Berita Utama
Selasa, 28 Februari 2006, 18:15:24 WIB
Brunei Rencanakan Pesan 4 Pesawat Indonesia CN-235
Presiden SBY "Komit" Ciptakan Iklim Kondusif Investasi
Bandar Sri Begawan: Untuk menyeimbangkan perdagangan antara kedua negara, di mana saat ini Brunei surplus dan Indonesia dalam posisi defisit, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) mengharapkan agar kerjasama di dalam pembelian pesawat CN 235 bisa dilanjutkan oleh pemerintah Brunei Darussalam. Dalam pertemuan Presiden SBY – Sultan Hassanal Bolkiah hal itu sempat mengemuka. Pembicaraan lebih lanjut dan konkretisasinya bakal dilakukan mendatang.Sebagaimana diketahui PT Dirgantara Indonesia (DI) yang memproduksi pesawat CN-235 kini telah dapat meningkatkan kinerjanya kembali. Presiden mengungkapkan, beberapa negara pun sudah melakukan pemesanan.
“Kemarin Thailand juga kembali memesan beberapa CN-235, dan Brunei sebenarnya ada rencana untuk memesan empat CN- 235, baru satu yang di-deliver, harapan kita sisanya dapat dilakukan, dengan demikian bisa menambah balance di antara kedua negara,”kata Presiden SBY.
Lewat upaya pembelian komoditas Indonesia ataupun peningkatan kerjasama ekonomi dan perdagangan Indonesia-Brunei, defisit yang ada bakal makin mengecil. Banyak pilihan yang bisa dilakukan Indonesia, yakni untuk menggalakkan kerjasama ekonomi yang lebih luas dan bermuara pada penguatan keseimbangan perdagangan Indonesia terhadap Brunei Darussalam tersebut.
Presiden SBY sempat menyinggung proyek pembangunan Pulau Muara Besar, yang ditarget Brunei menjadi pelabuhan berkelas dunia. Pemerintah Brunei memerlukan banyak mitra untuk pembangunan pelabuhan taraf global itu. Indonesia pun bisa membuka peluang dan kepentingan ekonomi di situ.
“Sebagai contoh akan ada pembangunan di Muara Besar, yang tentunya memerlukan tenaga kerja, memerlukan barang -barang untuk kepentingan pembangunan di situ. Misalkan semen dan lain-lain. Kami berharap tentunya ada pembicaraan lanjutan, di mana ada peluang Indonesia untuk juga bisa memberikan tenaga kerja dalam pembangunan itu dan juga produksi dalam negeri yang bisa digunakan di situ,”ujar Presiden SBY.
Untuk menaikkan perekonomian Indonesia, termasuk minat investasi asing di tanah air, memang perlu ada pembenahan di sana-sini. Brunei Economic Development Board dan para pelaku ekonomi Brunei mengakui komitmen pemerintah Indonesia sekarang. Memang banyak tantangan Indonesia, dan pada saat bersamaan para pelaku bisnis Brunei juga paham pemerintah SBY terus mengupayakan pembenahan yang diperlukan.
“Chairman Brunei Economic Development Board yang juga sudah sering datang ke Indonesia, ikut beberapa kali konferensi di Indonesia. Memang mereka paham bahwa reformasi untuk membangun iklim bisnis yang baik bukan hanya kepastian hukum, tapi juga undang-undang pajak yang dianggap tepat, undang-undang kepabeanan atau custom law yang tepat, undang-undang investasi yang bagus, situasi perburuhan, undang-undang tenaga kerja, realisasi yang tidak menimbulkan masalah baru antara pemerintah pusat dan daerah, kemudian situasi keamanan. Semua itu memang mereka tahu sedang kita lakukan ,”papar SBY, panjang lebar.
Presiden SBY lebih jauh menyatakan bahwa cetak biru atau blue print untuk pembenahan di atas, sudah ada.
“Rencana definitif nya juga sudah kita putuskan. Apa, siapa, berbuat apa, kapan diharapkan selesai akan menjadi alat ukur kita yang mudah-mudahan apa yang sudah kita lakukan dan sedang terus kita lakukan sejak tahun 2005 lalu, bisa kita wujudkan,”imbuhnya.
Semua hal yang perlu diperbaiki di tanah air, Presiden SBY tegas berkomitmen.
“Termasuk pemberantasan korupsi yang ternyata tidak mudah, banyak sekali tantangannya. Tetapi kita akan jalan terus ke depan, bisa membuka satu iklim yang betul-betul kondusif bagi investasi itu,”tegas Presiden. (nnf)



