Berita Utama
Selasa, 18 Juli 2006, 19:30:06 WIB
Rapat Kabinet Khusus Bahas Gempa dan Tsunami
Perlu Ditingkatkan Peralatan Deteksi Gempa dan Tsunami
Jakarta: Presiden Susilo Bambang Yudhoyono mengintruksikan agar sistem deteksi dan informasi gempa dan tsunami terus menerus ditingkatkan. Demikian juga peralatannya, serta jaringannya. Wakil Presiden Jusuf Kalla, Selasa (18/7) malam mengatakan hal itu kepada wartawan, seusai mengikuti rapat kabinet yang khusus membahas gempa dan tsunami pantai selatan Pulau Jawa. Rapat dipimpin langsung Presiden SBY.Menurut Wakil Presiden, tanggap darurat berjalan dengan baik, berdasarkan sistem yang dijalankan. Pemda, Satkorlat, TNI, Polisi dan Dinas Kesehatan bekerja sesuai sistem, sehingga tidak menimbulkan gejolak sosial di masyarakat. "Kedepan kita akan terus meningkatkan sistem deteksi kita. Peralatan kita harus investasi lagi, dan sepanjang pantai Indonesia, kita harus melengkapi peralatan – peralatan, seperti misalnya sirene-sirene, supaya lebih cepat,” kata Wapres.
"Dalam rapat kabinet yang baru saja selesai, dibahas peningkatkan sistem penanggulangan bencana. Pertama sistem deteksi dan informasi. BMG disini yang punya tugas utama. Seperti diketahui, kita sedang membangun early warning system. Ini baru kita lakukan di Sumatera. Sedangkan di Jawa, kita baru mempunyai sistem dektesi tentang gempa, yang kemungkinan bisa terjadinya tsunami. Kita baru mulai dari utara ke selatan," jelas Wapres.
Ditambahkan, "Tadi kita dengarkan paparan BMG, bahwa menit keempat setelah jam 15. 19 Wib. BMG sudah mengetahui adanya gempa dengan kekuatan 6,8 Skala Richter, dan sudah di informasikan secara otomatis ke empat ratus point, termasuk ke media. Tapi BMG belum mengetahui apakah gempa itu mempunyai potensi timbulnya tsunami atau tidak, karena peralatan kita hanya bisa mendeteksi gempa. Kita belum mempunyai alat seperti yang kita bangun di Sumatera. Baru beberapa menit kemudian kita ketahui ternyata berpotensi tsunami, kemudian di informasikan lagi," tambahnya.
“Prosedur informasi dan latihan akan terjadinya gempa dan tsunami sudah berjalan, dan daerah Ciamis termasuk daerah yang pernah melakukan latihan bersama masyarakat. Menurut Bupati Ciamis, dia telah melakukan latihan-latihan kalau terjadi gempa dan tsunami. Akan tetapi yang terjadi jenis gempa ini istilah BMG, 1 MMI, cukup kecil. Tidak terasa kalau kita sedang berjalan. Kemungkinan masyarakat tidak terlalu mempedulikannya, atau banyak masyarakat kita yang sedang tidur sore, sehingga menimbulkan korban lebih banyak,” kata Wapres JK.
Mengenai jumlah korban, Wapres menjelaskan, hingga Senin (18/7) sore, jumlah korban meninggal 341 orang, rinciannya di wilayah Jawa Barat 239 orang, Jawa Tengah 102 orang. Korban meninggal itu termasuk 3 orang warga negara asing (WNA), terdiri dari Jepang 1 orang, Belgia 1 orang dan Swedia 1 orang, ditambah 3 orang Arab menderta luka. Korban hilang total 229 orang, rinciannya di Jawa Barat 106 orang dan Jawa Tengah 123 orang. Kemudian korban luka berat 24 orang, ringan 58 orang, sedang dirawat di rumah sakit 70 orang. Jumlah pengungsi di Jawa barat 23.400 KK, sedang di Jawa Tengah 35.239 orang.
Saat memberikan keterangan pers, Wapres Jusuf Kalla didampingi Menko Kesra Aburizal Bakrie, Menhub Hatta Rajasa, Menteri ESDM Purnomo Yusgiantoro, Menristek Kusmayanto Kadiman dan Jubir Kepresidenan Andi Mallarangeng. (win)



