Berita Utama
Senin, 27 Februari 2006, 12:54:41 WIB
Presiden SBY: Hadapi Terorisme, Kita Harus Tiga Langkah Ke Depan
Jakarta; Presiden Susilo Bambang Yudhoyono berharap agar usaha negara-negara di dunia membangun koalisi internasional melawan terorisme dapat dilakukan tanpa menimbulkan ketegangan-ketegangan baru antara negara-negara, dan komunitas beragama.Harapan tersebut disampaikan Presiden pada saat membuka Seminar International Crime Prevention and Security yang diadakan oleh Lembaga Cegah Kejahatan Indonesia (LCKI) yang bekerja sama dengan Asia Crime Prevention Foundation (ACPF) di Ballroom Hotel Mulia, Jakarta, hari Senin (27/2) pagi. Presiden datang didampingi Menneg BUMN Sugiharto, Mendagri M Ma’ruf dan Menlu Hassan Wirajuda.
“Kita yang hadir di sini berasal dari latar belakang yang berbeda-beda tetapi datang untuk satu tujuan yang sama yaitu untuk memperkuat kerjasama internasional guna mencegah dan memerangi terorime,” ujar Presiden SBY di depan para peserta seminar. “Banyak negara-negara di dunia yang sudah mengalami efek dari terorisme ini, mulai dari perasaan tidak aman yang dialami warga negaranya, kehancuran ekonomi, sampai ketegangan yang dapat terjadi antar negara,” tambahnya.
“Upaya bangsa Indonesia untuk membasmi terorisme sedikit demi sedikit sudah menemukan keberhasilannya. Hampir semua pelaku pemboman di Bali sudah teridentifikasi, ditahan dan diadili, begitu juga dengan pelaku pemboman di Hotel J.W Marriot. Kematian Dr. Azahari dan rekan-rekannya di Jawa Timur membuat kepolisian Indonesia semakin gigih memerangi terorisme dan sekarang masih terus mencari teroris yang tersisa seperti Nurdin Mohammad Top, Dulmatin dan rekan-rekan lainnya,”.
“Tetapi meskipun kita telah meraih kesuksesan tersebut, kita tetap harus waspada. Kita harus terus mempersiapkan diri untuk kampanye jangka panjang berperang melawan terorisme,” kata Presiden.
Berperang melawan terorisme adalah hal yang baru untuk kita dan negara-negara lain di dunia karena teroris jaman sekarang sudah sangat jauh berbeda dengan masa lalu. Teroris jaman sekarang masih mempunyai ideologi dan radikal yang sama dengan pendahulunya, namun sekarang mereka dipersenjatai dengan teknologi yang lebih canggih, lebih tidak dapat dikenali, lebih kreatif dan lebih tidak berperasaan.
“Teroris selalu mengubah strategi dan taktik mereka sehingga selalu ada sesuatu yang baru yang bisa dipelajari dari mereka. Apa yang kita ketahui tentang mereka kemarin, mungkin sudah tidak relevan lagi untuk dipergunakan sekarang atau akan datang. Maka bila para teroris berpikir satu langkah ke depan, kita harus berada dua atau tiga langkah ke depan.”
“At the end of the road, what we want to see is not just the defeat of terrorist groups, but a stronger international community bonded in greater stability, peace and cooperation, “ ujar Presiden SBY. (osa)



