Berita Utama
Selasa, 23 Mei 2006, 14:00:33 WIB
Presiden Minta Para Gubernur Cermati Perkembangan Global
Mataram : Presiden Susilo Bambang Yudhoyono minta agar para gubernur turut mencermati perkembangan global, dan cerdas mencari peluang karena kesulitan ekonomi, akibat Amerika yang mengalami inflasi, pergerakan nilai tukar rupiah terhadap Dolar AS dan nilai harga saham gabungan yang turun. "Hal itu tidak hanya terjadi di Indonesia, tetapi secara global.Karena itu pandai - pandailah, dan jangan menambah kepanikan diri sendiri, jangan kehilangan orientasi. Kita tata semuanya sehingga bisa kita manage, " kata Presiden SBY hari Selasa (23/5), ketika memberi sambutan pada pembukaan Rapat Kerja APPSI (Asosiasi Pemerintah Propinsi Seluruh Indonesi ), Selasa (25/5) di Mataram, NTB.Presiden menjelaskan, anjloknya nilai tukar rupiah cukup terasa, dikarenakan 4 bulan terkhir ini nilai tukar semuanya membaik terhadap Dollar AS. "Sedangkan nilai rupiah membaiknya termasuk kelewat baik, sehingga ketika terjadi koreksi, maka koreksinya juga menjadi cukup besar. Sebetulnya dengan nilai 1 Dollar AS sama dengan Rp. 9.200 - Rp 9.300 itu sudah sesuai dengan yang terjadi di forum global. Oleh karena itu kalau kursnya pas, maka akan baik bagi impor maupun ekspor, dan baik bagi pembayaran hutang, " kata Presiden.
Sekali lagi Presiden menegaskan untuk tidak menjadi panik, karena fundamental ekonomi kita saat ini baik, bahkan cadangan devisa kita mencapai nilai tertinggi dalam sejarah, yaitu senilai 43,8 Milyar Dollar AS. Tetapi adanya global imbalance memang diakui Presiden membawa dampak yang kurang baik bagi nilai ekspor kita. " Akibat global imbalance ini, yang kuat tetap kuat, meskipun resesi. Tetapi karena resesi market di negara mereka semakin mengecil, dan dampaknya ekspor kita terganggu, karena itu saya minta perbesar pasar domestik, sehingga kita tidak terlalu terpengaruh dengan apa yang terjadi di luar sana, " kata Presiden.
Selain itu pertumbuhan ekonomi kuartal I tahun 2006 ini kurang menggembirakan, yaitu senilai 4,5 %, karena daya beli yang masih belum pulih, dan anggaran pemerintah yang dinaikkan belum mencairkan. ( nnf )



