Berita Utama

Tiga Keteladanan Kepemimpinan Jenderal M. Jusuf

Jakarta : Presiden Susilo Bambang Yudhoyono mengingatkan perlunya mengakui kelebihan dan keteladan, tanpa harus tergelincir pada kultus individu. Itu ditegaskan Presiden SBY saat peluncuran buku biografi Jenderal M. Jusuf, salah seorang saksi sejarah lahirnya Surat Perintah Sebelas Maret.

"Memang kita tidak bisa mengultuskan seseorang. Tapi tidak adil dan tidak jujur kalau hak seseorang memiliki kelebihan, lantas kita simpan dan kita tidak angkat untuk pembelajaran, untuk kebanggaan dan contoh oleh generasi yang akan datang, " Kata Presiden SBY.

Presiden Ke-6 RI ini melihat ada 3 kekuatan leadership yang dimiliki Jenderal M.Jusuf. Yang pertama, dekat dengan prajurit. SBY menceritakan pengalamannya sendiri bersentuhan dengan kepemimpinan M. Jusuf..

"Ketika saya berpangkat kapten memimpin pasukan, melakukan latihan fisik yang berat, berlari setiap hari 5 sampai dengan 8 km, lalu setelah selesai latihan berat itu, kita tersenyum karena ada susu sinta, ada kacang hijau, dengan gaji kecil. Bahkan kadang –kadang ¾ kita minum, seperempatnya untuk anak kita yang kecil. Karena Jenderal Jusuf ingin mensejahterahkan prajurit dan keluarganya,” ujar Presiden, disambut aplaus panjang para undangan yang memenuhi ruang puri agung Hotel Sahid, Jakarta.

Jenderal Jusuf dekat di hati prajurit dan rakyat. Kepala Negara mencatat penting perhatian M. Jusuf kepada para prajurit.

“Kedua, Jenderal Jusuf selalu ingin mensejahterahkan prajuritnya. kesejahteraan tidak harus harta benda , tidak harus uang, tapi sentuhan kasih sayang, perhatian, kedekatan. Itu semua ditunjukkan oleh Jenderal Jusuf. Karena itu pelajaran yang kita petik malam ini, saya minta kepada para Jenderal, Marsekal, Laksamana, kiranya dapat diteruskan , bahwa tugas saudara dalam mengembang tugas negara, sekaligus meningkatkan kesejahteraan prajurit,” pesan SBY.

Presiden pun mengingatkan kedekatan hubungan prajurit dengan rakyat di mana M. Jusuf dulu kerap menanamkan nilai itu.

" Saya pernah mendengarkan kalimat beliau, pendek kalimatnya tapi takjub: Dengan segala kelebihanmu, engkau tetap rakyat. Mengingatkan pada semua prajurit bahwa apapun yang dimiliki karena pendidikan, latihan, modernitas, engkau tetap rakyat. Itulah sebetulnya akar dari hubungan yang sangat dekat antara ABRI dan Rakyat saat itu, " kenang Presiden.

Dunia Barat dan demokrasi di negara lain melihat hubungan tentara dengan bukan tentara dalam format nilai – nilai demokrasi sesuai dengan tatanan konstitusi di mana domain militer, di mana domain politisi, yang tidak bertabrakan , tapi menjadi bagian utuh bagaimana sebuah demokrasi diterjemahkan

Tetapi di Indonesia, kata SBY, lebih dari sekadar itu.

“Semua itu akan tumbuh dengan subur apabila dipertumbuh pada ketegasan hati yaitu, kemanunggalan ABRI dan rakyat. Tumbuhnya militer di Indonesia boleh jadi sangat berbeda dengan pertumbuhan militer-militer di negara lain. Saya kira nilai itu masih sangat relevan , bahwa antara TNI dengan rakyat, haruslah bersatu, dekat, memikirkan apa yang diharapkan rakyat, " imbuh Kepala Negara.

Leadership yang ketiga, ungkap Presiden SBY, Jenderal Jusuf yang wafat di Makassar tahun 2004, ini banyak meninggalkan pelajaran tentang nasionalisme.

“Beliau sudah dapat mengatasi ikatan identitas, kesukuan, kedaerahan, meskipun beliau sangat bangga, dan sangat dekat dengan komunitas beliau, yaitu sebagai orang Bugis, tetapi tidak menghalang halangi, pikiran dan jiwa beliau. Sebab, beliau adalah tokoh nasional yang harus mencintai semuanya," pungkas Presiden.

Selain peluncuran buku, juga dilakukan pemutaran film dokumentasi Jenderal M.Jusuf. Kiprah dan pengabdiannya sebagai prajurit hingga ditunjuk Soeharto sebagai Menteri Perindustrian, lalu Menhankam Pangab. Terakhir jenderal kelahiran desa Kajuara, Kabupaten Bone, Sulawesi Selatan, memegang posisi orang nomor satu di Badan Pemeriksa Keuangan. (win)