Berita Utama

Hari Pers Nasional ke 60

Presiden: Ketatnya Persaingan Bisnis Media Jangan Surutkan Idealisme

Presiden SBY dengan Ny.Herawati BM Diah di Bandung Kamis (9/2). (foto:abror)
Presiden SBY dengan Ny.Herawati BM Diah di Bandung Kamis (9/2). (foto:abror)
Bandung : Pers mempunyai peran penting dalam mencerdaskan bangsa. “Hanya bangsa yang cerdas yang akan maju menuju masa depan, sedang bangsa yang tidak cerdas dan tidak memiliki daya kritis sukar berkembang maju menghadapi tantangan zaman,” kata Presiden Susilo Bambang Yudhoyono pada i puncak peringatan Pers Nasional 2006 (9/2), di Bandung.

Untuk itu,lanjut Presiden salahsatu peran pers yang nyata kita rasakan dalam membangun budaya kritis itu. Namun kita juga menyadari bahwa bisnis media massa tentulah bukan bisnis tanpa idealisme. Sebagaimana layaknya sebuah bisnis, bisnis media juga harus tumbuh sehat dan terus berkembang.” Negara berterimah kasih karena bisnis media massa, kini juga menyumbang kepada perekonomian nasional dan juga menciptakan lapangan pekerjaan," kata Presiden.

Presiden berharap dan yakin, dengan kepemimpinan dan manajemen yang baik, serta strategi dan kreativitas bisnis yang jitu, sebuah media akan mendapat yang terbaik dan berkembang di tengah persaingan yang amat ketat dewasa ini. "Harapan kita semua, ketatnya persaingan itu tidak menyurutkan idealisme dan peran konstruktif pers yang amat mulia di negeri ini.” Ujar Kepala Negara.

Presiden juga mengatakan, dimasa yang lalu pers kita telah memainkan peranan penting, sebagai pers perjuangan. Pers kita turut membangun kesadaran kebangsaan dan menyadarkan bahwa kita waktu itu adalah bangsa yang terjajah. Karena itu kita harus bangkit, berjuang untuk mencapai kemerdekaan, dan tuan di negeri sendiri.

Dimasa kini, lanjut Presiden, "Saya berharap pers kita tetap menjadi pers perjuangan untuk ikut serta memajukan kehidupan bangsa dan negara. Berjuang untuk bangsa dan negara berarti mendorong bangsa kita ke arah kemajuan.” Untuk itu pers leluasa menyampaikan informasi, hiburan, pendidikan, kritik sosial yang konstruktif. Tapi segalanya harus dilakukan secara seimbang. Jika ada yang salah silahkan diberitakan, tapi jika ada yang benar jangan disembunyikan kebenaran itu. Baik katakan baik, jelek katakan jelek.” ujar Presiden. Ditambahkan, jika ada yang gagal dan tidak berhasil, silahkan diberitakan. Tetapi jangan disembunyikan bila jika ada keberhasilan yang dicapai oleh siapapun, termasuk pemerintah, insan pers sendiri, LSM, atau semua pihak yang ingin bangsanya maju.

Pada acara ini, Presiden menyerahkan buku 'Directory Pers' kepada Ketua Umum PWI Pusat, Tarman Azzam. Presiden juga menyerahkan bibit pohon dari daerah Kalimantan, Maluku, Papua, kepada Walikota Bandung. Dan terakhir sekaligus mengakhiri rangkaian peringatan kegiatan Hari Pers Nasional, Presiden SBY mendatangani prasasti perubahan nama dan status IAIN (Institut Agama Islam Negeri) Sunan Gunung Jati menjadi Universitas Islam Negeri Sunan Gunung Jati. (win)