Berita Utama

Konperensi Pers di Istana Merdeka

Indonesia Tidak Tolerir Elemen Negara Manapun Dukung Gerakan Separatis di Papua

Presiden SBY memberikan keterangan pers Senin (3/3) siang. (foto: abror/presidensby.info)
Presiden SBY memberikan keterangan pers Senin (3/3) siang. (foto: abror/presidensby.info)
Istana Merdeka; Usai acara credential menerima tiga Duta Besar baru Peru, Tunisia dan Turki, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono melakukan konperensi pers di Ruang Credential, Istana Merdeka, Senin (3/4/2006) siang. Presiden SBY menyampaikan tanggapan nya mengenai hubungan Indonesia – Australia yang minggu-minggu belakangan ini memasuki masa sulit dan penuh tantangan. Dalam konperensi pers sekitar 20 menit, Presiden SBY yang berbicara tanpa teks didampingi Sekretaris Kabinet, Sudi Silalahi dan dua Juru Bicara Kepresidenan Andi Alifian Mallarangeng dan Dino Patti Djalal.

Sebelum masa-masa sulit ini, jelas Presiden, hubungan Indonesia dan Australia sudah berjalan amat baik. Itu terlihat dengan kehadiran PM Australia John Howard ketika dalam pelantikan SBY menjadi Presiden Ke-6 RI, kunjungan-kunjungan John Howard ke Indonesia setelahnya, dan juga kunjungan Presiden SBY ke Australia pada masa awal kepemimpinannya.

Presiden SBY pun mengungkapkan apresiasi dan penghargaannya atas kontribusi pemerintahan Australia pasca bencana tsunami di Aceh dan Nias. Presiden SBY juga menyatakan dengan segala hormat dan terima kasih kepada Australia yang mendukung integritas teritorial Indonesia.Dalam konteks itu, tentu harus dapat dipastikan pula bahwa semua itu tercermin dalam sebuah implementasi yang tepat.

Jadi , sebetulnya hubungan kerjasama bilateral Indonesia-Australia sebelum kejadian suaka politik itu, amatlah baik. SBY menegaskan, ke depan, perlu ada dialog-dialog diplomatik lagi. Perlu duduk bareng lagi untuk membicarakan kerjasama dan persahabatan kedua negara.

Kelengkapan pernyataan Presiden SBY adalah sebagai berikut:

Hubungan Indonesia – Australia minggu-minggu belakangan ini memasuki masa yang sulit dan penuh tantangan. Tetapi tidak berarti tidak dapat kita atasi dan kita carikan solusi-- sepanjang kedua negara, Indonesia dan Australia memiliki niat baik, kejujuran dan kesungguhan untuk menjalin persahabatan, kerjasama dan kemitraan antara dua bangsa, dua negara dan dua pemerintahan.

Keputusan Australia untuk memberikan suaka politik kepada 42 WNI asal Papua dipandang oleh Indonesia sebagai keputusan yang tidak tepat, tidak realistis dan cenderung sepihak. Karena, kalau bicara keadilan maka harus dilihat dua belah pihak, karena ini menyangkut hubungan isu Indonesia dan Australia.

Dalam penyelesaian masalah pencarian suaka politik kemarin, seandainya ada komunikasi yang baik, ada pertukaran informasi yang baik, dan ada keinginan untuk melihat secara utuh dari kedua perspektif Indonesia dan Australia, sebagaimana yang saya inginkan, saya percaya ada opsi yang lebih baik daripada keputusan sepihak yang dilakukan pemerintah Australia.

Yang terjadi itu bagi Indonesia bukan hanya sekadar pemberian suaka bagi pencari suaka politik, tetapi sesuatu yang fundamental bagi negara Indonesia, yaitu kedaulatan dan kehormatan Indonesia sebagai bangsa dan sebagai negara. Melihat ke depan maka ada keperluan bagi kedua negara untuk melakukan dialog kembali dan pertemuan-pertemuan diplomatik yang sungguh-sungguh dan intensif untuk melihat kembali bagaimana sesungguhnya kerangka kerjasama dan persahabatan yang bersifat strategis dan komprehensif antara Indonesia dan Australia.

Ke depan nanti, kita perlu melihat berbagai kesepakatan yang telah kita sepakati, misalnya mengenai illegal migration yang terjadi tahun-tahun yang lewat dengan frekwensi yang cukup tinggi dan bagaimana sesungguhnya, termasuk dukungan terhadap Papua yang menjadi bagian sah dari RI.


Kita yakin kedua bangsa masih ingin menjalin hubungan baik, kerjasama yang baik, dan hidup berdampingan dengan damai dan saling menghormati kedaulatan dan kepentingan masing-masing. Maka harapan saya dengan sangat serius kita harus duduk kembali, dengan niat baik, keterbukaan dan kejujuran untuk merumuskan kembali kerangka kerjasama yang betul-betul terbuka dan melanjutkan kerjasama dan persahabatan kita dan membahas isu-isu bilateral kedua negara.

Indonesia sangat ingin dan betul-betul berkehendak menjalin hubungan dan bekerjasama dengan Australia dan juga negara-negara lain tanpa mengkompromikan kedaulatan dan kehormatan Indonesia sebagai bangsa. Indonesia tidak akan mentolerir upaya apapun dari elemen-elemen di negara manapun, termasuk Australia, yang nyata-nyata memberikan dukungan kepada gerakan separatis di Papua. Ini adalah posisi dasar Indonesia dan saya yakin Australia memberikan dukungan penuh pada kedaulatan teritorial kita. (nnf)