Berita Utama
Sabtu, 16 September 2006, 04:15:28 WIB
Presiden pada Sidang KTT GNB Havana
Kita di Sini untuk Kembalikan Semangat Bandung
Presiden SBY saat berpidato di KTT ke 14 Gerakan Non Blok di Havana, Kuba, hari Jumat (15/9). (foto: abror/presidensby.info)
Presiden Susilo Bambang memanfaatkan waktu yang pendek itu antara lain untuk mengingatkan kembali perlunya mengembalikan semangat Non Blok pasca perang dingin, untuk mendorong terciptanya perdamaian dunia. “Kita berada di sini sekarang ini untuk mengembalikan semangat Bandung dan meneruskan sejarah perjuangan untuk mewujudkan perdamaian dan keadilan bagi semua,” kata SBY.
Havana, Kuba Gerakan Non Blok harus memperkuat kerjasama multilateralnya dalam upaya yang lebih efektif dalam menghadapi tantangan dunia sekarang ini. “Saat ini kita menghadapi tantangan yang sama seperti dengan yang dihadapi sebagai ancaman kemanan global. Saya sebutkan misalnya konflik di dalam negeri maupun antar Negara, terorisme, proliferasi seluruh jenis senjata, kejahatan transnasional, penyakit, dan bencana alam “, kata Presiden.
Presiden menyatakan pentingnya untuk menegaskan kembali tujuan dan prinsip Gerakan Non Blok yang dicanangkan pada tahun 1961 pada saat lahirnya GNB. “ Kita juga harus menegaskan kembali keyakinan kita pada Dasa Sila Bandung atau semangat Bandung yang diserukan oleh generasi pertama pemimpin dunia negara – negara Afrika dan Asia yang terinspirasi dari lahirnya GNB.
Presiden menegaskan bahwa negara – negara maju harus memenuhi empat kewajiban dasar, yang dimulai dengan membuka pasar terhadap produk dari negara berkembang, terutama produk pertanian. “ Kedua, negara – negara maju harus menanggapi secara tulus terhadap kebutuhan negara – negara berkembang terhadap penghapusan hutang. Negara – negara maju harus melihat dengan cermat mengenai kemampuan keuangan dari negara – negara berkembang tersebut. Karena pembangunan itu membutuhkan dana. Membangun sekolah, rumah sakit, irigasi, listrik, jalan, sarana telepon, itu membutuhkan dana. Dan dana harus mengalir untuk kebaikan bagi penerima dana maupun sumber dana, “ kata Presiden.
Ketiga adalah harus tersedianya iklim yang mendukung untuk terciptanya investasi asing secara langsung.”Ini berarti bukan hanya paket insentif, tetapi ini juga menyangkiut kepastian hukum, kebijakan ekonomi, efisiensi birokrasi, stabilitas, infrastruktur yang memadai dan tentu saja pemerintahan yang bersih, “ tegas Presiden.
Poin keempat adalah keberlasungan lingkungan hidup. “Kita harus menggunakan sumber – sumber alam kita dengan bijaksana sehingga jangan sampai kita mengambil milik generasi penerus kita yang menjadi haknya, “ kata Presiden lagi. “ Dengan hal – hal tersebut tadi maka kita akan dapat menjadi partner yang lebih kuat bagi negara – negara maju, “ kata Presiden.
Presiden menegaskan bahwa dalam dunia yang makmur, maka akan lebih mudah untuk tidak menggunakan senjata. “Perdamaian mempunyai peluang yang paling baik, dan demokrasi memiliki ruang yang lebih luas untuk maju. Ini adalah tujuan utama bagi gerakan kita, dan mewujudkan mimpi kita sebagai umat manusia, “ kata Presiden.
Untuk kesekian kalinya pula SBY mengingatkan perlunya perdamaian di kawasan Timur Tengah. “Dialog dan diplomasi harus dilakukan sekarang untuk mencapai tujuan itu. Peta jalan damai harus dimulai lagi, dan Palestina serta Lebanon musti dibangun kembali,” tambah SBY, yang diakhir pidatonya mendapat tepuk tangan cukup panjang. (nnf/nas)



