Berita Utama
Minggu, 2 Juli 2006, 09:07:33 WIB
SBY: Kembangkan Bioenergi
Presiden SBY dan para menteri jogging di perkebunan Magelang, Minggu (2/7) pagi, sebelum kembali memimpin ratas. (foto: abror/presidensby.info)
Presiden SBY didampingi Ibu Ani, beserta rombongan, memanfaatkan udara segar untuk melakukan jalan santai, mengelilingi areal perkebunan Losari, seperti perkebunan kopi, agrobisnis, sambil minum jamu. Juga ada kacang rebus dan ubi, yang telah tersaji. Tak terasa kurang lebih 1 jam, jalan santai usai.
Usai jalan santai, Presiden SBY menyempatkan bergabung bersama wartawan, berdialog, dan foto bareng. Betul-betul suasana terbangun dengan nyaman. Dalam dialog itu, Presiden SBY menjelaskan, “bahwa tadi malam (Sabtu, 1/7), saya telah membuka pertemuan dengan suasana alam yang sejuk, udara segar, dan hari ini kita lanjutkan lagi secara maraton, sampai malam, membahas bagaimana memanfaatkan bioenergi untuk kesejahteraan masyarakat di masa akan datang. Sayang kalau kita tidak memanfaatkannya,” kata SBY yang mengenakan baju olahraga berwarna kuning.
“Kita harapkan ada satu master plan, bagaimana kita mengembangkan bioenergi ini, disamping kita meningkatkan produksi dalam negeri, bisa mengurangi impor, menciptakan lapangan kerja pedesaan, meningkatkan ekonomi lokal. Usaha Kecil Menengah (UKM) tumbuh juga, mengurangi urbanisasi, dan tentunya mengurangi beban kota," Presiden SBY menambahkan.
Dalam rapat tersebut juga dibahas bagaimana produksinya, lahannya, mesinnya, pemasarannya, kerjasama pemerintah dan swasta, community, dan kerjasama internasional. Presiden SBY menjelaskan, program bioenergi ini sudah berhasil dilakukan di negara lain.
Selain itu, Presiden SBY mengatakan, " bahwa tanah yang dulunya dikuasai beberapa konglomerat, telantar sekarang, kritis, tandus, bisa diolah. Rakyat hanya melihat, bisa menggunakannya, mengolahnya satu sampai dua hektar. Itu kan jadi adil, ini sebenarnya konsep besar,” kata Presiden SBY.
Losari Coffee Plantation ini sendiri, menurut Suprapto, direktur pengelolanya, awalnya perkebunan kopi milik seorang warga negara Belanda, dibangun pada tahun 1992. Luasnya sekitar 22 hektar, berada di ketinggian kurang lebih 900 meter dari permukaan laut. Pada tahun 1964, perkebunan kopi beserta bangunan kunonya dijual ke pribumi. "Lalu sekarang dikelola empat perusahan dan Pemda Jateng," Suprapto, mantan Ka. Bawasprov Jawa Tengah, bercerita. (win)



