Berita Utama

Presiden:

Cari Penyebar Berita Bohong tentang Gempa dan Tsunami

Makassar: Presiden Susilo Bambang Yudhoyono minta agar aparat kepolisian mencari dan menindak siapa saja yang menyebarkan berita bohong akan adanya gempa dan tsunami. Hal itu dikatakan Presiden dalam konferensi pers, saat transit selama satu jam di bandara Hasanuddin, Makassar, dalam penerbangannya menuju Papua, Rabu (26/7) siang.

“Saya menerima laporan, ada pihak-pihak tertentu, dengan motif yang tidak jelas menyebarkan berita yang tidak berdasar, yang menimbulkan kepanikan baik di Jakarta maupun tempat lain termasuk Jeneponto, Sulsel. Dalam berita yang disebarluaskan antara lain melalui SMS itu, disebutkan bahwa akan terjadi tsunami dengan skala besar, dan berita-berita yang sangat meresahkan masyarakat,” kata Presiden.

Akibat berita-berita itu, kata Presiden, banyak masyarakat yang memilih tidak bekerja, terutama mereka yang tempat kerjanya di gedung-gedung tinggi. “Ini merupakan hal yang seharusnya tidak terjadi. Untuk itu saya menghimbau kepada seluruh rakyat Indonesia, anggota masyarakat luas, ketika kita sedang meningkatkan kewaspadaan dan masih prihatin, jangan ditambah dengan berita-berita yang menimbulkan keresahan, kepanikan dan ketakutan. Secara sosial, ekonomi dan politik, hal ini tidak baik,” kata Presiden.

“Kepada pihak kepolisian, dengan kemampuan yang dimiliki, agar ditemukan siapa yang menyebarkan berita-berita yang tidak berdasar itu, untuk diberikan sanksi hukum yang sepadan. Hal ini perlu saya jelaskan lagi, agar tidak menimbulkan masalah karena nanti masyarakat bisa tidak percaya pada berita yang sesungguhnya, yang dikeluarkan oleh BMG, karena terlalu banyak berita bohong yang sudah tersebar,” kata Presiden kepada wartawan.

Saat transit di bandara Hassanuddin, Presiden, Ibu Negara dan para menteri disambut Gubernur Sulsel Amin Syam bersama istri, dan Muspida Sulsel. Ikut dalam rombongan Presiden antara lain Menko Kesra Aburizal Bakrie, Menteri Pertanian Anton Apriyantono, Menteri Kesehatan Sitti Fadillah Soepari, Menteri Perhubungan Hatta Radjasa, Meneg Pembangunan Daerah Tertinggal Saifullah Yusuf, Seskab Sudi Silalahi, serta dua Jubir Presiden, Dino Patti Djalal dan Andi Mallarangeng. (osa)