Berita Utama

Presiden Lakukan Panen Raya di Merauke

Jangan Ada Kesenjangan Antara Penduduk Asli dan Pendatang

Presiden dan Ibu negara menari bersama penari suku Asmat di Merauke, Rabu (5/4) pagi. (foto: anung/presidensby.info)
Presiden dan Ibu negara menari bersama penari suku Asmat di Merauke, Rabu (5/4) pagi. (foto: anung/presidensby.info)
Merauke: Presiden Susilo Bambang Yudhoyono menginstruksikan pada jajaran baik di pusat maupun Provinsi Papua untuk melakukan secara nyata peningkatan kesejahteraan penduduk asli rakyat Papua. “Jangan sampai ada jarak atau kesenjangan antara penduduk asli dengan para pendatang. Karena itu harus ada program dan anggaran khusus yang dikelola secara bersama antara pemerintah daerah dan pemerintah pusat,” kata Presiden di Kecamatan Tanah Miring, Kabupaten Merauke, Papua Rabu (5/4) pagi, sebelum melakukan panen raya.

Terus bangun dan kembangkan daerah ini secara nyata agar dapat dilihat oleh rakyat, lanjut Presiden. “Tetap pelihara rasa persaudaraan yang harmonis antara penduduk asli dengan para pendatang. Karena itulah perlu program khusus untuk meningkatkan kesejahteraan bagi penduduk asli,” lanjutnya.

Pada kesempatan itu, Presiden juga mengingatkan bahwa banyaknya penderita HIV/Aids di Papua, khususnya Merauke, merupakan persoalan besar. “Untuk itu saya minta agar dilakukan penanganan khusus untuk mengatasi HIV/Aids ini dengan anggaran tertentu, baik dari daerah maupun dari pusat. Saya minta bulan pada Mei mendatang, dilaporkan pada saya di Jakarta program-program khusus itu, baik mengenai peningkatan kesejahteraan rakyat, penduduk asli dan penanggulangan HIV/Aids,” lanjut Presiden.

Mengenai pertanian dan panen raya, Presiden berharap agar Merauke bisa dikembangkan jadi lumbung padi. “Mari Merauke kita kembangkan jadi lumbung padi, jadi daerah pengembangan perkebunan antara lain dengan tanaman tebu dan kelapa sawit. Dan tingkatkan pula secara nyata masalah pendidikan. Kalau padi, tebu dan kelapa sawit berkembang dengan baik, demikian juga pendidikan berkembang dengan baik, maka akan lebih banyak lagi saudara-saudara kita yang dapat bekerja. Artinya kita dapat mengurangi pengangguran, dan kemudian akan lebih banyak lagi pajak yang diterima Pemda, yang dengan pajak itu akan dapat digunakan untuk meningkatkan pendidikan dan kesehatan untuk mengurangi angka kemiskinan di daerah ini. Dengan meningkatnya pendidikan, maka kita akan melahirkan tenaga-tenaga trampil baik di bidang pertanian maupun teknologi,” kata Presiden.

Usai memberi sambutan, Presiden menabuh kandara atau kendang tradisional suku Asmat, sebagai tanda dimulainya panen raya. Setelah itu, didampingi Menteri Pendidikan Nasional Bambang Sudibyo, Menteri Pertanian Anton Apriyantono, Pjs Gubernur Papua Sodjuangon Situmorang dan Bupati Merauke Johanes Gluba Gebze, Presiden menandatangni prasasti pembangunan gedung Sekolah Tinggi Teknologi Merauke.

Kemudian Presiden melakukan dialog dengan petani, nelayan dan tokoh masyarakat Merauke, dipandu Bupati Merauke Johanes Gluba Gebze. Seusai dialog, Presiden didampingi Ibu Negara dan rombongan meninjau pameran pertanian serta melihat penggilingan padi, kemudian menuju ke lokasi lahan yang berjarak sekitar 1 Km, untuk melakukan panen raya. Tiba di lokasi panen raya, rombongan disambut oleh tarian adat suku Asmat dengan iringan musik yang rancak. Bahkan Presiden kemudian minta sebuah kandara atau kendang, lantas menabuhnya. Ibu Negara tak mau kalah, dengan gerakan meloncat-loncat, Ibu Ani ikut menari bersama para penari Asmat.

Lahan siap panen 2005/2006 di Kecamatan Tanah Miring ini luasnya, 15.845 Ha, dengan produksi rata-rata perhektarnya 51/2 ton gabah kering panen. (win)