Berita Utama

'Gunung Merapi' Lewat Depan Istana

Presiden SBY memukul tifa didampingi Menbudpar Jero Wacik , Minggu (20/8) tanda dimulainya Pawai Budaya. (foto: haryanto/presidensby.info)
Presiden SBY memukul tifa didampingi Menbudpar Jero Wacik , Minggu (20/8) tanda dimulainya Pawai Budaya. (foto: haryanto/presidensby.info)
Jakarta : Ibukota Jakarta, Sabtu (20/8) berubah jadi miniatur Indonesia, dengan diadakannya Pawai Budaya 2006. Pawai akbar ini digelar sebagai rangkaian dari peringatan HUT ke 61 Kemerdekaan RI. Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dan Ibu Negara menyaksikan pawai yang diikuti sekitar 2500 orang seniman yang datang dari seluruh penjuru negeri ini, dari panggung kehormatan yang didirikan di Jl.Merdeka Utara, persis di depan Istana Merdeka.

Di panggung kehormatan yang bernuansa merah putih, tampak pula Wapres Jusuf Kalla didampingi Ibu Mufidah JK, Menbudpar Jero Wacik, Gubernur DKI Sutiyoso serta para Dubes dari Negara-negara sahabat. Di bawah panggung kehormatan, tampak sekitar 1000 pelajar SMA Negeri se Jakarta.

Tepat pukul 15.30 WIB, Presiden SBY memukul tifa sebagai tanda dimulainya karnaval yang mengambil tema “Mengungkap Kearifan Tradisi Lokal dalam Seni Budaya untuk Memahami Bencana Alam” ini. Menurut seniman/budayawan Sardono W. Kusumo yang bertanggung jawab sebagai diektur artistik, pilihan tema ini relevan dengan keadaan bangsa Indonesia saat ini. “Melalui tema ini kita akan menyimak rangkaian kekayaan tradisi bangsa Indonesia. Dalam keberagaman budaya yang luar biasa, terkandung berbagai kearifan dan pengetahuan lokal yang sangat berharga, termasuk bagaimana cara memahami, menghadapi dan menyikapi bencana alam yang terjadi,” kata Sardono.

Beberapa grup kesenian yang tampil antara lain datang dari Bali, yang dengan kostum merah dan biru membawakan tari Bedawang Nala yang bercerita tentang pertarungan antara Dewa dan Raksasa yang mengakibatkan tsunami. Tampil pula tari Seudati dari Aceh dan tari Madang Arung dari Lampung. Rombongan dari Yogyakarta yang menjadi penampil terakhir, datang dengan kendaraan yang dihias sehingga berbentuk gunung, itulah Gunung Merapi yang mengeluarkan asap dan lahar berwarna merah. Orang-orang yang berada di sekitar gunung berjalan itu tampil dengan pakaian lusuh dan kotor karena terkena debu gunung. Walaupun tampak berduka, bencana justru membuat mereka makin mencintai alam. Tepat pukul 17.00 WIB, penampil terakhir persis melewati panggung kehormatan. (mit)