Berita Utama

Satu Tahun Perdamaian di Aceh

SBY: Kita Akan Mampu Capai Perdamaian Abadi

Presiden SBY memberikan keynote speech dalam Konferensi Internasional "Membangun Perdamaian Abadi di Aceh Satu Tahun Pasca Kesepakatan Helsinki" di Hotel Shangri-La Jakarta, Senin (14/8) pagi. (foto: abror/presidensby.info)
Presiden SBY memberikan keynote speech dalam Konferensi Internasional "Membangun Perdamaian Abadi di Aceh Satu Tahun Pasca Kesepakatan Helsinki" di Hotel Shangri-La Jakarta, Senin (14/8) pagi. (foto: abror/presidensby.info)
Jakarta : "Saya yakin sepenuhnya bahwa kita akan mampu untuk mencapai perdamaian abadi ini. Rakyat Aceh telah menikmati buah perdamaian tersebut. Sungguh tidaklah mungkin jika mereka ingin kembali ke masa lalu yang penuh dengan pertikaian. Ini merupakan kehendak rakyat yang harus kita dengar dan turuti," kata Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dalam keynote speech Konferensi Internasional 'Membangun Perdamaian Abadi di Aceh Satu Tahun Pasca Kesepakatan Helsinki' di Hotel Shangri-La Jakarta, Senin (14/8) pagi.

Pada acara yang diselenggarakan oleh Indonesian Council on World Affairs (ICWA) ini Presiden hadir bersama para menteri Kabinet Indonesia Bersatu, antara lain, Menko Polhukam Widodo AS, Menteri Hukum dan Ham Hamid Awaluddin, Meneg Pemberdayaan Perempuan Meutia Hatta, Menteri Perindustrian Fahmi Idris, Menbudpar Jero Wacik, dan dua Juru Bicara Kepresidenan Dino Patti Djalal selaku salah satu pihak penyelenggara, dan Andi Mallarangeng.

Acara dimulai pada pukul 10.30 dengan sambutan pembukaan oleh Ketua ICWA Prof.DR Arifin Siregar, dan dilanjutkan dengan pembacaan ucapan-ucapan selamat dari beberapa pemimpin negara sahabat. Pembacaan ucapan selamat ini dilakukan oleh perwakilan dari Presiden Finlandia Tarja Halonen, PM Jepang Junichiro Koizumi, PM Inggris Tonny Blair, mantan Presiden Afrika Selatan Nelson Mandela, PM Malaysia Abdullah Badawi, dan Sekjen PBB Kofi Anan. Sedangkan PM Australia John Howard dan PM Singapura Lee Hsien Loong memberikan ucapan selamat dengan video message yang ditayangkan pada saat acara.

Kemudian dilanjutkan dengan penayangan film pendek yang menggambarkan proses perdamaian di Aceh. Bagaimana rakyat Aceh sekarang dapat hidup dengan normal setelah tercapainya perdamaian di bumi Serambi Mekah itu.

Pada keynote speech yang disampaikan dalam bahasa Inggris itu, Presiden menyampaikan bahwa konferensi ini untuk memberi penghargaan atas kembalinya harapan rakyat Aceh. "Kita berada di sini hari ini untuk memberi penghargaan atas harapan mereka, untuk mengenang apa yang telah dialami oleh rakyat Aceh, dan untuk menghormati perdamaian," kata Presiden.

"Kita harus menghormati perdamaian ini karena dibutuhkan waktu bertahun-tahun bagi kita dan telah melewati sejumlah proses damai untuk mencapai apa yang telah kita raih hari ini," lanjutnya.

Pada kesempatan itu Presiden juga mengucapkan terimakasih dan penghargaannya kepada pihak-pihak yang selama ini telah berkontribusi dalam proses terwujudnya perdamaian di Aceh dengan ditandatanganinya Kesepakatan Helsinki 15 Agustus 2005 lalu. Presiden Martti Ahtisaari, mantan Presiden Finlandia yang sekarang menjadi Chairman Crisis Management Initiative pun kemudian berdiri untuk menerima penghormatan dari Presiden dan hadirin.

Presiden juga mengucapkan terimakasih dan penghargaannya kepada para anggota AMM (Aceh Monitoring Mission). "Saya ingin mengucapkan terimakasih kepada anggota AMM yang dengan penuh dedikasi dan tanpa mengenal lelah membantu kami dalam mewujudkan MoU Helsinki," ujar Presiden.

Presiden menekankan bahwa proyek besar demi perdamaian masih jauh dari tuntas, karena sesungguhnya pekerjaan ini baru saja dimulai. "Tantangan terbesar kita saat ini adalah untuk membuat perdamaian yang sulit dimenangkan ini menjadi sebuah perdamaian yang abadi. Yang kita inginkan bukan hanya perdamaian, namun sebuah perdamaian permanen yang secara permanen pula mengakhiri pertikaian. Kita harus mengkonsolidasikan perdamaian ini serta membawanya pada suatu titik dimana ia tidak akan kembali mengalami kemunduran," kata Presiden. (nnf)