Berita Utama
Rabu, 14 Juni 2006, 17:03:14 WIB
Menristek Presentasikan BBNabati
Menristek Kusmayanto Kadiman bersama timnya seusai presentasi BBNabati, Rabu (14/6). (foto: haryanto/presidensby.info)
“Presiden menagih, apa saja yang sudah kita lakukan dari penugasan yang diberikan,” kata Kusmayanto. “Dan kami tadi menjelaskan program-program penyediaan bahan bakar nabati yang sifatnya baru dan perbaharukan,” tambah Kusmayanto yang didampingi Kepala BPPT Said D Jenie, Staf Ahli Menristek Martin Djamin, dan kepala Balai Besar Teknologi pati BPPT Agus Eko Tjahjono. Dalam pertemuan tersebut Presiden SBY didampingi Menteri ESDM Purnomo Yusgiantoro, Menneg BUMN Sugiharto, Sekretaris Kabinet Sudi Silalahi, Dirut PT Pertamina Ari H. Soemarno dan Kepala BP Migas Kardaya Warnika.
Beberap waktu yang lalu, Departemen Riset dan Teknologi bersama dengan Pertamina sudah melakukan launching Biosolar yang sekarang sudah tersedia di beberapa SPBU. Langkah selanjutnya, menurut Kusmayanto, akan terus dilakukan kegiatan pemanfaatan tanaman-tanaman lain yang juga berpotensi untuk bahan bakar, misalnya potensi dari tebu, singkong beracun, dan sorghum.
“Kami paparkan kepada Presiden hasil pemrosesan yang telah dilakukan dari uji coba. Kami menambahkan 10 persen Bioetanol ke dalam premium, maka bukan hanya keekonomian dan lapangan pekerjaan baru yang akan kita dapat, satu hal yang sangat membanggakan kami adalah bahwa kinerja dari Biopremiun akan setara dengan Pertamax, dengan harga yang tentu jauh lebih murah daripada Pertamax,” tambahnya. Aktivitas penyediaan bahan baku dan kegiatan produksi Bioetanol derajat bahan bakar ini akan menyerap 3,6 juta tenaga kerja kebun dan 2,280 tenaga kerja terampil terdidik sederajat SMK sampai S1.
Bioetanol adalah cairan biokimia dari proses fermentasi gula dari sumber karbohidrat menggunakan bantuan mikroorganisme. Bioetanol dibuat dengan bahan baku bahan bergula seperti tebu, nira, aren, bahan berpati seperti jagung dan ubi-ubian dan bahan berserat yang berupa limbah pertanian yang saat ini masih dalam taraf pengembangan di negara maju.
Hal ini mendapat dukungan positif dari Menteri ESDM dan Menneg BUMN, bahkan dalam waktu dekat akan ditindaklanjuti dengan memberikan instruksi-instruksi nyata kepada BUMN lainnya.
Presiden menyampaikan bahwa sekitar 600 ribu hektar areal yang dibutuhkan sebagai lahan untuk mengembangkan energi bukanlah angka yang mustahil, karena telah dokunsultasikan pula dengan Badan Pertanahan Nasional dan Departemen Pertanian.
Berdasarkan Perpres No.5 Tahun 2006 tentang Kebijakan Energi Nasional, biofuel ditargetkan memberikan kontribusi sebesar lima persen dari energy-mix. Dengan asumsi perbandingan masing-masing jenis bahan bakar sesuai dengan komposisi tahun 2005, Bioetanol derajat bahan bakar (fuel grade etanol) yang harus diproduksi pada 2005 sebesar minimal 6,28 juta kL. Untuk memenuhi kebutuhan Bioetanol ini diperlukan pabrik Bioetanol sebanyak 314 pabrik yang masing-masing memproduksi 60 kL per hari dan bahan baku setara 41 juta ton ubikayu. (osa)



