Berita Utama
Minggu, 19 Maret 2006, 23:00:57 WIB
Dialog Dengan Kelompok Petani Kabupaten Buru
Presiden SBY dengan padi yang dipanen, di Pulau Buru Sabtu (18/3) pagi. (foto: abror/presidensby.info)
Dalam kesempatan dialog itu, tiga orang mewakili masing-masing kelompok dipersilahkan menyampaikan hal-hal yang berhubungan dengan pekerjaannya. Pertama Muh.Besang, mewakili masyarakat petani lahan basah dan pemuka adat.
Besang mengatakan sangat berterimah kasih pada pemerintah,karena sebelumnya daerah pulau Buru tertutup pepohonan lebat dan alang-alang. Tetapi dengan adanya program transmigrasi , daerah ini telah mengalami perubahan. Besang juga menyampaikan beberapa catatan.
" Saat ini masih banyak di dusun –dusun, lembah-lembah dan gunung yang belum menikmati listrik, pendidikan, kesehatan, irigasi, dan lain-lain,” paparnya.
Besang pun meminta bantuan pembinaan secara intensif untuk memajukan pertanian, peternakan dan perkebunan di dusun-dusun.
“Sebab kami juga ingin berkembang maju seperti saudara kami dari jawa, Madura dan Sunda," harap Besang, sembari mengusulkan Buru dimekarkan berhubung luasnya daerah kabupaten itu.
Giliran Lamasa Buton, mewakili lahan kering, menyatakan harapan mendapat bantuan traktor dan prasarana lainnya untuk membuka lahan. Sebelumnya, Lamasa juga berterima kasih karena berkat bantuan pemerintah, panen berjalan baik.
Giliran ketiga tampil ,Sunardi, tramsmigran mewakili lahan sawah. Sunardi mengungkapkan kesulitan yang dihadapi pihaknya pada musim hujan.
“Hasil produksi padi susah dikeringkan, jadi mereka (petani lahan sawah) berharap pemerintah dapat membantu mesin pengering, yang dalam 1 jam dapat mengeringkan 5 ton gabah. Lalu juga mesin perontok padi, “ tuturnya.
Dalam kesempatan itu Sunardi juga berterimah kasih kepada pemerintah yang telah memberikan bantuan paket 2000 ha, meliputi sarana produksi dan benih. Transmigran ini mengaku senang karena bantuan tersebut nyata mereka rasakan faedahnya.
Menanggapi ketiga penanya, Presiden SBY mengatakan Indonesia memiliki sejumlah 400 kabupaten/kota, sekian ribu kecamatan, dan 65.500 desa. Dari jumlah itu, banyak yang berkategori tertinggal atau miskin.
“ Oleh karena itu dalam pemerintahan yang saya pimpin, saya membentuk kementerian Indonesia Tertinggal. Saya ingin menteri Indonesia tertinggal bersama menteri teknis lainnya, gubernur, bupati, di seluruh Indonesia melihat secara nyata, menyusun rencana dan program, bagaimana secara bertahap daerah tertinggal mulai dibangun dan dimajukan," ujar Presiden SBY.
Dalam konteks pembangunan itu, semua dilakukan secara bertahap dan tidak harus serentak.
"Tentu tidak semua langsung dimajukan . Karena uang kita memang tidak mungkin memajukan semua desa tertinggal sekaligus. Penduduk Indonesia kurang lebih 220 juta, luas tanahair kita 8 juta km2, sekitar 2 juta daratan, selebihnya lautan, tentu masih banyak yang kita perlukan, irigasi, bendungan, jalan, listrik, dan lain-lain," jelas Presiden.
Presiden menambahkan kondisi Negara yang mengalami krisis, dan ekonomi Indonesia anjlok, minus pada tahun 1998.
“ Tahun demi tahun kita berjuang, mulai Presiden Habibie, Abdurrahman Wahid, Megawati, dan sekarang saya, dan pengganti-pengganti saya yang lain, akan terus membangun, agar ekonomi negara kita makin membaik. Allhamdulillah, yang tadinya minus pertumbuhannya, pelan-pelan mulai naik. Tahun 2004 lalu tumbuh 5,1 %, lalu 2005 5,6 %, mudah-mudahan 2006 dan seterusnya semakin tumbuh. " kata Presiden.
Presiden SBY menjelaskan, jika ekonomi makin tumbuh maka Indonesia bisa mengurangi pengangguran dan kemiskinan.
“ Di samping ekonomi tumbuh, penerimaan negara harus makin besar. Penerimaan negara itu darimana, dari pajak. Kita berharap saudara-saudara kita yang lebih banyak harta, bayar pajak, bayar bea dan cukai ari hasil penjualan ekspor kita, minyak, gas, pariwisata dan lain-lain. Ekonomi, harapan kita makin besar. Dengan catatan jangan ada yang dikorupsi, jangan ada yang hilang di tengah jalan, kalau kita sadar semua. Mulai dari saya sampai pemimpin paling bawah, bersama masyarakat luas dari Sabang sampai Merauke," papar SBY.
Presiden memesankan pentingnya kerja keras meningkatkan pertumbuhan ekonomi, meningkatkan penerimaan negara, dan memberantas korupsi. Jika itu dilakukan maka akan tersedia lagi dana, anggaran untuk melakukan pembangunan daerah tertinggal di seluruh tanah air.
“ Meskipun tetap bertahap, itu sedang kita lakukan, dan terus akan kita lakukan," tegas SBY.
Untuk tumbuhnya ekonomi, lanjut Presiden, banyak persyaratan mesti dipenuhi.
" Negara kita harus aman. Bagaimana mungkin ekonomi ini tumbuh, rakyat ingin sejahtera, kalau tidak aman, kalau kerusuhan ada di mana-mana,”tuturnya.
Presiden meminta semua pihak terlibat mencegah dan menghindarkan pelbagai hal seperti kerusuhan, kekerasan, dan permusuhan.
“ Politik, meskipun harus demokratis, ini amanah reformasi, kebebasan dijamin, tapi tidak boleh goncang, tidak boleh terus bergejolak, tidak stabil karena mengganggu. Penciptaan kondisi untuk ekonomi dan kesejahteraan rakyat, hukum tidak boleh kacau balau, harus ditegakkan. Demikian juga persaudaraan, kerukunan kita dan lain-lain, itu bisa kita bikin bersama-sama di seluruh Indonesia, tahun tahun mendatang," tegas SBY, optimistis.
.
"Kalau kita bikin seperti itu maka keinginan menaikkan ekonomi, penerimaan negara meningkatkan kesejahteraan rakyat, kesehatan, sandang, pangan, rasa aman tadi, dan Saudara mengusulkan pembangunan daerah tertinggal tadi, dapat kita capai. Itulah yang dapat kita lakukan di tanah air kita. Itulah dengan segala kekurangan pemerintah yang saya pimpin, dengan permasalahan yang tidak mudah melakukan hal-hal itu, saya meminta komitmen batin, moral, seluruh rakyat Indonesia, para tokoh politik, untuk memahami negara ini, perlu bekerja keras, membangun untuk rakyat," harap Presiden.
“ Atas permintaan yang Bapak - Bapak sampaikan tadi, apakah menyangkut sarana prasarana, infrastruktur, irigasi, air bersih, listrik, jalan, dan lain-lain, saya minta benar-benar dibicarakan dengan bupati, gubernur, menteri, pemerintahan pusat, bagaimana rencana pembangunannya, mana yang diprioritaskan. Tentu tidak sekaligus, secara bertahap," kata SBY.
Menyangkut pertanyaan Muh Besang tentang perlunya pemekaran kabupaten, SBY mengungkapkan banyak kisah di seluruh tanah air di mana pemekaran provinsi, kabupaten ternyata justru tidak membawa kebaikan. Pemekaran itu, jelas SBY, diperlukan apabila dengan pemerintahan yang ada-- apakah satu kabupaten atau satu provinsi-- tidak mungkin dilakukan pembangunan pemerintahan yang baik. Misalkan, daerahnya sangat luas dan masalahnya banyak
" Kalau dipecah jadi dua, entah 2 kabupaten, 2 provinsi, itu lebih baik hasilnya, lebih baik mekar, baru bisa kita katakana bahwa bagusnya, cocoknya, dimekarkan melalui mekanisme yang ada, karena pemekaran membawa kebaikan, kebaikan untuk masyarakat, " jelas Presiden.
Akan tetapi sebaliknya, jelas Presiden, jika pemekaran itu dilakukan bukan seperti dimaksud di atas, atau untuk yang lain, maka biaya yang dikeluarkan negara makin besar.
“Yakni membangun gedung-gedung baru, pengadaan mobil baru, menggaji yang tidak sedikit buat pejabatnya. Itu juga mengeluarkan biaya, yang kalau dikasihkan rakyat langsung untuk pendidikan, kesehatan, lebih bagus," pungkas Presiden.
Setelah melakukan dialog, Presiden SBY didampingi Ibu Negara Ani Bambang Yudhoyono, mengunjungi pameran kerajinan. Rombongan, di antaranya tampak menteri Kabinet Indonesia Bersatu dan Jubir Kepresidenan Andi Alifian Mallarangeng, lalu menuju lokasi panen raya padi dengan berjalan kaki. (win)



