Berita Utama

Indonesia Merespon isu nuklir Iran

Presiden Terima 7 Dubes Eropa, AS, Rusia dan China

Jakarta: Pada hari libur Tahun Baru Hijriah 1 Muharram 1427, Selasa (31/1), Presiden Susilo Bambang Yudhoyono tetap bekerja. Di kantornya, Presiden menerima 7 orang duta besar dari negara – negara Eropa, Rusia, Amerika Serikat dan China, di kantor Presiden. Undangan kepada para dubes itu adalah untuk merespon perkembangan situasi terakhir mengenai nuklir di Iran.

Pertemuan dimulai pada pukul 14 WIB dengan empat duta besar, yaitu Renaud Vignal (Dubes Perancis), Joachim Droudre Grouger (Dubes Jerman), Carlos Humfrey (Dubes Inggris) dan Bernard Zimburg (Dubes Austria). Pertemuan kedua dilanjutkan dengan Gheorghe Sauvica (Dubes Rusia) , kemudian pertemuan dengan Lynn Paschoe (Dubes Amerika Serikat), dan terakhir dengan Dubes China, Lan Lijun.

Setelah pertemuan presiden dengan para duta besar itu tersebut selesai, Menteri Luar Negeri Hassan Wirajuda yang turut mendampingi Presiden pada pertemuan dengan para duta besar itu, menjelaskan menyampaikan posisi pemerintah RI mengenai nuklir Iran ini.

Pemerintah Indonesia, kata menlu, mengharapkan agar proses ini dapat diselesaikan dengan damai. Karena proses akan berimbas pada perekonomian dunia “Perhatikan apa yg berkembang minggu lalu, spekulasi tentang dampak dari krisis nuklir Iran terhadap perekonomian dunia khususnya harga minyak,dengan berita tentang ketegangan yang meningkat. Karena masalah ini, harga minyak dunia pada awal minggu lalu mencapai USD 64 / barrel. Dan kalangan bisnis memperkirakan, apabila masalah Iran ini tidak dapat diselesaikan secara damai, maka bukan tidak mungkin harga minyak akan melonjak melampaui harga minyak tertinggi pada tahun lalu yaitu USD 72 / barrel, dan kemudian mencapai USD 100 / barrel. Itu bukan kata kita, tetapi spekulasi – spekulasi dan perkiraan yang berkembang di kalangan bisnis internasional, “ papar Menlu

Lebih lanjut Menlu menjelaskan bahwa keikutsertaan Indonesia dalam proses penyelesaian ini bukan tanpa pertimbangan, tetapi berdasarkan pada implikasi politik dan keamanan daripada konflik yang akan terjadi. “Bila kita tidak berbuat apa – apa, dan harga minyak mencapai USD 100 / barrel, dapat dibayangkan apa yang terimbas dari proses ini. Tidak hanya untuk kita, tapi lebih-lebih lagi untuk negara – negara berkembang. Buat negara Uni Eropa dan Amerika dan lainnya yang kaya, dan mempunyai sumber – sumber energi nuklir, mungkin mereka lebih siap menghadapi apapun yg terjadi, apabila situasi nuklir berkembang menjadi ketegangan baru bahkan konflik terbuka “ ujar Menlu

Menlu menegaskan bahwa keikutsertaan pemerintah Indonesia dalam situasi nuklir Iran ini bukan karena sok tahu atau karena merasa dihitung, tapi karena memang Indonesia benar – benar diperhitungkan. Bahkan September 2005 lalu Iran sudah mengirimkan utusan khusus dari presidennya ke Indonesia, khusus untuk bertemu dengan Presiden SBY. “ Pada bulan September lalu, Iran sudah merasakan panasnya dari potensi konflik ini karena perdebatan mereka dengan negara – negara Barat, Iran secara khusus mengirim utusan khusus nya ke Jakarta. Utusan khusus itu bertemu dengan presiden, dan menyampaikan pesan presiden Iran. Tentunya menyampaikan posisi mereka, dan itu tentunya bukan tanpa pertimbangan. Selain itu juga mempertimbangkan bahwa Indonesia dan Iran sesama negara yang berpenduduk muslim terbesar. Yang kedua, Indonesia adalah anggota Bond of Governor ( Gubernur Badan Tenaga Atom International ) yang hanya terdiri dari 35. Tentunya orang juga menghitung posisi kita dalam percaturan internasional. Jadi bukan sesuatu yang tanpa perhitungan kalau kita melakukan langkah – langkah seperti ini,” tegas Menlu.

Menurut Menlu pendapat pemerintah Indonesia yang berbeda juga diperhitungkan oleh negara – negara anggota tetap DK PBB khususnya, dan Jerman. “ Karena suara negara – negara Barat sepertinya sudah seirama dan suara yang berbeda dengan pihak lain, sangat dihargai, karena dapat menjadi pencerahan dalam upaya mencari solusi. Menlu juga menjelaskan bahwa dalam pertemuan presiden dengan para dubes Uni Eropa tadi, secara khusus mereka menggaris bawahi bahwa himbauan – himbauan kita agar negara – negara anggota tetap DK PBB khususnya dan Jerman utk memberikan waktu yang lebih banyak untuk memberikan ruang gerak bagi negosiasi upaya mencari solusi damai, justru sepertinya dipenuhi oleh keputusan para menteri luar negeri 5 anggota tetap DK PBB. Anjuran kita agar tawaran Rusia yang sedang dipertimbangkan untuk Iran diberikan waktu untuk proses negosiasi, juga dihitung oleh negara –negara yang bertemu tadi malam sebagai potensi solusi," jelas Menlu.

Sedangkan kepada Iran, Menlu menegaskan bahwa pemerintah Indonesia tidak serta merta mendukung. “ Dukungan kita bagi Iran adalah untuk mengembangkan energi nuklir untuk keperluan damai. Dan sudah kita sampaikan pesan kita kepada Iran, bahwa kita tidak dapat mendukung pembelokan pengembangan energi nuklir dari tujuan damai ke tujuan militer “ tegas Menlu. (nef)