, Bhayangkari, PKK, dan APPB dalam Gerakan Perempuan Tanam dan Pelihara Pohon.

Alhamdulillah, kerja keras dari SIKIB dan keenam organisasi perempuan itu bulan lalu mendapat penghargaan dari pemerintah, melalui Menteri Kehutanan, sebagai organisasi masyarakat peduli penanaman pohon. Saya sangat bangga dengan upaya ibu-ibu yang tidak kenal lelah dalam pemeliharaan pohon-pohon yang telah ditanam di lingkungan masing-masing.

Sampai saat ini, Gerakan Perempuan Tanam dan Pelihara Pohon telah menanam dan memelihara sampai dengan 54 juta pohon di seluruh Indonesia. Ini tentu luar biasa karena dilakukan oleh kaum perempuan.

Saya tahu, sudah sejak dulu, SMA Taruna Nusantara mengajarkan siswa-siswinya untuk mencintai lingkungan, menjaga kebersihan, mematikan lampu yang tidak perlu, menggunakan air secukupnya, dan lain-lain. Betul atau tidak?

Siswa-siswi Taruna Nusantara:
Betul.

Ibu Negara Republik Indonesia:
Ya, saya ingat sekali karena saya sering dapat cerita dari abang kalian dulunya. Bahkan kalau tidak salah, ada pohon yang menjadi kewajiban dari anak-anak untuk memeliharanya turun-temurun. Artinya, setiap angkatan, satu pohon dipelihara bersama-sama. Betul apa tidak?

Siswa-siswi Taruna Nusantara:
Betul.

Ibu Negara Republik Indonesia:
Betul ya. Sekarang masih hidup dengan baik?

Siswa-siswi Taruna Nusantara:
Masih.

Ibu Negara Republik Indonesia:
Alhamdulillah. Kapan-kapan kalau Ibu tengok ke sana atau lewatlah paling tidak di depan TN, harusnya TN menjadi kawasan yang hijau.

Ibu senang sekali karena di sana sebetulnya luas dan tentu kehijauan. Tidak hijaunya itu hanya kalau kena abu dari Merapi, ya enggak? Kalian tidak kebagian abu Merapi ya? Oh ya, tidak kebagian. Baik. Karena abang kalian dulu juga kebagian abu Merapi, dan saya tahu tahun lalu kebagian abu Merapi sampai tebal sekali, dan mudah-mudahan tidak mengganggu kesehatan kalian semua.

Nah, Anak-anakku,
Apa yang diajarkan di Taruna Nusantara sekarang Ibu tahu sudah menjadi gaya hidup kalian. Tetapi, Ibu berharap gaya hidup di Taruna Nusantara seperti itu jangan hanya kalau berada di dalam kampus. Di rumah pun, kalian harus juga menerapkan seperti itu. Jadi, kadang-kadang kalau lupa, kalau di kampus, itu semuanya begitu, budayanya baik, begitu sampai rumah lupa ya: tidak mematikan lampu ketika itu tidak digunakan. Saya berharap anak-anak TN yang sudah memiliki budaya hijau seperti itu menyebarkan virus positif seperti itu kepada teman-teman kalian di luar sekolah Taruna Nusantara, bahkan kepada masyarakat luas. Dengan demikian, kalian akan menjadi pionir lingkungan, dan telah ikut aktif dalam penyelamatan diri kita.

Hadirin sekalian serta Anak-anakku,
Sebelum mengakhiri sambutan ini, sekali lagi saya menekankan pentingnya belajar dan bekerja keras untuk memenangi persaingan, juga pentingnya menumbuhkan kecintaan terhadap bangsa di tengah-tengah globalisasi. Saya yakin, kalian mampu melakukannya, sebab kalian semua memiliki modal untuk melakukan itu.

Semoga Indonesia, masa depan di tangan kalian semua, menjadi lebih baik lagi. Songsonglah masa depanmu dengan penuh percaya diri. “Belajar di waktu kecil bagai mengukir,” maksudnya, sejak kecil ya sampai sekarang, “bagai mengukir di atas batu.” Jadi, kalau batu sudah diukir, susah dihapuskan. “Belajar di waktu tua bagai mengukir di atas air.” Jadi, kalau belajarnya setelah tua, ya kayak di air, enggak kelihatan lagi.

Contohnya seperti Ibu ini: belajar teknologi sekarang, paling tidak bisa di rumah, kalah dengan anak-anak, karena anak-anak belajar teknologi langsung masuk ke otak karena bagai mengukir di batu, susah hilangnya. Sedangkan setelah tua, ya memang tidak ada kata “too late”untuk belajar, tidak ada, tetapi mesti harus belajar. Belajar itu kalau masih muda itu, sekali masuk ke dalam otak. Kalau sudah tua, mungkin sepuluh kali, 20 kali baru masuk. Maka, gunakanlah masa mudamu untuk menuntut ilmu sebanyak-banyaknya.

Semoga bermanfaat. Terima kasih.

Billahittaufiq walhidayah,
Assalaamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.


*****

Biro Pers, Media, dan Informasi
Sekretariat Presiden


Redaksi | Syarat & Kondisi | Peta Situs | Kontak
© 2006 Situs Web Ibu Negara Republik Indonesia - Ny. Hj. Kristiani Herawati
Hak Cipta dilindungi Undang-undang