Berita Utama

Presiden : Rasio Hutang Luar Negeri Kita Makin Sehat

Yangon, Myanmar : Pada kesempatan jumpa pers di KBRI Yangon Myanmar, Kamis ( 2/03/06) Presiden Susilo Bambang Yudhoyono menjelaskan kepada para wartawan, tentang posisi defisit keuangan negara dan hutang pemerintah, karena ini merupakan isu yang penting.

“ Isu ini penting dan saya akan menjelaskan posisi, cara pandang dan kebijakan pemerintah terhadap hutang negara, hutang pemerintah, makin ke depan sejalan dengan pertumbuhan dan perbaikan ekonomi kita, “ kata Presiden.

“Wajib hukumnya bagi pemerintah untuk memperbaiki rasio hutang terhadap pendapatan brutto pemerintah atau negara, debt to GDP ratio, makin ke depan jumlahnya harus makin kecil, rasionya harus makin baik bukan sebaliknya, karena kalau rasio hutang terhadap GDP makin besar hutangnya, maka akan membebani generasi mendatang, dan memberikan ketidakpastian yang tinggi, dan faktor faktor yang kurang menguntungkan terhadap pemeliharaan dan pengembangan makro ekonomi kita, “ lanjutnya.

“Upaya untuk itu banyak yang bisa kita lakukan. Dan tentunya dalam mengupayakan penurunan debt rasio to GDP itu harus bisa memelihara kepercayaan dunia, bahwa ekonomi kita sehat, makro ekonomi kita stabil dan tekendali, kemudian hutang tidak akan mengguncangkan ekonomi nasional jangka menengah jangka panjang , “ papar Presiden.

“ Cara - cara itu tentu kita tempuh dengan prudent mempertahankan kerjasama baik domestik maupun internasional, termasuk dengan lembaga – lembaga internasional lainnya. Kemudian tiap tahun memang ada komposisi pembiayaan luar negeri, terhadap APBN kita, di waktu yang lalu komponen pembiayaan luar negeri itu dianggap tagihan sehingga selalu disebut anggaran berimbang, balance budget, dengan sistem yang baru hal, hal seperti itu, selisih antara pembelanjaan dan penerimaan kita sebut defisit, “ jelas Presiden.

“ Kita ingin memang menuju ke angka defisit yang makin kecil dan rasional, dulu pernah di atas 2 % turun menjadi di bawah 2 % , kemudian 1 %, Insya Allah kita bisa menuju ke 0, 7% dalam APBN kita tahun 2006 ini. Artinya, kita juga secara sadar menuju ke rasio yang semakin sehat ke depan itu, “ kata Presiden.

“ Oleh karena itu kalau masih ada komponen dalam APBN kita hutang itu jangan dilihat kok masih ada hutang tahun, tapi lihatlah pada rasio debt to GDP itu tadi, meskipun kita semua, saya sebagai presiden juga ingin, agar dalam APBN kita komponen penerimaan negara itu bisa tumbuh dengan baik, pajak , bea dan cukai,minyak dan gas, pendapatan non pajak, deviden BUMN dan lain lain, “ kata Presiden

“ Kalau itu bisa kita tingkatkan dengan baik sejalan dengan good governance, sejalan dengan pemberantasan korupsi, sejalan dengan efisiensi, sejalan dengan produktivitas, maka kita kita akan mendapatkan komponen yang makin tinggi, harapan kita rasio itu pun makin baik, defisit makin mengecil, dengan demikian kita bisa menuju ke balance budget, negara lain ada yang defisit 3%, dan mereka berani.Tapi barangkali ekonomi nya stabil, barangkali punya riwayat tidak ada krisis moneter , sedangkan Indonesia pernah mengalami krisis, ada hal – hal yg belum pasti, oleh karena itu lebih baik memilih kebijakan yang lebih prudent dalam policy kita, termasuk kebijakan tentang hutang kita, baik dalam konteks annual APBN, maupun dalam konteks GDP jangka menengah dan jangka panjang, “ kata Presiden ( nnf )