Berita Utama
Minggu, 10 September 2006, 23:00:15 WIB
Pertemuan Bilateral dengan Kanselir Jerman
Presiden Jelaskan Corak Islam di Indonesia
Helsinki: Diantara padatnya acara KTT ASEM (Asia - Europe Meeting) di Helsinki, Finlandia, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono memimpin pertemuan bilateral antara pemerintah RI dengan Jerman, yang dipimpin Kanselir Angela Merkel, Minggu (10/9) petang waktu setempat. Mendampingi Presiden dalam pertemuan bilateral tersebut adalah Menlu Hassan Wirajuda, Menko Perekonomian Boediono, Menko Polhukkam Widodo A.S, Seskab Sudi Silalahi dan Juru Bicara Kepresidenan Dino Patti Djalal.Pertemuan dengan Merkel dilangsungkan di Hall 6, Fair Centre, Helsinki, dan berlangsung sekitar 30 menit. Pada pertemuan dengan Kanselir Jerman ini Presiden menyampaikan terimakasih pada rakyat dan pemerintah Jerman yang telah membantu korban bencana tsunami di Aceh akhir tahun 2004 lalu.
Kata Jubir Presiden, Dino Patti Djalal seusai pertemuan, antara Indonesia dengan Jerman mempunyai program Debt Swap yaitu hutang dibayar dengan program yang konrkit untuk dilakukan pemerintah Indonesia, misalnya di bidang pendikan. Hingga saat ini program debt swap ini sudah berjalan tiga kali. ”Presiden berharap program Debt Swap bisa lebih digalakkan lagi, ” kata Dino.
Kepada Kanselir Jerman, Presiden juga menjelaskan tentang keadaan ekonomi dan politik di Aceh sehubungan dengan satu tahun implementasi perjanjian Helsinki. Dalam kesempatan itu terjadi suatu dialog yang hangat antara Presiden SBY dan Angela Merkel, yang juga banyak membahas tentang Islamic World, tema Islam dan Barat, dan trend dalam dunia Islam. ”Presiden menjelaskan mengenai corak Islam di Indonesia. Dan Presiden juga memberikan pandangan tentang situasi di Timur Tengah dan harapan agar konflik di Palestina dapat segera diselesaikan karena dampaknya sangat besar bagi negara-negara Islam. Topik Islamic World ini mendominasi pembicaraan kedua pemimpin ini,” lanjutnya.
Besok, Presiden SBY dijadwalkan akan melakukan pertemuan bilateral dengan PM Spanyol Jose Luis Ridriguest Zapatero dan Presiden Perancis Jacques Chirac. (osa/nas)



