Berita Utama

Menko Kesra Laporkan Perkembangan Merapi

Kondisi Merapi Tidak Masalah

Jakarta : Selain masalah penanganan pasca gempa di Yogya dan Jateng, Menko Kesra Aburizal Bakrie juga melaporkan kondisi Gunung Merapi yang juga berada di Jogja kepada Presiden. Kepada pers sekali lagi Aburizal menyampaikan bahwa secara ilmiah kondisi Merapi tidak menjadi masalah besar. "Setelah kemarin diberitahukan oleh Pak Hatta (Menhub Hatta Rajasa; red) dan Pak Purnomo (Menteri ESDM Purnomo Yusgiantoro; red) masalah Merapi tidak menjadi suatu masalah, dan tentu secara ilmiah kita nyatakan tidak menjadi satu masalah besar, dan Insya Allah secara ilmiah itu benar nantinya," tegas Aburizal di Kantor Presiden, Rabu (7/6) sore.

Aburizal menjelaskan, secara ilmiah kondisi Gunung Merapi akan aman dan kalaupun terjadi sesuatu seperti awan panas, maka jarak maksimum yang bisa dicapai oleh awan panas tersebut sekitar 6,5 km dari puncak gunung Merapi. Karena itu Aburizal meminta kepada Bupati Sleman dan Magelang untuk dapat mengungsikan penduduk di wilayah hingga 7 km dari puncak Merapi. Sedangkan untuk 3 sungai yang mengalir di sekitar Gunung Merapi, yaitu Sungai Krasak, Sungai Gendol, dan Sungai Boyong, Aburizal meminta agar jarak sejauh 300 meter ke kiri dan 300 meter ke kanan dari ketiga sungai tersebut tidak boleh ditempati penduduk.

Menanggapi beredarnya isu akan adanya tsunami, Aburizal menyatakan bahwa isu tersebut tidak benar. "Sudah berjuta-juta tahun lempeng itu selalu ada pergesekan. Tapi saya kira secara ilmiah saya nyatakan, insya Allah tidak akan terjadi tsunami seperti yang diisukan dan dibicarakan banyak pihak, bahkan sms-sms yang beredar. Saya menyarankan kepada semua pihak yang menerima sms untuk tidak meneruskannya lebih lanjut," Aburizal menandaskan.

Masalah lain yang dilaporkan Aburizal kepada Presiden adalah mengenai adanya masalah–masalah kesehatan pasca gempa di Yogya – Jateng maupun di wilayah seputar Gunung Merapi. “Yang pertama adalah masalah campak yang setelah diteliti di laboratorium berasal dari virus rubella, dan untuk menanganinya telah diadakan vaksinasi pada balita. Yang kedua adalah masalah tetanus dan tetanus difteri. Setelah diberikan suatu imunisasi tetanus dan vaksinasi tetanus difteri yang vaksinnya itu sekarang sudah cukup, tapi perlu penambahan vaksin. Kepada Menkes telah disampaikan mengenai masalah ini agar segera ditambahkan, baik vaksin untuk tetanus difteri maupun vaksin tetanus dapat diberikan kepada seluruh rumah sakit, dan puskesmas-puskesmas yang ada," Aburizal menambahkan.

“Yang ketiga adalah masalah psikoterapi yang diberikan kepada orang-orang yang depresi akut, jumlah depresi akut ada 84 kasus. Dari 84 kasus itu, 25 orang telah dikembalikan ke rumahnya, masih 59 orang yang berada di rumah sakit mendapat psikoterapi," lanjut Ical. (nnf)