Berita Utama

Puisi SBY Pekan Ini:

Shinta, Kau Bukan Dirimu

Sungguh anggun si jelita Shinta malam itu
Bergaun hitam, berdandan rapi, berkalung
mutiara
Melangkah ke panggung dengan tatapan ceria
Diterimanya piala indah, kuning keemasan
dan diangkatnya tinggi-tinggi lambang
kemenangan
“ Reformis Pemberani 2004 “

Shinta memang populer, vokal dan flamboyan
Sosok pemberani tak kenal kompromi
Penjaga keadilan, penegak kebenaran
Penghajar menteri dan politisi hitam
dan siapapun yang dijadikan sasaran

“ Aku ucapkan terima kasih kepada
The Global Revolution
yang telah menganugerahiku gelar
Reformis Pemberani 2004
Aku bangga !
Aku bahagia ! “

Tiba-tiba . . .
Suasana terkoyak, hadirin terkesima, Shinta
terhenyak

“ Saudara-saudara, Shinta pembohong!
Dia jual negara dan kehormatan bangsa
tanpa dosa
Dia sebarkan fitnah dan tuduhan tanpa
fakta
Ratusan korban telah jatuh dan hancur
ternista “

Teriak lelaki muda, berbusana biasa

“ Dia orang gila, perusak acara !
Satpam, ke mana anda ?
Kau biarkan laki-laki busuk ini
di ruang terhormat bersama kita ?
(teriak Shinta)

“Benar !
Benar !
Tangkap dia !
Keluarkan dia !“
(sambut hadirin dalam murka)

Lelaki malang itu digandeng ke luar ruangan
Dan Shinta menang
Namun, meski raga Shinta tegak menantang,
Jiwanya tertuduk dan jatuh di tangga
kehormatan

“ Shinta, kau bukan dirimu
Tidakkah kata lelaki itu separuhnya
benar ? “


Jakarta, 29 Januari 2004


(Dari buku kumpulan puisi Susilo Bambang Yudhoyono, Taman Kehidupan, Jakarta: 2004)