Berita Utama
Senin, 30 Januari 2006, 20:16:53 WIB
Presiden pada Peringatan 1 Muharran 1427 H
Muhammad Memberi Inspirasi untuk Membangun Peradaban
Jakarta : Presiden Susilo Bambang Yudhoyono mengajak seluruh masyarakat Indonesia, untuk memaknai hijrah sebagai tauladan untuk membangun kehidupan bangsa Indonesia menuju masa depan yang lebih baik. ” Peringatan Tahun Baru Hijriah pada malam ini saya anggap memiliki makna yang sangat dalam tidak saja bagi kehidupan ummat Islam, melainkan juga bagi kehidupan rakyat Indonesia” kata Presiden ketika memberikan sambutannya pada acara malam 1 Muharram 1427 H (30/1) di Plaza Tugu Api Pancasila Taman Mini Indonesia Indah, Senin (30/1).Selanjutnya Presiden mengatakan, peringatan Tahun Baru Hijriah ini diselenggarakan disaat saat kita sedang menghadapi berbagai permasalahan dan tantangan dibidang kesejahteraan rakyat, pembangunan ekonomi, penegakan hukum, dan lain-lain, yang memerlukan pemikiran dan kerja keras kita semua, termasuk ummat Islam di seluruh tanah air.
”Hijrah Nabi Muhammad S.A.W dari Makkah ke Madinah telah membawa perubahan besar terhadap peradaban ummat manusia. Perubahan dari jaman jahiliyah menuju peradaban madaniah di bawah naungan cahaya Ilahi. Dengan kata lain, Rasulullah S.A.W melakukan perubahan yang paling fundamental dalam kehidupan manusia, dari kehidupan yang tidak memiliki peradaban kearah kehidupan yang penuh Rahmat dan ampunan kasih sayang,” kata Presiden.
Peradaban yang diberikan Rasulullah S.A.W kepada kita semua memberikan inspirasi penting untuk membangun suatu peradaban baru dimasa yang akan datang ” Kita dapat mengambil pelajaran bagaimana beliau mulai membangun peradaban dari tataran individual menuju tataran sosial yang lebih baik.”
Presiden mengatakan pada tataran individual, Rasulullah S.A.W menegakkan aqidah nafsiah yaitu menegakkan aqidah dalam diri setiap insan. Hal ini mengandung makna bahwa segala sesuatu yang kita rencanakan untuk berubah justru harus dimulai dengan melakukan perubahan dari diri sendiri. Perubahan yang kemudian lebih meluas, lanjut Presiden, adalah membangun komitmen bersama kearah pembentukan sebuah tataran kehidupan yang diterapkan masyarakat Madinah.
Rasulullah S.A.W membangun sebuah konsep syariah Iqtima’jah yaitu konsep hukum kemasyarakatn yang meliputi penegakan hukum, sosial, politik, dan ketatanegaraan. ” Dari Madinalah kita menyaksikan apa yang dikenal persamaan hukum dan pemerintahaan, dipraktekkan secara bermartabak dan beradab.
Dari Madina pula kita menyaksikan bagaimana hukum ditegakkan. Secara lugas demikian juga dengan kerjasama antar kelompok yang berbeda keyakinan agamanya .
”Tentu masih banyak pelajaran berharga yang kita petik dari Rasulullah S.A.W, karena itulah tidak berlebihan kalau saya menggunakan kesempatan yang sangat membahagiakan ini, untuk menyerukan kepada seluruh ummat Islam di tanah air agar senantiasa mempelajari, menggali, dan mengaktualisasikan semuanya itu dalam kehidupan sehari – hari,” kata Presiden.
”Kita semua menyadari, bahwa perubahan itu tidak mudah, namun kita terus berupaya melakukan perubahan – perubahan dalam berbagai aspek. Dalam proses penyelenggaraan pemerintahan, kita terus berusaha untuk melakukan perubahan dengan sungguh – sungguh untuk membangun pemerintahan yang baik. Pemerintahan yang bebas dari segala bentuk korupsi dan penyalagunaan jabatan, serta memberikan pelayanan publik yang sebaik-baiknya, memenuhi rasa keadilan masyarakat, meningkatkan kesejahteraan, mendahulukan kepentingan rakyat, serta upaya penegakan hukum untuk memberantas KKN yang merupakan prioritas utama,” kata Presiden.
Rasa keadilan tidak akan terwujud dalam kehidupan berbangsa dan bernegara jika hukum tidak ditegakkan dengan adil. Hal ini harus kita awali dengan ketulusan dan komitmen pribadi yang dinyatakan dalam bentuk etikat yang baik. Di samping itu peradaban bangsa Indonesia yang terus kita bangun adalah peradaban yang benar-benar menjunjung tinggi keadilan, kebenaran dan kebertanggung jawaban, semua pihak apalagi para peminpin dan tokoh harus dapat mempertanggungjawabkan semua yang diucapkan dihadapan rakyat lebih –lebih dihadapan Allah.S.W.T, lanjut Presiden.
”Berita, tuduhan dan prasangka negatif yang tidak didukung oleh fakta dan bukti, sudah merusak rasa keadilan, menghancurkan sendi-sendi kebenaran dan menyesatkan rakyat yang sama-sama kita cintai. ”Ingin populer dan mendapatkan simpati dan dukungan dengan cara-cara yang tidak terpuji, itu mencerminkan ahlak dan perilaku yang jauh dari nilai-nilai keislaman sejati,” ujar presiden dihadapan para undangan diantaranya dari Lembaga Tinggi Negara, Menteri Kabinet Indonesia Bersatu, dan Duta Besar Negara Sahabat. (win)



