Berita Utama

Menneg BUMN Laporan Ke Presiden

Bahas Kinerja Pertamina

Presiden Susilo Bambang Yudhoyono bersama Wakil Presiden Jusuf Kalla dan Menneg BUMN Sugiharto (foto: Abror/presidensby.info)
Presiden Susilo Bambang Yudhoyono bersama Wakil Presiden Jusuf Kalla dan Menneg BUMN Sugiharto (foto: Abror/presidensby.info)
Jakarta; Sekembali dari kunjungan kenegaraan ke Brunei Darussalam, Kamboja dan Myanmar, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono meminta laporan dari Menneg BUMN Sugiharto yang bertanggung jawab terhadap korporat Pertamina dan Menteri ESDM Purnomo Yusgiantoro selaku regulator di Kantor Presiden, hari Jumat (3/3).

Selain kedua menteri tersebut, Presiden juga menerima Wakil Presiden Jusuf Kalla, Menko Perekonomian Boediono, Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati. Pada saat menerima tamu-tamunya, Presiden SBY didampingi Sekretaris Kabinet Sudi Silalahi .

“Presiden meminta saya untuk melaporkan apa saja yang dilakukan oleh Pertamina dalam rangka meningkatkan efisiensi dan efektivitas produktifitas Pertamina. Sebagaimana kita ketahui, on production, Pertamina mengalami penurunan secara signifikan antara 30.000-40.000 barrel. Jadi sebetulnya produksi Pertamina sangat kecil dibandingkan dengan produksi nasional secara keseluruhan yang jumlahnya hampir 1.000.000 barrel per-hari,” kata Sugiharto kepada para wartawan.

Dalam kesempatan itu, rekonsiliasi hubungan antara Pemerintah dengan Pertamina yang di tahun 2005 diwarnai dengan masalah seperti krisis stock juga dibahas.

“Masalah itu timbul akibat dari sistem informasi teknologi komunikasi internal Pertamina belum bisa diwujudkan yang lebih transparant dan accountable. Akibat dari itu tentu ada keterlambatan laporan,” tambahnya.

“Peningkatkan daya saing Pertamina baik di domestik maupun luar negeri juga dibicarakan. Petronas dan Shell sudah masuk ke distribusi dalam negeri. Bila Pertamina tidak siap diri maka dikhawatirkan Pertamina akan kalah bersaing dengan perusahaan-perusahaan minyak dari luar,” ujar Sugiharto.

“Presiden meminta laporan tentang proses corporate restructuring Pertamina yang sesungguhnya sudah berjalan selama beberapa tahun dan dikesankan adanya perlambatan dalam dua tahun terakhir ini dan juga kerjasama Pertamina dengan para kontraktor-kontraktor dari luar,” tambahnya.

“Diusulkan dalam pertemuan tadi agar Pertamina tidak hanya memfokuskan kepada bisnis minyak dan gas saja tapi juga memfokuskan pada bisnis biotermal atau panas bumi. Karena 40 persen cadangan panas bumi dunia ada di Indonesia,” tutup Purnomo. (osa)