Berita Utama

Presiden Terima Tim Jatropha Expedition

Jakarta: Pemerintah bersama-sama dengan semua kalangan ingin mengembangan green energi secara besar-besaran. Tujuannya adalah untuk kepentingan security of energy supply dan menciptakan lapangan pekerjaan yang lebih besar. “Pertanian dan perkebunan singkong, tebu, kelapa sawit dan jarak, tersebar di seluruh tanah air. Harapan kita, lapangan kerja di daerah pertanian, pedesaan dan daerah tertinggal dapat ditingkatkan, sehingga ekonomi nasional dan lokal bergerak, dan kita punya penghematan devisa untuk mengimpor BBM,” ujar Presiden Susilo Bambang Yudhoyono saat memberikan sambutannya di depan Tim Jatropha Expedition 2006 di lapangan ex-Bina Graha, Kamis (20/7) sore.

Tim ekspedisi yang sudah menempuh perjalanan kurang lebih 3.200 km ini pada awalnya berangkat menggunakan delapan mobil. Namun karena mengalami kecelakaan saat melintasi jalur pantai utara (Pantura) Jawa, sebuah mobil pendukung tidak bisa melanjutkan perjalanan. Tim Jatropha Expedition 2006 berangkat Rabu (12/7) dari halaman kantor Bupati Kabupaten Belu, Atambua, NTT dan tiba di Jakarta pada Kamis (20/7).

Atas nama pemerintah, Presiden mengucapkan terimakasih dan penghargaan karena telah melakukan kampanye dan memberikan harapan serta keyakinan kepada masyarakat Indonesia bahwa pengembangan jarak pagar untuk energi yang aman, bertenaga kuat dan dapat segera dipakai dalam transportasi dapat dibuktikan. “Pengembangan green energy dan bioenergi sebagai energi alternatif di Indonesia sangat mungkin untuk dilakukan,” tambah Presiden.

Menyimak perkembangan energi pada tingkat global dewasa ini, Presiden mengajak rakyat Indonesia mengubah paradigma, cara berpikir dan mindset sejak dini. "Karena bila kita mengharapkan harga minyak bumi di dunia turun di bawah 40 AS dollar apalagi 20 AS dollar, berarti kita hidup di alam mimpi. Pada tingkat global, negara-negara besar setiap tahun mengkonsumsi BBM secara meningkat sedangkan deposit dari minyak bumi makin sedikit sehingga harga tidak mungkin turun. Mulai dari cendekiawan, peneliti, industriawan, pebisnis, dan pemerintah sebagai policy maker harus betul-betul menggeser paradigma dari yang hanya menggantungkan minyak bumi untuk menuju ke energi alternatif sehingga akan makin rasional penggunaannya,” lanjut Presiden.

Ada sejumlah peluang besar untuk pengembangan biofuel dan bioenergi di Indonesia. "Tanah dan tenaga kerja tersedia, budaya bertani jarak, singkong, tebu, dan kelapa sawit sudah dimiliki oleh bangsa Indonesia, infrastruktur sebagian sudah ada dan yang belum dimiliki dapat dibangun. Pasar juga tersedia, sehingga ini adalah peluang besar yang tidak boleh disia-siakan," kata Presiden.

Hasil dari ekspedisi ini diharapkan dapat dijadikan landasan bagi pengembangan minyak jarak murni (pure jatropha oil) sebagai bahan bakar kendaraan bermesin diesel. Menurut Tantyo Bangun, Pemimpin Redaksi National Geographic Indonesia yang juga pemimpin ekspedisi, uji coba ini adalah pertama kalinya di dunia menggunakan Jatropha murni. Antusiasme masyarakat di sepanjang jalan begitu besar. Masyarakat di setaip daerah yang dilewati tim ekspedisi sudah siap untuk mengembangkan bioenergi ini. (osa)