Berita Utama

Presiden : Blok Cepu Harus Segera Beroperasi

Yangon, Myanmar : Alotnya negosiasi Pertamina dan Exxon Mobil mengenai pengelolaan Blok Cepu menjadi perhatian Presiden Susilo Bambang Yudhoyono. Presiden mengharapkan agar kesepakatan dapat segera dicapai, supaya blok Cepu dapat segera beroperasi.

Kapasitas optimal produksi dari Blok Cepu sebesar 150.000 barrel per hari menurut presiden akan sangat membantu perbaikan situasi APBN dalam penerimaan dari sektor minyak dan gas.

” Yang penting bagi saya adalah segera ada solusi, merugi kita sebagai bangsa, ada potensi 150 ribu barrel per hari, yg bisa meningkatkan produksi kita, yang bisa memperbaiki situasi APBN kita, penghasilan terhadap minyak dan gas kita, untuk rakyat kita, terhenti di situ, karena perbedaan – perbedaan paham oleh beberapa orang. Bagi saya yang penting mana yang lebih menguntungkan bagi negara kita untuk produksi minyak kita, untuk rakyat kita nantinya, “ kata Presiden.

“ Tentu saya ingin agar segera berproduksi dan menginstruksikan kepada Wakil Presiden untuk dilihat dan dibicarakan, untuk kemudian dicari solusinya dan dilaporkan kepada saya, itu memang yang terjadi seperti itu. Jadi dengan demikian terang benderang, tidak ada yang sembunyi - sembunyi, pertimbangannya sangat rasional, lebih banyak pertimbangan ekonomis, dan segera bergeraknya usaha yang sudah lama kita tunggu ini, “ kata Presiden.

“Beroperasinya Blok Cepu ini selain mendatangkan devisa negara juga penduduk Bojonegoro, Tuban, Jawa Timur, Jawa Tengah, akan mendapatkan manfaatnya. Pendek kata kala Blok Cepu segera beroperasi semua akan diuntungkan, "tegas Presiden.

Presiden memaparkan bahwa pembicaraan mengenai Blok Cepu ini sudah berjalan sejak lama, sejak pemerintahan Ibu Megawati bahkan sebelumnya sudah ada pembicaraan – pembicaraan. Tetapi negosiasi tidak selalu mulus, ada plus minus nya. Tetapi sebenarnya pada masa pemerintahan Ibu Megawati, term hasil dari kesepakatan antara pertamina dan Exxon Mobil Indonesia, itu sudah pada titik yang menguntungkan Indonesia. Tetapi belum ada solusi fiinal yang diambil karena masih ada nya perbedaan pendapat apakah Pertaminan akan mengelola secara penuh atau sebaliknya.

“ Kemudian pada saatnya ketika saya memimpin pemerintahan ini, kita lanjutkan upaya itu. Hasil dari perundingan terakhir sebenarnya, term yg sudah baik jaman Ibu Megawati justru makin baik sekarang ini. Tidak benar kalau dalam kerjasama ini Indonesia dirugikan, Indonesia pada pihak yang kalah. Tidak. Karena yang sudah baik pun bahkan lebih baik lagi dari segi termnya. Tinggal sekarang pengoperasiannya, apakah Exxon Mobil atau Pertamina, ini juga memakan waktu berbulan bulan. Oleh karena itu saya sampaikan waktu itu mengapa tidak dilakukan, operasi bersama, setuju. Dan sekarang bagaimana bentuk dari operasi bersama ini yang kemarin masih ada beberapa versi, itu menjadi alternatif A dan alternatif B, “ kata Presiden ( nnf )