Berita Utama

Presiden:

Kebebasan Media Telah Sampai Indonesia

Presiden SBY memberi sambutan pada pembukaan  Global Inter-Media Dialogue di  Nusa Dua, Bali, Sabtu (2/9) pagi. (foto: abror/presidensby.info)
Presiden SBY memberi sambutan pada pembukaan Global Inter-Media Dialogue di Nusa Dua, Bali, Sabtu (2/9) pagi. (foto: abror/presidensby.info)
Nusa Dua: Kebebasan berekspresi, toleransi, dan aturan hukum adalah kombinasi yang sehat agar demokrasi dapat berjalan dengan baik. Demokrasi di banyak negara seimbang antara menghargai hak asasi dan kebebasan dengan menghormati hak menolak diskriminasi. “Saya mempunyai rasa hormat yang besar terhadap para jurnalis atas kontribusinya menciptakan demokratisasi. Sekarang, kebebasan berbicara dan kebebasan media telah sampai di Indonesia,” kata Presiden Susilo Bambang Yudhoyono saat membuka Global Inter-Media Dialogue di Hotel Sheraton Lagoon Nusa Dua Bali, Sabtu (2/8) pagi.

Menurut Presiden, ide untuk mengadakan Inter-Media Dialogue, menurut Presiden datang pada saat krisis kasus karikatur Nabi Muhammad awal tahun 2006 ini. Kasus itu kemudian berkembang menjadi permasalahan yang lebih besar yaitu mengenai peranan media di seluruh dunia dalam mempromosikan kebebasan berbicara, toleransi dan kedamaian. “Komunitas umat Muslim di seluruh dunia menganggap media Barat tidak sensitif dan sangat menyayangkan dimuatnya karikatur Nabi Muhammad berulang-ulang oleh beberapa media. Sementara itu, para jurnalis Barat tidak menyadari bahwa pemuatan karikatur Nabi Muhammad dilarang dalam Islam,” lanjut Presiden.

Ditambahkan, isu yang paling jelas dalam kasus karikatur Nabi Muhammad ini adalah bagaimana media seharusnya bertindak dalam batas sensitifitas budaya dan agama. “Dalam artikel yang saya tulis pada The International Herald Tribune, saya menekankan pentingnya mempromosikan kebebasan dalam demokrasi dan toleransi. Bukan kebebasan melawan toleransi,” ujar Presiden diharapan 72 peserta dari 44 negara.

Sebagai pemimpin dari negara Muslim dengan populasi Muslim terbesar, Presiden menilai ada perasaan di antara komunitas Muslim bahwa mereka tidak diberlakukan secara adil oleh media internasional. "Ketika masyarakat non-Muslim terbunuh dalam medan pertempuran, media Barat menyatakan bahwa masih lebih banyak rakyat yang mati dibanding dengan pembunuhan yang sering terjadi di Palestina, Irak atau Libanon," kata Presiden.

“Komunitas Muslim di seluruh dunia tidak meminta perlakuan khusus. Mereka hanya minta dihormati, sama seperti penghormatan yang diberikan kepada komunitas agama yang lain. Seperti dikatakan Sekjen PBB Kofi Annan, kami percaya bahwa kebebasan pers berhubungan dengan tanggungjawab dan harus menghormati kepercayaan semua agama,” lanjutnya.

Pers telah menjadi bagian penting dalam penyebaran pengetahuan dan nilai-nilai. “Tanpa Anda, akan semakin banyak masa-masa gelap dan ketidakpedulian di dunia ini. Selain itu pers juga memegang peranan penting sebagai pengamat bagi pemerintah dan lembaga berkuasa lainnya. Pada saat media dari berbagai latar belakang budaya berkumpul dan saling mempelajari satu sama lain, tidak hanya media yang dapat menarik keuntungan dari itu, namun juga komunitas luas,” ujar Presiden. (osa)