Berita Utama

Rapim TNI

Presiden: Sering Terjadi Benturan dan Pandangan, Itu Sudah Biasa

Suasana  pada Rapim TNI di Mabes TNI, Cilangkap, Jakarta Timur, Rabu (20/9) siang. (foto: haryanto/presidensby.info)
Suasana pada Rapim TNI di Mabes TNI, Cilangkap, Jakarta Timur, Rabu (20/9) siang. (foto: haryanto/presidensby.info)
Jakarta: Empat tantangan terhadap keamanan dalam tugas TNI (Tentara Nasional Indonesia) adalah mempertahankan kedaulatan negara, keutuhan wilayah dan keselamatan bangsa, ikut memelihara perdamaian dunia, operasi militer untuk perang, dan operasi militer selain perang. Empat tantangan ini diungkapkan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono saat memberikan pengarahan pada acara Rapat Pimpinan (Rapim) TNI di GOR Ahmad Yani, Markas Besar TNI, Cilangkap, Jakarta Timur, Rabu (20/9) siang.

Lebih lanjut Presiden SBY menjelaskan, arah dan kebijakan dasar modernisasi TNI adalah memiliki kekuatan esensial minimum, bertahap sesuai dengan kemampuan ekonomi dan keuangan negara, berkaitan dengan pelaksanaan tugas nyata maupun untuk kepentingan penangkalan sesuai dengan perkembangan dunia militer modern, dan sejauh mungkin menggunakan industri nasional.

“Transformasi Indonesia dalam era globalisasi adalah proses yang dinamis, penuh dengan tantangan. Lihat saja Cina, India dan Rusia,” kata Presiden SBY dihadapan lebih kurang 1.300 jajaran TNI. “Ada perubahan dramatis dalam bidang politik, sistem ketatanegaraan, sistem pemerintahan, peran TNI dan juga kehidupan pers. Sering terjadi kegaduhan dan penuh benturan dan pandangan. Itu sudah biasa, karena kita tengah mencari dan membangun equilibrium baru,” tambahnya.

Hadir mendampingi Presiden SBY dalam acara ini antara lain, Menko Perekonomian Boediono, Menko Kesra Aburizal Bakrie, Menhan Juwono Sudarsono, Mendagri M. Ma’ruf, Seskab Susi Silalahi dan Jubir Kepresidenan Dino Patti Djalal. Para menteri itu nantinya juga akan memberikan pengarahan kepada para peserta Rapim. Menko Perekonomian misalnya, akan menyampaikan hal-hal yang berkaitan dengan kebijakan-kebijakan ekonomi pemerintah.

Kunci untuk menuju negara maju, menurut Presiden adalah harus terus membangun dengan lima paradigma. Pertama, pembangunan nasional terpadu (semesta) berdimensi kewilayahan. Kedua, paduan dari ‘resource-based’ dan ‘knowledge-based’ (economic) development. Ketiga, pertumbuhan bersama pemerataan. Keempat, memperkokoh ketahanan dan kemandirian bangsa, dalam kerjasama internasional yang konstruktif. Kelima, mendorong peran dan kontribusi semua elemen dan warga bangsa.

“Indonesia mesti tumbuh, baik secara nasional, regional maupun individual,” ujar Presiden. “Jika investasi terjadi, maka masyarakat harus diberdayakan dan dilibatkan dalam kegiatan investasi itu. Lebih khusus lagi, jika sektor pertanian dibangun dan dikembangkan, maka petani dan masyarakat petani harus tumbuh dan berkembang,” lanjutnya.

Ditambahkan, kewajiban moral dalam pembangunan adalah bangsa Indonesia harus menyelamatkan, menolong, dan meningkatkan kesejahteraan dari bagian terbesar dan terlemah masyarakat Indonesia. “Kecukupan pangan, sandang, papan, kesehatan, pendidikan, kesehatan, energi, rasa aman, dan lingkungan yang manusiawi harus terpenuhi,” kata Presiden.

Diakhir pengarahannya, Presiden berpesan untuk meneruskan dan mensukseskan reformasi. “Petik pelajaran dari masa lalu,” ujarnya. Acara Rapim TNI ini merupakan rangkaian dalam rangka memperingati Ultah TNI yang ke-61 yang mengambil tema Dengan Landasan Semangat Pengabdian, Profesionalitas dan Solidaritas yang Mantap, TNI Senantiasa Siaga Menjaga Keselamatan Bangsa dan Keutuhan Wilayah NKRI. (osa)