Berita Utama
Senin, 29 Mei 2006, 20:38:43 WIB
Presiden: Tidak Ada Penjarahan
Yogyakarta : Beredarnya isu adanya penjarahan yang dilakukan warga korban bencana gempa bumi baik di Yogyakarta dan Jawa Tengah ternyata tidak benar. "Beredarnya isu itu akibat kesalapahaman masyarakat lokal, mengingat bantuan yang datang tidak serentak memenuhi kebutuhan posko-posko pengungsi yang ada. Jadi ketika ada yang terlewati, masyarakat menganggap mereka tak terlayani, padahal nantinya semua akan mendapatkan bantuan,” hal ini dikatakan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, Senin (29/5) petang, di teras depan Gedung Agung Yogyakarta, dalam keterangan persnya usai memimpin rapat kordinasi dengan Bakornas dan Satkorlak.“ Tadi pagi saya mendapatkan laporan, setelah saya cek di lapangan, duduk persoalannya ternyata mereka bukan menjarah dalam artian kejahatan, tetapi karena logistik ini mengalir, mungkin dengan tujuan-tujuan tertentu, masyarakat lokal di situ tidak paham. Mereka mulai khawatir, ini kok bantuan ke sana, ke sini, kok kami tidak dapat? Jadi sebenarnya minta supaya bantuan itu juga dialirkan ke situ, “ jelas Presiden SBY.
Jadi, kata Presiden SBY, "Apa yang dilakukan masyarakat dengan menahan bantuan janganlah dianggap kejahatan “ Saya tidak melihat adanya kejahatan, tetapi tolong kami dibagikan. Oleh karena itulah Satkorlak akan betul-betul menata, hingga tujuan – tujuan yang jelas disampaikan melalui Bupatinya dan bawahannya, sehingga tidak perlu ada kekhawatiran tidak mendapatkan dukungan,” ujar Presiden SBY.
“Namun demikian jajaran kepolisian sudah kami berikan tugas, amankan dan tertibkan, agar sampai ke sasaran yang diharapkan, “ tegas Presiden SBY, didampingi beberapa menteri antara lain Menkeu Sri Mulyani, Menteri ESDM Purnomo Yusgiantoro, Menhub Hatta Radjasa, Mensos Bachtiar Chamsyah, Menkes Sitti Fadillah Supari, Seskab Sudi Silalahi, Panglima TNI Djoko Suyanto, Gubernur Yogyakarta Sri Sultan Hamengkubuwono X dan Gubernur Jawa Tengah Mardianto.
Pada hari ketiga pasca gempa, menurut data Pemda DIY yang dibacakan langsung gubernurnya, Sri Sultan, jumlah korban meninggal 3.457, luka-luka 6.608, kerusakan bangunan, yang rata dengan tanah, 12.073, kerusakan berat 1.950, ringan 4.856. Sedang untuk kawasan Jawa Tengah khusus di Kab.Klaten menurut Gubernur Jateng Mardianto, jumlah korban tewas 938, luka-luka 3.158, rumah yang rata dengan tanah 19.416, yang rusak ringan 3.122.(win)



