Berita Utama
Senin, 18 September 2006, 09:22:42 WIB
Keterangan Pers Presiden
GNB Perjuangkan Kembali Keadilan Semua Negara
Havana: Gerakan Non Blok (GNB) pada prinsipnya adalah menyuarakan kembali suara negara berkembang, negara anggota non blok, untuk memperjuangkan perdamaian, keadilan, dan kesejahteraan bagi semua negara. Presiden Susilo Bambang Yudhoyono menyatakan hal ini kepada pers Indonesia yang mengikuti perjalanan Presiden dan rombongan ke Havana, Kuba. Keterangan pers berlangsung di Sala Vedado Hotel Nacional de Cuba, tempat Presiden dan Ibu Negara menginap selama di Havana, Minggu (17/9) atau Senin (18/9) di Indonesia. Indonesia dan Kuba selisih sekitar 11 jam."Saya bersama delegasi baru saja mengikuti pertemuan puncak Gerakan Non Blok yang dilaksanakan di Havana. Dalam pertemuan puncak tersebut yang dipimpin oleh pejabat Presiden Kuba Raul Castro Ruz telah berlangsung secara semarak diikuti oleh para kepala negara, kepala pemerintahan, maupun ketua delegasi dari anggota Gerakan Non Blok yang pada prinsipnya menyuarakan kembali suara negara berkembang, suara negara anggota non blok, untuk memperjuangkan perdamaian, keadilan, dan kesejahteraan yang berlaku bagi semua, bukan hanya bagi negara tertentu di dunia ini," kata Presiden.
“Disamping banyak yang melaksanakan refleksi kesejarahan semangat dan cita-cita dari para pendiri Gerakan Non Blok, juga perjalanan panjang hingga saat ini sampai pada relevansi gerakan untuk menjawab permasalahan global masa kini sampai dengan pikiran-pikiran baru bagaimana negara non blok bisa meningkatkan kerjasama, kemitraannya agar persoalan-persoalan yang dihadapi secara bersama dapat dipecahkan dengan baik, banyak yang mengangkat isu keamanan global, seperti situasi keamanan di Timur Tengah, baik di belahan bumi yang lain," ujar Presiden SBY.
"Banyak yang mengangkat perlunya sebuah keadilan dalam tatanan ekonomi global. Juga format-format kerjasama yang mesti dibangun, baik itu sesama anggota non blok atau Selatan-Selatan, tapi juga Selatan-Utara, yang semuanya itu mengarah kepada perlunya kerjasama global agar negara-negara berkembang itu mendapatkan peluang yang cukup untuk membangun dirinya. Dengan demikian masalah-masalah yang dihadapi, seperti kemiskinan, keterbelakangan, dan kondisi kehidupan yang belum pada tingkatan yang semestinya dapat terus-menerus ditingkatkan," lanjut Presiden.
Diantara berbagai isu global itu, Presiden menegaskan kembali posisi Indonesia atas isu nuklir Iran. "Indonesia masih konsisten dengan sikapnya terhadap isu nuklir Iran, bahwa apapun dapat dicarikan solusinya secara damai, berharap apa yang sudah ditempuh sekarang ini --semacam negosiasi-- bisa menghasilkan sesuatu yang tepat, yang konkret dan nampaknya kecenderungannya mengarah ke situ, sambil Iran terus memelihara komunikasi dengan IAEA, P5 plus dengan juga tentunya berupaya menurunkan ketegangan. Dengan demikian tidak akan menjadi lebih rawan lagi situasi di Timur Tengah, dan mudah-mudahan bisa diambil solusi yang baik. Tentunya sikap Indonesia yang telah disampaikan ini, baik pada tingkat IAEA maupun di luar IAEA, tentu kita pertanggungjawabkan. Demikianlah dalam hubungan antar bangsa dan kita pun dapat jelaskan kepada semua pihak," Presiden menambahkan. (nnf)



