Berita Utama

Presiden Terima Dubes Iran

Indonesia Berharap Proses Damai Dioptimalkan

Jakarta: Presiden Susilo Bambang Yudhoyono didampingi Menlu Hasan Wirajuda, Menkopolhukam Widodo A.S, Mensesneg Yusril Ihza Mahendra, Rabu (1/2) pagi menerima Duta Besar Iran usntuk Indonesia H.E.M.Mr.Shaban Shahidi Moadab di Kantor Kepresidenan Jakarta.

Seusai mendampingi Presiden menerima Dubes Iran, Menlu Hassan Wirajuda kepada wartawan mengatakan, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono menerima Dubes Iran untuk Indonesia sebagai bagian dari kegiatan beliau yang dilakukan sejak kemarin yaitu, menerima para dubes negara-negara yang paling berkepentingan dalam masalah isu nuklir di Iran. Selasa (31/1), secara berturut-turut Presiden SBY menerima Dubes Perancis, Jerman, Inggris, Austria, Rusia, AS dan Dubes China.

Kata Hassan Wirajuda, “Presiden menaruh harapan agar proses mencari penyelesaian secara damai dioptimalkan, dan dalam hal itu elemen utama adalah kerjasama antara Iran dan Badan Tenaga Atom International. Juga upaya Iran dalam proses pengayaan uranium sebagaimana yang ditawarkan Rusia, masih akan dirundingkan pada 16 Pebruari 2006,” katanya.

Hassan Wirajuda juga menyatakan, Dubes Iran banyak memberikan informasi tentang proses kegiatan nuklir Iran, bahkan mundur kebelakang sejak 1976. “Jadi ada penafsiran ketidak konsistensian dari pihak Barat dalam kerjasama nuklir. Sebab pada masa Syah Iran dulu tidak kurang negara Barat yang berjanji untuk mensuplai bahkan membangun instalasi nuklir sebanyak 20 reaktor nuklir” kata Menlu.

“Tapi dengan perubahan politik di Iran, janji itu tidak lagi ditepati dan proses lanjutannya berujung pada kecurigaan pada Iran.” Itu sebagai latar belakang, tapi pada dasarnya Dubes Iran juga menggarisbawahi niat pemerintahnya untuk kerjasama erat dengan Badan Tenaga Atom Internasional, sesuai dengan aturan –aturan dari Badan Tenaga Atom Internasional yang berkaitan dengan kerjasama membangun nuklir untuk tujuan damai,” kata Hassan Wirajuda.

Menurut Hassan Wirajuda, dari pihak Dubes Iran memang tergambar kegusaran pemerintah Iran, bahwa masalah penting yang menyangkut kepentingan dalam negeri Iran, dibicarakan dan diputuskan oleh negara-negara anggota tetap Dewan Keamanan di London, tanpa partisipasi Iran. “Padahal Badan Tenaga Atom Internasional, khususnya Dewan Gubernur Badan Tenaga Atom yang sesunguhnya mempunyai kompetensi untuk memutuskan tentang segala hal tentang masalah isu nuklir Iran ini,” kata Menlu.

Menurut Menlu, nampaknya pihak Barat sudah menyiapkan suatu rancangan resolusi yang lebih bertemakan kesepakatan tentang prosedur dan proses pengamanan nuklir energi untuk tujuan damai. “Jadi dapat diperkirakan, dalam bagian rancangan resolusion yang masih akan didiskusikan besok dengan rujukan terhadap Dewan Keamanan , bisa jadi menjadi salahsatu faktor kegusaran pihak Iran” .

Pertemuan Dubes Iran dengan Presiden ini menunjukkan kepedulian Indonesia untuk terus melakukan kontak. “Kita tidak berhenti sampai hari ini, sebab Presiden juga mengharapkan, termasuk Dubes Iran, untuk dapat memperoleh informasi terus menerus mengenai perkembangan masalah ini dari pihak-pihak yang langsung terkait, termasuk dari Iran,” Hassan Wirajudha. (win)