Berita Utama

Presiden Tanggapi Pernyataan Sri Paus

Havana: Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, di Hotel Nacional, Havana, Kuba, Sabtu (16/9) pagi waktu setempat atau Sabtu malam WIB secara khusus memberikan keterangan pers menanggapi pernyataan Sri Paus, Benedictus ke XVI yang diucapkan di Jerman tanggal 12 September.

"Sehubungan dengan pernyataan Sri Paus Benedictus ke-XVI di Jerman pada tanggal 12 September 2006 yang lalu, selaku kepala negara Republik Indonesia saya menyesalkan pernyatan Sri Paus tersebut, disamping tidak bijak juga tidak tepat, dan ini sangat mengganggu upaya kita bersama untuk terus membangun dan mengembangkan dialog antarumat beragama dan antarperadaban, yang Indonesia sendiri telah memelopori dan melaksanakannya dengan sungguh-sungguh, tentu dengan tujuan yang baik, baik di Indonesia maupun baik pada tingkat masyarakat dunia, kata Presiden.

"Saya berharap pihak Vatikan dapat melakukan langkah-langkah korektif yang sifatnya konstruktif agar ketegangan menyusul pernyataan Sri Paus tersebut dapat segera diakhiri. Dalam kesempatan ini pula saya mengajak masyarakat dunia untuk terus melanjutkan komunikasi dan dialog, baik antarumat beragama maupun antarbudaya dan peradaban, secara terus dan tanpa prasangka, agal betul-betul dapat kita bangun situasi yang harmonis," tambahnya.

Dengan demikian, lanjutnya, "Tujuan bersama kita untuk membangun dunia yang damai, adil, demokratis, dan sejahtera dapat kita wujudkan. Kepada rakyat Indonesia khusunya kepada umat Islam, meskipun saya memahami perasaan Saudara, tetaplah sabar dan bisa menahan diri. Marilah terus kita pelihara persatuan di antara kita, termasuk kerukunan antarumat beragama di Indonesia. Dengan demikian, apapun masalah yang muncul dan terjadi, dengan arif dapat kita carikan solusinya," kata Presiden.

"Saya kira itu yang saya sampaikan, mudah-mudahan kita semua melakukan pembelajaran terbaik dari kejadian ini, untuk sekali lagi kepentingan membangun saling pengertian, saling hormat-menghormati, di antara kita semua baik pada tingkat masyarakat Indonesia maupun masyarakat dunia, kita yang berbeda identitas, budaya, agama, dan segi-segi peradaban yang lain," kata Presiden, yang saat memberikan keterangan antara lain didampingi Menlu Hassan Wirajuda, Seskab Sudi Silalahi serta dua Jubir Presiden, Dino Patti Djalal dan Andi Mallarangeng. (meg)