Berita Utama

Pertemuan Para Menlu Asean di Bali

Paling Sukses, Hasilkan Keputusan Memuaskan

Denpasar: ASEAN Ministerial Meeting ( AMM ) retreat yang berlangsung dari tanggal 19 - 20 April 2006 dan diikuti menteri luar negeri negara-negara Asean, telah menghasilkan keputusan yang memuaskan. Menlu Malaysia, Dato Seri Syed Hamid Albarmenilai, pertemuan di Bali ini paling sukses diantara pertemuan lain yang pernah digelar. Apa yang menjadi hasil dari pertemuan tersebut adalah sesuatu yang penting bagi negara-negara Asean, katanya.

"Kita melihat permasalahan yang kita hadapi sekarang ini, dan juga melihat tujuan kita kedepan, sehingga kita dapat bekerjasama untuk persatuan dan kepaduan negara-negara Asean,” kata Dato Seri Syed kepada wartawan. Menlu Malaysia ini memberikan keterangan pers didampingi Menlu RI Hassan Wirajuda dan Menlu Thailand Dr.Kantathi Suphamongkhon, seusai para menlu negara-negara Asenan dan anggota EPG (Eminent Persons Group on ASEAN Charter) dijamu makan siang oleh Presiden SBY di Istana Tampak Siring, Kamis (20/4) siang.

Lebih lanjut Dato Seri Syed mengatakan bahwa negara-negara Asean harus melakukan sesuatu untuk menjembatani “development gap” yang terjadi antar negara anggota Asean. Perkembangan tiap negara anggota Asean berbeda-beda, sehingga perlu adanya suatu sistem untuk mengatasi jurang pemisah itu.

Selain itu, forum ini juga membahas mengenai Myanmar. “Kami memfokuskan pada masalah memperkuat dan meningkatkan peran Asean sebagai regional dan internasional leve,l dimana Myammar menjadi isu penting. Negara anggota Asean ingin melihat bagaimana proses demokrasi di Myanmar dengan caranya sendiri,” tambahnya. "Yang penting adalah Myanmar perlu mengambil langkah-langkah penting dalam proses perubahan itu sendiri. Myanmar tidak suka ditekan, tetapi mereka lebih suka diberi masukan. Negara anggota Asean bisa menyatakan pandangannya, namun tetap tidak ingin mengintervensi urusan dalam negeri negara lain meskipun itu adalah negara anggota Asean sendiri."

Negara anggota Asean sudah menyampaikan pandangannya, dan kita lihat tindakan apa yang akan diambil oleh Myanmar. “Mengutip kata-kata Bapak Hassan Wirajuda, kita perlu amunisi yang kuat pada saat berbicara dengan Myanmar, sehingga apa yang kita sampaikan dapat meyakinkan mereka,” kata Dato Seri Syed Hamid. (nnf)