Berita Utama

Keterangan Pers SBY di Kuwait

Kerjasama Bilateral, Regional dan Global

Kuwait: Presiden Susilo Bambang Yudhoyono mengatakan, kunjungan kenegaraannya ke Kuwait diletakkan dalam 3 konteks, yaitu hubungan bilateral, regional dan global. Demikian dikatakan Presiden kepada wartawan di Istana Bayan, Kuwait, Minggu (30/4) sebelum melanjutkan kunjungannya ke negara ketiga, yaitu Qatar.

Dalam hal hubungan bilateral, kata Presiden, fokus pembicaraan menyangkut, pertama kerjasama peningkatan ekonomi meliputi bidang investasi, perdagangan dan energi, kedua adalah perbaikan kerjasama bidang ketenagakerjaan, dan ketiga adalah masalah pendidikan.


“Dari bidang energi, kita ingin kerjasama untuk membangun kilang minyak di Indonesia. Kita sepakat, Indonesia membeli minyak mentah dari Kuwait dengan pembiayaan dari IDB atau Islamic Development Bank dengan persyaratan lunak. Kemudian ada keinginan dari perusahaan minyak Kuwait untuk pengadaan avtur di bandara-bandara kita. Sejumlah keinginnan juga akan ditindaklanjuti, antara lain eksplorasi gas di barat Natuna dan di wilayah Indonesia Timur,” katanya.

“Kerjasama enegeri dengan Kuait ini menyangkut kerjasama perdagangan, kerjasama dalam joint investment, utamanya dalam pembangunan kilang, dan kerjasama dalam bidang jasa perminyakan. Misalnya, apakah putra-putri Indonesia bisa bekerja di industri perminyakan di Kuwait, atau sebaliknya, putra Kuwait bekerja di Indonesia. Khusus mengenai pembangunan kilang, tempat yang kita rancang untuk membangun kilang berbeda dengan yang juga kita rencanakan bersama Arab Saudi,” tambah Presiden..

Selanjutnya Presiden berkata, dengan besarnya permintaan BBM dalam negeri, dikaitkan dengan terbatasnya minyak mentah yang bisa kita produksi di dalam negeri, serta terbatasnya jumlah kilang dan sebarannya di dalam negeri yang sering mengakibatkan kelangkaan BBM, dan diperlukannya minyak mentah dari negara lain, maka kerjasama pembangunan kilang kita letakkan untuk memenuhi tiga kepentingan itu.

“Jadi kita akan punya kapasitas dan sebaran yang lebih baik lagi, sehingga distribusi BBM di seluruh tanah air, disamping cukup mempertahankan security of suplay, juga secara geografis lebih dekat sehingga bisa mengurangi biaya transportasi. Harapan kita, nantinya di Tengah dan Timur, entah di Jawa Timur, Sulawesi atau tempat-tempat lain yang memungkinkan untuk itu. Satu hal yang saya putuskan dan para menteri akan menindaklanjuti, kerjasama itu harus juga melibatkan Pertamina. Kita ingin Pertamina bisa mendapatkan peluang. Dengan Kuwait, nantinya Kuwait Petroleum Company akan bekerjasama dengan Pertamina di dalam pembuatan kilang,” jelasnya.
Semua itu akan dibahas dalam joint commition meeting yang disetujui akan diadakan di Indonesia bulan Juli mendatang. Kita akan rumuskan lagi agenda, time table dan jadwal lebih rincinya.


“Dari sisi perdagangan, kita berharap Indonesia bisa mendapatkan pasar lagi di Kuwait, yaitu kita ingin handicraft kita yang kwalitasnya sangat baik bisa kita pasarkan di Timteng, termnasuk di Kuwait. Ada semacam komitmen untuk membuka pameran barang-barang kerajinan kita di Kuwait. Ini bisa membuka peluang tenaga kerja dan menambah peningkatan kesejahteraan rakyat.” .

Di bidang investasi, kata Kepala Negara, kita akan undang sejumlah pengusaha Kuwait untuk hadir dalam infrastructure meeting bulan September mendatang di Jakarta. “Untuk itu kita berharap akan bisa menawarkan investasi di bidang jalan tol, dan juga dan bidang-bidang lain.”

Bidang tenaga kerja, juga perlu dilakukan kerjasama yang lebih konkrit, kata Presiden. “Pertama, perlunya dilakukan perlindungan hak-hak TKI di Kuwait. Emir Sheikh Sabah dalam pertemuan bilateral hari Sabtu mengatakan, Kuwait akan meningkatkan perlindingan hak dan pelayanan pada TKI. Kita hargai itu. Sebaliknya, di Indonesia, kita juga akan melakukan penataan dan penyempurnaan sistem, mekanisme dan penyiapan pengiriman TKI sejak di tanah air. Dan yang ketiga, yang tidak kalah penting adalah membuka peluang-peluang yang cukup luas untuk mereka yang mempunyai kemampuan bidang medis, jasa, perminyakan dan sebagainya,” jelas Presiden.

“Kita harapkan, dengan kecerdasan kita untuk mengintip kebutuhan pasar di Kuwait ini, kita bisa menyiapkan dengan kriteria dan bekal yang diperlukan untuk bisa bekerja di sini. Tiga komponen itulah yang kita hasilkan dalam pembahasan dalam hal tenaga kerja.”

“Soal pendidikan juga demikian. Kita ingin memelihara dan meningkatkan lagi jumlah mahasiswa yang belajar di Kuwait.. Menteri Agama juga sudah melaporkan kepada saya hasil pembicaraan dengan partnernya dari Kuwait, dan masih sangat dimungkinkan untuk peningkatan di bidang pendidikan ini,” kata Presiden. Saya juga sudah mengundang Yang Mulya Emir Sheih Sabah dan Perdana Menteri Syeikh Naseer untuk bisa berkunjung ke Indonesia, agar kita bisa menindak lanjuti dan meningkatkan semua kerjasama yang telah kita sepakati bersama, tambahnya.


“Sedang untuk agenda regional, sebagaimana yang juga saya bicarakan dengan Presiden IDB di Jeddah, serta pembicaraan saya dengan Sekjen Organisasi Konferensi Negara-negara Islam juga di Jeddah, maka Indonesia ingin terus melibatkan peranannya dalam upaya menyelesaikan masalah-masalah di Timur Tengah, khususnya masalah Palestina. Dukungan kita kepada Palestina untuk betul-betul menjadi sebuah negara yang berdaulat dan damai untuk membangun masa depannya, sekaligus dalam satu konteks penyelesain konflik Palestina – Israel. Kita membicarakan banyak hal dalam konteks itu, dan dalam pembicaraan bilateral Indonesia – Kuwait, Emir Sabah telah menyampaikan pandangan-pandangannya, bagaimana sebaiknya kita bersama-sama untuk ikut serta dalam memelihara situasi di Timur Tengah agar tidak menjadi berbahaya yang bisa meluas ke banyak negara di dunia ini. Karena kalau konflik Palestina – Israel meletus, maka dampaknya bisa mengalir ke semua negara,” jelas Presiden.

“Tiga hal yang sama-sama kita merasa peduli untuk ikut serta penyelesaian yang sebaik-baiknya, yaitu masalah penyelesaian Palestina, Iran dan Irak. Kuwait memberi pandangan-pandangan yang kurang lebih sejalan dengan Indonesia. Saya sampaikan, Indonesia berharap agar masalah di Palestina dan di Irak bisa diselesaikan secara damai, adil, dan melihat ke depan. Kita berharap di Irak tidak terjadi kerusuhan yang lebih meluas lagi, dan tidak terjadi perang saudara. Kita ingin pemerintah Irak bisa menjalankan tugasnya dengan baik, bisa melaksanakan rekonsiliasi nasional, dan dengan demikian Irak bisa dibangun untuk kepentingan rakyat Irak yang sudah demikian mendambakan keadaan dalam negeri yang aman, “ jelasnya.

Soal palestina, Indonesia berpendapat harus memberikan kesempatan kepada pemerintahan yang baru di Palestina untuk melaksanakan tugas pemerintahannya, untuk melanjutkan upaya bersama dengan pihak lain, termasuk Israel dan negara-negara Islam, termasuk kwartet yang juga ingin menyelesaikan masalah Palestina dengan baik. “Kita memberikan ruang dan waktu kepada pemerintrah baru Palestina untuk bersama-sama menjalankan tugas pemerintahannya, memberikan kesejahteraan bagi rakyatnya dan masalah internasionalnya. Dan kita bersepakat hendaknya bantuan kepada Palestina itu tetap diberikan , agar tugas-tugas itu bisa dilaksanakan dengan baik<” harap Presiden.


“Bagi kita, tidak ada keharusan politis bagi Indonesia untuk mendapatkan restu dari kwartet. Niat kita konstruksitf, berangkat dari aspirasi dan sikap rakyat Indonesia. Tujuannya baik untuk penyelesaian secara damai. Dengan demikian kalau memang sudah pas formatnya, lebih-lebih bila kita dengan Palestina sendiri sudah menyekati hal-hal yang lebih konkrit, tentunya kwartet itu akan memahami bahwa peran Indonesia adalah peran yang baik dan positif. Yang penting harus kita matangkan dahulu kontribusi kita ini” kata Kepala Negara.


“Kemudian yang menyangkut Iran, kita sepakat agar ketegangan yang sekarang bisa ditutunkan. Kita prihatin, ketegangan begitu tingginya antara Iran dengan negara-negara lain, termasuk yang terjadi di PBB. Kalau semua bangsa termasuk PBB tidak arif, bisa menimbulkan masalah yang tidak perlu. Kita berharap Iran bisa melanjutkan kerjasama dan konsultasinya IAEA agar tidak terjadi sesuatu yang mencemaskan dunia.”


Pada tingkat global, dalam hal adanya gap antara Barat dan Islam, Indonesia berharap juga bisa mengambil peran yang positif. “Pihak Kuwait merasa banyak persamaan dengan Indonesia, karena ternyata Islam, demokrasi dan modernitas tidak perlu dipertentangkan. Tetapi kalau bisa kita kelola dengan baik, maka Islam, Demokrasi dan modernitas akan harmonis. Dalam semangat inilah kita ingin menggalang semangat yang lebih luas lagi untuk menunjukkan kepada dunia, bahwa Islam sebenarnya adalah Islam yang teduh dan mencintai perdamaian, keadilan, dan ingin menjalin persahabatan dengan negara lain. Kita berharap kita bisa memunculkan wajah Islam yang sesungguh-sungguhnya,” kata Presiden.