Berita Utama
Senin, 3 April 2006, 15:16:25 WIB
Menanggapi Pemuatan Kartun Tak Senonoh Media di Australia
Perang Karikatur Bukan Solusi, Tapi Masalah
Presiden SBY saat memberikan keterangan pers Senin (3/3) siang, didampingi Seskab Sudi Silalahi dan Jubir Andi Mallarangeng. (foto:abror/presidensby.info)
Berikut petilan lengkap SBY seputar isu kartun atau karikatur tersebut.
Saya memang menyesalkan dan prihatin atas penerbitan karikatur atau kartun tentang diri saya yang tidak senonoh dan berbau pelecehan. Saya ingin semua pihak bisa menahan diri. Baru saja kita mendapat pembelajaran di tingkat dunia dari karikatur Nabi Muhammad SAW yang telah menggoncangkan perasaan ummat Islam sedunia dan juga mendatangkan ketegangan baru, barangkali, yang disebut conflict of civilizations yang kita sepakat dan kita sadar untuk mengelolanya dengan baik dengan memberikan ruang untuk melakukan intercultural dialogue, interfaith dialogue dan inter-media dialogue.
Karikatur semacam itu di samping tidak senonoh dan cenderung agitatif, destruktif , bisa membangkitkan emosi rakyat. Saya mendengar bahwa sebuah media di negara kita juga menerbitkan kartun atau karikatur yang sejenis. Meskipun saya memahami bahwa barangkali media massa yang menerbitkan karikatur itu tentu ingin mengekspresikan kemarahan rakyat Indonesia atau mungkin barangkali berangkat dari nasionalisme yang tinggi . Tetapi saya berpesan, janganlah terlalu jauh. Kalau terlalu jauh nanti bisa menjadi bagian dari pelebaran masalah yang lebih menyulitkan lagi. Saya harus mengatakan kepada semua pihak di dalam atau di luar negeri, perang karikatur, perang media, perang statement itu bukan solusi, tetapi masalah.
Kewajiban saya, dengan mengambil pelajaran dari karikatur Nabi Muhammad yang lalu, kepada pers Indonesia, marilah kita lebih proper lagi, jangan melebihi batas kepatutan. Bisa diekspresikan emosi rakyat, harga diri dan kehormatan kita dengan cara yang lebih tepat.
Kepada pers Australia yang konon lebih matang, lebih dewasa, lebih beretika, ciri sebuah negara demokrasi, saya serahkan penuh kepada para pemimpin Australia. Saya yakin kalau niat kita ingin kembali menjalin hubungan baik, semua masalah itu akan dapat kita atasi.
Saya harus meletakkan keprihatinan saya, kekesalan saya terhadap pemuatan karikatur itu, saya sebagai kepala negara dengan tampilan seperti itu, di bawah kepentingan yang lebih besar: Bagaimana kita menyelesaikan permasalahan ini dengan jujur, arif dan tepat dalam kerangka tegaknya kedaulatan, harga diri, kehormatan bangsa yang tidak bisa ditawar-tawar lagi. Dan kedua, dalam rangka memulihkan kembali hubungan Indonesia-Australia yang mengalami keretakan setelah keputusan sepihak pemerintah Australia yang lalu. (nnf)



