Berita Utama
Jumat, 21 Juli 2006, 17:24:30 WIB
Presiden di Cilacap
Kita akan Bangun Sistem Deteksi Tsunami
Presiden SBY dialog dengan pengungsi dan masyarakat di Cilacap, Jumat (21/7) siang. (foto: haryanto/presidensby.info)
Dalam dialog dengan para pengungsi, Presiden menyampaikan terimah kasih kepada Pemda Jateng dan Pemkab Cilacap telah melaksanakan tanggap darurat dengan baik, sehingga hingga saat ini, Presiden tidak menerima SMS atau surat soal kekecawaan korban gempa terhadap pelaksanaan tanggap darurat di Cilacap. Presiden juga mengucapkan terimah kasih kepada siapa saja yang ikut membantu pada hari pertama penyelamatan korban gempa, baik dari TNI, polisi, maupun lembaga – lembaga lainnya.
Kepada para korban, sekali lagi Presiden mengingatkan bahwa gempa dan tsunami adalah suatu hal yang dapat dijelaskan secara keilmuan. "Gempa adalah suatu kejadian geologi yang biasa terjadi pada daerah kepulauan seperti Indonesia, dan bisa terjadi dimana saja di seluruh dunia,” katanya.
“Sejak gempa dan tsunami yang terjadi empat yang lalu, saya terus memantau dan melakukan kordinasi, dan bekerja keras untuk membantu para korban bencana. Gubernur Jateng saat pertama gempa telah menelpon saya untuk melaporkan tindakan tanggap darurat yang telah diambil,” kata Presiden SBY.
Kata Presiden, pemerintah telah berkomunikasi dengan DPR-RI untuk mengajukan dana sebesar Rp 1,2 triliun, guna membeli alat deteksi tsunami yang memang mahal, tetapi sangat dibutuhkan. "Pemerintah juga akan bekerjasama dengan beberapa negara seperti Jerman, Jepang dan China untuk membangun sistem peringatan dini. Saya mengajak Pemprov dan Pemkab untuk melakukan sosialisasi dan latihan-latihan mengantisipasi datangnya bencana alam seperti gempa dan tsunami. Ini diperlukan, agar korban jiwa dan harta dapat kita kurangi, ” katanya.
Pentingnya sosialisasi dan latihan ini, Presiden mengambil contoh yang terjadi di Pulau Buru, ketika tertimpa gempa dan tsunami setinggi empat meter pada tanggal 14 Maret 2006 lalu." Tapi di sana tidak ada korban jiwa, karena Pemkab Pulau Buru beserta aparatnya segera minta masyarakat untuk lari ke bukit," cerita Presiden.
Kepada Pemrpov Jateng dean Pemkab Cilacap, Presiden minta agar pencarian korban terus dilakukan, dan tidak boleh dihentikan, meskipun telah memasuki hari ke empat. "SAR tetap diutamakan. Semantara perawatan pada korban luka harus dilakukan secara maksimal. Demikian juga para pengungsi yang sudah dapat kembali ke rumahnya, agar segera kembali ke rumahnya untuk menghindari masalah sosial yang baru. Sedang pengungsi yang belum bisa kembali, harus dirawat dengan baik, dan bersihkan puing-puing secara gotong royong,” kata Presiden SBY. “ Setelah tanggap darurat, akan dilakukan recovery. Pada tahap recovery ini, pemerintah pusat mengharapkan Pemprov dan Pemkab agar segera melakukan penghitungan-penghitungan, terkait pemberian bantuan," kata Presiden.
Pertemuan dengan para pengungsi berakhir pukul 16.30. Seusai pertemuan, Presiden beserta rombongan segera menuju ke helipad di Desa Wedarapayung untuk terbang dengan heli ke bandara Tunggul Wulung, untuk selanjutnya dengan pesawat milik Pelita terbang ke Jakarta. Para menteri yang mengikuti rombongan Presiden, antara lain Menko Kesra Aburizal Bakrie, Menkes Siti Fadillah Soepari, Menteri ESDM Purnomo Yusgiantoro, Menhub Hatta Radjasa, Menag Maftuh Basyuni, dan Jubir Kepreisdenan Andi Mallarangeng. (rum)



