Berita Utama
Senin, 20 Februari 2006, 13:08:16 WIB
Presiden pada Kongres ke XXV HMI
"Pikiran Mahasiswa Orisinil dan Murni"
Makassar : Ketika membuka Kongres ke XXV HMI di Balai Prajurit Jenderal M.Yusuf, Makassar, Sulsel, Senin (20/2) siang, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono berharap HMI (Himpunan Mahasiswa Islam) sebagai mitra pemerintah, dapat terus menyampaikan kritik, memberikan koreksi apabila yang dilakukan pemerintah dinilai tidak tepat, baik pemerintah pusat maupun pemerintah daerah. Tapi sebaliknya apabila yang dilakukan jajaran pemerintah tepat, berilah dukungan agar yang tepat itu bisa berhasil dengan baik, “Kalau berhasil baik, rakyat akan diuntungkan” tutur Presiden.“Ketika HMI memelihara jarak yang tepat, mengkritik apabila harus mengkritik, mendukung apabila harus mendukung, tetaplah menggunakan kekuatan intelektualitas, rasionalitas dan daya kritis dan sampaikan pula pikiran -pikiran dan solusi yang tepat. Kami akan menyambut dan memberikan apresiasi yang tinggi, karena pikiran mahasiswa saya tengarai adalah pikiran yang orisinil, pikiran yang murni dan bebas dari kepentingan sesaat ataupun kepentingan politik praktis. “ kata SBY.
Ditambahkan, kalau budaya seperti ini dilakukan oleh HMI, maka sesungguhnya HMI ikut membangun dan memekarkan sistem dan budaya politik, sehingga demokrasi kita akan bertambah baik dimasa akan datang. Kata Presiden, HMI beserta organisasi kemahasiswaan yang lain senantiasa kritis. Menyuarakan kebebasan dalam bentuk protes dan unjuk rasa, ini merupakan bagian penting dari demokrasi yang harus kita hormati. Protes dan unjuk rasa ini saya rasakan sering memberikan manfaat dan masukan penting bagi pemerintah,
“Perbedaan adalah rahmat, manifestasi kemajemukan. Dengan perbedaan kita akan menemukan pilihan yang terbaik dan menemukan solusi yang paling tepat. Saya berharap ekspresi politik melalui unjuk rasa yang dilakukan para pemuda, mahasiswa dan pihak manapun juga, teruslah junjung tinggi kemurnian idealisme. Sampaikan apa yang disuarakan secara tepat, pada isu tertentu secara tajam, tapi harapan saya dilaksanakan secara tertib, bertanggung jawab dan tidak mengganggu hak dan kebebasan pihak lain,” ujar Kepala Negara.
Dikatakan, proses politik unjuk rasa seperti itu harus kita dengar, kita terima dan kita pelajari. "Karena pengalaman saya memimpin jalannya pemerintahan ini, sering kali pengambilan keputusan, penetapan kebijakan, dapat disusun lebih baik lagi ketika kita menerima masukan dan umpan balik. Pengambilan keputusan dan penetapan kebijakan adalah proses tidak datang tiba-tiba. Mengambil keputusan dan menetapkan kebijakan, apalagi bersifat nasional, tentu bukanlah pikiran, keputusan atau rencana bangun tidur."
Oleh karena itu, kata Presiden, “Input dan feedback sangat kami perlukan agar pada saat kita mengambil keputusan dan kebijakan itu, kita sudah mempertimbangkan semua faktor-faktor yang akan kita kembangkan,” kata Presiden di hadapan sekitar 3 ribu peserta dan undangan Kongres ke XXV HMI, termasuk Bagir Manan, Akbar Tandjung, Fuad Bawazier, Sahar Hasan, Ketua Umum PB HMI Hasanuddin, serta pengurus HMI dari seluruh Indonesia. (win)



