Berita Utama
Jumat, 6 Oktober 2006, 17:00:31 WIB
Presiden Pimpin Rapat Koordinasi Bahas Perekonomian
Jakarta : Presiden Susilo Bambang Yudhoyono hari Jumat (06/10) memimpin rapat konsultasi dan koordinasi membahas perkembangan perekonomian nasional, di Kantor Presiden. Rapat itu dimaksudkan untuk menentukan langkah - langkah ke depan terutama yang berkaitan dengan sinkronisasi kebijakan fiskal dan moneter."Kami melaksanakan pertemuan konsultasi dan koordinasi membahas perkembangan perekonomian nasional dan langkah - langkah ke depan terutama yang berkaitan dengan sinkronisasi kebijakan fiskal dan kebijakan moneter. Yang memang harus kita kelola dengan baik agar bisa bersinergi satu sama lain dan mendatangkan capaian yang optimal," kata Presiden dalam keterangan pers seusai pertemuan yang didampingi Menko Perekonomian Boediono, Menteri Keuangan Sri Mulyani ,dan Gubernur Bank Indonesia Burhanuddin Abdullah.
Menurut Presiden, pertemuan tersebut membahas beberapa hal penting, seperti perkembangan ekonomi makro yang menjadi tumpuan pergerakan sebuah ekonomi nasional, mendengarkan kebijakan yang telah diambil Bank Indonesia terutama berkaitan dengan moneter Indonesia. Dibahas juga kebijakan fiskal terutama yang sedang kita tangani dengan DPR RI adalah penetapan atau penentuan APBN 2007, dan kemudian bagaimana upaya bersama untuk meningkatkan lagi kinerja ekonomi nasional.
"Dari itu semua saya kira kita sama - sama mengetahui dari indikator ekonomi makro ada hal - hal yang berkembang dengan baik, jumlahnya cukup banyak, ada keadaan yang statis, dan juga ada satu dua sektor yang justru menurun, ini harus kita lihat dengan jernih, utuh dan objektif. Dengan demikian solusi kebijakan dan langkah - langkah yang kita ambil kita harapkan juga menjawab permasalahan itu dan mendatangkan kebaikan untuk ekonomi kita secara keseluruhan," kata Presiden.
"Tadi kita bahas pertumbuhan ekonomi, inflasi pada bulan September ini mencapai 0,38 %, harapan kita tahun 2006 inflasi kita betul - betul kembali ke 1 digit bahkan harapan kita dibawah 8%. Kemudian balance of payment membaik, disampaikan oleh Gubernur Bank Indonesia nilai tukar kita kita lihat stabil pada kisaran Rp. 9.200 per 1 USD. Cukup sehat baik untuk kepentingan ekspor maupun impor," kata Presiden lagi. "Indeks harga saham gabungan baik, stabil, positif, bahkan kinerja pasar modal kita juga dianggap baik di Asia ini, lantas cadangan devisa tadi disampaikan Gubernur Bank Indonesia pada posisi yang kuat meskipun tahun ini kita sudah bisa melunasi hutang kita kepada IMF," kata Presiden.
"Angka - angka itu cukup menjanjikan untuk kita bisa ambil peluangnya untuk kepentingan peningkatan perekonomian nasional kita, sementara itu harap menjadi catatan kita semua bahwa bermula dari krisis yang terjadi di negeri kita angka kemiskinan dan angka pengangguran masih tetap tinggi, yang ini harus kita perjuangkan terus menerus untuk secara sistematis menurunkannya. BPS beberapa saat lalu mengatakan bahwa 17,7 % sekitar itu angka kemiskinan kita setara dengan 39 juta penduduk kita dan pengangguran yang kita miliki dari segi prosentase sebesar 10, 4 % dan karena angkatan kerja kita juga sekitar 100 sekian juta orang, maka 10,4 % itu setara dengan 10,5 juta pengangguran terbuka kita. Ini hal penting yang harus kita catat dengan harapan perbaikan ekonomi makro tadi, apakah pertumbuhan, atau ekspor, inflasi yang makin turun, betul - betul bisa kita alirkan kita transformasikan untuk pengurangan secara nyata angka kemiskinan dan angka pengangguran," jelas Presiden.
Presiden memaparkan bahwa sector yang menurun dibandingkan kinerja tahun lalu adalah sektor pariwisata. "Sektor yang masih menurun dibandingkan kinerja tahun lalu sekarang ini adalah sektor wisata utamanya menyangkut wisatawan mancanegara, oleh karena itu kita bekerja keras untuk kembali membangun iklim yang bagus untuk kegiatan wisata, keamanan sangat penting, pelayanan juga penting, juga hal - hal lain yang bisa kita tingkatkan daya saingnya agar wisatawan di seluruh dunia ini pergi ke banyak negara akan lebih banyak lagi yang berkunjung ke Indonesia," papar Presiden. ( nnf )



